"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: PERTEMUAN DI BATAS SENJA
Waktu berjalan merajut jaring-jaring takdir dengan kelenturan yang teramat senyap, membawa setiap serpihan luka bergerak menuju titik pengujian jiwa yang baru.
Setelah melangkah tegap keluar membelakangi pintu pagar rumah Ibu Nita dengan sisa-sisa harga diri yang tegak, Aini menolak keras untuk langsung melangkahkan kaki pulangnya menuju ke rumah orang tuanya. Dia sama sekali tidak ingin Bapak dan Ibu Naya melihat guratan wajah sedih serta sisa air mata yang menggenang di kedua pelupuk matanya. Melalui layanan taksi harian yang telah dia pesan, Aini meminta sang sopir untuk menghentikan laju kendaraan di sebuah kawasan perbukitan yang teramat sejuk dan sunyi di pinggiran Pesisir.
Aini berjalan perlahan dengan langkah kaki yang gontai, membawa tubuh mungilnya yang memiliki tinggi 155 sentimeter dan berat badan 50 kilogram itu menuju ke bawah rindangnya sebatang pohon besar yang tumbuh kokoh di tepi bukit. Tempat itu teramat syahdu, menyuguhkan pemandangan bentangan alam yang hijau dengan aliran air sungai jernih yang mengalir tenang tepat di bagian bawahnya. Aini mendudukkan tubuh lelahnya di atas hamparan rumput, membiarkan punggungnya bersandar pada batang pohon yang kasar. Sepasang netra teduhnya menerawang jauh menatap kosong ke arah riak air yang mengalir tanpa arah yang pasti.
Di dalam kesendirian yang mencekam itu, ruang pikiran Aini mulai sibuk berperang dengan emosinya sendiri. Batinnya menerawang teramat jauh, memutar kembali setiap lembaran hitam kelam dari seluruh rangkaian perjalanan garis hidup yang telah terjadi pada dirinya selama ini.
“Ternyata... aku memang pantas terbuang . Aku sama sekali tidak ditakdirkan untuk dicintai oleh siapa pun,” rintih Aini memprotes ketidakadilan takdir di dalam keheningan jiwanya.
Ingatan kelamnya mendadak melompat kembali pada kenangan pahit di masa lalu saat dia masih bersama dengan Arman. Aini teringat betul bagaimana sebelum pernikahan itu digelar, dia dan Arman saling mencintai dengan teramat dalam dan sempat mengecap hari-hari yang penuh dengan kebahagiaan semu. Namun, saat melangkah menuju gerbang pernikahan, dinding penghalang besar langsung menghadangnya ketika orang tua Arman menunjukkan rasa benci dan ketidaksetujuan yang mendalam padanya hanya karena ia bukan seorang sarjana.
Kini, setelah dia berhasil bangkit menjadi seorang wanita mandiri, luka yang sama persis justru kembali dikorek secara kejam oleh Ibu Nita hanya karena statusnya yang merupakan seorang janda kampung.
Tak berhenti di situ, bayangan ingatan Aini pun perlahan bergeser membayangkan sosok sang presdir bertubuh tegap, Arka Mahesa Pratama.
“Apa lagi jika diingat dengan pria itu... aku benar-benar adalah seorang janda yang teramat tidak tahu diri karena telah lancang menyimpan rasa cinta yang mendalam pada sosoknya,” batin Aini meratapi nasibnya dengan senyuman hambar dan wajah datar yang sarat akan keputusasaan akut.
Tanpa pernah dia sadari, benteng pertahanannya runtuh total. Buliran bening air mata yang hangat perlahan lolos berjatuhan dari sudut matanya, mengalir membasahi kulit kuning langsat di pipinya yang mulus, menciptakan kontras kepedihan yang teramat pekat di bawah rindangnya pohon bukit.
Sementara itu, di sepanjang jalur jalanan lintas bukit yang sepi, sebuah kendaraan mobil mewah hitam premium tampak sedang melaju membelah keheningan sore Pesisir. Di dalam kabin mobil yang sejuk, Arka Mahesa Pratama sedang duduk bersandar di kursi penumpang bagian belakang. Pria berusia 35 tahun dengan hidung mancung tegas itu hanya menatap lurus ke arah depan dengan raut wajah yang memancarkan ketenangan yang dingin dan sedikit arogan, sebuah topeng yang sengaja dia pasang demi menimbun rapat-rapat rasa rindu dan cemburu akut yang selama ini telah menyiksa relung hatinya yang paling dalam.
Laju mobil mewah itu perlahan melambat saat melewati tikungan bukit yang sepi karena kondisi jalanan yang sedikit menyempit. Arga yang sedang fokus mengemudikan setir mobil di bagian depan, sesekali melirik ke arah kaca spion tengah untuk memantau kondisi bos besarnya. Namun, saat pandangan mata Arka menyapu area luar di tepi bukit.
"Hentikan mobilnya Arga" tintah Arka.
"Ada apa, Pak Arka? Ini adalah tempat yang teramat sunyi dan sepi di pinggir bukit. Kalau kita mendadak berhenti di sini, saya takut nanti akan terjadi apa-apa pada keselamatan kita," ujar Arga dengan nada suara yang berbisik hati-hati memecah keheningan.
