NovelToon NovelToon
Kau Rebut Suamiku, Aku Rebut Putramu

Kau Rebut Suamiku, Aku Rebut Putramu

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: swetti

Avelin, seorang gadis muda yang menikah dengan pria matang bernama Zayn, kini harus menelan pil pahit ketika ia mendapati sang suami telah berselingkuh dengan cinta pertamanya.
Bukannya melabrak, Avelin justru menyusun rencana untuk membalas perbuatan mereka dengan cara yang lebih kejam.
Setelah ia mendapati wanita itu memiliki anak seusianya, ia menjadikan putra satu satunya wanita itu sebagai alat balas dendamnya.
" Velin, aku tahu kamu mendekati aku hanya sebagai alat balas dendammu kepada ibuku. Aku terima semua itu asalkan aku bisa tetap bersamamu. Aku mencintaimu Velin, maukah kau tetap bersamaku meskipun hanya sebagai pionmu?"

Apakah kedekatan mereka selama ini mampu menumbuhkan perasaan cinta di dalam hati Avelin, atau justru hanya kebencian yang mendarah daging dalam dirinya?
Yuk dukung kisah mereka hanya di sini!
Di sarankan membaca dari awal sampai akhir agar tidak mempengaruhi performa karya ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon swetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RESTU ORANG TUA

Pagi ini Velin sedang menemani Bram sarapan, tiba tiba Zayn datang menghampiri mereka dengan emosi yang membuncah di dadanya. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Velin sendiri tidak tahu.

" Ayo kita pulang!" Tiba tiba Zayn menarik tangan Velin yang sedang duduk di samping ranjang.

" Lepasin!!!" Velin menyentak kasar tangannya.

" Om jangan kasar begitu!" Bram meletakkan piring makannya di atas nakas.

Zayn menatap Bram dengan tajam, " Kau tidak perlu ikut campur. Aku menyesal telah menolongmu dan ibumu. Jika aku tahu kamu menusukku dari belakang, saat itu aku biarkan kamu dan ibumu jadi gelandangan." Ucap Zayn dengan nada tinggi.

" Maafkan aku om! Aku tidak tahu kalau Velin istrimu." Ucap Bram.

" Sekarang kamu sudah tahu, maka kamu harus jauhi dia. Sadarlah dengan keadaanmu. Velin hanya akan menderita jika bersamamu karena kau hanya akan menjadi beban dalam hidupnya."

Plak....

Zayn tertegun begitu mendapat tamparan dari tangan Velin. Tangan yang dulu selalu lembut kepadanya kini meninggalkan bekas tangan.

" Sa.. Sayang. Kamu menampar mas?" Tanya Zayn tidak percaya.

" Ya, aku menamparmu mas agar kau sadar kalau kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi. Kita sudah cerai, lalu apa hakmu mengajakku pulang?" Sahut Velin menatap Zayn.

" Sayang mas tahu mas salah. Mas minta maaf. Mas juga yakin kamu masih mencintai mas. Kita lupakan masa lalu ya, kita rujuk kembali. Mas janji, mas tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Mas bakal setia sama kamu selamanya sayang."

Ya, Zayn emosi begitu mendengar jika selama ini Velin selalu menemani Bram. Dia cemburu, dia tidak rela jika Velin melupakannya begitu saja.

" Aku tidak akan pernah memaafkanmu." Sahut Velin.

" Tapi jika kamu memilih Zayn, kamu tidak akan bahagia sayang. Apalagi dokter menyatakan jika kaki Zayn tidak bisa di sembuhkan. Selamanya dia akan cacat sayang. Lebih baik kamu kembali pada mas." Bujuk Zayn.

" Masalahku dengan kak Bram, kau tidak perlu ikut campur. Toh kak Bram tidak merepotkan kamu. Mau dia cacat atau tidak, aku yang bakal merawatnya. Aku akan mengundang dokter terbaik di negeri ini untuk menyembuhkannya. Daripada kamu memikirkan nasibku, lebih baik kamu urus pekerjaanmu dan ibumu yang sakit sakitan itu."

