NovelToon NovelToon
Lovely Rain, Sweet Heart

Lovely Rain, Sweet Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Liana29

Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si paling sibuk

Setelah kejadian di tangga, Diantha dan Reyhan serta Sari kembali melangkah menuju area parkiran, sedangkan Althaf dan Rian menyusul sedikit terlambat..

Udara sore yang mulai sejuk tak mampu mengusir rasa canggung yang menggantung tipis di antara mereka. Begitu sampai di samping motor maticnya, Reyhan dengan sigap mengambil helm cadangan dari kaca spion, lalu berniat memakaikannya langsung ke kepala Diantha.

Namun, sebelum tangan Reyhan menyentuh tali helm, Diantha dengan halus mengambil alih helm tersebut dari genggaman Reyhan.

"Aku bisa sendiri, Kak. Makasih," ucap Diantha tenang sembari menyunggingkan senyum tipis yang formal..

Reyhan terkekeh pelan, sama sekali tidak merasa tersinggung apalagi patah semangat. Dalam pikirannya, penolakan halus seperti ini adalah hal yang wajar. Tiga bulan ia mengejar Diantha, ia sudah paham betul bahwa gadis ini punya benteng pertahanan yang tinggi. Tapi justru itu yang membuatnya makin tertantang. Reyhan masih punya banyak jurus pamungkas yang dijamin sanggup meluluhkan hati perempuan seiring berjalannya waktu..

Tak lama kemudian, mesin motor mereka menyala berurutan. Rian dan Sari melaju lebih dulu membelah jalanan sore, disusul oleh Reyhan dan Diantha. Sementara Althaf memilih berada di paling belakang, menjaga jarak aman beberapa meter dari motor Reyhan.

Dari balik kaca helmnya, pandangan Althaf terkunci rapat pada punggung Diantha yang dibonceng oleh Reyhan. Dada Althaf terasa begitu sesak dan perih. Padahal... biasanya dialah yang berada di posisi itu. Dialah yang selalu memastikan Diantha duduk dengan nyaman, dialah yang mendengar tawa gembira Diantha tepat di belakang telinganya saat mereka berkeliling sepulang sekolah..

Namun sore ini, posisi berharga itu resmi ditempati oleh orang lain..

Sesampainya di kafe baru tersebut, suasana riuh dan alunan musik santai langsung menyambut kedatangan mereka. Kafe itu memang cukup ramai diisi oleh para siswa dari berbagai sekolah yang hendak melepas penat usai jam pelajaran.

Saat mereka melangkah memasuki area dalam kafe, beberapa siswa berseragam kelas 11 yang duduk di meja dekat pintu utama mendadak menyapa dengan heboh. Rupanya, itu adalah teman-teman sekelas Reyhan yang sudah nongkrong lebih dulu.

"Eh, Rey! Lo ke sini juga?" sapa salah satu teman sekelas Reyhan bersuara lantang. Matanya kemudian melirik ke arah Diantha yang berdiri di samping Reyhan. "Wiiih... sama gandengan baru tuh kayaknya!"

Wajah Reyhan seketika berseri-seri penuh kebanggaan. Tanpa membantah sebutan 'gandengan baru' itu, Reyhan langsung merangkul angin di dekat Diantha dan memperkenalkannya dengan raut wajah sangat gembira..

"Bisa aja lo! Ini Diantha, adek kelas kita," ucap Reyhan memamerkan Diantha dengan bangga. Sari yang tak mau ketinggalan pun ikut menyapa dan menyambut perkenalan teman-teman Reyhan tersebut.

Sementara itu, Diantha hanya tersenyum canggung, sedangkan Althaf dan Rian memilih tetap berdiri diam di belakang. Althaf mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku celana, memakan bulat-bulat rasa cemburu yang kian membakar hatinya.

"Yuk, kita cari tempat duduk dulu," ajak Rian mencoba mencairkan situasi sebelum suasana makin memanas untuk Althaf.

Beruntung, masih ada satu meja kosong yang tersisa di sudut kafe yang agak tenang. Mereka berlima pun beranjak ke sana dan menduduki kursi kayu yang melingkar.

