NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Damai Masa Lalu, Cahaya Kelahiran

Udara pagi di Karimun terasa sejuk dan beraroma garam laut, bercampur wangi bunga kenanga yang tumbuh subur di halaman rumah kayu Laras. Sejak kembali dari tanah selatan, hari-hari mereka berjalan begitu tenang, namun setiap detik terasa berharga. Perut Laras kini sudah sangat besar, dokter desa menaksir bayi mereka akan lahir dalam waktu kurang dari sebulan.

Setiap pagi, Dika tidak pernah lelah menyiapkan segala kebutuhan Laras: air hangat untuk mandi, makanan bergizi yang ia masak sendiri dengan resep sederhana namun penuh kasih sayang, hingga bantal tambahan agar Laras bisa duduk dengan nyaman. Raka pun tak mau kalah—ia sering pergi ke hutan mencari rempah langka untuk pereda nyeri, atau memperbaiki bagian rumah yang dianggap kurang aman bagi kakak dan keponakannya.

“Kau tidak perlu bekerja terlalu keras, Raka,” kata Laras satu pagi saat melihat adiknya sedang memaku papan baru di teras. “Kau baru saja pulang setelah bertahun-tahun terpisah.”

Raka berhenti sejenak, menyeka keringat di dahi sambil tersenyum lebar. “Justru ini yang paling aku inginkan, Kak. Bisa melindungimu, bisa membangun rumah ini bersama kalian. Dulu aku hanya bisa berharap dari jauh. Sekarang aku punya kesempatan.”

Arga dan keluarga besarnya pun sering berkunjung. Hubungan mereka yang dulu penuh ketegangan kini berubah menjadi persaudaraan yang erat. Arga bahkan mulai mengajari Raka teknik bertarung yang lebih halus, sementara Raka berbagi pengetahuan tentang cara bertahan hidup di hutan yang ia pelajari selama masa-masa sulitnya.

Namun di tengah kebahagiaan itu, bayang-bayang masa lalu perlahan kembali menyelinap.

Sore itu, saat Laras sedang duduk di bawah pohon mangga sambil merajut selimut bayi, seorang pengawal datang melapor dengan wajah serius. “Nyonya Laras, ada rombongan dari Kerajaan Utara datang. Mereka membawa surat dari Raja, dan terlihat sangat terburu-buru.”

Hati Laras berdegup kencang. Kerajaan Utara—tempat di mana tragedi terbesar dalam hidupnya terjadi, tempat di mana ia kehilangan segalanya dan kemudian berubah menjadi Ratu Pembunuh yang ditakuti. Selama ini ia berusaha melupakan tanah itu, namun sepertinya takdir tidak membiarkannya pergi begitu saja.

Rombongan itu dipimpin oleh seorang penasihat kerajaan yang sudah tua. Setelah memberi salam dengan hormat, ia menyerahkan surat raja. Isinya sungguh tak terduga: Raja Utara mengakui kesalahan besar yang dilakukan oleh mendiang ayahnya terhadap keluarga Laras, meminta maaf secara resmi, dan mengundang Laras untuk hadir di upacara pemulihan nama baik keluarganya sekaligus penyerahan hak waris yang dirampas puluhan tahun lalu.

“Raja juga mengabarkan bahwa kondisi kesehatannya semakin menurun,” tambah penasihat itu dengan suara lemah. “Beliau ingin sekali bertemu dengan Anda sebelum terlambat, Nyonya. Beliau menyimpan sebuah rahasia yang hanya boleh disampaikan langsung kepada Anda.”

Suasana menjadi hening. Dika menggenggam tangan Laras erat, matanya menyiratkan kekhawatiran sekaligus dukungan. Raka tampak bimbang, sementara Arga mengerutkan kening.

“Kau tidak harus pergi jika tidak mau, Laras,” kata Dika pelan. “Mereka pernah menyakiti keluargamu begitu dalam.”

“Aku tahu,” jawab Laras pelan sambil menatap ke arah laut lepas. “Tapi jika aku tidak menghadapinya sekarang, bayangan itu akan terus mengikuti anak kita nanti. Aku ingin membebaskan diriku sepenuhnya dari masa lalu itu, agar kelak aku bisa bercerita pada anakku tanpa rasa sakit.”

