NovelToon NovelToon
Di Balik Seragam Yang Sama

Di Balik Seragam Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tazaya

Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang

dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Dibalas Darah

Setelah dokter mengambil sampel darahnya, Rama tidak menunggu di depan ruang UGD. Dia merasa atmosfer di sana terlalu menyesakkan, terutama karena tatapan mata Tuan Surya yang penuh kebencian. Rama butuh tempat untuk bernapas, tempat di mana dia bisa melepaskan semua beban yang sedari tadi menekan dadanya.

Dengan langkah gontai, dia menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi, menuju arah musala.

Rama melepas jaket hitamnya yang sudah kaku karena terkena air hujan dan noda darah. Dia mengambil wudu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Dinginnya air wudu tak sebanding dengan rasa dingin yang menyusup ke hatinya melihat Naira terbaring tak berdaya.

Di dalam musala yang hanya diterangi lampu temaram, Rama bersujud. Dia tidak lagi memedulikan baju kaus hitamnya yang koyak, dia juga tidak peduli pada luka-luka lecet di tubuhnya sendiri.

"Ya Allah..." bisik Rama dengan suara yang parau.

"Hamba tidak tahu harus meminta apa lagi. Kalau memang Naira harus menanggung semua ini karena keserakahan ayahnya, tolong... jangan hukum dia. Jangan biarkan dia pergi karena dosa yang tidak pernah dia perbuat."

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh menetes ke sajadah. Bahunya berguncang pelan.

"Selamatkan dia. Berikan dia kesempatan untuk hidup, meskipun setelah ini dia harus membenci hamba karena takdir yang salah. Biarkan dia tetap ada, biarkan dia tetap bernapas. Hamba ikhlas, asal dia selamat."

Rama masih berlutut, menengadahkan tangan dengan tulus. Dia sama sekali tidak tahu bahwa di luar sana, takdir sedang memutar balik hidupnya. Dia tidak tahu kalau dia baru saja mendoakan keselamatan bagi adik yang sebenarnya bukan adiknya, dan bahwa dia sedang memohon perlindungan untuk gadis yang ternyata adalah putri dari keluarga yang memusnahinya.

Di pikiran Rama saat itu hanya satu: Naira harus hidup. Apapun harganya, termasuk jika dia harus kehilangan harga dirinya di depan Tuan Surya.

Sementara itu, di depan ruang UGD, Surya masih berdiri mematung. Kata-kata dokter tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya seperti kutukan. Dia menatap ke arah musala dengan pandangan kosong, tidak tahu bahwa di sana, anak kandungnya yang selama ini dia anggap "sampah" sedang bersujud dan berdoa untuk keselamatan putrinya.

Tuan Surya Danendra berjalan dengan langkah gontai menyusuri koridor rumah sakit, menjauh dari ruang UGD. Pikirannya benar-benar kacau. Kata-kata dokter tentang kecocokan DNA 99,9% antara dirinya dan Rama terus berdengung, merusak logikanya.

"Nggak, ini nggak mungkin. Pasti ada yang salah dengan alat laboratorium mereka," gumam Surya dengan suara bergetar, menolak mati-matian kenyataan bahwa anak ruko yang dia tindas adalah darah dagingnya sendiri.

Dia butuh bukti yang mutlak. Tes DNA mandiri tanpa sepengetahuan siapa pun terutama Rama. Surya melirik ke arah lorong laboratorium yang mulai sepi. Insting bisnisnya yang licik mendadak bekerja. Dia kembali ke ruang tunggu laboratorium, tempat pakaian kotor dan jaket milik Rama tadi diletakkan saat remaja itu berganti pakaian rumah sakit untuk pengambilan sampel darah.

Melihat situasi aman, Surya mendekati kursi panjang tersebut. Dengan tangan gemetar, dia mengambil jaket hitam besar milik Rama yang masih lembap. Matanya tertuju pada kerah jaket. Di sana, ada beberapa helai rambut Rama yang tertinggal, lengkap dengan akar rambutnya karena sempat tertarik saat Rama bergerak panik tadi.

Dengan cepat, Surya mencabut beberapa helai rambut itu, lalu membungkusnya rapat-rapat menggunakan tisu dari saku celananya. Tidak hanya itu, dia juga mengambil botol air mineral bekas yang sempat diminum Rama di ruang tunggu, memastikan sampel air liur di pinggiran botol juga aman.

