Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pembalasan dan Malam Yang Panjang
Malam semakin larut, namun lampu di lantai eksekutif gedung kantor pusat Arka Group masih menyala terang benderang. Di balik meja kerjanya yang luas, Arka duduk bersandar dengan kedua tangan yang saling bertaut di depan dagu.
Sepasang mata elangnya menatap lurus ke layar laptop yang masih menampilkan diagram aliran dana serta rekaman video rahasia yang berhasil dikumpulkan oleh Dimas.
Di samping laptop tersebut, tergeletak dasi hitamnya yang sengaja ia lepas, mencerminkan hilangnya formalitas seorang pebisnis yang kini berganti menjadi seorang pria yang sedang murka karena keluarganya diusik.
"Dimas," panggil Arka, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan besar itu.
"Ya, Pak Arka?" Dimas yang berdiri takzim di depan meja langsung menegakkan posisinya, siap menerima perintah selanjutnya.
"Agensi model yang menaungi Valen di Jakarta ... siapa pemilik utamanya?" tanya Arka dengan nada suara yang terdengar sangat tenang.
Namun, Dimas tahu betul bahwa ketenangan Arka di saat seperti ini adalah indikasi bahwa badai besar yang destruktif sedang bersiap untuk menggulung siapa saja yang menjadi targetnya.
Dimas membuka tablet digital di tangannya, memeriksa data korporasi yang sudah ia siapkan. "Agensi itu berada di bawah bendera Pratama Media Group, Pak. Pemilik saham mayoritasnya adalah Surya Pratama. Berdasarkan data finansial terbaru yang kami peroleh, mereka saat ini sedang mengajukan pinjaman dana segar dan kerja sama investasi kepada konsorsium bank swasta untuk ekspansi pasar ke Asia Tenggara."
Arka menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman sinis yang teramat dingin. "Kerja sama investasi, hm? Bukankah salah satu bank utama dalam konsorsium itu adalah Bank Arka Mandiri?"
"Benar, Pak. Proposal mereka saat ini sedang berada di meja direksi kita untuk tahap evaluasi akhir," jawab Dimas, langsung menangkap arah pemikiran bosnya.
Arka memajukan tubuhnya, menopang kedua sikunya di atas meja kerja kayu jati tersebut. Kilatan kejam terpancar jelas dari manik matanya. "Hubungi direktur utama Bank Arka Mandiri sekarang juga. Katakan padanya bahwa saya pribadi meminta proposal investasi Pratama Media Group ditolak mentah-mentah besok pagi. Tarik seluruh keterlibatan modal kita dari konsorsium tersebut jika mereka tetap nekat membantu agensi yang menaungi Valen."
"Baik, Pak. Saya akan langsung mengirimkan memo resminya malam ini," kata Dimas tanpa ragu.
"Itu baru permulaan," lanjut Arka, suaranya merendah penuh penekanan. "Gunakan seluruh pengaruh Arka Group di dunia hiburan dan gaya hidup untuk memboikot nama Valen. Cabut semua slot iklan, batalkan semua kontrak (brand ambassador) yang bekerja sama dengan anak perusahaan kita, dan pastikan tidak ada satu pun majalah mode atau peragaan busana di negeri ini yang berani menggunakan jasanya lagi mulai besok pagi. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya menjadi orang asing yang terbuang di kotanya sendiri."
Pembalasan yang dirancang Arka malam itu tidak lagi menggunakan emosi yang meledak-ledak seperti di butik Naura tadi sore.
Ia menggunakan kekuasaan, uang, dan jaringan bisnis raksasanya untuk mematikan seluruh ruang gerak Valerie secara perlahan namun mematikan.
Pria itu ingin memberikan pelajaran berharga kepada sang mantan kekasih bahwa selembar foto rekayasa yang merusak kebahagiaan Naura harus dibayar mahal dengan kehancuran seluruh karier internasional yang selama ini dibangga-banggakannya.
"Lalu, bagaimana dengan bukti-bukti hukum ini, Pak? Apakah kita akan langsung melaporkannya ke pihak kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik dan pemerasan?" tanya Dimas lagi.
Arka menggelengkan kepalanya perlahan. "Belum saatnya, Dimas. Simpan bukti-bukti itu sebagai kartu as kita. Aku sendiri yang akan melempar bukti itu tepat di hadapan wajahnya saat dia sudah berada di titik paling bawah. Sekarang, biarkan dia mengira bahwa rencananya berjalan mulus. Biarkan dia menikmati kemenangan semunya malam ini sebelum esok hari dunianya runtuh tanpa sisa."
Setelah Dimas pamit keluar dari ruangan untuk mengeksekusi semua perintah tersebut, Arka kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Ruang kerja yang megah itu mendadak terasa begitu luas dan hampa. Arka mengalihkan pandangannya ke jendela kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta di bawah guyuran sisa-sisa hujan.
Pikiran Arka kembali melayang pada sosok Naura. Rasa amarah yang membakar dadanya perlahan meredup, digantikan oleh rasa rindu yang teramat dalam dan lilitan penyesalan yang mencekik ulu hatinya. Ia meraih ponselnya, menatap layar kunci yang menampilkan foto pernikahan mereka berdua.
Di dalam foto itu, Naura tampak begitu cantik dalam balutan kebaya putih gading dengan senyuman malu-malu yang selalu berhasil mencairkan kekakuan hati Arka.
"Apakah kamu sudah tidur, Sayang?" gumam Arka lirih.
Tangannya bergerak menyentuh layar ponsel, ingin sekali menekan nomor Naura atau mengirimkan pesan singkat sekadar untuk menanyakan kondisinya.
