**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Titipan
Pagi setelah mimpi buruk itu, Rayhan bangun lebih dulu.
Keira masih tidur miring, satu tangan memegang ujung kaus Rayhan seolah semalam ia takut laki-laki itu hilang kalau dilepas. Rayhan duduk di tepi ranjang cukup lama, menatap jari Keira yang menggenggam kainnya.
Ia ingin tetap di sana.
Keinginan itu sederhana. Bangun lebih dulu, membuat sarapan, mengantar Keira ke kampus tari, menunggu Liana bangun, bertengkar dengan Kelvin soal siapa yang lebih berhak memanjakan Keira. Hidup seperti itu tidak mewah, tetapi untuk Rayhan jauh lebih mustahil daripada membeli gedung.
Ponselnya menyala.
Pesan dari Evelyn.
Januari sudah dimulai. Jangan lupa jadwalmu.
Rayhan mematikan layar sebelum Keira bergerak.
Di dapur, ia membuat bubur instan dengan terlalu banyak air. Keira turun setengah jam kemudian, rambutnya berantakan, mata masih mengantuk. Melihat mangkuk di meja, ia berhenti.
"Ini bubur atau sup sedih?"
"Bubur sehat."
"Ray."
"Aku belajar."
Keira duduk, mencicipi sedikit, lalu menambahkan kecap dan bawang goreng sampai bentuknya lebih bisa diterima manusia.
"Mimpi semalam..." Keira mulai pelan.
Sendok Rayhan berhenti.
"Aku baik."
"Aku belum bertanya apakah kamu baik."
Rayhan tersenyum kecil. "Aku tahu kamu akan tanya."
Keira menatapnya lama. "Kalau belum siap cerita, bilang belum siap. Jangan bilang baik."
Rayhan menunduk pada mangkuknya.
"Belum siap."
Keira mengangguk, meski matanya jelas kecewa. "Oke."
Jawaban itu membuat Rayhan merasa lebih buruk daripada jika Keira memaksanya.
Ia meraih tangan Keira di atas meja dan mencium jarinya yang memakai cincin. "Terima kasih."
"Jangan lama-lama sendirian di sana," kata Keira.
Rayhan tidak sanggup menjawab.
***
Siang itu, Rayhan mengajak Daisy, Arya, dan Darren ke ruang privat kecil di lantai atas Eclipse. Tempat itu masih tutup untuk umum, lampunya belum semua dinyalakan. Tanpa musik dan keramaian, ruang VIP terlihat seperti panggung setelah semua penonton pulang.
Daisy datang pertama. Ia menatap wajah Rayhan dua detik, lalu langsung berkata, "Kau mau pergi."
Rayhan duduk di sofa. "Aku belum bicara."
"Wajahmu sudah bicara."
Arya masuk sambil membawa kopi. "Kalau rapatnya muram begini, aku pulang."
Darren menyusul, menutup pintu, lalu bersandar di dinding. "Evelyn?"
Rayhan tidak menjawab. Itu sudah cukup.
Udara berubah berat.
"Kapan?" tanya Daisy.
"Belum pasti. Semester ini selesai, proses ke Singapore dimulai. Somerfield dulu, lalu program bisnis yang dia susun."
Arya meletakkan kopinya terlalu keras. "Keira tahu?"
"Belum semuanya."
"Ray," suara Darren rendah, "jangan ulangi kebiasaan bodohmu melindungi orang dengan cara melukai mereka dulu."
Rayhan tertawa pendek. "Aku memanggil kalian bukan untuk ceramah."
"Sayang sekali," kata Daisy. "Aku sudah siap."
Rayhan membuka ponsel. Tiga notifikasi transfer muncul hampir bersamaan.
Rp 10.000.000 untuk Daisy Liem.
Rp 10.000.000 untuk Arya Prasetyo.
Rp 10.000.000 untuk Darren Oei.
Arya menatap layar ponselnya. "Apa ini? Uang duka?"
Rayhan meliriknya. "Kalau kau bicara lagi, aku tarik."
Daisy tidak tersenyum. "Untuk apa?"
"Jaga Keira."
"Kami akan jaga tanpa uangmu."
"Aku tahu." Rayhan menyandarkan punggung ke sofa. "Uang itu bukan bayaran. Itu dana darurat. Daisy, kalau ada masalah hukum, kampus, atau keluarga, pakai dulu. Jangan tunggu persetujuanku."
Daisy mengerutkan rahang.
"Arya, pantau media sosial. Kalau ada rumor tentang Keira, Kelvin, Liana, atau W.A Group, tutup sebelum meledak."
Arya tidak lagi bercanda.
