NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Pengantin Pengganti Tuan Presdir Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ausilir Rahmi

Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.

Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Sementara di tempat lain, Maureen yang sudah duduk di meja rias dari satu jam yang lalu, dia sangat terkejut saat gambaran diri nya yang terpantul di cermin memperlihatkan model rambut nya yang baru dan make up yang lebih fresh.

"Lihatlah nyonya Maureen, sekarang anda lebih cantik. Semoga suami nyonya suka," ucap Riza tersenyum senang, setelah menata rambut baru Maureen.

Maureen mengulum senyum tipis, dia sebenar nya belum terbiasa berpenampilan yang cukup berbeda. Karena sejak dulu rambut nya hanya di kepang dua saja. Tak seperti kakak nya Maura yang selalu terlihat modis.

"Bagaimana menurut nyonya, suka tidak?" Tanya Riza memastikan lebih dulu atas hasil kinerja nya. Kalau-kalau sang nyonya tidak suka.

"A-aku suka, ini bagus ko," Sahut Maureen terlihat sangat gugup. Entah harus bagaimana nanti kalau bertatapan dengan suami nya. Berharap Arik bisa suka.

Riza bernafas lega, karena akhir nya dia tidak sia-sia make up seorang menantu majikan nya. "Syukurlah kalau nyonya muda suka, sekarang nyonya tinggal mencoba dress nya," ujar Riza sambil memperlihatkan pelan dress mewah dan elegan yang di antarkan langsung oleh desainer ternama sesuai permintaan nyonya Marisa.

Kedua bola mata Maureen berbinar, untuk pertama kali nya Maureen melihat dress mahal yang selalu terlihat pada majalah-majalah branded ternama membuat ia sangat takjub, berharap suatu hari hoby-nya bisa menciptakan karya tangan yang luar biasa seperti itu.

Riza dan Naura saling menatap Maureen dengan kening berkerut, saat melihat Maureen malah terlihat bengong. Meski pun ragu salah satu dari mereka berusaha mengingatkan diri untuk bertanya.

"Ma-maaf nyonya, apa ada yang salah dengan gaun nya? Atau mau kami rekomendasikan gaun lain, kebetulan ada tiga pilihan," ucap Naura yang menawarkan.

Lamunan Maureen buyar dari rasa kagum nya, ia seketika menggelengkan kepala nya. "Gaun ini sangat bagus, warna nya juga tidak mencolok, aku suka, dan aku ingin memilih ini saja," kata Maureen yakin.

Riza dan Naura bernapas lega, saat melihat senyum penuh kegembiraan yang terpancar di wajah Maureen.

"Syukurlah, kalau nyonya muda suka kami ikut senang, mari kami bantu untuk mengganti nya," ajak Naura seraya mendorong pelan manekin itu.

Tanpa banyak bicara, Maureen mengangguk, lalu segera masuk ke dalam kamar ganti. Mengingat waktu nya sudah tidak banyak lagi untuk segera pergi ke kediaman sang mertua.

Arik yang baru turun dari tangga dengan stelan formal, yang entah itu sebuah kebetulan atau memang kode semesta, akan mengenakan tuxedo berwarna navy sama dengan dress yang akan di pakai Maureen.

Lelaki bertubuh sixpack dan berwajah misterius itu mengedarkan pandangan nya ke ruangan tamu, dengan wajah tampak muram setelah menerima pesan dari ibu nya, jika hari ini dia dan Maureen harus segera datang ke kediaman lama.

"Kemana dia?" Arim menggerutu, lalu memanggil salah satu pengawal dan menginterogasi nya dengan beberapa pertanyaan tentang keberadaan Maureen.

Pengawal itu pun menjawab penuh hormat, tanpa berani menatap sang bos. "Tuan, nyonya sedang bersiap, beliau di bantu oleh orang-orang-nya nyonya besar."

