Elliya Serrafin wanita dewasa mandiri hidup dijaman modern tiba- tiba memgalami perjalanan waktu ke masa lalu setelah mengalami sebuah kecelakaan. Terbangun pada tubuh gadis kecil bernama Kindaru yang hidup sebagai pengabdi, mampukah Elliya sebagai Kindaru menjalani hidup sebagai pengabdi karena memang seperti itu masanya, atau membuat alur baru tanpa merubah sejarah yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningidep, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Waktu untuk berpisah
Kindaru masih bergelung dalam pelukan hangat Raden Abisaka, setelah melewati malam panjang bersama Raden Abisaka. Beberapa hari ini hubungan keduanya memang semakin panas di atas ranjang, yang justru berbanding terbalik dengan komunikasi keduanya, Kindaru lebih membatasi diri ketika momen kebersamaan mereka.
Raden Abisaka sebisa mungkin menutupi rasa was- was tentang Kindaru yang mungkin akan pergi meninggalkannya karena perjanjian satu purnama telah usai, dirinya belum merasa bosan atau mungkin tidak akan bosan dallam waktu dekat terhadap wanita ini, justru yang ada semakin penasaran dengan kejutan- kejutan penuh sensasi yang diberikan wanita yang berada dalam pelukannya ini. Dirinya mungkin membutuhkan pengalihan dari tubuh wanita ini agar tidak kecanduan, namun pertanyaannya adakah wanita lain yang bisa begitu memuaskan dirinya seperti pelayanan Kindarunya ini.
Waktu yang disepakati bersama telah usai namun Kindaru tidak pernah membahas masalah itu, hal ini membuat Raden Abisaka tenang, ditambah segala hal yang dimiliki Raden Abisaka membuat dirinya begitu yakin bisa membuat semua perempuan bertekuk lutut, wajahnya Rupawan, kekayaan berlimpah, mampu memuaskan pasangannya diranjang seperti halnya Nyi Mas Muntari Yang selalu merengek minta disentuh padahal telah bersuami, belum lagi statusnya sebagai putra raja yang tidak menutup kemungkinkan akan menjadi penguasa berikutnya.
Memanjakan wanita yang diminatinya tentu itu adalah keahlian Raden Abisaka, berbagai hadiah mewah diberikan sayang berakhir begitu saja dikotak kayu disudut ruangan tempat Kindaru meletakkan barang- barangnya, tentunya hal ini tidak diketahui oleh Raden Abisaka. Hal lain yang tidak diketahui Raden Abisaka justru sangat sepele seperti ciuman selamat pagi dan selamat malam, pelukan hangatnya sepanjang malam, malah hal itu yang membuat hati kindaru mulai luluh memberi celah untuk masuk meski hatinya telah terisi satu nama Sudama.
Sayangnya sebuah kenyataan lain yang diketahui Kindaru beberapa hari lalu membuat diriya kembali membangun dinding pemisah dihatinya jangan sampai dirinya terlena.
Flashback on.
Kindaru menyusuri kediaman setelah santap petang bersama, biasanya Raden Abisaka selalu menghabiskan waktu berdua setelah acara santap petang bersama terkecuali ada hal yang sangat penting, seperti halnya hari ini Raden Abisaka meninggalkan Kindaru bahkan saat kindaru belum menyelesaikan makanan dipiringnya. Raden Abisaka berpamitan untukmenyelesaikan urusannya.
Untuk menghilangkan rasa bosannya Kindaru menghabiskan petang hingga langit gelap disebuah Gazebo taman samping kediaman Raden Abisaka dengan seceret wedang jahe dan beberapa camilan entah mengapa akhir- akhir ini dirinya selalu menginginkan makanan manis seperti camilan terbuat dari ketan dan gula dihadapannya.
Dari sebelah utara nampak bayangan beberapa pria dewasa yang berjalan cepat, timbul pertanyaan dalam diri Kindaru siapa mereka karena pastinya para ponggawa tidak akan bergerombol seperti itu. Untuk menuntasan rasa penasarannya Kindaru bangkit dengan segera mengikuti kearah mana mereka berjalan.
Dikejauhan nampak sebuah bangunan yang terpisah cukup jauh dari bangunan utama yang selama ini Kindaru tempati. Kindaru melihat orang- orang yang Kindaru buntuti memasuki bangunan itu, Kindaru baru sadar bila bangunan ini agak tersembunyi dan ukurannya tidak terlalu besar.
