NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Hubungan Mereka?

“Tuan… Tuan Besar Dirga sudah mengetahui Anda berada sedang berada disini. Beliau meminta Anda menemuinya. Apakah… Anda bersedia?” Suara Pak Eksa terdengar hati-hati, seperti orang yang sedang berjalan di atas pecahan kaca.

Renald yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, hanya menoleh sekilas. Rahangnya mengeras, sorot matanya dingin saat nama itu terucap. “Aku ada di sini untuk menyelesaikan proyek, bukan untuk menemuinya.”

Pak Eksa terdiam, mencoba menimbang kalimatnya, lalu memberanikan diri. “T-tapi, Tuan—”

Renald segera memotongnya, nada suaranya setajam pisau. “Urus saja mansion ini, jangan ikut campur dengan urusan pribadiku!”

Tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Dengan pasrah, Pak Eksa hanya menunduk. “Baik, Tuan.”

Ia tahu benar, tidak ada yang mampu mendamaikan perseteruan antara ayah dan anak itu.

Bertahun-tahun ia mengabdi, dari awal menjadi pelayan kepercayaan di mansion utama—tempat Tuan Besar Dirga tinggal—hingga kini dipercaya sebagai tangan kanan Renald. Semua luka, semua jurang yang terbentang, pernah ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Di sisi lain, Feri yang duduk santai di sofa panjang hanya mendengus. Ia paham betul, nama Tuan Besar Dirga adalah pantangan bagi Renald. “Apa kau yakin tidak mau menemuinya?” Tanyanya lirih.

Renald tidak menjawab. Ia bangkit, mantel hitamnya bergerak mengikuti langkah tegas menuju pintu. Feri pun beranjak, mengikuti tanpa banyak tanya.

Empat hari berlalu sejak jamuan makan malam dengan Mr. Smith. Sesuai janji, pertemuan lanjutan digelar di kantor pusat Renald di negara itu dan Mr. Smith mempercayakan tindak lanjut proyek besar itu pada putrinya, Deandra.

Pagi itu, Deandra datang dengan penuh persiapan. Kemeja putih berkerah yang pas di tubuhnya menonjolkan posturnya yang proporsional—terutama pada bagian atas dan juga bawah yang jelas sangat ia tonjolkan.

Rambut pirangnya dibiarkan tergerai indah, sementara parfum mewah yang digunakannya segera menguar memenuhi ruangan.

Feri yang berdiri di belakang Renald menggerutu pelan, “Ini mau rapat atau mau jual diri?”

“Diam!” suara Renald datar tapi dingin, cukup membuat Feri terpaksa menutup mulutnya.

Deandra melangkah mendekat dengan senyum percaya diri. Matanya langsung tertuju pada wajah Renald yang tegas dan tanpa ekspresi.

Bagi Deandra, inilah tipe pria yang membuatnya tergila-gila: dingin, berwibawa, dan tampak sulit ditaklukkan.

“Selamat pagi, Pak Renald. Ah bolehkan saya memanggil anda hanya dengan nama, lagipula kita sepertinya seumuran.” Ucapnya dengan anggun, mengulurkan tangan.

Renald hanya membalas dengan anggukan, tangannya menyentuh sekilas lalu kembali menarik diri.

Namun, dalam benaknya, bayangan lain menyeruak. Kinara. Gadis itu hadir begitu nyata di pikirannya, bahkan ketika di hadapannya berdiri wanita secantik Deandra.

“Kenapa aku memikirkannya sekarang?” Batinnya. Dengan cepat ia menggeleng, seolah ingin mengusir sosok Kinara dari kepalanya.

Deandra salah menafsirkan gerakan itu. Ia yakin Renald sedang menahan diri dari godaan. Senyumnya semakin lebar. “Anda baik-baik saja Renald?” Tanyanya manis, dengan tatapan menggoda.

"Ya..." Ia hanya menjawab singkat, tidak tertarik bermain-main dengan rayuan.

Feri segera memimpin  jalan mereka ke ruang rapat. “Mari, Nona Deandra. Tuan Renald. Ikuti saya.”

Rapat berlangsung selama hampir dua jam. Renald fokus penuh, membedah setiap detail proyek dengan ketelitian khasnya.

Sementara itu, Deandra duduk di kursinya sambil sesekali mencatat, tetapi matanya lebih sering menatap Renald. Baginya, pria itu lebih menarik daripada semua dokumen di atas meja.

Usai rapat, Deandra mendekati Renald. Senyumnya sedikit gugup, tapi matanya berkilat penuh harapan. “Renald, apakah malam ini Anda ada waktu?”

Renald mengangkat alis. “Untuk apa?”

Deandra menarik napas, lalu berterus terang. “Saya ingin mengajak Anda makan malam. Ada restoran baru yang nuansanya cukup baik dan saya ingin sekali mendatanginya bersama Anda.”