Cesss...

Hati Zayn seperti di sayat sembilu. Wanita lemah lembut yang selama ini mendampinginya berubah menjadi wanita kasar dan tidak terkalahkan.

" Sayang mas minta maaf! Kita rujuk ya, mas janji mas tidak akan pernah menyakitimu lagi." Ujar Zayn menggenggam tangan Velin. Velin langsung menarik kembali tangannya.

" Aku tidak sudi kembali padamu mas. Sudah aku bilang, aku akan menikahi kak Bram setelah dia sembuh nanti. Jadi tolong jangan temui kami lagi." Ujar Velin.

" Sayang.. mas... "

" Pergi!!!!" Bentak Velin membuat Zayn berjingkrak kaget.

" Sayang tolong jangan begini!"

" Jangan buat aku semakin membencimu mas. Sekarang pergilah! Pergi aku bilang!!!"

" Ba.. Baiklah, mas pergi." Zayn pergi begitu saja.

Velin menghembuskan kasar nafasnya.

" Sabar sayang!"

Velin melongo mendengar Bram memanggilnya sayang.

" Kenapa? Apa aku tidak boleh memanggil calon istriku sendiri dengan sebutan sayang?" Tanya Bram.

" Ah bukan begitu, hanya saja terdengar gimana gitu." Sahut Velin.

" Mantan suami kamu saja masih manggil kamu sayang, masa' aku tidak boleh." Ujar Bram.

" Terserah kamu saja kak." Sahut Velin.

" Sayang, sayang, sayang, sayang, sayaaanggg."

Velin terkekeh melihat tingkah polos Bram. Meskipun umur Bram lebih tua darinya tapi Bram lebih seperti anak kecil yang manja kepada ibunya.

" Apa aku boleh peluk?"

Lagi lagi Velin melongo, " Peluk ya, dikit aja." Ujar Bram.

Velin memeluk Bram yang duduk di ranjang.

" Rasanya begitu nyaman, bahkan sakit di kakiku tidak terasa lagi. Terima kasih." Ucap Bram.

Tok tok..

Terdengar pintu di ketuk dari luar.

" Masuk!" Ucap Velin melepas pelukannya.

Ceklek...

Pintu terbuka, nampak tuan dan nyonya Wijaya menghampiri mereka.

" Mama, papa." Ucap Velin.

Bram merasa terkejut dengan kehadiran kedua orang tua Velin saat ini. Sebenarnya ia belum ingin bertemu dengan mereka, apalagi dengan kondisinya saat ini.

" Pa.. Pagi om, tante." Sapa Bram gugup.

" Tidak perlu sungkan. Kami ke sini mau menjengukmu sekaligus mau melihat bagaimana putriku merawatmu." Ujar tuan Wijaya.

" Terima kasih om, Velin merawatku dengan baik." Ucap Bram melirik Velin. Ada raut ketakutan di wajah Bram membuat Velin merasa gemas. Bram jadi lebih tampan kalau seperti ini, pikirnya.

" Syukurlah, bagaimana kondisimu saat ini? Apa dokter Michelle belum datang?"

Dokter Michelle adalah dokter syaraf internasional yang berasal dari negara yang terkenal dengan kincir airnya. Tuan Wijaya sengaja mendatangkan beliau untuk turun tangan langsung dalam upaya menyembuhkan calon menantunya.

" Alhamdulillah sudah lebih baik dari kemarin om karena Velin terus menemaniku. Dokter Michelle bari datang besok. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih om karena om mau membantu kesembuhanku. Sesungguhnya aku tidak pantas mendapatkan kehormatan seperti ini dari orang nomer satu di negara ini. Rasanya bagai pungguk merindukan bulan, om." Ucap Bram.