"Saya akan bawa ini ke lembaga forensik swasta terbesar besok pagi," bisik Surya pada dirinya sendiri, wajahnya pias menatap tisu di genggamannya. "Kalau hasilnya sama... artinya dunia ini memang sudah gila."

Sementara itu, Rama baru saja keluar dari musala setelah menyelesaikan doanya. Wajahnya terlihat sedikit lebih tenang, meskipun sisa-sisa ketegangan masih membekas. Belum sempat dia melangkah kembali ke koridor UGD, ponsel di saku celananya bergetar hebat.

Sebuah nomor tidak dikenal masuk. Rama menggeser tombol hijau ke telinganya.

"Halo, benar ini dengan Saudara Rama?" suara berat seorang pria terdengar di seberang telepon.

"Iya, benar. Saya sendiri."

"Kami dari Kepolisian Sektor Kota. Menindaklanjuti laporan tabrak lari yang Anda buat setengah jam lalu mengenai kecelakaan di persimpangan jalan, tim kami sudah bergerak cepat memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian."

Jantung Rama mendadak berdegup kencang. "Bagaimana, Pak? Apa plat nomor mobilnya kelihatan?"

"Sangat jelas. Mobil tersebut adalah Honda Civic hitam dengan nomor polisi B 1204 TR. Setelah kami sinkronisasikan dengan data kepemilikan kendaraan dan keterangan saksi di lokasi, pemilik sekaligus pengemudi mobil malam ini teridentifikasi atas nama... Tirta Erlangga."

DEG.

Rahang Rama langsung mengeras hingga berbunyi. Matanya yang semula layu mendadak menyala, memancarkan kilatan amarah yang luar biasa pekat. Tirta. Bajingan itu belum kapok juga setelah tadi sore dihajar di rumah kosong. Ternyata motifnya bukan cuma sekadar kecelakaan biasa, ini adalah murni percobaan pembunuhan karena dendam.

"Pelaku saat ini sudah berhasil kami amankan di pos polisi terdekat karena mobilnya sempat menabrak pembatas jalan saat mencoba kabur," lanjut polisi itu.

Tanpa sepatah kata pun, Rama langsung memutuskan sambungan telepon. Pikirannya mati rasa, tertutup oleh rasa benci yang meluap-luap. Tanpa memedulikan badai yang masih mengamuk di luar, Rama berlari kencang keluar dari rumah sakit, menerobos hujan untuk menuju kantor polisi yang jaraknya hanya beberapa blok dari sana.

BRAK!

Pintu ruang pemeriksaan kantor polisi ditendang kasar dari luar. Petugas piket yang sedang berjaga langsung tersentak kaget melihat seorang remaja berkaus hitam basah kuyup masuk dengan napas memburu dan tatapan mata yang siap menerkam mangsa.

Di sudut ruangan, Tirta sedang duduk di kursi besi dengan wajah pucat, tangannya gemetaran memegang segelas air. Beberapa bagian bajunya tampak kotor akibat benturan mobilnya sendiri saat menabrak pembatas jalan.

"Eh, Rama? Tenang dul—"

Baru saja petugas polisi itu hendak menenangkan dan menjelaskan situasi, Rama sudah kehilangan kendali dirinya. Begitu matanya mengunci sosok Tirta, semua bayangan tubuh Naira yang bersimbah darah di atas aspal dingin langsung berputar di kepalanya.

"BAJINGAN!!!"

Rama menerjang maju secepat kilat. Sebelum Tirta sempat menyadari apa yang terjadi, satu pukulan mentah yang sangat keras dari tangan kanan Rama langsung menghantam telak rahang kiri Tirta.

BUAKKK!!!

Tirta terlempar dari kursinya hingga jatuh tersungkur ke lantai. Sudut bibirnya langsung pecah mengeluarkan darah segar.

"Rama! Berhenti!" teriak petugas polisi, mencoba melerai.

Tapi Rama sudah tuli. Dia langsung menunggangi tubuh Tirta di lantai, mencengkeram kerah bajunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Tirta tanpa ampun.

BUAK! BUAK!

