NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malamnya Dian

Gue balik ke Jakarta setelah deal tanah di Piyungan beres. Pesawat landing siang hari, langsung ke apartemen buat ganti baju sebelum ke kantor. Pikiran gue masih campur aduk Poppy, Ulva, Pipit di Yogya, Tia dan Anggi yang baru, Rinda yang nunggu kabar, sama Sinta yang lagi hamil. Tapi Jakarta panggil balik dengan rutinitasnya yang padat.

Sesampainya di kantor, suasananya biasa aja. Nada yang dipindah sementara ke sini nyapa gue ramah, “Selamat datang balik, Pak. Ada meeting sama Pak Krismono jam tiga.”

Gue laporin progress Yogya, termasuk tanah yang udah deal. Pak Krismono puas banget, “Lu kerja bagus. Uang muka udah masuk. Lanjutkan.”

Selesai meeting, gue pulang ke apartemen sore harinya. Marita lagi di ruang tamu, tapi keliatan beda. Dia nggak langsung peluk gue kayak biasa. “Gue lagi sibuk banget sekarang,” katanya sambil rapiin tas. “Kerjaan freelance gue mulai jalan. Gue harus berdiri sendiri, nggak bisa terus-terusan nemenin lu .”

Gue ngangguk, paham. “Iya, bagus deh. Lu memang harus mandiri.”

Marita cium pipi gue pelan, “Gue masih sayang kok. Tapi kita kasih ruang masing-masing ya.” Dia keluar apartemen buat ketemuan klien. Gue sendirian di apartemen.

Malemnya, chat dari Dian masuk.

Dian: Lu udah balik Jakarta? Gue pingin ketemu. Bisa ketemu malam ini?

Dian, cewek yang dulu sering bikin gue penasaran di kantor. Dia sekarang lebih dewasa, tubuhnya makin berisi di tempat yang pas, dan selalu punya cara bikin gue nggak bisa nolak. Gue bales cepet.

Gue: Oke, apartemen gue jam 8.

Pukul delapan tepat, bel apartemen berbunyi. Dian masuk dengan dress hitam selutut yang ketat, rambut panjangnya tercium wangi, makeup natural tapi matanya penuh gairah. Begitu pintu tertutup, dia langsung peluk gue erat, bibirnya menempel di bibir gue dengan sedikit basah.

“Gue kangen banget sama lu,” desahnya di sela ciuman. Lidah kami saling menyapa dalam, panas, dan basah. Tangan Dian langsung merayap ke dada gue, buka kancing kemeja satu per satu.

Gue angkat badannya, bawa ke kamar tanpa melepaskan ciuman. Kami jatuh ke kasur, tubuh Dian di atas gue. Dressnya gue tarik ke atas, nunjukin paha mulus dan celana dalam hitam tipis. Gue remas pahanya pelan, naik ke pinggul yang lebar dan empuk. Dian mendesah manja, badannya bergoyang pelan di atas gue.

“Lamanya… gue pengen lu banget,” bisiknya sambil buka kemeja gue sepenuhnya. Bibirnya turun ke dada gue, ciumin puting gue dengan lidah panas yang bikin gue merinding. Tangan gue masuk ke balik dressnya, buka resleting belakang, lalu lepas branya dengan satu gerakan. Payudaranya yang besar dan kencang langsung bebas, putingnya sudah mengeras.

Gue duduk, hisap payudara Dian bergantian. Lidah gue muter-muter di puncaknya, sesekali gigit pelan. Dian pegang kepala gue, desahannya semakin keras, pinggulnya gerak-gerak di pangkuan gue. “Iya… di situ… enak banget…”

Kami lepas semua baju. Tubuh Dian telanjang sempurna di depan gue kulit putih mulus, pinggang ramping, bokong bulat, dan celahnya yang sudah basah. Gue dorong dia telentang, buka kakinya lebar. Gue turun, cium paha dalamnya pelan, lalu lidah gue menyentuh bibir bawahnya. Dian melengkungkan badan, tangannya jambak rambut gue.

“Mas… ahh… lama banget gue nunggu ini,” erangnya sambil pinggulnya maju mundur ikutin gerakan lidah gue. Gue masukin dua jari, gerak keluar masuk sambil hisap punyanya lebih kuat. Dian klimaks pertama dengan cepat, badannya kejang hebat, cairannya banjir di wajah gue.

