NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelang Merah dan Pelarian Palsu

Suasana kelas 12-IPS 2 riuh oleh obrolan murid-murid menjelang jam pelajaran pertama dimulai. Namun, di sudut dekat jendela, Kayla seolah memiliki dunianya sendiri. Gadis itu banyak melamun, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap kosong ke arah lapangan. Pengumuman pernikahan ayahnya kemarin malam masih menyisakan rasa sesak yang berdenyut di dadanya. Rumahnya kini terasa seperti tempat asing yang ingin ia hindari sejauh mungkin.

"Hai, Princess. Gue punya sesuatu buat lo, tadaaaa!"

Suara bariton yang renyah itu membuyarkan lamunan Kayla. Di depannya, Gavin sudah berdiri dengan senyum miring andalannya. Cowok itu menyodorkan sebuah gelang tali sederhana berwarna merah terang dengan simpul rapi di tengahnya.

Kayla mengerjapkan mata, menatap benda itu dengan dahi berkerut. "Apaan nih?"

"Hadiah. Sini, gue pakein," ucap Gavin tanpa menunggu persetujuan. Ia menarik lembut pergelangan tangan kanan Kayla.

Anehnya, Kayla tidak melawan. Ia hanya pasrah saat jemari kekar Gavin yang sedikit kasar mengikatkan gelang tali itu di pergelangan tangannya. Ada rasa hangat yang aneh menyergap hatinya. Di saat dunia rumahnya runtuh, perhatian-perhatian kecil dari Gavin entah bagaimana menjadi sedikit pelipur lara.

Gavin memperhatikan wajah pucat Kayla setelah selesai mengikat gelang. "Lesu amat, Kay. Hidup lo kayaknya gak ada seru-serunya banget hari ini. Mau ikut gue gak, seru-seruan bareng nanti habis pulang sekolah?" tanya Gavin, mencondongkan tubuhnya.

Kayla menatap gelang merah di tangannya, lalu beralih ke mata Gavin. "Kemana?"

"Ke markas gue. Di sana rame, ada anak-anak sekolah lain anak buah gue juga. Tenang aja, lo bakal aman di sana," ucap Gavin dengan nada meyakinkan, mencoba membujuk gadis es di hadapannya.

Mendengar kata 'ramai' dan 'aman', pikiran Kayla langsung berputar. Tawaran Gavin terasa seperti sebuah pintu darurat, sebuah pelarian dari kenyataan pahit di rumahnya. Jauh di lubuk hatinya, Kayla merasa takut karena ia tahu dunia Gavin itu liar. Namun, rasa frustrasi dan amarahnya pada sang ayah jauh lebih besar menguasai logikanya. Akhirnya, Kayla mengangguk perlahan, mengiyakan ajakan itu.

Waktu berlalu begitu cepat hingga bel tanda pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring. Murid-murid berhamburan keluar kelas, termasuk Arka yang langsung menghadang meja Kayla sebelum gadis itu sempat berkemas.

"Kay, bareng gue ya?" ucap Arka lembut, menyodorkan helm cadangan yang selalu ia bawa. Sorot matanya memancarkan rasa khawatir setelah melihat Kayla melamun seharian.

Kayla menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari alasan agar tidak ketahuan. "Nggak deh, Ka. Gue... gue mau beli sepatu dulu buat bokap gue," bohong Kayla, sengaja membawa-bawa nama ayahnya agar Arka percaya.

Arka menyipitkan matanya, menatap Kayla penuh selidik. Instingnya merasa ada yang janggal karena biasanya Kayla paling malas mengurus keperluan ayahnya akhir-akhir ini. Namun, ia mencoba berpikiran positif. "Yaudah, gue anterin kalau gitu. Sekalian gue juga mau cari sesuatu."

"Gak usah, Ka! Gue... gue lagi mau sendiri, gak mau diganggu," potong Kayla dengan nada sedikit tinggi, membuat Arka tertegun.

