Ketika cinta telah menemukan tempatnya untuk berlabuh, tak ada siapapun yang mampu mengurai tautan yang terjalin antara dua insan manusia. Sesakit apapun hati yang tersayat karena luka, takdir tetap menjalankan kuasanya.
~Jangan melihatku dari apa yang nampak, karena tak semua yang indah memiliki kesempurnaan. Aku sangat mencintaimu, namun aku harus membangun benteng yang tinggi karena sakit yang telah kau ciptakan~ Aaliya
~Meski kau bukan yang pertama di hatiku, tapi aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Aku takkan pernah melepasmu dan membiarkanmu terbang begitu saja, karena hati ini telah kau genggam dan kaulah satu-satunya yang memiliki. Maaf maaf dan maaf yang mampu ku ucap~ Abian
Apa yang sesungguhnya terjadi antara Aaliya dan Abian? Silahkan baca dan nikmati karya ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega.ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan
Makan siang penuh kecanggungan telah dilewati, Aaliya kini mengunci diri dalam kamar dengan alasan tidur siang. Namun pada kenyataannya ia tak benar-benar tidur siang, hanya sekedar alasan agar ia bisa menghindar dari Abian karena kecanggungan diantara mereka.
Aaliya tahu kini Abian di luar sana sedang melakukan persiapan untuk pembukaan kedainya esok hari. Ia mondar mandir dalam kamar layaknya sebuah setrika baju, bingung antara keluar atau tidak.
Sementara Abian, ia sedang duduk di meja dapur mengupas beberapa macam rempah-rempah, nampaknya ia sedang membuat bumbu untuk persiapan masakannya.
Dia melirik sebentar saat terlihat Aaliya keluar dari kamarnya, nampak berjalan malas dengan raut wajah datar.
"Kau tidak jadi tidur siang?" Tanya Abian masih dengan pisau di tangan kanan sementara lengkuas di tangan kiri yang sebagian kulitnya telah terkelupas
"Aku tidak bisa tidur," jawab Aaliya, ia masih merasa sedikit canggung namun nampaknya Abian terlihat biasa saja. Huft, mungkin aku yang terlalu percaya diri, begitu gerutunya dalam hati.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyanya kemudian dengan nada biasa.
"Aku sedang membuat beberapa bumbu," jawab Abian.
"Kenapa harus dilakukan sejak sekarang? Kau harusnya istirahat lebih dulu, nanti malam atau besok pagi-pagi kau kerjakan lagi."
"Tidak, Aaliya. Akan sangat merepotkan jika semua dilakukan esok hari," ucapnya dengan senyum, "Dan lagi, mungkin karena aku sangat bersemangat hari ini."
"Aku senang mendengarnya, apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" Tanya Aaliya.
Abian berhenti sejenak dari aktifitasnya, dia tersenyum memandang Aaliya, "Kau istirahat saja, aku tidak ingin kamu terlalu lelah karena membantuku."
Aaliya tak bisa memaksa, "Hmm, kau sudah memberitahu ibu jika kau akan mulai berjualan besok?"
Abian tersentak, "Bagaimana aku bisa lupa, aku akan segera memberitahunya sekarang juga."
Abian hendak berdiri namun ditahan oleh Aaliya, "Biar aku saja yang memberitahu kabar baik ini, aku akan turun dan kau bisa melanjutkan pekerjaanmu."
Abian tersenyum dan mengangguk, sementara Aaliya berlalu meninggalkan Abian seorang diri di rumah itu.
Sesampainya di rumah bu Fatma, Aaliya mendapati bu Fatma sedang menonton televisi. Seketika televisi itu ia matikan dan berbincang cukup serius dengan Aaliya.
"Aku sangat senang mendengar Abian akan segera merealisasikan ideku," ucap bu Fatma setelah Aaliya menceritakan apa yang mereka lakukan seharian ini.
"Iya ibu, aku berharap dia berhasil dalam usahanya," ucap Aaliya.
"Iya, aku juga berharap yang sama," bu Fatma tersenyum penuh ketulusan, "Aaliya," panggil bu Fatma lirih.
"Iya, bu."
"Ibu ingin bertanya sesuatu padamu," bu Fatma menghela nafas, "Bagaimana perasaanmu pada Abian?"
"Ibu, kita berteman dan saling menghormati, dia pria yang dewasa dan baik. Dia juga pekerja keras sepertiku, aku mengaguminya," jawab Aaliya.
"Lalu, apa yang membuatmu melarang dia pergi?" Tanya bu Fatma lagi
"Bukan melarang, tapi aku memberi dia pilihan," ucap Aaliya pelan, "Dan dia memilih tetap tinggal."
"Kau bahagia dia ada di sini?"
Aaliya mengangguk cepat dengan senyum terpatri di wajahnya, "Aku bahagia ibu, karena aku sekarang memiliki teman seperti Abian."
"Kau yakin perasaanmu itu hanya sekedar teman?" Tanya bu Fatma tajam.
"Ibu, bagaimana bisa ibu bertanya seperti itu?" Keluh Aaliya
"Aku melihat pancaran kebahagiaan di matamu saat kau ada di dekatnya, Aaliya,"
Bu Fatma mengelus kepala Aaliya dengan lembut, "Dengar Aaliya, ibu sama sekali tak akan mencampuri urusanmu, terlebih soal perasaanmu pada Abian," bu Fatma menghela nafas, "Ibu perhatikan kau jauh lebih bersemangat akhir-akhir ini, tentu saja aku sangat bahagia melihatnya."
Aaliya masih hening, dia mendengarkan dengan baik petuah yang akan disampaikan oleh ibu angkatnya itu.
"Abian pria yang cukup bijak, namun satu hal yang harus kau perhatikan, Aaliya. Hubungan kalian terjadi dalam waktu yang begitu singkat, kau harus berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan."
Entah mengapa bu Fatma memiliki sedikit keraguan dalam hatinya, meski ia telah melihat sendiri Abian pria yang baik dan sangat dewasa. Ia takut gadis kesayangannya itu salah dalam melangkah.
Namun buru-buru ia menepis perasaan itu, mungkin hanya perasaan khawatir seorang ibu kepada anak gadisnya yang sudah mulai mengenal cinta.
"Aku tahu, ibu. Jangan khawatirkan aku," Aaliya tersenyum penuh kelembutan, "Aku masih bisa melihat dengan pikiran jernih, meski kata hati yang aku utamakan dalam memutuskan sesuatu."
"Kau memang gadisku yang manis," ucap bu Fatma dengan senyumnya yang hangat, "Aku berharap kau selalu mendapat kebahagiaan," tambah bu Fatma.
"Terima kasih, aku sangat menyayangimu, ibu."
Mereka saling berpelukan, Aaliya meresapi kehangatan yang dialirkan tubuh wanita yang sudah mulai renta itu. Dia tahu betul bagaimana bu Fatma sangat menyayanginya, itu sebabnya ia tak pernah memberitahu masa lalu Abian yang sebenarnya.
Aaliya yakin bu Fatma akan sangat khawatir jika mengetahui semuanya. Namun anehnya, tak ada keraguan sedikitpun dalam hati Aaliya untuk Abian. Cintakah itu? semoga saja cinta tak membuat dirinya buta.
.
.
.