NovelToon NovelToon
PRIMUS ARISTOKRAT

PRIMUS ARISTOKRAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: elzio_yanuar

PRIMUS ARISTOKRAT
Dikhianati tunangan.
Diremehkan keluarga.
Bahkan dibunuh demi harta warisan.
Semua orang mengira hidup Primus Valerian Aristokrat telah berakhir.
Mereka salah.
saat kembali dari ambang kematian, Primus membawa kemampuan yang membuat seluruh dunia terkejut.
Bisnis? Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Bela diri? Musuh-musuhnya tumbang dalam hitungan detik.
Strategi? Bahkan para konglomerat dan bangsawan tua dipermainkan olehnya.
Ketika identitas aslinya perlahan terungkap, para petinggi dunia mulai gemetar.
Karena pria yang dulu mereka hina ternyata adalah kunci menuju kekayaan, kekuasaan, dan rahasia terbesar keluarga Aristokrat.
Mereka pernah menginjaknya saat jatuh.
Kini giliran Primus berdiri di puncak dan menentukan nasib mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elzio_yanuar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara Dari Masa Lalu

# SUARA DARI MASA LALU

Ruang kerja direktur utama mendadak terasa begitu sunyi dan dingin. Hanya suara dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang terdengar samar memecah keheningan malam. Sementara itu, di atas layar laptop, video rekaman rahasia itu masih terus berjalan, menampilkan tiga direktur Aurelia Maritime yang duduk mengelilingi meja rapat dengan gestur tubuh yang luar biasa tegang.

Salah satu di antara mereka bahkan berulang kali menyeka keringat dingin di dahinya menggunakan saputangan. Sikap defensif mereka mengisyaratkan bahwa ketiganya sedang berhadapan dengan sosok yang sangat mereka takuti. Sayangnya, sudut pandang kamera tersembunyi itu tidak mampu menangkap wujud fisik sang lawan bicara. Kamera hanya berhasil merekam suaranya.

Namun, justru suara bariton itulah yang sukses membuat seluruh persendian tubuh Primus membeku di tempat.

Primus mengenalinya. Sangat mengenalinya. Suara itu adalah frekuensi yang sudah terbiasa dia dengar sejak masih kecil. Suara yang selalu menyapanya di meja makan saat jamuan malam keluarga besar, suara yang memimpin jalannya rapat dewan kehormatan, dan suara yang selalu menggema di setiap acara resmi dinasti Aristokrat. Suara dari sosok yang selama ini selalu menampilkan citra ramah, bijaksana, serta memosisikan diri sebagai pelindung yang paling dekat dengan lingkaran keluarganya sendiri.

"Tidak mungkin," gumam Paman Robert dengan suara parau yang nyaris tidak keluar.

Pria tua itu rupanya juga mengenali pemilik suara tersebut. Tatapan mata Primus dan Paman Robert seketika saling bertemu di bawah pendar cahaya laptop. Tidak ada lagi kata kata yang perlu diucapkan di antara mereka berdua, karena ingatan mereka telah mengunci satu nama yang sama.

 

Di dalam rekaman video, pria misterius itu kembali berbicara dengan intonasi yang teratur dan teramat tenang.

"Pastikan laporan keuangan akhir tahun ini tetap menggunakan format yang sama dengan tahun lalu."

Salah satu direktur tampak meremas jemarinya yang basah, mencoba menyuarakan keberatan dengan nada gugup. "Tapi... tapi akumulasi jumlahnya sudah terlalu besar, Tuan. Jika pihak otoritas pusat atau komite keluarga melakukan audit mendadak secara menyeluruh"

*Brak!*

Suara hantaman keras yang memukul meja rapat seketika memotong kalimat sang direktur. Tidak terlihat siapa yang melakukan tindakan tersebut, namun interupsi kasar itu sukses membungkam seluruh ruangan rapat hingga menjadi senyap.

Detik berikutnya, suara pria misterius itu kembali terdengar. Kali ini, nadanya merosot rendah, menjadi berkali lipat lebih dingin dan sarat akan ancaman yang mutlak.

"Saya datang ke sini bukan untuk meminta opini atau pendapat kalian. Saya datang untuk memberikan sebuah perintah."

Ketiga direktur di dalam video itu langsung menundukkan kepala dalam dalam. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki sisa keberanian untuk membantah otoritas tersebut.

Primus memperhatikan setiap detail kecil yang tersaji di layar. Dia menganalisis setiap nada suara, penekanan artikulasi, hingga gaya bicara yang angkuh itu. Semakin lama dia mendengarkan, semakin tebal pula keyakinan di dalam hatinya. Orang yang mengendalikan pencucian uang ini memanglah musuh dalam selimut yang berada di ring satu keluarga Aristokrat.

 

Rekaman video itu terus berlanjut ke bagian berikutnya.

"Lalu, bagaimana dengan pergerakan Primus?" tanya salah satu direktur dengan sangat hati hati.

