NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Beracun

​Lampu temaram di sudut ruang kerja pribadi Arlan memberikan bayangan panjang yang tampak menari di atas karpet beludru. Udara di dalam ruangan itu terasa berat, sarat dengan ketegangan yang tidak kasat mata dan aroma wiski yang kini mulai bercampur dengan wangi parfum kayu cendana milik V. Arlan berdiri begitu dekat, hingga Asha bisa merasakan panas tubuh pria itu merambat melalui udara dingin.

​Pria itu menatapnya dengan binar obsesi yang sudah mencapai tahap berbahaya, sebuah tatapan yang dulu pernah Asha anggap sebagai cinta sejati. Namun sekarang, Asha hanya melihat mangsa yang sudah masuk sepenuhnya ke dalam jebakan yang ia susun dengan sangat rapi. Ia menaikkan dagunya sedikit, menantang tanpa rasa takut, membiarkan Arlan tenggelam lebih jauh dalam pesonanya.

​"Kau sangat sulit untuk digapai, V. Setiap kali aku merasa sudah memilikimu, kau justru terasa semakin jauh," bisik Arlan dengan nada suara yang serak dan penuh damba.

​"Bukankah sesuatu yang mudah didapatkan itu membosankan, Arlan? Aku pikir pria seperti Anda menyukai tantangan yang menguras tenaga," sahut Asha dengan suara rendah yang menggetarkan.

​Arlan tertawa kecil, sebuah suara hampa yang bergema di ruangan sunyi itu, lalu ia perlahan merengkuh pinggang Asha dengan tangan yang sedikit gemetar. Asha membiarkannya, meski di dalam batinnya, rasa jijik yang luar biasa meledak seperti racun yang menyebar ke seluruh aliran darahnya. Ia merasa ingin segera menarik diri dan mencuci seluruh kulitnya dari sentuhan pria ini.

​"Kau benar. Dan aku adalah penakluk yang tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja setelah aku memutuskan untuk memilikinya," ujar Arlan semakin berani.

​Wajah pria itu mendekat, dan Asha bisa mencium aroma alkohol yang kuat bercampur dengan napas Arlan yang terasa menyesakkan paru-parunya. Ia tahu saat ini sudah tiba, sebuah momen yang harus ia lalui demi misi utamanya menghancurkan Neovault dari akar terdalam. Ia memejamkan mata, bukan karena menikmati, melainkan untuk menyembunyikan kilat kebencian yang mungkin terpancar.

​Bibir Arlan menyentuh bibirnya, sebuah ciuman yang terasa sangat asing dan beracun bagi Asha. Rasa mual yang hebat menghantam ulu hatinya, seolah tubuhnya sendiri sedang melakukan protes keras terhadap pengkhianatan fisik yang ia lakukan pada dirinya sendiri. Di dalam pikirannya, Asha membayangkan dirinya sedang berada di bawah air sungai Rust yang dingin, mencoba mematikan segala saraf perasaannya.

​"Kau milikku, V. Katakan bahwa kau adalah milikku sekarang," desis Arlan di sela ciumannya yang semakin menuntut.

​Asha tidak menjawab, ia justru menggunakan kesempatan itu untuk menggerakkan tangannya dengan sangat halus ke arah saku jas Arlan yang tergantung longgar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena asmara, melainkan karena adrenalin yang dipacu oleh risiko tertangkap basah di tengah situasi yang intim ini. Jarinya yang lentik dan terampil mulai meraba isi saku tersebut dengan presisi seorang pencuri profesional.

​Ujung jarinya menyentuh benda logam kecil yang terasa dingin dan memiliki tekstur unik di permukaannya. Kunci sidik jari Arlan, sebuah alat enkripsi tingkat tinggi yang menjadi kunci akses tunggal menuju brankas digital dan sistem keamanan utama seluruh aset Neovault. Dengan satu gerakan cepat namun tanpa suara, Asha berhasil menyelipkan benda kecil itu ke dalam lipatan gaunnya yang lebar.

