Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK RAHASIA DI NEGERI KANGURU
Guncangan di dalam mobil yang dikemudikan Hans menuju bandara terasa seirama dengan detak jantung Assel yang tidak beraturan. Setelah laporan singkat tentang tiket yang sudah di tangan, tidak ada waktu lagi untuk sekadar menarik napas panjang. Semua koper telah berpindah ke bagasi, dan kini mereka berpacu dengan waktu.
Pikiran Assel berkelana ke tempat-tempat paling gelap di imajinasinya. Bagaimana jika saat mereka mendarat nanti, Maheer sudah tidak tertolong? Bagaimana jika ia harus menghadapi kenyataan pahit menjadi janda untuk kedua kalinya dalam waktu yang begitu singkat? Rasa sesak itu menghimpit dadanya, membuatnya nyaris sulit bernapas.
"Ya Allah, berikan dia keselamatan. Jangan biarkan Razka kehilangan sosok ayah lagi," bisik Assel dalam doa yang tak putus-putus.
Di dalam kabin pesawat, kecemasan itu belum juga surut. Assel menoleh ke arah Hans yang duduk tak jauh darinya. "Hans, apakah ponsel Maheer sudah bisa dihubungi?"
"Belum, Nyonya. Sinyalnya masih tidak aktif," jawab Hans dengan nada rendah yang berusaha menenangkan.
"Apakah kau tidak punya kontak orang lain di sana? Asistennya atau siapa saja yang bisa kita tanya?" desak Assel lagi.
Hans tampak berpikir keras sejenak, lalu teringat sesuatu. "Ah, Tuan Maheer pernah berpesan, jika terjadi sesuatu yang darurat dan beliau tidak bisa dihubungi, saya harus menghubungi Archie. Dia asisten kepercayaan Tuan di Australia, blasteran Indo-Australia."
"Cepat hubungi dia, Hans! Sebelum pesawat lepas landas dan kita diminta mematikan ponsel!" perintah Assel dengan nada tidak sabar.
Hans dengan sigap mencari nomor Archie dan segera melakukan panggilan. Setelah beberapa nada sambung, terdengar suara pria di seberang sana dengan aksen yang khas.
"Halo Archie, ini Hans dari Indonesia. Bagaimana keadaan Tuan Maheer?" tanya Hans cepat.
"Oh, Hans! Keadaan Tuan... beliau baru saja selesai menjalani operasi. Tadi memang sempat kritis karena kecelakaan itu cukup hebat," jawab Archie. Suaranya terdengar letih namun ada nada lega di sana.
"Kami sedang dalam perjalanan ke sana bersama istri beliau. Tolong kirimkan alamat rumah sakitnya," pinta Hans.
"Jangan khawatir, aku akan menyuruh sopir menjemput kalian di bandara nanti. Sampai jumpa di Australia," tutup Archie sebelum sambungan terputus karena pramugari mulai memberikan instruksi keselamatan.
Empat jam perjalanan di udara terasa seperti ribuan tahun bagi Assel. Ia hanya bisa menatap awan dari jendela dengan tatapan kosong, sementara Razka sudah tertidur karena kelelahan menangis. Begitu roda pesawat menyentuh landasan pacu di Australia, Assel adalah orang pertama yang berdiri dari kursinya.
Di pintu kedatangan, seorang pria bertubuh tegap menyambut mereka dan langsung membawa mereka ke sebuah rumah sakit swasta di pusat kota. Archie sudah menunggu di depan ruang perawatan intensif dengan wajah cemas.
"Bagaimana keadaan Maheer yang sebenarnya, Archie?" tanya Assel tanpa basa-basi begitu mereka bertemu.
"Bos sudah melewati masa kritisnya, Nyonya. Beliau pria yang kuat," jawab Archie tenang. "Hanya saja, tulang belakangnya yang dulu pernah retak kembali mengalami benturan. Dokter sudah melakukan operasi untuk memperbaiki posisinya. Sekarang kita hanya perlu menunggu beliau siuman."
Archie menuntun mereka masuk ke ruang rawat Maheer. Di sana, di atas tempat tidur putih dengan berbagai alat medis yang terpasang, Maheer terbaring tak berdaya. Wajahnya yang biasa terlihat angkuh dan jenaka kini pucat pasi dengan balutan perban di kepala. Assel duduk di kursi samping tempat tidur, tangannya gemetar saat menyentuh jari-jari Maheer yang dingin.
"Syukurlah... terima kasih, Ya Allah," gumam Assel lirih.
