NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Taruhan yang Membakar

Suasana di dalam ruangan VVIP itu mendadak bergeser menjadi jauh lebih menekan ketika Mateo Romero mengayunkan tangannya, memberi isyarat kepada para pelayan untuk menutup pintu ganda berbahan jati tebal di belakang Adrian dan Renata. Bunyi klik dari sistem penguncian otomatis bergaung pelan, mengisolasi mereka dari riuh rendah lantai kasino utama. Di sudut ruangan, sebuah meja permainan Baccarat privat berselimut kain beludru hijau pekat telah disiapkan, lengkap dengan seorang dealer pria bermata dingin yang mengenakan sarung tangan putih.

​Mateo berjalan memutari meja, lalu duduk di kursi kebesarannya dengan santai, sementara kedua tangannya bertumpu pada sandaran lengan kayu berukir naga.

​"Di Makau, kami memiliki tradisi unik sebelum menandatangani nota kesepahaman apa pun, Tuan Adrian," ujar Mateo sembari mengambil sebatang cerutu Kuba dari kotak perak di atas meja. Seorang pengawal dengan sigap memantikkan api untuknya. "Surat pengantar dari perbankan Hong Kong milik Phoenix Holding memang membuktikan kalian memiliki uang. Namun, di dunia saya, uang tanpa nyali dan ketajaman insting hanyalah santapan empuk bagi para hiu. Saya ingin melihat kualitas dari calon mitra saya."

​Adrian menarik kursi kulit di seberang Mateo, lalu duduk dengan meluruskan kaki tegapnya, menampilkan gestur dominasi yang sama sekali tidak gentar oleh gertakan sang penguasa kasino. Sementara itu, Renata memilih untuk tetap berdiri setia di sebelah kanan Adrian, meletakkan tangan lentiknya di atas bahu kokoh sang suami. Sentuhan jemari Renata mengirimkan sinyal ketenangan yang konstan ke dalam aliran darah Adrian.

​"Aturan mainnya sangat sederhana," lanjut Mateo, mengembuskan asap cerutu yang tebal ke udara, membuat aroma tembakau pekat memenuhi ruangan. "Kita bermain Baccarat tiga putaran. Jika Phoenix Holding berhasil memenangkan mayoritas putaran, saya akan membuka gerbang negosiasi eksklusif untuk seluruh proyek resor dan kasino baru di Asia Tenggara dengan bagi hasil yang sangat menguntungkan kalian. Namun, jika kalian kalah..." Mateo menjeda kalimatnya, senyuman licik terukir di bibirnya, "...kalian harus menyerahkan hak kelola penuh atas aset pelabuhan logistik rahasia milik Phoenix Holding di Hong Kong tanpa kompensasi sepeser pun."

​Adrian menyipitkan matanya. Pelabuhan di Hong Kong adalah jalur likuiditas utama yang baru saja dipulihkan oleh Elena Mahardika. Kehilangan aset itu berarti memotong separuh kekuatan finansial mereka. "Taruhan yang cukup tinggi untuk sebuah perkenalan, Tuan Romero," sahut Adrian, suaranya terdengar sangat datar dan sedingin es.

​"Risiko tinggi adalah satu-satunya hal yang membuat hidup ini menarik, bukan?" tantang Mateo sembari mengetukkan jemarinya yang dihiasi cincin batu giok besar di atas meja. "Bagaimana? Apakah sang CEO hebat dari Singapura ini mendadak kehilangan nyalinya?"

​Adrian tidak langsung menjawab. Ia melirik sedikit ke arah Renata melalui sudut matanya. Renata memberikan anggukan kepala yang teramat samar, hampir tak terlihat oleh orang lain. Di balik jemarinya yang menyentuh bahu Adrian, Renata mulai mengetukkan jarinya dengan ritme tertentu—sebuah kode Morse rahasia yang mengomunikasikan bahwa ia siap mengaktifkan sistem pemindai frekuensi radio tertutup (RFID) pada anting berliannya untuk membaca pergerakan pembagian kartu.

​"Lakukan," ucap Adrian pendek, menatap langsung ke dalam manik mata Mateo.

​Putaran pertama dimulai dengan ketegangan yang merayap naik ke titik tertinggi. Sang dealer dengan cekatan membagikan dua kartu pertama untuk masing-masing pihak. Mateo membuka kartunya dengan gerakan teatrikal: Queen dan angka 8. Dalam Baccarat, nilai kartu wajah adalah nol, membuat total poin Mateo menjadi 8 murni—sebuah angka yang sangat kuat. Adrian membuka kartunya, menampilkan angka 4 dan 2, dengan total poin 6. Putaran pertama jatuh ke tangan Mateo.

​"Satu poin untuk tuan rumah," ucap Mateo dengan kekeh rendah yang meremehkan.

​Masuk ke putaran kedua, atmosfer ruangan semakin pekat hingga deru napas pun terdengar jelas. Kali ini, ketukan jemari Renata di bahu Adrian berubah ritme. Melalui anting berliannya yang menangkap distorsi frekuensi alat pengocok kartu mekanis milik kasino, Renata berhasil menghitung probabilitas urutan kartu yang tersisa di dalam kotak penampung (shoe).

