Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
"O-Oh.. i-itu... e... Tama sedang di luar negeri, Bu. Tama sedang mengecek proyek terbarunya di luar negeri," Jawab Liz tanpa berani mengangkat kepalanya untuk bicara sambil menatap Ibu.
Ibu Nira terdiam sejenak, memandang Liz dengan tatapan curiga.
"Syukurlah kalau hubungan kalian baik-baik saja. Setidaknya berita yang viral kemarin tidak mempengaruhi pernikahan kalian. Ibu sih inginnya putri Ibu menikah cuma sekali, meski awalnya hanya karena menuruti permintaan Yurike, tapi Ibu yakin Tama dan kamu sama-sama sudah memiliki perasaan yang sama."
Liz tersenyum getir. Ibu tidak tau apapun tentang putrinya karena Liz sendiri yang tidak mengizinkan siapapun termasuk Ibunya untuk tau bagaimana sesunggunya yang dia rasakan. Dan Ibu juga tidak tahu yang terburuk yang dialami Liz saat ini.
Beberapa hari lalu seseorang telah mengirimkan surat dari pengadilan. Surat yang berisi tentang pembatalan pernikahan antara dirinya dan Tama.
Setelah mendapatkan surat itu Liz tidak menangis. Namun ketika malam tiba, pertahanannya runtuh. Liz menangis sampai pagi hingga kedua matanya bengkak.
Liz menyimpan surat itu di dalam lemari nya, dibawah tumpukan baju-baju bersama dengan ponselnya yang rusak. Liz tidak memperbaiki benda pipih itu atau bahkan membeli baru. Tidak ada alasan apapun selain karena dia takut hatinya goyah dan akan menghubungi Tama atau bahkan menemuinya langsung.
Karena terlalu sering memendam perasaan, sampai dewasa pun Liz tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya. Dia mencintai Tama, tapi tidak tahu harus berbuat apa.Tama sudah mengambil keputusan dan mungkin itu yang terbaik untuk mereka.
Liz menyelesaikan makannya lebih dulu, kemudian di susul Ibu.
Setelah makan Liz mengajak Ibu ke teras untuk menikmati udara pagi sambil memakan puding jagung buatannya.
"Bu ?!" Liz memulai percakapan dengan tatapannya yang lurus kedepan.
"hem ?"
"Gimana kalau kita pindah ?"
Kedua alis Ibu nyaris bertaut.
"Pindah ?" Beo Ibu setengah kaget.
Liz mengangguk, "Iya. Kita pindah, kita tinggalkan kehidupan di kota."
Ibu tertegun beberapa detik,
"Sebenarnya ada apa ? Kenapa tiba-tiba kamu mengajak Ibu pindah, nak ?"
Kali ini Liz yang terdiam, dia tidak langsung menjawab.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya saja aku sudah lelah dengan hiruk pikuk di Ibu kota ini. Aku ingin kita tinggal di desa. Uang yang aku kumpulkan selama ini cukup untuk kita membeli rumah sederhana dan membuka usaha kecil-kecilan disana." Liz menggenggam tangan Ibu, mencoba meyakinkan Ibunya agar setuju dengan ide nya tersebut.
"Bu, Ibu tenang saja. Liz yang akan mengurus semuanya. Ibu nggak perlu khawatirkan apapun. Liz janji, kita akan bahagia meski hanya berdua saja."
Mendengar ucapan terakhir sang putri, Ibu langsung tersadar, ternyata Liz dan Tama hubungannya sedang tidak baik. Tidak mungkin Liz ingin pergi dan mengatakan hidup berdua saja dengannya jika tidak ada yang terjadi di antara mereka.
"Pagi ini Liz akan ke bank untuk menarik semua uang tabungan Liz, dan besok kita akan langsung pindah ya bu."
Ibu semakin shock lagi karena kepindahan mereka bukan hitungan mingu atau bulan lagi, melainkan hitungan jam, kurang dari 48jam lagi.
Setelah percakapan itu, Liz membawa Ibu masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Kemudian Liz berganti baju untuk pergi ke bank.