"Lu hampir bunuh Naira, SIALAN!! Apa salah dia sama lu, Tir?!" teriak Rama histeris, suaranya parau bercampur emosi yang meledak-ledak. Setiap pukulan yang dilayangkannya membawa seluruh rasa sakit, rasa bersalah, dan ketakutannya sejak di rumah sakit tadi.

"Tahan! Amankan dia! Pegangi!" Tiga orang petugas polisi langsung bertindak cepat. Mereka menarik tubuh Rama menjauh dari Tirta dengan susah payah, mengunci pergerakan lengannya.

Rama terus memberontak gila-gilaan, napasnya memburu seperti banteng jantan, matanya merah menyala menatap Tirta yang terkapar tak berdaya di lantai.

Tirta perlahan bangkit sambil memegangi rahangnya yang berdarah. Alih-alih takut, senyum miring yang gila justru terukir di wajahnya yang lebam. Dia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Rama dengan tatapan kosong yang mengerikan.

"Iya! Iya, gua salah! Gua khilaf, Ram!" teriak Tirta tiba-tiba, suaranya melengking tinggi, setengah tertawa seperti orang depresi.

Tirta mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan yang gemetar. "Gua frustrasi! Lu selalu ada di dekat dia! Gua pikir... gua pikir kalau dia gak bisa jadi milik gua, dia juga gak boleh jadi milik siapa-siapa! Termasuk lu!"

Mendengar pengakuan gila itu, darah Rama rasanya makin mendidih sampai ke ubun-ubun. Obsesi sialan Tirta sudah benar-benar merusak akal sehatnya.

"Gua mending lihat dia mati daripada lihat dia sama cowok kayak lu!" lanjut Tirta dengan nada menantang, memancing amarah Rama lagi.

"KURANG AJAR!!! LEPASIN GUA! GUA MATIIN LU SEKARANG, TIR!" Rama kembali memberontak hebat, membuat ketiga polisi yang memegangnya kewalahan menahan tubuh atletis Rama yang sedang kesurupan amarah.

"Bawa pelaku ke sel tahanan dalam sekarang! Cepat!" perintah salah satu petugas polisi senior, khawatir ruangan itu benar-benar akan berubah menjadi tempat pembunuhan jika Tirta tidak segera disingkirkan.

Tirta diseret paksa oleh petugas masuk ke dalam sel dengan kondisi wajah hancur dan tawa getir yang masih tersisa, sementara Rama akhirnya luruh ke lantai kantor polisi, mencengkeram rambutnya sendiri sambil menangis frustrasi di bawah tatapan iba para petugas.

1
Wawan
Sepertinya ini sama persis degan bab di depan 💪✍️
Wawan
Nah kena Amor lu 😍😄✍️
tazayaa: hahaha🤭
total 1 replies
Wawan
Kok mirip ceritaku ya ... "Pada Suatu Masa" 💪✍️
Wawan: Panjang kalau di ceritaku 😄 ... But ide tulisamu menarik dan menyenangkan Thor 💪✍️
total 2 replies
Wawan
Satu ilklan plus mawara buat yang lagi klepek klepek 😄✍️
tazayaa: hihii terimakasih 💪😄
total 1 replies
Wawan
Suit suiiit 😍
tazayaa: hihiii🤣
total 1 replies
Wawan
Rama dan Naira 😍😍😍
tazayaa: jangan lupa baca kisah selanjutnya yaa😍😍😍
total 1 replies
Protocetus
Bibit2 timnas 💪
Protocetus
Gk sekolah mau kerja apa bossku 😂
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa: siapp, sama-sama👍
total 3 replies
Dhatu Lukita
terus semangaattt 💪💪💪
tazayaa: terimakasih kak, semangat jugaa 💪
total 1 replies
Dhatu Lukita
haloo thor aku mampir nih, semangat terus berkarya ya 💪💪💪
tazayaa: siapp kak, makasihh yaa
total 1 replies
tazayaa
bantu follow ya supaya admin semangat update niii🤭🤭
cila_aa
aduhh ada yang mulai tumbuh tapi bukan pohon nihh 🤭
tazayaa: wkwkw
total 1 replies
tazayaa
BAGUSSS POLLL!!!🩷🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!