Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NYALAKAN SAJA PONSEL MU
suasana Desa Oki-Niko kembali diselimuti ketenangan yang magis. Sisa-sisa keriuhan festival semalam seolah menguap bersama kabut tipis. Di halaman depan Yukari tampak sibuk mengayunkan sapu lidi, membersihkan sisa daun kering yang berguguran di sekitar halaman.
"Pagi, Yukari-san."
Yukari sedikit tersentak kaget. Ia refleks menoleh ke arah pagar dan mendapati Akira baru saja melangkah masuk. Pria itu tampak segar menjinjing sebuah kantung plastik putih besar.
"Pagi, Akira-san," balas Yukari sembari menyandarkan sapunya ke dinding. "Kau baru saja jogging?"
"Tadinya begitu. Tapi di ujung jalan sana, ada aroma yang sangat lezat. Jadinya aku putar balik dan membeli ini." Akira mengangkat kantung plastik di tangannya sedikit lebih tinggi
"Baguslah. Kalau begitu, aku akan mengambil sendok dan air hangat dulu. Kita sarapan di selasar samping rumah saja, ya?"
Akira mengangguk setuju. Ia segera melangkah menuju selasar samping yang hangat, lalu membuka dua kotak yang masih mengepul. Tidak lama Yukari datang dengan dua gelas air hangat dan sendok. Setelah menggumamkan "Itadakimasu" bersama-sama, mereka mulai menikmati sarapan dalam keheningan yang nyaman.
"Apa kira-kira Daiki akan datang pagi ini?" tanya akira di sela-sela kunyahannya.
"Entahlah. Sekarang dia sudah punya kekasih, bukan? Mungkin mulai sekarang dia akan jarang mengunjungiku,"
Yukari kembali menyuap makanannya sembari mengerucutkan bibir. Namun, gerakan tangan Yukari membuat perhatian Akira teralih. Di pergelangan tangan gadis itu, samar-samar masih terlihat bekas kemerahan—sisa dari cengkeraman kasar Hiroshi semalam.
"Pergelangan tanganmu... tidak apa-apa, Yukari-san?" tanya Akira, nadanya berubah serius.
"Eh?" Yukari menurunkan sendoknya, lalu melihat ke arah pergelangan tangannya sendiri. Menyadari ke mana arah pembicaraan Akira, ia buru-buru menarik lengan bajunya ke bawah. "Ah, ini... tidak apa-apa."
Suasana mendadak hening untuk beberapa menit.. Dengan suara yang agak berbisik, "Dia... tidak akan menggangguku lagi, kan?"
Akira menghentikan gerakan sendoknya. Ia menatap lekat mata Yukari "Karena Daiki sudah membuat laporan polisi sebelumnya, pria itu langsung masuk daftar pencarian orang, dia sudah resmi ditangkap. Kau aman, Yukari-san."
Yukari mengangguk pelan, seolah sebuah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya.
"Sudah, jangan diingat-ingat lagi," lanjut Akira dengan nada yang jauh lebih lembut. "Lebih baik alihkan pikiranmu ke hal yang lain."
Yukari yang sudah menyelesaikan sarapannya mulai menyusun kotak-kotak kosong ke dalam plastik. "Harus memikirkan apa memangnya?"
"Memikirkanku mungkin???"
Suara cengegesan yang sangat familier tiba-tiba muncul dari arah belakang. Daiki berjalan santai sepanjang selasar dengan wajah tanpa dosa, lalu langsung duduk bersila di antara mereka sambil membawa sekantong besar jajanan.
sekotak odeng dan kue beras pedas yang sewarna dengan sausnya. Wajah Yukari seketika berubah sumringah. ia mengambil satu tusuk, meniupnya pelan, lalu menggigitnya.
"Emmm! Enakkk!" seru Yukari manja sembari memegangi kedua pipinya dan sedikit menggoyangkan tubuhnya karena kelezatan.
Reaksi kekanak-kanakan itu tak luput dari pandangan Akira. Ia melirik Daiki, dan kedua pria itu seketika terkekeh-kekeh bersama
Daiki dan Akira ikut mengambil bagian mereka dan mulai menikmati cemilan itu. mengangguk setuju, mengakui bahwa rasanya memang juara.
Di sela-sela kunyahan mereka, yukari mengubah posisinya menjadi lebih tegak. Tatapannya sepenuhnya pada Akira. "Oh iya, Akira-san. apa masih ingat berapa nomor ponsel keluargamu?"
"Tidak ingat..."
Daiki mengingat kembali keadaan Akira saat pertama kali mereka temukan beberapa minggu lalu. "Waktu kami menemukanmu terkapar di tepi sungai malam itu, kau tidak membawa tas sama sekali. Ponselmu juga tidak ada, apa hanyut ya?."
Akira tertegun untuk beberapa saat. "Ponsel... dan tasku... semuanya masih ada di dalam mobil."