Melihat kepalan tangan Kayla yang mengeras, Arka akhirnya menghela napas pasrah. Ia mengalah. "Yaudah, kalau ada apa-apa hubungi gue ya, Kay? Jangan matiin HP lo." Arka berbalik dan berjalan lunglai meninggalkan kelas dengan perasaan cemas yang masih mengganjal di dadanya.

Kayla mengembuskan napas lega setelah memastikan punggung Arka benar-benar menghilang di ujung koridor. Ia segera menggendong tasnya dan berjalan menuju gerbang belakang sekolah. Di sana, Gavin ternyata sudah menunggu di atas motor sport-nya, lengkap dengan senyuman kemenangan saat melihat Kayla berjalan ke arahnya.

Gavin menyerahkan sebuah helm hitam pada Kayla. "Yok! Gue jamin lo bakal senang-senang hari ini, Princess."

Kayla memakai helm tersebut lalu naik ke atas boncengan motor besar Gavin. Detik berikutnya, mesin motor itu menderu keras, melesat membelah jalanan fajar, membelah kepadatan arus lalu lintas sepulang sekolah.

Di sepanjang jalan, angin bertiup kencang menerpa wajah mereka. Gavin melirik kaca spionnya, menatap siluet Kayla yang duduk tenang di belakangnya tanpa banyak tingkah. Cowok itu sedikit menolehkan kepalanya, berusaha mengeraskan suara agar terdengar di balik helm.

"Gue seneng deh lo akhirnya bisa nge-iyain ajakan gue," ucap Gavin, suaranya terdengar tulus tanpa nada mengejek yang biasanya selalu ia gunakan.

Kayla yang mendengar itu mendengkus pelan di balik helmnya. Ia mengeratkan pegangannya pada jaket Gavin agar tidak terlempar akibat kecepatan motor yang cukup tinggi. "Jangan GeEr, gue cuman butuh pelarian aja," ketus Kayla, tetap mempertahankan gengsi dan sifat ketusnya.

Mendengar respons dingin yang sudah ia duga itu, Gavin justru tertawa renyah. Suara tawanya terdengar lepas mengalahkan bisingnya jalanan.

"Sekalipun lo anggap gue pelarian, itu udah cukup bikin gue seneng, Kay," ucap Gavin dengan nada penuh percaya diri. "Kali ini gue jamin lo bakal seneng-seneng sama gue."

Kalimat Gavin itu entah kenapa membuat dada Kayla sedikit berdesir. Ada rasa bersalah karena membohongi Arka, namun rasa ingin lari dari masalah rumahnya jauh lebih mendominasi pikirannya saat ini. Ia membiarkan motor Gavin membawanya semakin jauh dari rumahnya yang terasa seperti neraka.

Mereka berdua terlalu larut dalam atmosfer pelarian itu, hingga sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya yang nyata sedang mengintai di belakang punggung mereka.

Tepat di seberang jalan gerbang belakang sekolah yang mulai sepi, di bawah bayangan pohon beringin yang rindang dan gelap, sesosok manusia berpakaian serba hitam dengan topi dan masker medis berdiri mematung. Matanya yang setajam elang mengunci pergerakan motor Gavin yang mulai menjauh hingga menghilang di tikungan jalan.

Sosok misterius itu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jaketnya yang tebal, mengetikkan sesuatu dengan jemari yang terbungkus sarung tangan hitam. Matanya memancarkan aura dendam yang membara saat mengingat bagaimana Gavin tertawa lepas bersama gadis itu, terutama saat melihat gelang merah yang kini terikat di pergelangan tangan Kayla.

“Pelarian yang bagus, Gavin. Nikmati waktu bersenang-senangmu bersama gadis itu, karena setelah ini... gue akan buat kalian berdua merangkak memohon ampun.”

Sosok itu menurunkan ponselnya, lalu melangkah perlahan mundur, melebur bersama kegelapan di bawah bayangan pohon, terus bergerak mengintai dan mengikuti ke mana pun mangsanya pergi. Bahaya besar kini benar-benar sedang membayangi setiap langkah Kayla dan Gavin, siap menerkam di saat mereka lengah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!