​"Aku bukan milik siapa-siapa, Arlan. Setidaknya, belum untuk saat ini," ucap Asha sambil melepaskan tautan bibir mereka dengan gerakan yang tampak sangat alami.

​Ia mengatur napasnya yang tersengal, berpura-pura seolah dirinya juga terbawa suasana, padahal setiap sel dalam tubuhnya sedang berteriak ingin segera pergi. Arlan tampak puas, wajahnya yang biasanya angkuh kini terlihat bodoh karena nafsu yang membutakan penilaian bisnis dan instingnya sebagai pengusaha licik. Pria itu tidak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan nyawa perusahaannya kepada wanita yang paling ia benci di masa lalu.

​"Kau sungguh misterius. Tapi itulah yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu, bahkan saat aku sedang bersama Elena," Arlan mengusap pipi Asha dengan ibu jarinya.

​Asha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya namun terlihat cukup meyakinkan dalam kegelapan ruangan yang hanya diterangi cahaya bulan. "Elena tidak perlu tahu tentang malam ini, bukan? Biarkan ini menjadi rahasia kecil yang hanya kita berdua yang memahaminya."

​"Dia tidak akan pernah tahu. Elena hanyalah masa lalu yang akan segera kubereskan jika dia terus mengganggu rencanaku bersamamu," Arlan berjanji dengan nada dingin yang dulu sering ia tujukan pada Asha.

​Asha merasakan kemenangan kecil di dalam hatinya mendengar pengakuan tersebut, membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Elena jika mengetahui suaminya sedang mengkhianatinya. Ia teringat bagaimana Elena dulu menyulut cerutu di bahunya tanpa rasa bersalah sedikit pun, dan sekarang, wanita itu akan merasakan rasa sakit yang sama namun dalam bentuk yang berbeda.

​"Sekarang, saya rasa saya harus pergi. Ada banyak dokumen investasi yang perlu saya tinjau kembali sebelum penandatanganan besok pagi," kata Asha sambil merapikan gaunnya.

​"Kenapa terburu-buru? Menginaplah di sini malam ini, aku akan menyuruh pelayan menyiapkan kamar terbaik untukmu," Arlan mencoba menahan dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Asha.

​Asha melepaskan tangan Arlan dengan gerakan yang lembut namun tidak terbantahkan, memberikan kesan bahwa dirinya adalah wanita berkelas yang sulit ditaklukkan. "Kesabaran adalah kunci dari kepuasan yang maksimal, Arlan. Jangan merusak antisipasi ini dengan terburu-buru mendapatkan apa yang Anda inginkan."

​Arlan tertegun sejenak, lalu ia tertawa rendah, merasa tertantang oleh sikap V yang selalu tahu cara mengendalikan situasi di antara mereka. "Baiklah. Aku akan membiarkanmu pergi malam ini, tapi jangan harap kau bisa melarikan diri dariku di masa depan."

​Asha berjalan menuju pintu, merasakan berat kunci sidik jari di dalam sakunya sebagai bukti kesuksesannya malam ini. Begitu pintu ruang kerja itu tertutup rapat di belakangnya, Asha mempercepat langkahnya menuju lift dengan wajah yang berubah menjadi sangat pucat. Ia menekan tombol lantai dasar berkali-kali seolah-olah gas beracun sedang mengejarnya dari belakang.

​Begitu masuk ke dalam lift yang sunyi, Asha segera mengeluarkan tisu basah dari tasnya dan menggosok bibirnya dengan sangat keras hingga kulitnya terasa pedih dan memerah. Ia ingin menghapus setiap sisa sentuhan Arlan yang terasa seperti kotoran yang menempel permanen di wajahnya. Air mata amarah menggenang di matanya, namun ia menolaknya untuk jatuh karena ia bukan lagi Asha yang lemah.

​"Kau akan membayar setiap detik dari malam ini, Arlan. Aku bersumpah akan merobek semua kekuasaanmu sampai kau tidak punya apa-apa lagi selain penyesalan," desis Asha pada bayangannya di cermin lift.