Renald menatapnya sebentar, lalu menggeleng pelan. “Maaf, Nona Deandra. Malam ini saya sedang mengejar jadwal penerbangan.”

Jawaban itu membuat wajah Deandra seketika merona malu. Selama ini, setiap pria selalu berusaha mendekat padanya. Baru kali ini ia ditolak mentah-mentah.

Namun, gengsi membuatnya tetap tersenyum. “Baiklah. Semoga perjalanan Anda lancar.”

Renald hanya mengangguk singkat, lalu melangkah pergi. Deandra berdiri terpaku, menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh.

Di sisi lain, suasana kantor berbeda tanpa kehadiran Renald. Sudah seminggu, Kinara menjalani hari-hari dengan lebih tenang. Tidak ada tatapan tajam, tidak ada perintah mendadak yang membuatnya gugup. Hanya lego yang ia rakit di sela waktunya, pekerjaan aneh tapi berharga dari Renald.

Sore itu, potongan terakhir lego berhasil ia pasang. Kinara tersenyum puas. “Akhirnya selesai juga...” Bisiknya.

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Ia merapikan meja, membiarkan lego itu di lantai. “Besok biar aku pikirkan mau ditaruh di mana.” Gumamnya.

Setibanya di apartemen, tubuhnya terasa sangat lelah. Setelah membersihkan diri, ia langsung terlelap. Kinara akui semenjak dirinya memiliki dua pekerjaan, tubuhnya terasa lebih mudah letih. Hal inilah yang membuat dirinya ketika sudah bertemu dengan kasur langsung terbang ke alam mimpi.

Beberapa jam kemudian, suara pintu apartemen yang terbuka membuat Kinara terbangun. Ia langsung sadar ada seseorang yang masuk ke apartemennya. Dengan langkah pelan, ia bersembunyi di balik tembok, mencoba mengintip meski rasa takut masih menguasainya.

Saat pintu tertutup, matanya melebar kaget. “Renald…”

Pria itu berdiri di sana, tegap dan berwibawa, menatap langsung ke arahnya. Rambut Kinara yang masih acak-acakan, wajahnya yang baru bangun tidur—semua tampak jelas. Renald berjalan mendekat tanpa berkata apa-apa.

Kinara mundur setapak, tapi langkah Renald lebih cepat. Sekali tarikan, tubuhnya terjerat dalam pelukan pria itu.

Aroma tubuh Renald yang khas memenuhi inderanya. Pelukan itu erat, seolah ingin menahan dunia agar berhenti berputar.

“Renald…” Kinara mencoba melawan, tapi semakin ia berusaha, semakin kuat Renald memeluknya.

“Diamlah...” Bisik Renald lirih di telinganya. “Tetaplah seperti ini sebentar. Aku rindu.”

Kinara terdiam. Hatinya berdebar, napasnya tercekat, sementara tubuhnya akhirnya pasrah dalam dekapan itu.

•••

“Halo, Tuan William.” Suara pria di seberang adalah orang yang ditugaskan William untuk mengawasi Kinara.

“Ya. Apakah kau sudah menemukan informasi baru?” Suara William terdengar langsung, tanpa basa-basi.

“Belum, Tuan. Tapi… saya ingin menyampaikan sesuatu. Ini berkaitan dengan salah satu orang terdekat Anda.”

William mengernyit. “Apa aku pernah  menugaskanmu untuk menyelidiki mereka?!” Suaranya naik setingkat.

“Benar, Tuan. Tapi ini tetap ada hubungannya dengan Nona Kinara.”

William mengepalkan tangan. “Katakan langsung. Jangan bertele-tele.”

“Saya melihat CEO Merta Dirga, Tuan Renald, memasuki apartemen Nona Kinara.”

Keheningan menggantung beberapa detik. William hampir tak percaya dengan telinganya. “Renald? Kau yakin tidak salah lihat?”

“Saya yakin, Tuan. Tidak mungkin saya salah.”

“Baik. Terus awasi. Segera laporkan setiap perkembangan.”

“Sesuai perintah, Tuan.”

Telepon terputus. William masih menatap layar ponselnya, wajahnya tegang.

“Kinara memang bekerja di perusahaannya… tapi apa hubungan mereka sebenarnya? Mengapa Renald sampai datang ke apartemennya?” Gumamnya pelan.

Berbagai kemungkinan berputar di kepalanya. Hati kecilnya yakin, Kinara punya ikatan darah dengannya. Namun, semua itu masih teka-teki yang harus ia pecahkan. Dan satu hal jelas—kehadiran Renald membuat segalanya semakin rumit.

1
Siti Naimah
busett...bener2 keluarga toxic
semoga kelakuan Rani segera terbongkar...lewat Danu yg merupakan ayah biologis Diana..
geregetan banget kok Kinara yg dijadiin sapi perah
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!