Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.
Jemarinya terhenti di layar ponsel, seolah tak berani bergerak lebih jauh. Matanya tak lepas menatap foto itu, foto kue kecil bertuliskan ucapan sederhana, dikelilingi kelopak bunga tabebuya berwarna ungu kemerahan, dan di baliknya samar terbayang sosok gadis yang tak pernah lepas dari pikirannya.
“Untuk siapa pun yang merayakannya hari ini…”
Mohan membaca kalimat itu berulang kali, dan senyum tipis perlahan melebar, diikuti rasa hangat yang menjalar perlahan memeluk seluruh relung hatinya.
Ia tahu, meski gadis itu sendiri belum sadar sepenuhnya, hatinya yang paling dalam sudah berbicara jujur, ucapan itu memang ditujukan untuknya.
Ia mendekatkan lukisan wajahnya sendiri yang berdiri kokoh di samping meja, lalu menatapnya bergantian dengan foto sketsa di layar ponsel.
Ada getaran aneh yang menyenangkan, rasa menemukan sesuatu yang selama ini hilang, rasa diakui tanpa perlu banyak kata.
Perlahan, ia melangkah mendekati jendela kamar, menatap langit pagi yang sama persis terhampar di atas Batam sana. Di bawah teriknya matahari, ia membisikkan jawaban yang tak akan sampai ke telinga Naysilla, tapi cukup terdengar jelas oleh hatinya sendiri.
“Terima kasih, Na… terima kasih sudah mengingatku, meski pikiranmu masih menyembunyikan alasannya sendiri. Hari ini adalah hari terindah yang pernah kumiliki, karena kado terindah bukanlah apa yang bisa dibeli, melainkan rasa yang tetap terjaga meski jarak dan waktu berusaha memisahkan.”
Ia kembali duduk, merogoh buku catatan kecilnya, lalu menorehkan satu kalimat sederhana.
“Tabebuya mekar di tempatmu, dan rindu mekar di hatiku. Kita hanya terpisah jarak, bukan perasaan.”
Namun ketenangan itu terpecah seketika saat notifikasi surat resmi dari pihak sekolah masuk ke ponselnya. Jemarinya membuka pesan itu perlahan, dan senyumnya perlahan memudar, digantikan raut serius yang kembali menyelimuti wajahnya.
...****************...
Dimas, satu-satunya yang benar-benar terbukti terlibat secara langsung, memiliki bukti kuat, dan tidak ada siapa pun yang berani atau mampu membela.
Akhirnya dia dikeluarkan secara permanen, dicatat dalam riwayat sekolah, dan wajib menjalani pembinaan. Dialah yang menjadi “kambing hitam” sekaligus satu-satunya yang benar-benar menanggung akibat perbuatanya.
Lena, dianggap sebagai korban yang paling nyata, padahal ia hanyalah senjata makan tuan atas rencana yang mereka susun sendiri.
Posisinya terlihat seperti yang paling tidak berdaya, tak ada bukti yang menyatakan ia bersalah, ia aman.
Jessy, sebagai otak di balik layar, dia sudah menyusun segalanya dengan rapi sejak awal. Tidak ada bukti tertulis yang bisa menjeratnya, dia pandai menyembunyikan jejak, dan memanfaatkan pengaruh lingkungannya. Akhirnya dia lolos, tetap aman dan tidak tergoyahkan posisinya.
Angela, anak dari kepala sekolah, memiliki pengaruh dan perlindungan tersendiri. Cukup dengan pernyataan jaminan, tuduhan yang menyentuh namanya langsung diredam. Bebas tanpa cela sedikit pun.
Olivia, dilindungi sengaja oleh kelompok itu, bukan karena kasihan, tapi karena masih dianggap berguna dan bisa dimanfaatkan di kemudian hari. Dijaga aman dengan syarat tetap patuh pada mereka.