Setelah mendapatkan jawaban, Dave menyuruh pergi pengawalnya untuk segera enyah di hadapannya. "Untuk apa ibu menyuruh orang-orangnya mengurusi wanita itu?" ucap pengawal itu.

Arik berdecak kesal, sembari menatap tajam ke arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Sudah hampir setengah jam dia menunggu belum ada tanda-tanda keberadaan Maureen.

Baru saja lelaki bertopeng silver itu akan memanggil pengawal, tiba-tiba saja Maureen baru keluar dari kamar di dampingi oleh Riza dan Naura.

"Tuan, nyonya sudah siap." ujar Riza, Riza dan Naura memberitahu penuh hormat.

Arik melirik, seketika majalah bisnis yang tengah dia pegang tadi sampai terjatuh ke bawah lantai, saat melihat sosok Maureen yang terlihat sangat berbeda tidak seperti biasa nya.

Bruk!

Wajah yang terlihat lebih cantik, rambut panjang tergerai Curly di ujung seolah membuat ia tidak percaya, jika wanita yang ada di depan mata nya saat ini adalah Maureen. Gadis sederhana yang kemarin ia nikahi.

Maureen tertegun, begitu juga dengan kedua wanita utusan nyonya Marisa tak kalah kaget, saat mereka melihat majalah terjatuh ke bawah lantai dengan bunyi yang cukup keras.

"Menurut tuan bagaimana penampilan nyonya? Apa anda suka? Atau ada perlu kami perbaiki lagi?" ucap Riza memberanikan diri bertanya dan meminta pendapat sang tuan.

Arik membidik tajam dengan mata elang nya, dari bawah kaki sampai ke ujung rambut Maureen. Meskipun terlihat cantik dan modis.

Tapi tetap saja. Luka yang telah di torehkan Maura dan kedua mertua nya tidak membuat luluh hati nya begitu saja.

"Sudah tidak banyak waktu lagi, semua orang sudah menunggu," Ketus Arik beranjak dari sofa, lalu berjalan melewati Maureen begitu saja.

Maureen yang masih mematung bersama Riza dan Naura, gadis berparas manis itu pun sejenak memejamkan kedua pelupuk mata nya merasakan betapa pedih dan sakit hati. Jangankan memuji, Arik melirik pun tidak.

Melihat ada yang tidak beres dengan hubungan pasangan pengantin baru itu, membuat kedua wanita berseragam hitam putih pun saling menatap dan tidak berani mengeluarkan pendapat lebih jauh lagi.

"Tuan terlihat sangat senang Nyonya, ayo jangan membuat beliau menunggu, " bujuk Naura berusaha menghibur.

Maureen mengangkat bahu, ia mengulas senyum manis menutup kegetiran dalam hati lalu mengangguk. Dengan langkah yang pelan ia melangkah dengan tumit nya menuju ke depan.

Baru saja Arik keluar, terlihat beberapa paparazi atau wartawan yang selalu memburu berita nya sudah berteriak histeris di depan mansion yang nyaris saja roboh gerbang besi nya. Tapi para pengawal berusaha menahan nya.

"Ck, sial!" Arik berdecak kesal, kedua tangan nya terkepal kuat menahan amarah. Dia sangat muak karena merasa terganggu.

Bukan diri nya jika tidak menjadi perbincangan hangat dalam dunia perbisnisan, yang cukup mempunyai peranan penting dalam Inves di negara Z.

"Tuan Arik! Beri kami waktu anda sebentar, apakah benar wanita yang anda nikahi bukanlah wanita yang anda cintai?" ujar Salah satu mereka.

"Benar, kami ingin tahu. Apakah anda di kerjai oleh mertua anda sendiri?" ucap yang lain nya.

Beberapa pertanyaan bernada teriakan terdengar membisingkan telinga, membuat Arik kembali tersulut emosi, dia memijat kening sejenak.

Maureen yang baru saja tiba tercengang, saat melihat berapa banyak orang-orang yang berteriak sembari membawa beberapa kamera, beserta alat rekam lain nya.

