Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Kencan di Ruang Pemulihan
Malam itu, aku mempersiapkan diri dengan hati-hati. Aku tidak mengenakan pakaian formal, tapi memilih gaun casual berwarna biru lembut yang kusimpan di koperku. Aku merias wajah tipis, bukan untuk Arvino, melainkan untuk diriku sendiri—untuk merasa kuat dan dihargai.
Aku menuruni tangga dan masuk ke kamar Arvino. Mbok Nah sudah menyiapkan meja kecil di sudut ruangan. Bukan nampan rumah sakit, melainkan meja lipat yang ditutupi taplak putih, dengan dua set piring keramik yang cantik. Ada lilin kecil (tidak menyala, hanya sebagai dekorasi) dan vas bunga dari Lili yang kubuat tadi sore.
Arvino sudah duduk di kursinya, kakinya yang berbalut gips diletakkan di atas bantal. Dia mengenakan polo shirt yang bersih, rambutnya disisir rapi. Dia tersenyum saat aku masuk. Senyum yang kini terasa tulus, bukan paksaan.
"Kau cantik," katanya, dan untuk pertama kalinya, pujian itu terasa seperti sentuhan yang lembut.
"Terima kasih," jawabku, duduk di kursi di hadapannya. "Kau juga terlihat lebih baik."
Kami mulai makan. Awalnya, percakapan kami ringan—tentang Lili, tentang vaksinasinya, tentang rencana kerjaku di RS Merdeka. Namun, keheningan di antara suapan mulai membebani.
"Aluna," panggil Arvino, meletakkan garpunya. "Aku ingin meminta maaf lagi. Aku sudah membaca semua tentangmu di buku harian itu. Aku tidak tahu bahwa kau menderita sendirian selama ini."
"Aku sudah memaafkanmu, Kak," jawabku jujur. "Tapi memaafkan dan mempercayai adalah dua hal berbeda."
"Aku tahu," Arvino menghela napas. "Tapi izinkan aku menjelaskan satu hal. Kenapa aku begitu cepat marah dan menuduhmu sebagai pembunuh."
Aku menatapnya, memberi isyarat padanya untuk melanjutkan.
"Saat Sarah pergi, itu sangat menghancurkan. Bukan hanya karena cinta, tapi karena keteraturan hidupku hilang. Aku terbiasa dengan Sarah. Dia selalu ada, dia tidak pernah menuntut. Lalu, kau datang. Dokter yang jenius, yang tahu segalanya. Dan yang paling penting, kau adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa aku pernah bahagia bersama Sarah. Ketika kau muncul, itu mengingatkanku pada Sarah, dan saat Sarah meninggal, aku butuh target. Aku tidak bisa menuduh Sarah yang memilih pergi, jadi aku menuduhmu, wanita yang mencintaiku, karena itu adalah cara termudah untuk membenarkan rasa sakitku."
Arvino memejamkan mata. "Dan saat aku mulai menyadari Lili menyayangimu, aku takut. Aku takut kau akan menghapus semua bayangan Sarah. Aku takut jika aku mencintaimu, itu akan menjadi pengkhianatan terbesar. Jadi, aku mendorongmu semakin jauh, agar aku tidak jatuh cinta padamu."
Pengakuan itu menusukku. Dia mengakui bahwa ada ketakutan akan cinta, bukan hanya kebencian murni.
"Aku mengerti," kataku pelan. "Aku juga punya beban, Kak. Aku pergi ke Inggris karena aku tidak mau menjadi penghalang. Aku mencintaimu, tapi aku menghargai kebahagiaanmu. Ketika aku kembali, aku berusaha menahan perasaanku, tapi setiap hinaanmu membuatku menyadari bahwa pengorbananku tidak ada artinya."
"Aku minta maaf. Aku adalah pria bodoh yang dibutakan oleh kesetiaan yang salah tempat," Arvino meraih tanganku melintasi meja. Kali ini, aku tidak menariknya. Sentuhannya terasa hangat dan tulus.
"Jadi, apa rencana kita sekarang, Kak?" tanyaku. "Aku sudah membatalkan gugatan itu, tapi aku ingin tahu apa yang Kakak inginkan dariku, selain merawat Lili."
"Aku ingin kau menjadi istriku, Aluna. Bukan kontrak, bukan pengganti. Tapi Aluna," katanya, menggenggam tanganku erat. "Aku tidak akan memaksamu mencintaiku. Aku hanya akan berusaha. Aku akan membiarkanmu menjadi dirimu sendiri, Aluna Hardinata yang brilian. Aku akan mendukungmu. Dan aku akan menunggu sampai kau benar-benar percaya bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu lagi."
"Aku butuh waktu. Aku butuh ruang," jawabku.
"Kau akan mendapatkannya. Kamar utama di atas adalah milikmu. Ruang kerja di RS Merdeka adalah milikmu. Aku tidak akan mengganggu. Aku akan menjadi penyembuh lukamu."
Momen itu terasa begitu intim, lebih intim dari sentuhan fisik mana pun. Ini adalah pengakuan tulus dari dua jiwa yang telah sama-sama terluka.
Setelah makan malam, Arvino menemaniku ke kamar utama. Dia bersikeras agar aku tidur di ranjang itu.
"Lampu dimmer ini sudah kuatur, Aluna. Jika kau merasa cemas, putar saja kenopnya ke arah kanan. Cahayanya akan menyala perlahan, lembut, dan tidak akan menyakitimu," jelas Arvino, nadanya penuh perhatian.
Aku berjalan ke ranjang yang baru dan bersih. Ranajng yang kini terasa aman, bukan tempat penyiksaan.
"Terima kasih, Kak," kataku, air mata hangat menggenang.
"Aku akan tidur di bawah. Tapi bisakah... bisakah kau melakukan satu hal untukku?" tanya Arvino.
"Apa?"
"Sebelum kau tidur, berikan aku kabar. Kirimkan pesan singkat, katakan saja 'aman'. Aku hanya ingin tahu bahwa wanita yang kucintai tidak lagi takut pada kegelapan."
Jantungku berdebar kencang. Kata 'cintai' itu, diucapkan tanpa paksaan, tanpa alkohol, terasa begitu nyata.
"Baik, Kak. Aku akan mengirimimu pesan," janjiku.
Aku melihatnya keluar ruangan, menggunakan tongkatnya untuk menuruni tangga dengan hati-hati.
Aku berbaring di ranjang. Aku memejamkan mata. Aku tidak takut. Kegelapan di ruangan ini terasa hangat, bukan mencekam. Cahaya dimmer yang lembut memberiku rasa aman yang belum pernah kurasakan di rumah ini.
Aku tahu, penyembuhan akan panjang, dan kepercayaan tidak mudah kembali. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidur sebagai istri yang dicintai, bukan sebagai kontrak.
...****************...
Bersambung...
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
tidak banyak tokoh yg diceritakan.
ditunggu cerita selanjutnya kak