Dahi Daiki langsung mengernyit bingung. "Mobil?"
Akira mengangguk pelan. "Malam itu, sebelum berjalan ke tepi jembatan, aku meninggalkan semuanya di atas jembatan beton di perbatasan desa."
Mata Daiki langsung membelalak sempurna karena terkejut. "Jadi barang-barang pentingmu masih ada di dalam mobil itu sampai sekarang?!"
"Seharusnya begitu," jawab Akira datar.
Daiki langsung menepuk dahinya sendiri sembari mengembuskan napas panjang. "Kalau begitu, tidak ada alasan lagi. Hari ini kita harus pergi mengambil mobilmu!"
***
Siang harinya, perjalanan menuju jembatan perbatasan dipandu langsung oleh Akira dari dalam mobil pikap milik Daiki. Karena Akira masih belum terlalu menghafal nama-nama jalan di wilayah pedesaan itu, ia hanya sesekali mengangkat tangan, memberikan isyarat arah kepada Daiki yang fokus memegang kemudi.
Mobil pikap milik Daiki perlahan melintasi sebuah jembatan beton kokoh yang membentang di atas sungai berarus deras. Di ujung jembatan, sebuah mobil N-Box hitam terparkir di bahu jalan. Seluruh bodi mobil itu ditutupi lapisan debu yang cukup tebal.
"Itu... mobilku," ucap Akira pelan sambil menunjuk ke arah depan.
Daiki membelokkan mobil pikapnya dan memarkirkannya tepat di belakang mobil hitam tersebut. Begitu mesin dimatikan, Suara gemuruh air sungai di bawah jembatan terdengar begitu dominan.
Akira dan Daiki turun lebih dulu dari mobil, sementara Yukari memilih untuk tetap duduk di dalam kabin pikup.
"Coba periksa dulu, Akira-san. Apa ada barang berhargamu yang hilang?" tanya Daiki sembari bersedekap.
Akira mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati mobil hitamnya, lalu mengulurkan tangan meraih gagang pintu.
Klik.
Pintu mobil langsung terbuka begitu saja tanpa hambatan. Daiki spontan mengernyitkan dahinya heran. "Kau... tidak mengunci mobilmu?"
Akira menggeleng kepala, wajahnya tampak luar biasa tenang. "Tidak..aku memang tidak berniat untuk kembali lagi ke mobil ini saat itu."
Daiki terdiam seribu bahasa. Perlahan, ia menoleh ke arah kabin mobil pikap. Di balik kaca Yukari menyadari betapa hancurnya pria itu di malam mereka pertama kali bertemu.
Daiki membuka bagasi belakang, Di dalamnya ada beberapa kardus kosong, tas kerja, dan perlengkapan pribadi milik Akira. Dari balik kemudi, Akira memutar kunci kontak.
Vrooom...!
Mesin mobil langsung hidup dengan suara yang sangat halus. Akira membiarkannya menyala selama beberapa saat.
Daiki berjalan ke pinggir pagar jembatan tampak termenung menatap derasnya aliran air di bawah sana.
"Jadi..." Daiki membuka suara tanpa mengalihkan pandangannya dari arus sungai. "Malam itu... kau memang datang ke jembatan ini untuk mengakhiri hidupmu, Akira-san?"
Keheningan sempat merayap di antara mereka selama beberapa detik. Akira menarik napas panjang, membiarkan angin jembatan menerpa wajahnya, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "...Iya."
Daiki memejamkan matanya sejenak, "Syukurlah kau masih hidup, Akira-san. Hanya itu yang mampu ku ucapkan saat ini."gumam Daiki dengan suara yang bergetar lirih.
Daiki menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang terasa agak pahit. "Kalau dipikir-pikir... hari itu memang sangat aneh."
Akira menoleh ke samping. "Maksudmu?"
"Hari itu, Yukari tiba-tiba pulang ke rumah. dia memutuskan untuk menjual rumah itu secepatnya," kenang Daiki dengan kekehan kecil.
Akira terdiam, mendengarkan cerita itu dengan saksama.
"Padahal, sudah hampir dua tahun dia tidak kembali. Tapi hari itu, dia menyuruhku menyalakan listrik, air, hingga membantunya membersihkan seluruh isi rumah," Daiki menggelengkan kepalanya tak percaya. "Waktu itu kupikir dia benar-benar sudah siap melepaskan rumah itu pada orang lain. Padahal... tidak ada satu pun dari kami yang tahu untuk siapa sebenarnya rumah itu sedang dipersiapkan oleh takdir."
Daiki kembali menatap derasnya sungai di bawah mereka. "Kalau saja Yukari memutuskan untuk menunda satu hari saja pulang, mungkin dia tidak akan pernah berjalan ke tepi sungai untuk mengambil gambar, dan dia tidak akan pernah menemukanmu, Akira-san."