Sedangkan Naysilla, dialah korban sesungguhnya. Yang menerima perlakuan buruk tapi di teriakin sebagai tersangka, dia korban kekejaman fitnah. kabar baiknya sekarang namanya bersih, tak ada bukti satupun yang menyatakan dia bersalah.
Mohan terdiam memandang seragam Naysilla yang tergantung rapi di sudut lemari. Seolah masih bisa merasakan kehadiran gadis itu, meski saat ini hanya pakaiannya yang tersisa.
"Setidaknya namanya bersih. Soal mereka yang bebas dari hukuman, itu bisa dipikirkan nanti" bisik Mohan lirih.
Memang terasa kurang adil, rasanya hampa melihat pelaku utama masih bisa berkeliaran dengan tenang. Namun perlahan, senyum miring terukir di bibirnya, senyum yang menyimpan janji dalam. Siapa bilang keadilan harus selalu datang dari tangan hukum semata?
"Na, lo tenang ajah. Gue bakal balas semuanya"
...****************...
Sementara itu, di ruangan lain yang terasa lebih dingin dan penuh kepura‑puraan. Jessy meletakkan surat keputusan itu di atas meja, senyum kemenangan terukir di bibirnya, merasa berhasil lolos tanpa goresan berarti.
Namun di balik senyum itu, ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Berbagai kemungkinan buruk menghantui pikirannya, dan rencana busuk lainnya mulai ia susun ulang.
“Kita aman untuk saat ini,” ucapnya pelan, matanya menyipit memandang ke luar jendela seolah ada sesuatu yang mengintai.
“Tapi jangan kira ini berakhir. Justru sekarang gue baru sadar… Dia bukan orang sembarangan yang bisa kita injak seenaknya seperti orang lain.” sambung Angela, dengan logika.
Jessy menoleh ke arah yang lain, suaranya makin rendah dan berat. “Yah, benar. Terlebih si cupu itu, gue rasa dia punya kekuatan lebih besar dari yang kita kira"
“Kekuatan besar? Nggak ngaruh!” sahut Angela dengan nada sombong, dagu terangkat tinggi. “Bokap gue kepala sekolah, dan Olivia adalah anak dari pemilik sekolah ini. Nggak ada satu pun yang bisa ngalahin kita, iya nggak, Olivia?”
Matanya melirik tajam sekaligus menyindir ke arah Olivia, yang hanya bisa menunduk dan diam‑diam menyembunyikan kegelisahan di hatinya.
Di antara mereka, Angela adalah yang paling peka. Ia tahu hampir semua fakta tanpa perlu bersusah payah mengorek, memiliki kelebihan tersendiri yang tak pernah diketahui siapa pun.
Diam‑diam ia menertawakan kebodohan Jessy yang masih percaya bisa memanfaatkan kebusukan Olivia itu, padahal kenyataannya, merekalah yang perlahan terperangkap dan dimanfaatkan.
“Gimana kabar Naysilla sekarang? Aku khawatir nanti dia bakal tertekan bahkan depresi setelah dinodai banyak pria… apalagi kalau sampai video itu tersebar luas,” cicit Olivia lirih, suaranya terdengar seolah tulus prihatin.
Namun itu hanyalah rencana licik yang dibalut perhatian palsu, agar dirinya terlihat tak bersalah. Dan berhasil, Jessy tersenyum miring, pikiran kotornya kembali berputar.
Rasa puas makin membesar dalam hatinya, ketika ponsel di tangannya bergetar, menampilkan panggilan dari orang suruhannya.
“Katakan!” desisnya singkat.
"Datang ke rumah tua jika ingin menyaksikan penderitaan gadis itu" jawab suara berat dari seberang sambungan.
Jessy tersenyum samar, mengira semuanya kembali dalam genggamannya. Tanpa ia tahu, kemalangan itu, tragedi menyedihkan yang ia rancang akan kembali pada tuannya.
Hukum sebab akibat tak pernah salah alamat.
cupu tuh apaan ?