Reyhan yang sedang bersemangat tinggi dan berniat penuh 'mencari muka' di depan Diantha langsung bertindak paling sibuk. "Kalian duduk manis aja di sini, biar gue yang pesanin ke kasir! Mau pada pesan apa nih? Hari ini semuanya gue yang traktir deh!"

Aksi sibuk dan royal Reyhan itu ditanggapi sorakan gembira dari Sari, sementara Diantha hanya menyebutkan pesanannya dengan nada pelan. Reyhan kemudian bergegas menuju area kasir dengan langkah penuh percaya diri, meninggalkan keempat anak kelas X yang kini kembali terkurung dalam suasana yang diam..

"Thaf, ntar jadi kan ke rumah si Tomi?" tanya Rian memecah keheningan di meja sudut itu, berusaha mengalihkan perhatian Althaf yang sejak tadi menatap kosong ke arah deretan lampu gantung kafe..

"Mm, liat bentar deh kalau nggak capek," jawab Althaf pelan, suaranya terdengar lesu tanpa gairah.

"Oke lah, kabarin aja kalau jadi," balas Rian mengangguk paham. Ia mengerti betul, 'capek' yang dimaksud Althaf saat ini bukanlah capek fisik, melainkan capek batin..

Di sisi lain meja, Sari sibuk melihat-lihat pengunjung kafe yang makin sore makin ramai, sementara Diantha tengah sibuk menatap layar ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan singkat untuk Mamanya, memberi tahu bahwa ia sedang nongkrong sebentar di kafe bersama teman-teman dan berjanji akan pulang sebelum hari gelap.

Beberapa saat berlalu, sosok Reyhan kembali ke meja mereka. Wajahnya berbinar-binar penuh kebanggaan saat memamerkan baki berisi beberapa jenis camilan dan minuman dingin sesuai pesanan masing-masing..

"Nah.. pesanan datang!" ujar Reyhan riang. Ia menyajikan satu cangkir es cokelat dengan topping penuh tepat di depan Diantha. "Kamu udah nggak batuk, kan? Aku pesan yang normal ice dan normal sugar soalnya."

Mendengar hal itu, Althaf yang duduk tepat di depan mereka mendadak tak sanggup menahan diri. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa sempat ia saring.

"Kak Rey, Diantha sukanya yang less sugar," timpal Althaf spontan.

Suara Althaf terdengar begitu tajam dan tegas di meja itu, seketika membuat Rian dan Sari menahan napas. Refleks perlindungan yang biasa Althaf berikan selama bertahun-tahun untuk Diantha mendadak bocor tanpa kendali..

Reyhan tertegun sejenak, menggaruk belakang lehernya canggung. "Eh? Iya ya? Aduh, maaf ya, Tha' aku nggak tahu..."

Namun, sebelum Reyhan sempat menuntaskan permintaan maafnya, Diantha lebih dulu memotong. Gadis itu meraih cangkir es cokelat pemberian Reyhan, lalu mendongak menatap Reyhan dengan senyum tipis yang hangat..

"Nggak apa-apa, Kak, aku bisa minum kok. Makasih ya," jawab Diantha lembut, lalu menyesap minuman itu lewat sedotan tanpa ragu sedikit pun.

Melihat respon Diantha, senyum Reyhan seketika merekah kembali, jauh lebih lebar dari sebelumnya. Ia merasa sangat senang dan dihargai karena Diantha mau menerima serta menghargai usahanya dengan begitu manis, meskipun pesanan itu tak sepenuhnya sesuai dengan selera sang gadis..

Di sisi lain meja, Althaf merasa seperti baru saja dihantam pukulan telak tepat di dadanya..

Tubuh Althaf membeku di tempat. Kata-kata Diantha barusan memutus habis sisa-sisa 'keandalan' Althaf dalam mengenali kebiasaan gadis itu. Terpukul kenyataan pahit, Althaf menyadarkan dirinya: Diantha tidak lagi membutuhkan perhatian darinya. Rasa suka dan keinginan Diantha untuk belajar menerima Reyhan ternyata cukup besar untuk membuat gadis itu mengkompromikan hal-hal kecil yang biasanya ia benci..

Althaf menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengepalkan tangan di atas paha. Usahanya untuk memamerkan seberapa kenal ia pada Diantha justru berubah menjadi bumerang yang memalukan baginya sendiri..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!