Namun, ia teringat akan ancaman ketat istrinya. Ia tidak ingin membuat tingkat stres Naura semakin meningkat jika ia memaksakan diri untuk hadir atau menghubungi di saat emosi Naura masih labil.
Mengingat janin yang ada di rahim Naura membuat Arka harus menekan egonya dalam-dalam, menahan diri untuk tidak langsung melesat ke Jakarta Timur malam ini juga.
Di sudut lain kota Jakarta, tepatnya di sebuah kamar tidur sederhana yang bernuansa pastel di daerah Jakarta Timur, Naura juga sedang melewati malam yang teramat panjang dan menyiksa. Jam dinding kuno di atas meja belajar kecilnya telah menunjukkan pukul dua dini hari, namun kedua matanya masih enggan terpejam.
Suasana di dalam kamar itu sangat sunyi, hanya ada suara deru angin malam yang sesekali menggoyang daun jendela kayu.
Naura berbaring miring di atas ranjang masa kecilnya, memeluk erat se guling tua untuk mencari kehangatan. Sweter rajut yang ia kenakan sore tadi sudah berganti dengan daster katun longgar peninggalan almarhumah ibunya yang selalu dijaga kebersihannya oleh Bi Minah.
Setetes air mata kembali lolos dari sudut mata Naura, membasahi permukaan bantal yang dingin. Rasa mual di perutnya sudah mereda setelah diberi teh hangat dan bubur buatan Bi Minah beberapa jam lalu, namun rasa sakit di hatinya seolah-olah enggan berkurang sedikit pun.
Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan lembaran foto kontroversial di atas meja kerjanya kembali terlintas dengan sangat jelas.
Keintiman Arka dan Valen, posisi tangan mereka, hingga kedekatan wajah mereka seolah menjadi pisau tajam yang terus-menerus mengiris harga dirinya sebagai seorang istri sah.
"Kenapa, Kak ... kenapa harus berbohong?" bisik Naura ke dalam kegelapan kamar, suaranya terdengar begitu parau dan rapuh.
Konflik batin berkecamuk hebat di dalam dada wanita hamil itu. Di satu sisi, logika dan emosinya yang terluka meyakini bahwa foto-foto itu adalah bukti otentik pengkhianatan suaminya.
Namun, di sisi lain, ada sebuah sudut kecil di dalam hatinya yang paling dalam yang menolak untuk percaya.
Hati kecilnya terus-menerus mengingat bagaimana tatapan mata Arka yang penuh dengan ketulusan setiap kali pria itu menatapnya, bagaimana kelembutan jemari tangan Arka yang selalu mengusap rambutnya sebelum tidur, dan bagaimana tangisan haru suaminya saat pertama kali mendengar detak jantung janin mereka di rumah sakit tadi pagi.
Apakah semua kelembutan dan perhatian itu hanyalah sebuah kepura-puraan yang dirancang dengan rapi? Ataukah benar apa yang dikatakan Arka bahwa semua itu hanyalah sebuah jebakan licik dari Valen?
Naura menggerakkan tangan kanannya turun ke bawah, meletakkannya di atas perutnya yang masih rata dengan gerakan yang sangat protektif. "Maafkan Ibu, Nak ... Ibu membawa kamu pergi dari rumah Ayah," lirih Naura sambil terisak kecil. "Ibu hanya takut ... Ibu takut jika semua kebahagiaan yang kita rasakan kemarin hanyalah sebuah kepalsuan."
Kehilangan kedua orang tua di usia muda membuat Naura memiliki ketakutan yang mendalam akan ditinggalkan dan dikhianati. Rasa tidak aman (insecurity) itu kini bangkit kembali dengan kekuatan penuh akibat provokasi dari Valen.
Ia merasa tidak sebanding dengan Valen yang seorang model internasional dengan segala kemewahan dan masa lalu yang panjang bersama Arka.
Rumah peninggalan orang tuanya ini memang memberikan perlindungan fisik yang aman baginya malam ini, namun dinding-dinding kayu rumah ini tidak mampu menghalau badai kesedihan yang terus mencabik-cabik jiwanya.
****
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di kawasan segitiga emas Jakarta, Valen sedang duduk santai di atas sofa kulitnya sambil menyesap secangkir anggur merah.
Sebuah senyuman kemenangan terukir lebar di bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala. Ia menatap layar ponselnya, menunggu kabar dari orang suruhannya mengenai dampak dari paket foto yang dikirimkan ke butik Naura sore tadi.
"Aku tahu wanita udik itu pasti tidak akan kuat menahan guncangan seperti ini," gumam Valen dengan nada suara yang penuh dengan nada penghinaan. "Menikah karena wasiat tidak akan pernah membuatmu menjadi ratu di hati Arka, Naura. Pria seperti Arka hanya pantas bersanding dengan wanita yang memiliki kelas seperti aku."
Valen tertawa kecil, membayangkan bagaimana hancurnya rumah tangga Arka dan Naura malam ini. Ia merasa rencananya telah berjalan dengan sangat sempurna tanpa ada celah sedikit pun.
Ia tidak pernah menyadari bahwa di saat yang bersamaan, jaring-jaring kehancuran yang dirancang oleh Arka Group sedang bergerak cepat mendekat ke arahnya, siap untuk merenggut seluruh kemewahan, karier, dan masa depan yang selama ini ia agung-agungkan dalam hitungan beberapa jam ke depan.
Malam yang panjang itu akhirnya menjadi saksi dari tiga takdir manusia yang saling menjauh dalam pusaran kesalahpahaman dan dendam. Arka yang terjebak dalam penyesalan dan rencana pembalasan yang dingin, Naura yang tenggelam dalam kesedihan dan pelarian di rumah lama yang sunyi, serta Valen yang terbuai dalam kemenangan semu yang siap berubah menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan dalam hidupnya.