Uang tabungannya memang tidak banyak lagi, namun cukup untuk kehidupan mereka berdua selama beberapa bulan kedepan. Rencananya selain membuka usaha kecil-kecilan, Liz pun akan membuka les pribadi untuk anak-anak di desa.
Sebelum pulang, Liz memilih untuk duduk di kursi taman kota sampai waktu menunjukkan pukul 3 sore.
Ditempat dan waktu yang berbeda, seorang pria duduk di depan meja bar dengan keadaannya yang sangat kacau. Meski ditemani oleh asisten pribadi yang setia, itu tidak membuatnya berhenti untuk minum.
"Tuan, sudah, Tuan... Anda sudah minum terlalu banyak." Faizal berkali-kali menahan Tama untuk minum, namun berkali-kali juga Tama menepisnya dengan kasar, padahal kesadarannya sudah perlahan mulai menurun.
"Saya akan terkena masalah kalau Tuan selalu pulang kerja dalam keadaan mabuk begini,"
"Ck! Kau berisik sekali ?! Tutup mulutmu dan isi lagi gelasku!"
"Tuan.. anda bisa sakit jika terus begini ?! Ayo, kita pulang saja." Faizal memanggil seorang security untuk membantunya memapah Tama sampai mobil. Faizal kesulitan karena Tama terus berontak dan tidak mau diam.
Setelah memberikan tips sebanyak tiga lembar uang berwarna merah pada petugas keamanan club yang membantunya, Faizal pun segera membawa Tama pulang.
Benar saja prediksinya, sampai dirumah Nyonya besar alias Nenek Zalia sudah berdiri di ambang pintu utama dengan wajah garangnya yang siap menerkam Faizal hidup-hidup.
"Tuan, kau harus memberiku bonus untuk setiap omelan Nyonya Besar padaku," Ucap Faizal sebelum turun dari mobil.
"Faizal ?! Kau ini bagaimana sih ? Sudah 3 hari kau membiarkan Tama mabuk-mabukan seperti ini ?"
Faizal berusaha menulikan pendengarannya meski suara cempreng Nenek Zalia tetap terdengar menyakitkan gendang telinganya.
"Apa kau mau dipecat, hah ? Menjaga Tama saja kau tidak becus ?!"
'Mari bertaruh, Nyonya. Didunia ini tidak ada asisten setangguh diriku ini dalam menjaga Tuan Tama yang kini kembali bengis!' Sahut Faizal, namun hanya dia ucapkan dalam hatinya saja. Sebab jika di utarakan, sama saja dia cari mati.
Faizal berhasil membaringkan Tama di kasur kamar tamu. Kini kamar itu sudah jadi kamar permanen Tama. Semua pakaian nya sudah dipindahkan. Kamar lamanya bersama Yurike dibiarkan kosong dan Tama tidak mau masuk lagi ke kamar itu.
"Kalau begitu saya permisi, Nyonya besar." Dengan nafas yang masih ngos-ngosan karena membopong Tama sampai ke kamarnya, Faizal pun pamit.
Nenek Zalia menatap Faizal dengan sinis.
"Yasudah sana. Hati-hati dijalan." Ucapnya dengan nada ketus. Meski begitu bagi Faizal itu sudah lebih dari cukup. Nyonya besarnya memang senang sekali merepet, namun setiap Faizal pulang selalu terselip perhatian kecil yang menghangatkan hatinya.
Setelah Faizal pergi, Nenek Zalia meminta Surti untuk membantunya membuka sepatu dan jas yang dipakai Tama.
"Kau lihat perbedaannya, Surti ? Cucuku sampai sehancur ini setelah Elizabeth pergi dari hidupnya. Setiap malam dia hanya tau mabuk dan mabuk..." Nenek Zalia menatap Tama dengan tatapan prihatin.
"Mereka sudah tak mungkin bersama. Tama sudah membatalkan pernikahan mereka. Aku harus bagaimana untuk menyatukan mereka kembali, Surti ???"