NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18. jejak masa lalu dan jalan ke depan

Enam bulan telah berlalu sejak perjalanan terakhir kami ke Ruang Antara. Kehidupan di Kerajaan Cahaya kini berjalan dengan ritme yang tenang namun penuh semangat. Tidak ada lagi kekacauan, tidak ada lagi tempat yang terabaikan, dan tidak ada lagi makhluk yang merasa kehilangan jati diri. Semua berjalan seimbang, seolah dunia ini telah menemukan irama terbaiknya.

Namun kedamaian itu memunculkan hal baru dalam diri Leon: rasa ingin tahu yang perlahan tumbuh. Ia sering duduk berjam-jam menatap halaman-halaman kosong di buku catatannya, bukan untuk menuliskan perintah atau mengatur keadaan, melainkan berusaha mengingat lebih jelas tentang asal-usulnya sendiri tentang dunia tempat ia berasal, yang kini terasa semakin jauh dan samar dalam ingatannya.

Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Liora menghampirinya sambil membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkannya di meja kecil di samping Leon, lalu duduk dengan tenang sambil menunggu.

“Kau sering termenung belakangan ini,” katanya lembut, memecah keheningan. “Ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?”

Leon menghela napas pelan, lalu menoleh menatap wajah Liora yang bersinar lembut diterpa cahaya senja.

“Aku hanya sedang berpikir,” jawabnya perlahan. “Dulu aku datang ke sini dengan tujuan yang jelas memperbaiki kesalahanku, mengisi kekosongan, dan memastikan dunia ini dapat berdiri tegak. Sekarang semuanya sudah tercapai, tapi kadang aku bertanya-tanya… siapa sebenarnya diriku di luar cerita ini? Apakah ingatanku tentang dunia asal masih ada, atau perlahan akan hilang seiring aku semakin menjadi bagian dari tempat ini?”

Belum sempat Liora menjawab, terdengar suara langkah kaki yang cepat mendekat. Zarek datang dengan wajah bersemangat, diikuti oleh Valgus yang membawa selembar kertas kulit tua yang terlihat sangat rapuh.

“Kami baru saja menerima kabar menarik dari para Siluet di Hutan Kenangan!” seru Zarek sambil tersenyum lebar. “Mereka menemukan sesuatu yang tersimpan di bagian paling dalam tempat penyimpanan ingatan mereka sesuatu yang tidak tercatat dalam cerita apa pun, bahkan tidak pernah kau tulis sekalipun.”

Valgus meletakkan kertas kulit itu di atas meja. Tulisan di atasnya terlihat asing, tidak menggunakan huruf yang biasa dipakai di dunia ini, namun saat Leon melihatnya, matanya terbelalak kaget. Huruf-huruf itu sama persis dengan tulisan yang biasa ia gunakan di dunia asalnya.

“Ini… tulisanku,” gumamnya dengan suara bergetar. “Tapi kapan aku menulisnya? Aku tidak ingat pernah melakukannya.”

“Menurut penjelasan para Siluet,” kata Valgus perlahan, “ini bukan tulisan yang kau buat dengan sengaja. Ini adalah jejak yang terbentuk secara alami dari sisa ingatan dan keinginanmu saat pertama kali menciptakan dunia ini. Sesuatu yang tersembunyi di balik pikiranmu sendiri, yang bahkan tidak kau sadari keberadaannya.”

Leon mulai membaca tulisan itu dengan hati-hati. Isinya bukanlah aturan atau deskripsi tempat, melainkan catatan pribadi yang ditulis seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri:

“Aku menciptakan dunia ini karena aku ingin melihat tempat di mana segala hal dapat tumbuh dengan bebas. Tempat di mana kesalahan bukanlah akhir, melainkan awal untuk memahami sesuatu yang lebih baik. Jika suatu hari nanti aku terjebak di antara dua dunia, ingatlah tempat yang membuatmu merasa hidup dan berarti tidak ditentukan oleh tempat kelahiranmu, melainkan oleh hati yang memilih untuk tinggal di sana.”