​Adrian membalikkan kartu keduanya atas instruksi terselubung Renata: Natural Nine—angka tertinggi mutlak. Kedudukan menjadi imbang satu sama satu. Riak kepanikan instan sempat melintas di mata Mateo, sebelum pria tua itu kembali menguasai ekspresi wajahnya.

​Kini, putaran ketiga sekaligus penentu dimulai. Sang dealer membagikan kartu dengan gerakan yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Mateo membuka dua kartu pertamanya: angka 2 dan 5, dengan total 7. Angka yang sangat aman. Ia bersiap menarik tumpukan cip taruhan di tengah meja, mengira kemenangan sudah berada di dalam genggamannya.

​Namun, Renata menundukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajah cantiknya ke telinga Adrian hingga helaian rambut cokelatnya yang halus menyapu pipi tegas sang suami. Aroma mawar dari tubuh Renata menguar, mengaburkan bau cerutu yang menyesakkan di ruangan itu.

​"Dia melakukan kecurangan pada kartu ketiga di bawah tumpukan sebelah kiri, Adrian. Sang dealer menggunakan teknik tali bayangan untuk menukar kartu murni milikmu dengan kartu mati. Interupsi permainannya sekarang, ambil kartu tambahan langsung dari sisa tumpukan paling atas dengan tanganmu sendiri," bisik Renata dengan suara yang teramat lirih, hampir berupa desisan pelan yang hanya bisa didengar oleh Adrian.

​Adrian tersenyum dingin, sebuah kilatan kemenangan melintas di sepasang mata elangnya. Ia membalikkan dua kartu pertamanya di atas meja: angka 3 dan 4, dengan total poin 7. Seri dengan Mateo. Sesuai regulasi internasional, pihak Player berhak menarik kartu ketiga untuk menentukan hasil akhir.

​Saat sang dealer hendak menyodorkan kartu ketiga yang sudah dimanipulasi dari bawah meja, dengan gerakan secepat kilat, Adrian menepis tangan sang dealer dengan kasar hingga pria berkaus tangan putih itu tersentak mundur. Adrian mengulurkan tangan kokohnya sendiri, mengambil kartu teratas dari tumpukan murni yang telah dianalisis oleh kalkulasi finansial Renata.

​BRAKK!

​Adrian membanting kartu ketiga itu di atas beludru hijau. Angka 2.

​Total poin Adrian berubah menjadi 9—Natural Nine. Angka tertinggi yang tidak bisa diganggu gugat oleh kombinasi kartu apa pun.

​Wajah Mateo seketika berubah menjadi pias, abu-abu seperti debu. Senyuman penuh percaya diri yang sejak tadi menghiasi bibirnya lenyap tanpa bekas, digantikan oleh rahang yang mengatup kaku dan kilatan amarah yang meluap-luap di balik matanya. Ia menatap Adrian dan Renata bergantian dengan pandangan yang seolah ingin menguliti mereka hidup-hidup.

​"Luar biasa," ujar Mateo, suaranya terdengar berat dan sarat akan ancaman tersembunyi. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kancing kemejanya dengan tangan yang sedikit gemetar karena murka. "Anda tidak hanya beruntung, Tuan Adrian... tapi Anda memiliki 'mata' yang sangat jeli dan tidak biasa untuk seorang investor asing."

​Adrian ikut berdiri, mengancingkan kembali jas beludru hitamnya dengan ketenangan seorang pemenang mutlak. Ia merangkul pinggang ramping Renata dengan sangat protektif, menarik tubuh istrinya merapat ke dalam dominasinya.

​"Dalam bisnis, politik, maupun permainan, saya tidak pernah sekali pun mengandalkan apa yang disebut manusia sebagai keberuntungan, Tuan Romero," sahut Adrian, suaranya menggelegar rendah namun sarat akan otoritas yang membungkam seisi ruangan. "Kami membawa ketajaman dan transparansi. Sekarang, sesuai dengan perjanjian tertulis kita, mari kita tinggalkan permainan anak-anak ini, dan bicarakan urusan bisnis kita yang sesungguhnya di ruangan yang jauh lebih pribadi."

​Mateo menatap tajam ke arah tautan tangan Adrian dan Renata, menyadari bahwa ia baru saja berhadapan dengan sepasang predator baru yang tidak bisa ia remehkan dengan cara-cara kotor biasa. "Ikut aku," desis Mateo pendek, berjalan mendahului mereka menuju pintu rahasia di balik dinding panel kayu.

Jangan lupa subscribe dan like ya para readers♥️.

1
Sang
ini kalimat buaya yg belum dapat mangsanya 🤔🤔🤔
Sang
ente pengkhianat 🤔🤔🤔🤔
Sang
iblis mudik dong thor, kan emang iblis berasal dari neraka 🤔🤔🤔
Sang
1 fakta, usia kupu-kupu belum pernah panjang 🤔🤔🤔.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!