" Tidak apa apa. Kami tidak pernah memandang status sosial. Yang terpenting bagi kami yaitu, kamu bisa membahagiakan putri kami itu sudah cukup. Tapi jika kamu berani menyakiti putri kami seperti Zayn, maka kamu tahu sendiri akibatnya. Kamu akan bernasib sama dengan nasib Zayn saat ini." Sahut tuan Wijaya.

" Aku berjanji om, aku akan menghabiskan sisa umurku untuk mencintai Velin. Aku tidak akan menyia-nyiakan dirinya om. Terima kasih sudah mau menerima segala kekuranganku. Aku merasa telah menjadi orang ter beruntung di dunia ini." Ucap Bram.

" Om percaya padamu. Sekarang fokuslah pada kesembuhanmu. Setelah kau sembuh, kalian bisa mendaftarkan pernikahan. Bukan begitu nona muda Wijaya?" Tanya tuan Wijaya menatap Velin.

Jika sudah menyebut nama nona muda itu artinya ayahnya tidak mau di bantah.

" Iya pa, sesuai perintah papa saja." Sahut Velin.

" Ya sudah kalau begitu, kami pulang dulu. Semoga cepat sembuh." Ucap tuan Wijaya.

" Terima kasih om, hati hati di jalan. Maaf merepotkan keluarga anda." Ucap Bram.

" Tidak masalah." Tuan Wijaya berjalan keluar sedangkan nyonya Andrea masih di sana.

" Velin, kalau kamu butuh bantuan, ngomong sama mama ya. Mama siap membantu. Mama tahu melakukan ini butuh kesabaran dan keikhlasan. Jika kamu ikhlas maka kamu akan melewati masalah ini dengan mudah." Tutur nyonya Andrea.

" Terima kasih ma." Ucap Velin.

" Kalau begitu mama pulang dulu ya, nak Bram. Semoga lekas pulih supaya kita bisa berkumpul di rumah nantinya."

" Terima kasih tante." Ucap Bram di balas anggukkan kepala oleh nyonya Andrea.

" Mama pulang dulu." Nyonya Andrea segera menyusul suaminya.

Veline kembali duduk di samping ranjang.

" Kedua orang tuaku baik bukan?"

" Iya, mereka sangat baik." Sahut Bram. " Entah mengapa bertemu dengan mereka membuatku seperti menemukan sebuah keluarga utuh. Aku berdoa semoga suatu hari nanti aku tidak mengecewakan mereka karena aku tidak rela kehilangan keluarga sebaik mereka. Dan tentunya, aku juga tidak mau kehilangan kamu." Ucap Bram menggenggam tangan Velin.

" Berusahalah sebaik mungkin!" Sahut Velin.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tak terasa tiga bulan sudah Bram menjalani therapi pada syaraf kakinya. Perkembangannya begitu pesat. Selain karena di tangani oleh dokter profesional, keinginan Bram untuk sembuh juga tinggi. Alhasil hari ini Bram bisa berjalan selangkah demi selangkah.

Saat ini Bram, Velin dan dokter Michelle sedang berada di taman rumah sakit. Velin berjalan mundur di depan Bram seolah mau menangkap Bram jika Bram terjatuh.

" Sayang aku bisa berjalan." Ucap Bram senang.

" Iya, ayo melangkah lagi!" Sahut Velin.

Bram menatap Velin dengan penuh kebahagiaan. Keinginan hidup bersama Velin tinggal satu langkah lagi. Ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Velin.

" Ayo jalan lagi!" Ujar Velin.

Bram semakin semangat, therapi Bram saat ini di hiasi dengan senyuman bahagia. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengamati kegiatan mereka.

" Aku akan merebut semuanya kembali."

TBC...

1
Siti Khalimah
brarti zain suka velin sejak umur 13 thor?
VANESHA ANDRIANI: makasih dah mampir kakak
total 2 replies
Mba Yun
dobel update thor
VANESHA ANDRIANI: satu satu aja ya.. author lagi g fit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!