Kindaru menyelinap kebagian samping mengintip dijendela yang terbuka, Berkonsentrasi untuk menormalkan nafasnya yang sedikit memburu, beruntung dimasa modern dirinya mempelajari yoga jadi tahu teknik pernafasan, karena dari gelagatnya Kindaru yakin orang- orang didalam sana memiliki ilmu kanuragan yang mempuni dan menurut buku yang pernah dibacanya orang berilmu tinggi bisa mendeteksi kehadiran sesorang dari nafasnya.
Raden Abisaka duduk di kursi utama, lima orang laki- laki dan satu perempuan duduk saling berhadapan dimeja persegi, sang wanita yang ternyata Nyi Mas Muntira duduk disebelah kiri Raden Abisaka yang terlihat jelas oleh Kindaru. sebelah kanan Raden Abisaka seseorang yang Kindaru tahu selalu berada didekat Raden Abisaka hanya saja Kindaru tidaktahu siapa namanya, sedang sisanya adalah sosok- sosok asing yang baru dilihatnya.
Obrolan mereka berlangsung singkat sebenarnya bila dianggap obrolan tidak seperti orang ngobrol karena jelas terlihat Raden Abisaka yang bangak memberi perintah yang hanya dijawab kesanggupan suara- suara dari dalam bangunan tidak begitu jelas jadi Kindaru tidak mengetahui pasti isi pembicaraan mereka. Tidak berselang lama ke lima orang laki- laki telah beranjak pergi Kindaru menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat.
Kindaru sudah tidak tertarik toh tidak ada hubungannya dengan dirinya jadi Kindaru tidak berniat berdiam terlalu lama disana apa lagi nyamuknya sangat banyak.
Kindaru hendak beranjak ketika tangan kekar menutup jendela yang terbuka tempat tadi dirinya mengintip. Segera dirinya menyembunyikan diri sebelum ketahuan ternyata jendela belum tertutup sempurna, dalam kegamangan segera pergi atau tunggu beberapa saat sampai kondisi benar- benar aman Kindaru mendengar suara orang berciuman dan erangan seorang wanita.
Ada sesuatu dalam diri Kindaru yang terasa sakit seperti tercubit namun tidak faham untuk alasan apa ketika nampak gerakan dari celah jendela dimana Raden Abisaka dan Nyi Mas Muntira sedang berciuman panas, Kindaru mematung, tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya.
"Raden tidak merindukan Nyai ini". nada menggoda berasal dari Nyi Mas Muntira.
"..."
"Apa mainan baru Raden bisa seperti ini , bisa memberikan seperti yang Nyai ini persembahkan?". Nada merajuk tidak segan- segan diungkapkan istri Raden Wesiangra itu.
"Tentu saja tidak Nyai". Entah mengapa Kindaru kecewa dengan jawaban Raden Abisaka. Agar dirinya tetap berfikir logis dan tidak bertindak yang mungkin akan menjadi masalah kedepannya maka Kindaru memutuskan untuk segera beranjak dari sana.
"Apa Paman Patih mengirim Ki Banjra kesisi Raka Raden Wesiangra ?", Pertanyaan dari Raden Abisaka menghentikan gerakan Kindaru yang hendak pergi. Paman Patih, bukan bukannya itu berarti Ayahanda dari Nyi Mas Muntira', gumam Kindaru dalam hati.
"Ayahanda Raja adalah yang mengirim Ki Banjra kesisi kakang Raden Wesiangra untuk mendampinginya agar tidak terlalu bergantung pada Rayinya bagaimanapun Kakang Raden Wesiangra adalah putra sulung Raja, Ayahandaku tidak ada hubungannya".
"Hmn".
"Kenapa Raden baru bertanya masalah Ki Banjra sekarang?". Tanya Nyi Mas Muntari tentunya penasaran karena sudah lebih dari dua tahun Ki Banjra mengikuti Raden Wesiangra.
"Tidak ada hanya saja Raga sedikit penasaran dimana Raka Raden bisa menemukan orang berbakat sekompeten seperti Ki Banjra". Suara Raden Abisaka menimpali.