Setelah berdiskusi panjang lebar, mereka memutuskan untuk berangkat. Namun kali ini perjalanannya berbeda: tidak ada misi berbahaya, tidak ada musuh yang harus dikalahkan. Hanya perjalanan hati untuk menutup luka lama. Mereka berangkat dengan kapal yang lebih besar dan nyaman, membawa serta Raka, Arga, dan beberapa pengawal terpercaya—namun tidak dengan senjata perang, melainkan dengan niat damai.

Sesampainya di pelabuhan Kerajaan Utara, pemandangan yang menyambut mereka sungguh di luar dugaan. Tidak ada pasukan yang berbaris dengan senjata tajam, melainkan para pejabat kerajaan yang berdiri dengan kepala tertunduk hormat, dan warga yang menatap dengan rasa haru. Banyak dari mereka yang masih ingat dengan kebaikan ayah Laras yang dulu pernah memimpin wilayah ini sebelum dikhianati.

Raja Utara yang sudah renta menunggu di ruang singgasana. Wajahnya keriput, napasnya tersengal-sengal, namun matanya berbinar saat melihat Laras melangkah masuk.

“Maafkan aku, Laras,” katanya dengan suara parau, bahkan sebelum Laras sempat membuka mulut. “Aku terlalu lama diam karena takut, karena terikat janji pada orang tua yang salah. Keluargamu tidak pernah berkhianat. Mereka adalah korban dari ambisi kekuasaan yang gelap.”

Raja kemudian menceritakan kebenaran yang selama ini disembunyikan: Dulu, ayah Laras berusaha menghentikan perdagangan budak dan pengambilan tanah paksa yang didukung oleh paman raja sendiri. Alih-alih didengar, ia dituduh pengkhianat dan dibunuh secara diam-diam. Ibu Laras memilih bunuh diri demi melindungi anak-anaknya dari penderitaan yang lebih kejam. Raja yang masih muda saat itu tidak berani melawan pamannya yang berkuasa mutlak, hingga pamannya sendiri akhirnya meninggal dunia beberapa tahun lalu.

“Dan ada satu hal lagi,” lanjut Raja sambil memberi isyarat pada penasihat. Sebuah peti kayu jati tua dibawa masuk. Di dalamnya terdapat dokumen asli, peta wilayah, serta sebuah medali berwarna perak yang merupakan lambang kepemimpinan wilayah pesisir yang dulunya dipercayakan kepada ayah Laras. “Wilayah ini dan seluruh hak atasnya adalah milikmu. Namun jika kau tidak ingin memerintahnya, kerajaan akan menjamin kebebasan dan kesejahteraan rakyatnya selamanya atas namamu.”

Laras menyentuh medali itu perlahan. Terasa dingin di kulit, namun hatinya perlahan terasa hangat—seolah beban berat yang dipikulnya selama belasan tahun akhirnya terangkat. Ia tidak membutuhkan kekuasaan atau harta. Yang ia butuhkan hanyalah kebenaran, dan pengakuan bahwa orang tuanya adalah orang baik.

“Terima kasih telah berani mengakui kesalahan ini,” kata Laras tenang. “Aku tidak akan mengambil alih pemerintahan. Rumahku ada di Karimun. Namun aku meminta satu hal: jangan biarkan ketidakadilan seperti ini pernah terjadi lagi pada siapa pun.”

Raja mengangguk pelan, air mata menetes di pipinya. “Aku berjanji.”

Malam harinya, Laras mengunjungi makam orang tuanya yang sudah lama terabaikan. Ia membersihkan rumput liar yang tumbuh di sana, meletakkan bunga kesukaan ibunya, dan berdoa dengan tenang. Raka berdiri di sampingnya, menahan tangis. Untuk pertama kalinya, mereka berdua bisa berdiri di tempat itu tanpa rasa benci, melainkan hanya dengan rasa rindu dan damai.

Namun takdir sepertinya belum selesai memberi kejutan. Saat mereka bersiap kembali ke penginapan, seorang wanita tua berpakaian sederhana mendekat dengan ragu.

“Nyonya Laras… Tuan Raka…” suaranya bergetar. “Apakah kalian masih ingat pada Bibi Sari? Pelayan yang dulu menyusui kalian berdua?”