​Lift berdenting saat mencapai lobi, dan Asha melangkah keluar dengan topeng ketenangannya yang sudah kembali terpasang sempurna. Mobil hitam mewahnya sudah menunggu di depan gedung Menara Neovault dengan mesin yang masih menderu halus. Ia segera masuk ke kabin belakang, memberikan isyarat singkat kepada pengemudinya yang merupakan mantan buruh dari distrik Rust.

​"Jalan sekarang. Dan hubungi tim peretas di lokasi persembunyian. Katakan bahwa aku sudah mendapatkan kuncinya," perintah Asha dengan suara yang kembali dingin dan tanpa emosi.

​Mobil itu melesat membelah jalanan Neovault Metropolis yang masih dipenuhi lampu-lampu neon yang menyilaukan. Di kursi belakang, Asha menatap kunci sidik jari di tangannya, benda kecil yang akan menjadi awal dari kiamat bagi kerajaan bisnis Arlan Valeska. Ciuman beracun tadi memang menyakitkan bagi harga dirinya, namun itu adalah harga yang sebanding untuk memenangkan perang ini.

​Ia mengeluarkan ponsel terenkripsinya, melihat data saham Neovault yang mulai menunjukkan fluktuasi akibat keputusan-keputusan bodoh Arlan yang mulai terpengaruh oleh obsesinya. Setiap angka yang turun adalah simfoni yang indah di telinga Asha, sebuah musik pembalasan yang akan segera mencapai puncaknya. Ia tahu Arlan sekarang sedang di atas sana, memikirkan dirinya, tanpa sadar bahwa maut sedang mengetuk pintunya.

​"Paman, apakah semuanya sudah siap di persembunyian? Kita harus melakukan sinkronisasi sidik jari ini sebelum Arlan menyadari kehilangannya," tanya Asha melalui saluran komunikasi aman.

​"Semua sudah siap, Nyonya. Peralatan kami sudah menunggu data dari kunci tersebut untuk menjebol server utama aset Neovault," sahut suara nelayan tua dari seberang telepon.

​Asha menyandarkan kepalanya di jok kulit mobil, menatap Menara Neovault yang semakin mengecil di kejauhan melalui kaca spion. Ia merasa tubuhnya sangat lelah, namun semangatnya justru membara lebih hebat dari sebelumnya. Ciuman tadi telah mengingatkannya mengapa ia harus menghancurkan pria itu tanpa sisa; karena Arlan adalah monster yang tidak pantas mendapatkan belas kasihan.

​Malam itu, di dalam mobil yang terus melaju menuju kegelapan distrik Rust, Asha menyadari satu hal yang pasti. Ia telah melintasi batas yang tidak bisa ditarik kembali, sebuah pengorbanan martabat demi keadilan yang berdarah. Dan saat matahari terbit besok, Arlan akan menyadari bahwa wanita yang ia cium malam ini bukanlah kekasih, melainkan algojo yang siap mencabut nyawa bisnisnya.

​"Tidurlah yang nyenyak, Arlan. Nikmati mimpi-mimpi indahmu sebelum aku merubahnya menjadi kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan," gumam Asha pelan.

​Ponselnya bergetar kembali, menampilkan pesan singkat dari Arlan yang berisi kata-kata manis yang memuakkan. Asha tidak membalasnya, ia justru mematikan ponsel tersebut dan melemparkannya ke samping dengan rasa jijik yang masih tersisa di ujung lidahnya. Baginya, permainan ini bukan lagi tentang rayuan, melainkan tentang eksekusi yang sempurna tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

​Awan hitam mulai menutupi bulan di atas kota, seolah ikut menyembunyikan rencana jahat yang sedang bergerak di balik bayang-bayang. Asha tahu bahwa setelah ini, tidak akan ada jalan untuk kembali ke masa lalu yang damai. Namun, bagi wanita yang sudah pernah mati dan bangkit kembali dari sungai, kedamaian adalah kemewahan yang hanya bisa didapatkan setelah semua musuhnya hancur menjadi debu.

1
Himna Mohamad
lanjut thoor
EsKobok: siap kaaa
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!