"Ki Banjra selalu bisa menyelesaikan tugas yang diembannya dengan baik itu sudah terbukti, hanya satu tugas yang belum diselesaikannya tinggal menunggu waktu hingga Ki Banjra bisa menyelesaikannya".
"Apa itu?". Kindaru mati- matian mehanan rasa sakit dihatinya mengetahui aktifitas didalam bangunan itu.
"Melenyapkan Keluarga Kuwu Bukbak" Kindaru tersenyum sinis mendengar jawaban dari Nyi Mas Muntira. Dirinya tahu apa yang dilakukan dua anak manusia itu dan dirinya merasa sangat jijik. terutama kadar kebenciannya yang meroket setelah mengetahui fakta yang baru didengarnya.
Flashback off.
"Pagi Gusti Raden", sapa Kindar ketika melihat mata lelaki yang ditatapnya terbuka, Kindaru memang bangun beberapa saat lebih dulu dari Raden Abisaka, dirinya menaatap wajah tampan sang raden menyimpan dalam ingatannya.
"Pagi Daruku", balas Raden Abisaka dengan suara seraknya tidak ketinggalan kecupan hangat dikening Kindaru.
"Bisakah hari ini Gusti Raden menemani Abdi ini sampai waktu santap siang ?", tanya Kindaru sedikit tidak yakin Raden Abisaka mengabulkan keinginnan nya.
Seorang Juru Tamba yang bersedia membantunya akan menunggu Kindaru hari ini dikediaman Sudama seperti yang telah dijanjikan, setelah waktu samtap siang.
Sudah waktunya Kindaru untuk menjalankan rencananya, mencoba peruntungan untuk bisa kembali kedunia modern dengan menenggak racun seperti awal Kindaru pemilik tubuh asli, menarik jiwanya dari masa depan ketika diambang kematian hingga menempati tubuhnya didunia yang sekarang. Hanya saja Kindaru harus memastikan kegiatan Raden Abisaka agar tidak merusak rencananya.
"Nyai Ayahanda Raja akan datang ke Kadipaten," Tutur Raden Abisaka, Tangan nya memainkan rambut Kindaru. Jantung Kindairu memicu lebih cepat rasa benci dan marah mati- matian dikendalikannya. Kindaru bersyukur membenamkan wajahnya pada dada Raden Abisaka sehingga putra raja ini tidak akan menyadari perubahan ekspresinya.
"Gusti Raden boleh Abdi ini bertanya sesuatu hal?", Tanya Kindaru serius, melepas rangkulannya menberi jarak bagi keduanya.
"Hmn...", gumamnya lembut.
"Tidakkah panggilan itu terlalu formal Daruku, kenapa tidak membiasakan memanggil Kakang saja?"
Kindarumenatap tepat dimanik coklat tua milik sang Raden dengan segala gejolak emosi yang dirasakannya, sengaja menunjukan seluruh emosi secara bergantian, kebencian, kemarahan, sedih dan sayangnya yang mulaimenyelunap dihati Kindaru.
"Abdi ini tidak berhak Gusti Raden Abisaka". Raden Abisaka terhenyak merasa ada yang tidak beres dengan wanita disampingnya, berbagai kilat emosi bahkan sempat terpancar di matanya yang justru sorot matanya saat ini seperti sarat akan penderitaan.
"Daru..., ada apa?" Tanya Raden Abisaka lembut menutupi kekhawatirannya.
"BIla seseorang 'melukai' Gusti Raden atau orang yang Gusti Raden sayangi, apa yang akan Gusti Raden lakukan?". Kindaru tidak mengindahkan pertanyaan Raden Abisaka justru membalas dengan pertanyaan.
"Tentu saja membalasnya dengan berkali- kali lipat, lagi pula siapa yang berani 'melukai' Raga? atau ada seseorang yang melukaimu? katakan Raga ini Akan membalasnya untukmu". KIndaru tersenyum meski tidak sampai kematanya.
"Gusti Raden Yakin?", Kindaru terkekeh seolah bercanda.
"Hmn...".
"Gusti Raden Abisaka" 'dan Raja Duranjaya' , sambung Kindaru dalam hati.
"Apa?" Nada suara Raden Abisaka naik satu oktaf lebih tinggi.
"Orang yang menyakiti Abdi ini Gusti Raden Abisaka, jadi bisakah Abdi ini mendapatkan keadilan?".
kya penjajahan,
sungguh mengerikan
ceritamu keren