Penyebutan nama itu secara instan membuat fokus mata Primus menajam. Pria misterius di dalam video terdengar melepaskan tawa kecil, sebuah tawa hambar yang sarat akan nada meremehkan dan kepuasan absolut.

"Anak haram itu sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Saat ini dia terlalu sibuk mengerahkan seluruh energinya hanya untuk membuktikan diri di depan dewan keluarga. Dan dalam waktu dekat, dia dipastikan tidak akan pernah menjadi masalah lagi bagi kita."

Beberapa orang yang berada di luar jangkauan kamera ikut melepaskan tawa rendah. Namun di ruang kerja yang sunyi itu, wajah Primus justru semakin mengeras tanpa ekspresi, dengan sepasang mata yang berkilat dingin bagai mata pisau.

Kalimat merendahkan itu diucapkan tepat dua hari sebelum dewan keluarga menunjuk dirinya untuk memimpin perusahaan buangan ini. Artinya, skenario untuk menyingkirkannya telah dirancang jauh sebelum kompetisi perebutan takhta pewaris resmi dimulai. Semuanya telah diatur dengan sangat rapi.

Lalu tiba tiba, video tersebut berhenti berputar. Layar laptop berubah menjadi hitam pekat.

"Hanya itu saja isinya, Tuan Muda?" tanya Paman Robert, mencoba memecah keheningan.

Primus mencoba mengklik beberapa file data lain yang tertanam di dalam flashdisk, namun hasilnya tetap sama. Dokumen dokumen itu hanya berisi potongan rekaman video dan percakapan acak. Tidak ada bukti visual yang menampilkan wajah, pun tidak ada bukti dokumen yang mengarah langsung secara legal hukum. Namun, semua potongan ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan adanya konspirasi tingkat tinggi di dalam internal perusahaan.

"Bukti bukti ini belum cukup kuat untuk menjatuhkan posisi siapa pun di dewan keluarga, Primus," komentar Paman Robert dengan realistis.

"Aku tahu, Paman," sahut Primus, perlahan mencabut flashdisk tersebut dan memasukkannya ke dalam saku jas. "Tapi ini sudah sangat cukup untuk membuat tidur mereka tidak lagi nyenyak."

 

Jarum jam telah melewati pukul sebelas malam ketika mereka berdua akhirnya memutuskan untuk meninggalkan gedung Aurelia Maritime. Namun kali ini, Primus menginstruksikan Paman Robert untuk tidak langsung mengemudikan mobil menuju kediaman pribadinya.

Mobil sedan hitam mereka melaju membelah jalanan, berbelok menuju distrik pusat kota yang dikelilingi oleh jajaran gedung pencakar langit. Pendar lampu kota memantulkan bias cahaya yang abstrak di kaca mobil, sementara pikiran Primus terus berputar pada satu konklusi berbahaya. Jika sosok yang dia duga dari rekaman suara tadi memang benar pelakunya, maka skala masalah yang dia hadapi saat ini jauh lebih mengerikan daripada sekadar kasus pencurian uang senilai tiga miliar dolar. Itu berarti, sang predator berada di jarak yang sangat dekat dengan dirinya. Terlalu dekat.

"Tuan Muda," suara berat Paman Robert tiba tiba memecah keheningan di dalam kabin mobil.

"Hm? Ada apa, Paman?"

"Kita sedang diikuti sejak tadi."

Primus tidak langsung bereaksi panik. Dia hanya menggeser pandangannya secara tenang ke arah kaca spion samping. Sebuah mobil sedan berwarna hitam pekat tampak melaju konstan di barisan belakang dengan jarak beberapa puluh meter. Mobil itu menjaga ritme kecepatannya dengan sangat baik; tidak terlalu dekat untuk memicu kecurigaan, namun juga tidak terlalu jauh hingga kehilangan jejak. Posisi itu terus bertahan sejak lima belas menit yang lalu.

Primus menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang dingin di sudut bibirnya. "Mobil sedan hitam," gumamnya lirih, mengingat kembali kalimat terakhir yang diucapkan oleh staf administrasinya beberapa jam lalu. "Persis seperti peringatan yang dikatakan oleh Aurora. Sudah sejak kapan mereka menempel kita, Paman?"

"Tepat sejak kita keluar dari pintu gerbang utama kantor, Tuan Muda," jawab Paman Robert sembari tetap fokus mengendalikan setir.

"Kenapa baru memberi tahu saya sekarang?"

"Saya ingin memastikan polanya terlebih dahulu agar tidak salah menilai situasi."

Primus kembali melemparkan pandangannya ke arah spion. Mobil misterius itu masih setia berada di sana. Sabar, tenang, dan presisi. Gestur berkendara mereka mengingatkan Primus pada seekor predator yang sedang mengawasi pergerakan mangsanya sebelum melancarkan serangan mematikan.

 

"Belokkan mobil melewati jalur pelabuhan tua, Paman," perintah Primus tenang.

