"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: RERUNTUHAN DI BALIK LAYAR KACA
Cinta yang tumbuh di balik kabut gengsi sering kali menjelma menjadi belati yang paling tajam; dia tidak bersuara, namun sanggup mengiris warasnya pikiran tanpa ampun. Di luar dinding kaca kafe yang estetik itu, Arka Mahesa Pratama berdiri terpaku laksana patung batu di tengah remang malam kota yang mulai mendingin. Pria berusia 35 tahun dengan tubuh tegap setinggi 175 sentimeter dan hidung mancung yang tegas itu mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat di dalam saku celana bahan premiumnya.
Melihat bagaimana Aini—wanita kampungan yang biasanya selalu memasang muka datar sedingin es di hadapannya—kini justru bisa mengulas senyuman yang teramat manis dan tertawa lepas bersama Egi, mengirimkan gelombang rasa panas yang membakar seluruh dinding egonya sekejap mata.
Alih-alih melangkah masuk untuk meluapkan amarah murka atau menginterupsi pertemuan tersebut, Arka memilih untuk mundur secara berkelas namun sarat akan dendam harga diri yang terluka. Ego lelakinya yang setinggi langit menolak keras untuk terlihat lemah atau mengemis perhatian. Arka membalikkan tubuh tegapnya secara kasar, melangkah lebar memasuki mobil mewah hitamnya yang terparkir di area VIP.
"Bapak Arka... kita tidak jadi meninjau naskah bersama Aini?" tanya Arga sang asisten pribadi dengan dahi berkerut heran melihat rahang bos besarnya yang mengeras sempurna dengan wajah kuning langsat yang mendadak pias menahan geram.
"Putar balik mobilnya sekarang. Kita kembali ke kantor agensi," perintah Arka, suaranya meluncur begitu rendah, dingin, dan bergetar hebat menahan badai emosi di dalam dada.
Di dalam mobil Arga membawa laju mobil sedang fokus nya tersenta oleh pertanyaan dari atasan nya.
"Arga apa ada orang yang lebih tampan dan kaya dari ku" pertanyaan itu menimbulkan rasa janggal di hati Arga.
"Tidak pak" jawab lelaki 28 tahun itu, jawaban yang membuat dirinya nya aman.
Di sepanjang perjalanan pulang membelah keheningan malam, atmosfer di dalam mobil mewah itu terasa begitu mencekam, membungkus Arka dalam keheningan dendam batin karena menyadari dirinya tidak memiliki hak apa pun untuk melarang wanita itu bahagia dengan pria lain.
Keesokan harinya, proses syuting hari keenam untuk web series"luka dalam rumah tangga" kembali berjalan di lokasi luar ruangan dengan kesibukan yang padat. Karena novel orisinil milik Aini di NovelToon posisinya sudah berada di beberapa bab terakhir menjelang babak ending, Aini hadir memantau dengan fokus profesional yang penuh. Namun, sore itu, ada atmosfer yang terasa teramat asing, sepi, dan hampa di dalam lubuk batin Aini.
Sepasang mata elang, postur tegap 175 sentimeter, dan aroma parfum cendana mewah milik Arka Mahesa Pratama sama sekali tidak kunjung menampakkan batang hidungnya di lokasi syuting. Biasanya, pria sekaku kulkas seribu pintu itu selalu datang melakukan inspeksi mendadak, atau setidaknya nekat melakukan panggilan video (video call) ke ponsel Aini hanya untuk mendikte dan mencari-cari kesalahan naskah dengan kalimat ketusnya. Hari ini, ruangan set terasa begitu lowong dan membosankan tanpa kehadiran sang investor tunggal raksasa bagi Aini. Namun, bagi kru syuting yang lainbya hari berjalan sepertia biasa.
Batin Aini mulai dirongrong oleh gejolak kegelisahan yang teramat hebat dan membakar ketenangannya. Berkali-kali jemari tangannya bergerak gelisah membuka layar ponselnya yang tetap sepi dari notifikasi, merenung sendirian di kursi penulis dengan pikiran yang berkecamuk acak-acakan tak karuan.