Setelah suasana sedikit tenang, Assel menoleh ke arah Archie yang berdiri di dekat pintu. "Archie, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mobilnya bisa mengalami kecelakaan separah itu?"
Archie menarik napas panjang, wajahnya berubah mengeras. "Ini bukan kecelakaan biasa, Nyonya. Sepertinya Lusi, adik mendiang teman Pak Maheer, telah dihasut oleh orang-orang yang membenci keberhasilan Bos. Dia membocorkan rahasia penting perusahaan."
"Lusi lagi?" gumam Assel dengan kening berkerut.
"Benar. Lusi dibantu oleh Hudson, teman lama Pak Maheer yang menyimpan dendam. Hari ini, Pak Maheer berhasil membongkar semua kejahatan mereka di kantor. Namun Hudson tidak terima. Dia membayar seseorang untuk memotong kabel rem mobil Pak Maheer secara diam-diam. Akibatnya, saat perjalanan menuju bandara, mobil hilang kendali dan menghantam truk. Sopir Pak Maheer... dia meninggal di tempat kejadian," jelas Archie dengan nada sedih.
Assel merinding mendengarnya. Nyawa suaminya benar-benar berada di ujung tanduk hanya karena persaingan bisnis yang kotor. "Biadab sekali mereka," desis Assel.
Melihat Assel yang tampak sangat letih dan Razka yang menguap lebar sambil bersandar di kaki ibunya, Archie menawarkan bantuan. "Nyonya, sebaiknya Anda dan Den Razka istirahat dulu. Saya akan membawa kalian ke mansion Pak Maheer di sini. Biarkan Hans yang berjaga di sini untuk sementara."
"Tapi aku ingin di sini sampai dia bangun," tolak Assel pelan.
"Nyonya, Anda butuh tenaga untuk merawat Tuan nanti. Istirahatlah sebentar, biar saya yang menggantikan posisi Nyonya," timpal Hans meyakinkan.
Akhirnya, Assel setuju. Mereka mengikuti Archie menuju sebuah mansion mewah yang terletak di kawasan elit. Bangunan itu tampak megah dengan arsitektur modern yang dipadukan dengan sentuhan alam. Begitu masuk ke dalam, Razka langsung berteriak senang.
"Mama, lihat! Ada pohon kecil di pojok itu! Ada Koala nya!" seru Razka menunjuk ke arah sudut ruangan yang didesain seperti taman semi-terbuka.
Archie tersenyum. "Itu memang area khusus untuk hewan peliharaan Pak Maheer, Den."
Archie kemudian mengantar Assel ke kamar utama yang terletak di lantai dua. "Ini kamar pribadi Pak Maheer, Nyonya. Silakan beristirahat di sini."
Saat pintu kamar dibuka, Assel terpaku. Kamar itu sangat luas dan tertata rapi, namun bukan kemewahannya yang menarik perhatian Assel. Di salah satu dinding, berjajar rapi foto-foto dalam bingkai kayu elegan. Bukan foto pemandangan, melainkan foto-foto dirinya dan Razka.
Ada foto saat Assel sedang melukis di taman tanpa menyadari kamera, ada foto Razka yang sedang tertidur di sofa, bahkan ada foto candid saat Assel sedang tertawa kecil bersama Mbok Darmi. Ternyata, selama ini Maheer diam-diam mengabadikan setiap momen keseharian mereka melalui lensa kameranya.
"Pantas saja para pelayan di sini langsung mengenaliku tadi," gumam Assel pelan sambil mengusap salah satu bingkai foto.
Rasa hangat sekaligus haru mulai merayap di hati Assel. Di balik sikap Maheer yang seringkali manja dan menyebalkan, pria itu ternyata menyimpan ruang yang begitu besar untuknya dan Razka di rumah ini, bahkan di benua yang berbeda. Assel merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar milik Maheer, menghirup aroma parfum pria itu yang masih tertinggal di bantal.
"Cepatlah bangun, Maheer. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu tentang foto-foto ini," batin Assel sebelum akhirnya matanya terpejam karena kelelahan yang luar biasa. Namun, di tengah tidurnya, ia tidak tahu bahwa bahaya masih mengintai di luar sana.
Hudson belum selesai dengan rencananya, dan kehadiran Assel di Australia justru menjadi target baru yang lebih empuk untuk menghancurkan Maheer. Akankah Assel terjebak dalam pusaran dendam Hudson? Ataukah Maheer akan siuman tepat pada waktunya untuk melindungi keluarga kecilnya?
Jangan lupa berikan dukungannya ya guys terimakasih.