"Darren, koneksi rumah sakit dan keamanan. Pastikan akses Keira ke RS Kurnia tidak bisa dipersulit siapa pun. Kalau ada orang Tanuwijaya mendekat, kabari Daisy dan Ricky."
Darren mengangguk pelan.
Rayhan melanjutkan, "Kalau Keira tidak mau makan, kirim Tina atau Sania. Kalau dia menolak bantuan dariku, jangan bilang itu dari aku. Kalau dia..."
"Cukup," potong Daisy.
Rayhan diam.
Daisy berdiri di depannya. "Kau bicara seperti orang yang sedang mengatur hidup setelah pemakaman."
"Aku tidak mati."
"Tapi kau membuat daftar seolah kau tidak akan bisa ditelepon."
Arya menatapnya tajam. "Apa Evelyn mengambil ponselmu?"
"Belum tentu."
"Belum tentu?" ulang Darren.
Rayhan tersenyum, tetapi tidak ada lucu di sana. "Kalian tahu Evelyn."
Tidak ada yang membantah.
Mereka memang tahu. Tidak sedalam Rayhan, tetapi cukup untuk mengerti bahwa uang, penjaga, sekolah, dokter, bahkan telepon bisa menjadi pagar kalau Evelyn yang memegang kuncinya.
Arya menutup wajah dengan tangan. "Sial."
Daisy duduk kembali. Suaranya lebih pelan. "Kau harus bilang pada Keira."
"Aku akan bilang."
"Kapan?"
Rayhan melihat gelas kopi yang tidak ia minum.
"Saat aku bisa memastikan dia tidak menyalahkan dirinya sendiri."
Darren mendesah. "Dia tetap akan terluka."
"Aku tahu."
"Dan kau?"
Rayhan mengangkat bahu. "Aku sudah biasa."
Daisy memukul meja dengan telapak tangan. Suaranya membuat Arya dan Darren sama-sama menoleh.
"Jangan pernah bilang begitu lagi."
Rayhan terdiam.
Mata Daisy merah, tetapi suaranya tetap dingin. "Kau boleh merasa harus pergi. Kau boleh kalah sementara dari Evelyn. Tapi jangan duduk di depan kami dan bicara seolah rasa sakitmu tidak penting."
Rayhan menatap tiga orang di depannya.
Daisy yang marah karena takut.
Arya yang kehilangan semua lelucon.
Darren yang diam tetapi tangannya mengepal.
Selama ini ia mengira keluarga hanya tempat orang saling melukai dengan nama darah. Lalu hidup memberinya tiga orang ini, yang tidak punya kewajiban apa pun untuk tetap tinggal, tetapi selalu ada bahkan saat ia paling sulit dicintai.
"Maaf," katanya pelan.
Ruangan hening.
Arya akhirnya mengambil ponselnya. "Transfer kuterima. Tapi kalau kau menghilang tanpa kabar, aku pakai uang ini untuk menyewa billboard dan menulis Rayhan Kurnia pengecut."
Darren mengangguk. "Aku tambah di jalan tol."
Daisy menyimpan ponselnya. "Aku tambah di depan Somerfield."
Rayhan tertawa, kecil dan pecah.
"Itu mahal."
"Kau yang bayar," kata Daisy.
***
Malamnya, Rayhan pulang ke Villa PIK membawa martabak manis.
Keira sedang membaca modul tari di sofa. Ia mengangkat kepala saat Rayhan masuk.
"Kamu dari mana?"
"Ketemu Daisy, Arya, Darren."
"Wajahmu seperti habis dimarahi."
"Memang."
"Bagus. Berarti mereka waras."
Rayhan duduk di lantai depan sofa dan meletakkan kepala di lutut Keira.
Keira membeku sebentar, lalu meletakkan modulnya. Tangannya turun, menyisir rambut Rayhan perlahan.
"Capek?"
"Sedikit."
"Mau cerita?"
Rayhan memejamkan mata.
"Nanti."
Kata itu lagi.
Keira menatap cincin di jarinya, lalu kepala Rayhan di pangkuannya. Ia ingin membuka semua pintu yang Rayhan tutup, tetapi ia juga takut kalau memaksa, laki-laki itu akan semakin jauh masuk ke tempat gelapnya.
"Oke," katanya akhirnya. "Nanti."
Rayhan menggenggam tangan Keira dan menempelkannya ke pipi.
Di ponselnya yang terbalik di meja, pesan dari Evelyn masuk tanpa suara.
Notifikasi itu tidak bergetar karena Rayhan sudah mematikan semua bunyi sejak pagi. Ia tidak ingin Keira mendengar nama Evelyn muncul lagi di antara mereka. Namun layar yang menyala sebentar tetap memantulkan cahaya kecil di permukaan meja, seperti pintu yang dibuka dari jauh.
Tiga hari lagi.