Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Perjanjian di Ujung Jari
Sore hari di RS Tan berwarna keemasan.
Oma Ong tidur setelah pemeriksaan terakhir. Bu Wati duduk di dalam kamar, merapikan selimut dan sesekali membaca doa pelan. Eve keluar ke ujung koridor bersama Edric. Mereka duduk di bangku panjang dekat jendela besar.
Dari sana, Jakarta terlihat seperti kota yang dibuat dari kaca dan ambisi. Gedung-gedung SCBD berdiri di kejauhan, memantulkan matahari turun. Salah satunya, yang paling tinggi dan dingin, adalah Kho Tower.
Eve menatap gedung itu lama.
"Ric."
"Hm?"
"Kita tidak sepadan."
Edric menoleh.
Eve tetap melihat keluar. "Kamu... seluruh Jakarta terasa seperti milikmu. Aku cuma janda dari Cirebon yang bahkan dulu menghitung uang makan siang supaya cukup sampai akhir bulan."
"Pernikahan bukan jual beli, Lina."
"Tapi orang-orang akan bicara."
"Biarkan."
"Mereka akan bilang aku menikahimu karena uang."
Edric memutar tubuh menghadapnya penuh. "Kamu menikah dengan saya saat kamu pikir saya cuma pegawai biasa."
Eve terdiam.
"Itu sudah cukup membuktikan segalanya," lanjut Edric. "Kalau orang lain tidak percaya, itu masalah mereka, bukan masalah kita."
Kata kita membuat dada Eve menghangat sekaligus sakit. Selama ini ia selalu hidup dengan kata aku. Aku harus kuat. Aku harus pulang sendiri. Aku harus membayar sendiri. Aku harus tidak menyusahkan siapa pun. Kata kita masih terasa asing, tetapi asing yang ingin ia pelajari.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa menyesuaikan diri dengan duniamu?" tanyanya. "Kalau aku gagal jadi Nyonya Kho yang mereka harapkan?"
Ia membayangkan ruang makan panjang, nama keluarga yang disebut seperti gelar, orang-orang yang menilai cara duduk, cara bicara, bahkan merek sepatu. Ia membayangkan dirinya salah memilih sendok, salah menyapa investor, salah memahami lelucon keluarga, lalu semua orang menatap Edric seolah ia membawa pulang pilihan yang merepotkan.
"Aku tidak takut kerja keras," katanya. "Aku takut menjadi alasan orang meremehkanmu."
Edric menatapnya serius.
"Saya tidak butuh Nyonya Kho yang sempurna."
"Keluargamu mungkin butuh."
"Keluarga saya punya saya untuk dimarahi kalau mereka tidak puas."
Eve hampir tertawa.
Edric menggenggam tangannya. "Saya butuh Evelina Lim. Yang bisa menerjemahkan rapat internasional saat hatinya hancur. Yang berani menghadapi Rangga di parkiran. Yang menendang suaminya di tempat tidur lalu berteriak pembunuh suami sendiri."
"Kalau ada orang meremehkan saya karena memilihmu," tambahnya, "berarti mereka tidak cukup pintar untuk saya dengarkan."
Eve benar-benar tertawa kali ini, meski matanya basah. "Kamu tidak boleh memakai itu sebagai argumen."
"Itu bukti karakter."
"Itu bukti tidurku buruk."
"Saya sudah menerima risikonya."
Dan anehnya, kalimat itu membuat risiko sebesar keluarga Kho terasa sedikit lebih manusiawi. Sedikit lebih mungkin dijalani bersama.
Tawa itu mengendurkan simpul terakhir di dada Eve. Ia menatap Edric, pria yang masih salah, masih menyebalkan, masih terlalu terbiasa mengatur dunia dari belakang layar. Namun ia juga pria yang datang ke Cirebon dalam hujan, berlutut di depan Oma, dan malam ini memilih duduk di sampingnya, bukan di atasnya.
Edric mengangkat jari kelingking.
Eve menatapnya. "Kamu serius?"
"Sangat."
"Direktur Utama Kho Group membuat janji kelingking di koridor rumah sakit?"
"Direktur Utama juga manusia."
Eve mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Edric.
"Janji apa?" tanya Edric.
Eve berpikir sejenak. "Janji untuk selalu jujur. Tidak ada rahasia yang bisa menghancurkan kita dari belakang."
Edric menatap kelingking mereka yang terkait. "Saya janji."
"Dan aku janji..." Eve menarik napas. "Kalau aku takut, aku akan bilang. Kalau aku butuh bantuan, aku akan mencoba memintanya. Tidak langsung kabur sendirian."
Mata Edric melembut. "Itu janji besar."
"Aku tahu."
"Sekarang giliran saya."
Eve menyipit. "Masih ada?"
Senyum kecil muncul di wajah Edric, kali ini agak licik. "Ingat taruhan kita? Kho Group dan Linguara."
"Kamu mau menagih sekarang?"
"Ini saat penting."
Eve langsung waspada. "Permintaan yang wajar."
"Jangan pernah marah pada saya lagi."
Eve menatapnya tiga detik penuh.
Lalu ia tertawa. "Itu permintaan yang mustahil, Tuan Direktur Utama."
Edric berhenti. Panggilan itu tidak lagi terdengar seperti tuduhan. Ada sedikit godaan, sedikit penerimaan, dan banyak kelelahan yang akhirnya berubah menjadi hangat.
"Saya bisa negosiasi," katanya.
"Versi realistis: aku akan marah kalau kamu salah. Tapi aku tidak akan pergi sebelum mendengarkan penjelasanmu."
"Saya ambil."
"Cepat sekali."
"Saya pengusaha. Tahu kapan harus menerima kesepakatan baik."
Mereka masih saling mengaitkan kelingking. Di luar jendela, matahari menurun, membuat bayangan mereka di lantai memanjang. Eve menyandarkan kepala ke bahu Edric.
"Aku lelah."
"Tidur sebentar."
"Jangan pergi."
"Tidak."
Eve memejamkan mata. Dalam beberapa menit, napasnya melambat. Edric menunduk, melihat wajahnya yang akhirnya tenang.
"Terima kasih sudah mau tinggal," bisiknya.
Eve tidak mendengar. Atau mungkin mendengar dalam tidur dan memilih tetap bersandar.
Ponsel Edric bergetar.
Pesan dari Jerry masuk.
Bos, Valen memanggil rapat direksi mendadak besok. Agendanya mempertanyakan apakah pernikahan Anda memengaruhi keputusan perusahaan.
Edric membaca pesan itu, lalu menaruh ponsel terbalik di bangku.
Satu getaran lagi datang.
Kali ini dari Valen.
Sebuah foto: Calista duduk di restoran mewah bersama pria asing yang wajahnya tidak terlihat jelas.
Teksnya singkat.
Istrimu tahu?
Mata Edric berubah dingin.
Perang dingin dengan Eve telah selesai.
Perang lain baru saja mengetuk pintu.