Gue naik ke atas, masukin punya gue pelan ke dalamnya yang panas dan sempit. Dian memeluk gue erat, kukunya garuk punggung. Kami gerak dalam ritme yang lama nggak ketemu pelan dulu, nikmatin setiap senti, lalu semakin cepat dan kuat. Gue pegang payudaranya yang bergoyang, remas dan cubit putingnya. Dian mendesah liar, “Lebih keras… Mas… gue mau lu semua…”

Kami ganti posisi. Dian naik di atas, gerakannya naik turun dengan liar. Payudaranya bergoyang indah di depan mata gue. Gue pegang pinggulnya, dorong ke bawah lebih dalam. Suara basah benturan tubuh kami memenuhi kamar, campur desahan dan erangan kami berdua.

“Gue suka banget sama lu,” bisik Dian sambil terus gerak. Keringatnya menetes ke dada gue. Gue balik posisi lagi, doggy style di pinggir kasur. Gue masuk dari belakang sambil remas bokongnya yang empuk, tarik rambutnya pelan. Dian jerit kenikmatan, klimaks kedua sambil badannya gemetar.

Kami lanjut missionary, kakinya melingkar di pinggang gue. Gue gerak dalam dan cepat, mata kami saling tatap penuh gairah. “Keluar di dalam ya… gue mau rasain lu,” pinta Dian dengan suara serak.

Gue nggak tahan lagi. Dengan dorongan terakhir yang kuat, gue keluar di dalamnya yang berdenyut panas. Dian memeluk gue erat, badan kami bergetar bareng mencapai puncak.

Kami tergeletak ngos-ngosan, pelukan erat dan basah keringat. Dian elus dada gue pelan, “Ini yang gue kangenin. Lu selalu bikin gue puas.”

Gue cium keningnya. “Gue juga, Dian.”

Kami nggak langsung tidur. Setelah istirahat sebentar, Dian mulai lagi. Kali ini dia melayani gue dengan mulutnya yang ahli lambat, dalam, lidahnya muter di kepala punya gue sambil tangannya mainin. Gue mendesah, pegang rambutnya. Dia naik lagi ke atas, kali ini lebih sensual, gerakannya pelan tapi dalam, matanya nggak lepas dari mata gue.

Kami habiskan hampir dua jam dengan berbagai posisi dan sentuhan. Dian benar-benar melepas rindu yang lama. Badannya responsif banget, setiap sentuhan gue bikin dia mendesah dan minta lebih. Akhirnya kami capek total, tidur saling peluk sampai pagi.

Pagi harinya Dian bangun duluan, masak sarapan sederhana. “Gue harus ke kantor. Lu juga kan?”

Gue ngangguk, peluk dia dari belakang di dapur. “Thanks for last night.”

Dian ketawa kecil. “Anytime, asal lu balik ke Jakarta sering-sering.”

Di kantor, gue fokus kerja. Marita keliatan mandiri banget, sibuk dengan tugasnya sendiri. Dia cuma senyum dari jauh, nggak lagi kayak dulu yang selalu nemenin. Rinda chat, nanya kabar. Gue bales romantis, janji ketemu besok.

Siangnya meeting lagi soal distribusi karyawan. Nada lapor progress Yogya. Semuanya lancar, tapi pikiran gue sesekali balik ke malam tadi sama Dian. Tubuhnya yang panas, desahannya yang manja, dan cara dia melepas rindu dengan liar tapi penuh kasih.

Malam berikutnya, Dian dateng lagi. Kali ini kami lebih santai tapi tetap panas. Dia bawa makanan , kami makan minum di balkon dulu, cerita-cerita, lalu lanjut ke kamar. Adegan intimnya lebih lama, lebih eksploratif. Gue habisin dia di sofa, di meja makan, sampe ke kamar mandi. Dian klimaks berkali-kali, suaranya serak karena kebanyakan desah.

“Gue nggak mau ini berhenti,” katanya pas kami lagi tergeletak setelah sesi ketiga.

Gue cuma peluk dia lebih erat. Hidup gue di Jakarta balik lagi ke ritme lama kerjaan, Marita yang mandiri, Dian yang ganas, Rinda yang manis, dan bayangan Yogya yang nunggu.

Tapi untuk sekarang, gue nikmatin setiap momen. Besok pagi kerjaan nunggu, tapi malam ini masih milik gue dan Dian.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
Kim Borahae
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!