Melihat wanita yang sudah resmi menjadi pasangan sampai, Arik dengan sangat terpaksa menyodorkan lengan nya. "Cepat!" ucap Arik.

Maureen menatap Arik, meskipun terkadang dia merasa takut saat melihat sosok suami nya. Tapi Maureen berusaha tetap tenang dan mulai menerima takdir yang sudah terjadi pada nya.

"I-iya mas," Maureen mengulum senyum manis, jantung nya berdegup kencang tak menentu.

Jemari lentik nya perlahan mulai meraih lengan lelaki yang bergelar suami nya itu, meskipun penuh dengan keraguan dan kecanggungan di antara mereka.

Saking antusias nya para wartawan, sampai para pengawal Arik lengah. Mereka semua menghampiri pasangan pengantin baru itu yang terlihat bergandengan tangan.

Harris yang tidak ingin jika sampai terjadi sesuatu pada bos nya, dia segera membuka pintu.

"Tuan, nyonya silahkan masuk," Ujar nya penuh hormat.

Arik menyuruh Maureen untuk masuk lebih dulu, lalu tak lama dia menyusul. Setelah kedua nya masuk. Sebagai sang asisten yang begitu royal terhadap bos nya.

Harris berusaha menjawab beberapa pertanyaan sumbang tentang bos nya, bahkan dia menepis isu-isu negatif dan menegaskan jika pernikahan mereka baik-baik saja.

Para wartawan itu seolah enggan percaya, jika bukan seorang Arik sendiri yang menjawab rasa penasaran mereka.

Haris yg tidak ingin membuat bos nya menunggu, dan mengatakan jika semua pertanyaan para wartawan itu akan di jawab secara resmi oleh keluarga besar Carlson Grup.

Mengingat waktu nya yang sudah sangat sempit, Haris segera masuk dan melajukan kendaraan roda empat mewah brand terbatas itu setelah para

Rekan nya berhasil menahan para wartawan. Menuju ke arah tujuan. Tak lupa Haris meminta maaf pada tuan nya, karena sudah membuat menunggu.

Arik terlihat kesal dan membentak nya agar mengendarai lebih cepat untuk menghindari kejaran pemburu berita yang membuat nya sangat muak dan jengah.

Haris hanya bisa patuh, tak berani membangkang. Suasana di dalam terasa hening dan canggung, lagi-lagi Maureen merasa tidak nyaman dan semakin merasa bersalah atas ulah kedua orang tua nya.

"Kau lihat kan? ini semua ulah kedua orang tua mu Maureen!" Bentak Arik yang semakin benci saat melihat wajah lugu Maureen, yang menurut nya hanya penuh kepura-puraan untuk menarik rasa simpati nya saja.

"Maafkan Mama dan Papa ku tuan," ucap Maureen tertunduk malu, entah dengan cara apa lagi agar Arik bisa memaafkan mereka ia hanya bisa pasrah.

Arik menyunggingkan senyum sinis, jika bukan karena nenek nya pulang. Rasa nya dia tak sudi untuk duduk bersama dengan wanita dari keluarga yang penuh kelicikan dan kemunafikan seperti Herman dan Susan.

"Sekali penipu, tetap wanita penipu!" sinis Arik.

\*

Bersambung..............

1
Ariany Sudjana
bodoh kamu Maureen, jangan diam saja dong, lawan suami yang ga tahu diri itu
Reni Anjarwani
mending sama jevan aja mauren yg benar2 cinta , buar arik bucin sama maureen thor
Ariany Sudjana
ga kebayang gimana reaksi Oma Eva kalau tahu Arik dan Maureen hanya menikah pura-pura, dan status Maureen hanya pengganti Maura
Ariany Sudjana
Brian saja tahu kalau mereka nikah pura-pura, entah gimana reaksi Oma pas tahu kejadian yang sebenarnya
Ariany Sudjana
jangan-jangan nanti calon istrinya Brian tergoda sama Arik lagi 😂😂🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!