Akira menundukkan pandangannya. Dadanya mendadak terasa sesak oleh rasa haru yang tak terbendung.
"Lucu, ya," lanjut Daiki dengan nada yang jauh lebih lembut. "Kalian berdua sama-sama mengambil keputusan ekstrem yang mengubah hidup di hari yang sama."
" Yukari memilih pulang untuk melepaskan masa lalu, sedangkan kau... memilih datang ke jembatan ini untuk menyerah pada masa depan."
Mendengar kalimat Daiki yang menyentuh hati Akira, ia tanpa sadar menoleh ke arah mobil pikap di belakang mereka. Di balik jendela yang kini sudah diturunkan setengah, Yukari rupanya memandangi mereka dengan wajah penasaran. Begitu mata mereka tidak sengaja bertemu, Ia buru-buru menurunkan kaca jendelanya
"Hei! kalian berdua sedang membicarakanku, ya?!!"
Daiki spontan terkekeh geli mendapat teriakan itu.
Akira pun ikut tersenyum. Sebuah senyuman tulus yang datang begitu saja dari lubuk hatinya tanpa perlu dipaksakan lagi. Ia kembali memandang Daiki dengan tatapan penuh rasa hormat. "Terima kasih, Daiki-san...."
Daiki menoleh, sedikit terkejut. "Untuk apa?"
"Karena bersedia menolongku Dan membawaku pulang ke rumah kayu itu."
Daiki tidak membalas dengan untaian kata-kata puitis. Pria itu hanya tersenyum hangat, lalu mendaratkan satu tepukan kokoh di bahu tegap Akira. Sebuah tepukan sederhana
"Kami hanya ingin kau bisa kembali pulih, Akira-san," ucap Daiki, nadanya kini melunak. "Sejak awal, tekad Yukari cuma satu. Menahanmu tetap tinggal di rumah itu karena ia tidak melihat cahaya kehidupan di mata mu."
Akira terdiam membisu, namun sudut hatinya mendadak terasa begitu hangat dan dipenuhi rasa syukur yang luar biasa pada gadis mungil yang masih menatap mereka dari kejauhan itu.
"Sudahlah! Ayo kita pulang!" seru Daiki memecah keheningan sembari menepuk bahu Akira sekali lagi. "Bawa mobil hitammu ini kembali ke desa. Nanti kita periksa lagi seluruh komponen mesinnya di rumah kayu, siapa tahu ada bagian yang perlu diganti setelah berhari-hari dibiarkan berdebu di sini."
***
Perjalanan pulang menuju desa berlangsung dengan sangat tenang. Mobil N-Box hitam milik Akira kini sudah terparkir pekarangan rumah kayu. Kedua pria itu tampak kompak memeriksa oli, air radiator, serta beberapa komponen vital lainnya.
Akira akhirnya menutup kembali kap mesin mobilnya sambil mengangguk puas. "Mesinnya masih sangat bagus. Syukurlah."
mereka bersantai di atas meja panggung di perkarangan depan rumah dengan tiga gelas minuman dingin buatan yukari , Angin siang itu sejuk berembus pelan, Tidak ada lagi yang membahas soal jembatan atau air sungai yang deras. Yang isapan minuman manis beraroma semangka.
"Bagaimana dengan isi tasmu, Akira-san?" tanya Yukari memecah keheningan karena penasaran. "Apa ada barang yang hilang?"
Akira memeriksa isinya satu per satu, Dompet tebal, sebuah laptop, beberapa map dokumen penting perusahaan, serta sebuah buku agenda kecil berwarna gelap. Pria itu mengulas senyum lega yang amat sangat. "Semuanya masih lengkap, Yukari-san. Tidak ada barang yang hilang."
Tangan Akira perlahan merosot ke bagian kantong kecil di dalam ransel. ia mengeluarkan sebuah ponsel. Akira memandangi benda elektronik di genggamannya itu dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Layar ponsel tersebut masih gelap gulita, memantulkan bayangan wajahnya sendiri.
"Aku sengaja mematikan powernya..." Akira mengusap pelan sisi bingkai ponselnya menggunakan ibu jari dengan gerakan ragu. "..tepat sebelum aku melangkah ke tengah jembatan."
Yukari dan Daiki saling bertukar pandang sejenak, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat menyela pria itu.
setelah beberapa detik Yukari menatap Akira yang masih dipenuhi keraguan. "Nyalakan saja ponselnya sekarang, Akira-san," ucap Yukari dengan nada suara yang begitu menenangkan "Bisa jadi... di luar sana, ada seseorang yang sedang menunggu kabarmu"
Akira menatap ponselnya sekali lagi, meresapi setiap kata-kata hangat yang diucapkan Yukari. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang ia miliki, lalu menekan tombol daya di samping ponselnya.