“Ke mana pria angkuh berumur tiga puluh lima tahun itu pergi hari ini? Kenapa hari ini dia sama sekali tidak memberi kabar, tidak menelepon, atau datang mencari kesalahanku seperti biasanya?” bisik Aini dalam keheningan jiwanya, merasa teramat kesal dan marah pada dirinya sendiri karena menyadari ada satu ruang kosong yang mendadak terasa hilang dan hampa di dalam hatinya.
Kegelisahan batin Aini malam itu akhirnya terjawab dengan cara yang teramat menyakitkan dan menghancurkan logikanya di dalam kesunyian kamar hotel tempatnya menginap. Saat Aini sedang merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang sembari membuka aplikasi WhatsApp untuk memeriksa pesan masuk, jemarinya tanpa sengaja mengetuk barisan lingkaran hijau di kolom Story WA milik kontaknya. Seketika itu juga, seluruh pasokan udara di dalam paru-parunya seolah tersedot habis, dan jantung Aini laksana mencelos jatuh ke dasar bumi yang paling dalam.
Di dalam layar ponselnya yang berkilau, terpampang sebuah unggahan Story WA terbaru yang baru saja diperbarui dari nomor Arka Mahesa Pratama. Di sana, terpajang sebuah foto beresolusi tinggi yang memperlihatkan Arka sedang duduk di sebuah restoran mewah bintang lima berlatar pemandangan kota, mengulas senyuman tipis yang teramat tampan dan menawan sembari menatap lembut ke arah Celine yang duduk manis di hadapannya dengan rambut pirang terurai indah. Kalimat keterangan di bawah foto tersebut sengaja ditulis dengan nada ketus namun memancarkan kesan yang teramat manis, memamerkan kedekatan makan malam mereka seolah-olah Celine adalah satu-satunya wanita yang paling berharga, paling dimuliakan, dan berhak menempati ruang di dalam hidup sang presdir tertinggi.
Dada Aini seketika terasa dihantam oleh hantaman godam besar yang teramat dahsyat, meninggalkan rasa sesak, panas, perih, dan luka yang luar biasa mengalir deras di ulu hatinya. Rasa cemburu dan kekecewaan yang mendalam berbaur menjadi satu, meremukkan seluruh benteng pertahanan muka datar yang selama ini dia bangga-banggakan di depan umum. Air mata asing yang hangat hampir saja luruh membasahi pipi kuning langsatnya yang tirus.
Aini merutuki kebodohan hatinya sendiri yang sempat membiarkan getaran asing itu tumbuh subur untuk seorang pria yang jelas-jelas memiliki dunia yang teramat mewah, megah, dan sempurna bersama wanita lain sekelas kesempurnaan fisik Celine.
Dengan gerakan tangan yang sedikit gemetar karena rasa sakit batin yang teramat perih, Aini langsung menutup aplikasi tersebut dengan cepat. Dia melempar ponselnya ke atas kasur dengan helaan napas yang teramat berat dan panjang. Pikirannya mendadak ditarik paksa kembali mengingat masa lalu pernikahan kelamnya bersama Arman—tentang bagaimana rasanya diabaikan, dan tidak pernah dihargai sebagai seorang pendamping. Aini memantapkan kembali batinnya dengan sangat kokoh, bersumpah di dalam kesunyian malam untuk menutup rapat-rapat pintu hatinya dari getaran asmara mana pun.
Dia kembali memasang dinding es ketidakpedulian yang tebal, bertekad menyelamatkan warasnya jiwa dari lubang penderitaan dan luka batin yang sama untuk kedua kalinya.
Sebab, bagian paling menyakitkan dari sebuah harapan yang salah alamat adalah saat kamu tersadar bahwa di dalam Story WhatsApp seseorang yang mulai mengusik pikiranmu, posisi tempat dudukmu telah digantikan oleh kesempurnaan orang lain; membuktikan bahwa kemandirian batin seorang wanita harus tetap tegak berdiri tanpa perlu mengemis ruang di hati manusia yang tidak pernah tulus memuliakan kelas keanggunanmu.
Aini memejamkan kedua matanya dalam keheningan malam kamar hotel yang pekat, mengunci rasa sakit hatinya rapat-rapat di balik selimut tebal, bersiap menghadapi hari esok dengan jiwa yang sepenuhnya acuh tak acuh dan dingin kepada sang investor.
--------------------