Arka tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya yang tajam terkunci rapat pada sebuah objek di balik kaca jendela mobil. Jantung sang miliarder 175 sentimeter itu seketika berdegup kencang tak karuan dengan dada yang bergemuruh hebat.
"Coba kamu lihat dan perhatikan dengan jelas wanita yang sedang duduk menyendiri di bawah pohon besar di tepi aliran air itu, Arga," perintah Arka dengan nada suara beratnya yang mendikte rendah namun terselip kepanikan yang tertahan.
Arga langsung menghentikan laju kendaraan di pinggir jalan setapak, lalu memiringkan tubuhnya untuk melirik tajam ke arah sudut pohon besar yang ditunjuk oleh atasannya. Demi melihat siluet putih pakaian wanita di tengah kesunyian bukit sore hari, bulu kuduk di sekujur tubuh Arga seketika merinding disko.
"Hah?! Hantu, Tuan?! Astaga, apakah Tuan Arka sengaja mengajak saya ke pelosok kampung ini murni hanya untuk mencari sesuatu hal gaib untuk disembah selain Tuhan, demi menambah pundi-pundi kekayaan takhta Tuan yang sudah setinggi langit itu?!" seru Arga panik dengan wajah polosnya yang ketakutan setengah mati.
Mendengar kalimat konyol dari mulut asisten pribadinya, rahang tegas Arka seketika mengetat menahan kesal.
"Bodoh! Saya ini adalah seorang miliarder penguasa nomor satu di dunia bisnis, saya sama sekali tidak membutuhkan hal-hal pesugihan konyol seperti itu untuk mencari uang!" ketus Arka dengan wajah tegas yang memerah padam akibat dongkol.
"Lalu... lalu untuk apa kita berhenti dan menatapnya terus, Pak?" tanya Arga lagi sembari mengusap tengkuk lehernya yang masih terasa dingin.
"Itu... itu sepertinya adalah Aini, penulis fiksi novel orisinil yang proyek karyanya kita filmkan di agensi dulu," ujar Arka di dalam hatinya dengan penuh harap yang membuncah tinggi, menepis seluruh keangkuhan egonya yang selama sebulan ini membeku laksana es batu.
"Hah?! Nona Aini?!" Arga tersentak kaget.
Dia mencoba menyipitkan kedua matanya, menatap lebih jelas dan presisi ke arah tepian sungai bukit. Bentuk bahu yang mungil dan postur tubuh wanita yang sedang menyendiri itu memang teramat sangat tidak asing lagi di dalam ingatannya.
Tanpa memedulikan Arga yang masih terlongo kaget di kursi depan, Arka Mahesa Pratama dengan gerakan tegap langsung membuka pintu mobil mewah hitamnya secara terburu-buru. Pria berusia 35 tahun dengan kemeja premium kota itu melangkah turun membelah rerumputan bukit, mengabaikan debu jalanan demi mengejar satu sosok janda mandiri yang telah berhasil merampok seluruh kewarasan logikanya selama ini sepi.
Langkah kaki lebar milik Arka yang menginjak dedaunan kering memecah keheningan di bawah pohon besar. Mendengar ada suara langkah kaki manusia yang mendekat ke arah tempat persembunyiannya, Aini secara perlahan menyeka buliran bening di pipinya menggunakan ujung lengan tunik putihnya. Dia menggeser wajahnya, mencoba memasang topeng "akting muka datar" andalannya kembali karena mengira bahwa pria yang menyusulnya itu adalah Egi yang datang untuk meminta maaf kembali atas nama ibunya.
Namun, begitu sepasang netra teduh milik Aini mendongak dan menatap langsung tepat pada sosok pria tegap berhidung mancung tegas dengan kulit kuning langsat cerah yang berdiri kokoh di hadapannya, seluruh tubuh Aini seketika terenyak membeku laksana patung es di tengah keheningan senja Pesisir. Jiwanya berguncang hebat melihat presdir yang selama ini menjajah ruang mimpinya kini nyata berdiri menatapnya dengan sepasang mata elang yang sarat akan kabut rindu yang mendalam.
Kedua mata itu bertemu ada tatapan keduanya yang tak dapat di artikan, keduanya seperti sama-sama ingin memeluk tetapi mereka sadar mereka hanyalah sama-sama orang asing yang hanya mengenal nama.
Sebab, bagian paling menakjubkan dari sebuah skenario takdir adalah ketika semesta sengaja membiarkanmu runtuh terluka oleh ekspektasi manusia lain, hanya untuk mempertemukanmu kembali dengan sosok yang jiwanya diam-diam meratapi kerinduan padamu; membuktikan bahwa sebuah luka batin yang dikelola dengan keteguhan harga diri akan selalu menuntun langkah kaki sang pelindung sejati datang di waktu yang teramat rapi.
......................
Duh gimana selanjut nya nih apakah keduanya akan akur dan saling jujur dengan perasaan nya atau malah tetap kayak dulu lagi, yuks para Readers tercinta baca trus kelanjutannya, aku up setiap hari ☺️
Terimakasih sudah membaca♥️♥️