Laras menatap wanita itu lekat-lekat, lalu tiba-tiba ingatan masa kecilnya muncul kembali. Ia langsung berlutut memeluk wanita itu erat. “Bibi Sari! Kami pikir Bibi sudah tiada!”

Ternyata Bibi Sari selamat berkat bantuan penduduk desa yang menyembunyikannya. Selama ini ia berusaha mencari kabar kedua anak asuhnya, namun takut tertangkap mata-mata kerajaan lama. Ia baru berani datang setelah mendengar berita pengakuan raja.

Pertemuan ini menambah kebahagiaan yang tak terduga. Laras mengundang Bibi Sari untuk ikut ke Karimun, tempat di mana ia bisa menikmati masa tuanya dengan tenang dan penuh kasih sayang.

Perjalanan pulang kali ini terasa seperti melengkapi kepingan teka-teki yang hilang. Laras pulang bukan hanya membawa suami, adik, dan teman-teman setianya, melainkan juga membawa damai dengan masa lalunya, serta orang yang pernah mengasuhnya sejak kecil.

Sesampainya di Karimun, persiapan menyambut kelahiran semakin matang. Rumah mereka kini terasa lebih ramai dan hangat. Bibi Sari dengan sabar mengajari Laras cara merawat bayi berdasarkan pengalamannya dulu, sementara Raka dan Dika memperbaiki tempat tidur bayi dengan ukiran tangan yang indah.

Namun sesaat sebelum kelahiran dimulai, Laras bermimpi aneh. Ia melihat sosok ayahnya tersenyum padanya, lalu berkata lembut: “Anakku, kekuatanmu bukanlah pedang yang kau pegang dulu. Kekuatanmu adalah hatimu yang tetap lembut meski pernah terluka parah. Anakmu akan mewarisi kebaikan itu.”

Keesokan paginya, saat cahaya matahari mulai menyelinap masuk lewat celah jendela, rasa sakit pertanda kelahiran mulai datang. Dika, Bibi Sari, dan bidan desa menemaninya dengan sabar dan tenang. Tak ada rasa takut, hanya harapan yang tulus.

Proses berlangsung selama berjam-jam, namun dukungan orang-orang tercinta membuat Laras mampu melewatinya dengan berani. Hingga akhirnya terdengar tangisan pertama yang jernih dan kuat, memecah keheningan pagi yang damai.

“Itu anak laki-laki yang sehat!” seru bidan dengan wajah berseri.

Laras memeluk bayi kecil itu erat-erat, mencium keningnya yang halus. Dika duduk di sampingnya, tangannya menutupi tangan istrinya yang sedang memeluk putra mereka. Matanya berkaca-kaca tak mampu menyembunyikan rasa bahagia yang meluap.

“Kita beri nama dia Bayu,” kata Laras pelan, mengingat pemimpin perampok yang kini telah berubah menjadi pembangun di tanah selatan—simbol angin yang membawa perubahan baru. “Bayu Putra Langit.”

Sore harinya, seluruh warga desa berkumpul di halaman rumah mereka untuk merayakan kelahiran sang bayi. Laras duduk di kursi goyang, menggendong Bayu dengan hati-hati. Di sekelilingnya berdiri orang-orang yang dicintainya: Dika yang tersenyum bangga, Raka yang menatap keponakannya dengan mata berbinar, Bibi Sari yang tersenyum lega, Arga beserta keluarganya, dan banyak wajah lain yang dulu asing namun kini menjadi saudara.

Laras menatap ke arah laut biru yang tenang, lalu ke arah hutan hijau yang rimbun. Ia pernah menjadi bayangan yang hidup dalam kegelapan, mengira kebahagiaan adalah hal yang mustahil baginya. Namun kini ia sadar: takdir tidak pernah menutup pintu sepenuhnya. Selama kita berani berubah, berani memaafkan, dan berani membuka hati, selalu ada jalan menuju cahaya.

Kisah Laras belum berakhir. Ia tahu, membesarkan anak, menjaga kedamaian di Karimun, dan membantu mereka yang masih tersesat akan menjadi tugas barunya. Namun kali ini, ia tidak berjalan sendirian. Ia memiliki keluarga, rumah, dan cinta yang tak terhingga sesuatu yang jauh lebih berharga daripada segala kemenangan di medan perang mana pun.

 Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!