Saat membaca kalimat terakhir itu, seolah ada sesuatu yang terlepas dari benak Leon. Ia teringat rasa kesepian yang sering dirasakannya di dunianya sendiri perasaan bahwa ia hanyalah pengamat yang tidak memiliki peran nyata, tidak memiliki tempat yang benar-benar membutuhkan kehadirannya. Di sana ia hanya menulis cerita, namun di dunia ini, ia justru menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

“Jadi selama ini, jawabannya sudah ada sejak awal,” bisik Leon, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak perlu memilih antara satu dunia atau dunia lain. Karena tempat yang membuatku merasa utuh sudah ada di sini, bersama kalian.”

Liora tersenyum haru, lalu memegang tangan Leon dengan lembut. “Ingat kata-kata yang pernah kau ucapkan kepada kekosongan itu? Bahwa makna tidak harus selalu terlihat atau ditentukan sejak awal. Begitu pula dengan jati dirimu. Kau adalah penulis, kau adalah pendatang, dan kau juga adalah bagian dari dunia ini semuanya sekaligus, tanpa harus memilih salah satu.”

Zarek menepuk pundak Leon dengan keras namun penuh kehangatan. “Tepat sekali! Jika kau merasa bingung, lihatlah kami. Kami semua sudah menganggapmu sebagai saudara, pemimpin, dan bagian dari keluarga ini. Bukankah itu bukti bahwa kau sudah memiliki tempat yang lebih nyata daripada sekadar ingatan masa lalu?”

Valgus mengangguk setuju, matanya menatap jauh ke arah cakrawala yang mulai gelap. “Setiap orang memiliki dua masa lalu. satu yang mereka bawa dari tempat asal, dan satu lagi yang mereka bangun bersama orang-orang yang mereka sayangi. Masa depanmu tidak ditentukan oleh apa yang telah berlalu, melainkan oleh apa yang kau pilih untuk jalani mulai sekarang.”

Malam itu, kami berkumpul di halaman belakang istana, duduk melingkar di bawah pohon perak yang daunnya berkilau lembut diterpa cahaya bulan. Leon membuka buku catatannya, namun kali ini ia tidak menulis dengan tujuan mengatur atau memperbaiki. Ia hanya menuliskan satu kalimat sederhana, namun penuh makna:

“Cerita tidak hanya ditulis dengan kata-kata, tetapi juga dengan langkah yang diambil, kebaikan yang diberikan, dan kebersamaan yang terjalin.”

Saat ia menuliskannya, halaman-halaman lain di buku itu mulai memancarkan cahaya lembut, menampakkan jejak-jejak perjalanan kami gambaran gerbang istana, hutan yang tumbuh subur, pegunungan yang penuh lagu, kota yang hidup kembali, dan puncak gunung es yang megah. Semua tergambar jelas, bukan lagi sekadar tulisan di atas kertas, melainkan sebagai kenangan yang hidup dan nyata.

“Besok kita akan melakukan perjalanan lagi,” kata Leon tiba-tiba, menoleh ke arah kami dengan senyum penuh semangat. “Bukan untuk memperbaiki yang rusak, bukan untuk mengisi yang kosong. melainkan hanya untuk melihat, mendengar, dan menikmati segala hal yang telah tumbuh dengan sendirinya. Kita akan mengunjungi setiap tempat lagi, mendengarkan cerita-cerita baru yang diciptakan oleh penduduknya sendiri.”

“Asyik!” seru Zarek dengan gembira. “Aku sudah tidak sabar ingin mendengar lagu baru dari para Penyanyi Batu dan mencoba makanan lezat dari Kota Permata!”

Liora tersenyum dan bersandar di bahu Leon. “Aku akan ikut ke mana pun kau pergi. Selama kita berjalan bersama, setiap jalan akan terasa indah.”

Valgus hanya mengangguk, namun sorot matanya terlihat lebih tenang dan damai dari sebelumnya.

Angin malam berhembus lembut, membawa suara-suara kehidupan dari seluruh penjuru negeri. Dunia ini telah lengkap, seimbang, dan bebas. Dan di tengahnya, kami berdiri bersama tidak lagi sebagai penulis dan karakternya, tidak lagi sebagai pendatang dan penghuni asli, melainkan sebagai satu keluarga yang menulis kisah hidup mereka sendiri, selamanya.

Cerita ini tidak berakhir, karena setiap hari yang baru adalah lembaran baru yang siap diisi dengan kebahagiaan, persahabatan, dan makna yang tak akan pernah habis.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!