Paman Robert mengangguk patuh tanpa banyak bertanya. Dia langsung memutar kemudi, membawa mobil keluar dari jalur utama kota yang mulai lengang, lalu beralih memasuki kawasan industri pelabuhan yang jauh lebih sepi dan terisolasi.

Di area ini, intensitas lampu penerangan jalan mulai berkurang drastis, menyisakan deretan bangunan gudang tua yang mendominasi pemandangan. Dan seperti yang sudah mereka duga sebelumnya, sedan hitam di belakang mereka ikut berbelok tanpa ragu. Sekarang, seluruh kecurigaan itu telah berubah menjadi fakta yang telanjang. Mereka memang sedang dibuntuti oleh pihak musuh.

Sepuluh menit kemudian, Paman Robert menghentikan laju mobil tepat di sebuah area lapangan terbuka di depan kompleks gudang tua yang sudah tidak lagi beroperasi. Angin malam pesisir bertiup dengan kencang, menciptakan atmosfer yang dingin dan sunyi. Hanya suara deburan ombak dari kejauhan yang terdengar memecah keheningan tempat tersebut.

Paman Robert menolehkan kepalanya ke belakang dengan raut wajah waspada. "Tuan Muda? Apa rencana kita selanjutnya?"

Primus langsung mengulurkan tangannya dan membuka pintu mobil tanpa keraguan sedikit pun. "Jika mereka memang sangat ingin berbicara dengan kita," ujar Primus sembari melangkah turun ke atas permukaan tanah yang berdebu, "maka mari kita berikan mereka panggung untuk berbicara."

 

Mobil sedan hitam yang sejak tadi membuntuti mereka akhirnya ikut berhenti, mengambil posisi sekitar dua puluh meter tepat di hadapan Primus. Daun pintu mobil tersebut terbuka secara serentak.

Satu orang turun dari kursi kemudi. Lalu disusul dua orang lagi dari pintu tengah. Hingga akhirnya, total ada lima orang pria bertubuh tegap yang kini berdiri berbaris di bawah temaramnya cahaya lampu jalan yang redup. Semuanya mengenakan pakaian taktis serbahitam dengan potongan rambut cepak. Dari cara berdiri dan ritme gerakan mereka yang sangat rapi, Primus langsung tahu bahwa kelompok ini jelas bukan kumpulan preman jalanan atau pembunuh bayaran amatir.

Salah satu pria yang posisinya berada di tengah melangkah maju beberapa tapak, menatap Primus dengan sorot mata yang dingin. "Primus Valerian Aristokrat."

Primus merespons panggilan itu dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya. "Ya. Itu nama saya."

Pria berpakaian taktis itu menyunggingkan sebuah senyuman sinis yang terkesan meremehkan. "Kami datang ke sini hanya ditugaskan untuk menyampaikan sebuah pesan singkat kepada Anda, Tuan Muda."

"Silakan katakan. Saya sedang mendengarkan dengan sangat baik," sahut Primus tanpa ada guratan rasa takut sedikit pun di wajahnya.

Pria itu tidak membalas dengan kata kata. Dia justru merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan selembar foto fisik berukuran sedang, lalu melemparkannya begitu saja ke udara. Lembaran foto itu melayang sebentar sebelum akhirnya jatuh tepat di atas permukaan tanah, hanya berjarak beberapa senti dari ujung sepatu mewah milik Primus.

Primus menurunkan pandangannya secara perlahan untuk melihat objek yang terekam di dalam foto tersebut. Tepat pada detik itu juga, senyuman tipis yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya perlahan lenyap tanpa sisa, digantikan oleh rahang yang mengeras rapat.

Foto itu menampilkan sosok yang sangat tidak asing bagi ingatannya. Seseorang yang baru saja dia temui beberapa jam yang lalu di ruang kerjanya.

Aurora.

Dan hal yang berhasil membuat aliran darah di dalam tubuh Primus mendadak mendidih adalah kondisi wanita itu di dalam foto. Aurora tampak terduduk dalam posisi terikat erat di sebuah kursi kayu di dalam ruangan gelap. Wajahnya dipenuhi oleh bekas luka memar dan darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya. Sementara itu, di bagian bawah lembaran foto, tertera sebaris kalimat ancaman yang ditulis menggunakan tinta merah tebal.

*Berhenti melakukan penyelidikan lebih jauh, atau gadis tidak berguna ini yang akan mati lebih dulu sebagai gantinya.*

Angin malam di pelabuhan tua itu bertiup semakin kencang, menerbangkan debu debu kering di sekitar mereka. Dan untuk pertama kalinya sejak dia memutuskan untuk kembali menginjakkan kaki di dalam lingkaran dinasti keluarga Aristokrat, amarah seorang Primus Valerian benar benar telah terusik sampai ke titik puncaknya.

**BERSAMBUNG....

1
Toto Maki
sejauh ini alurnya bagus g muter" lanjut kembangkn lgi aku follow
yanuar saputra: terimakaaih kak atas saran nya, salam hangat☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!