“Aku sudah membelimu, jadi menurutlah. Patuhi semua keinginanku! Kau hanya budak di sini, tidak ada pilihan lain selain menuruti semua yang kukatakan!” Zico Archiven berkata pada seorang gadis cantik yang baru dibelinya dari tempat pelelangan.
Zico Archiven adalah seorang Tuan Muda generasi penerus dari keluarga Archiven di Italia. Dia adalah pebisnis sukses yang mempunyai beberapa usaha yang tersebar di seluruh dunia. Tak hanya jadi pebisnis sukses, dia juga menjabat sebagai ketua Mafia warisan dari sang Ayah yang sudah meninggalkannya lima tahun yang lalu.
Zico mempunyai kelainan aneh, dia tidak suka melihat wanita yang terlahir dari keluarga kaya raya. untuk itu dia mencari seorang budak untuk dijadikannya sebagai tempat pelampiasan hasr4tnya.
Bagaimana kelanjutan kisah Zico? Saat melihat gadis budaknya, Zico merasakan sesuatu yang beda. Dia seperti pernah melihat gadis tersebut. Siapakah gadis itu? Rahasia apa dibalik rasa penasarannya itu? Baca selengkapnya di sini, ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neoreul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34 Organisasi Baru
Maxime melihat keyakinan di mata Aurora. Dia mempunyai pandangan tersendiri. "Oke baiklah, kau diterima. Besok kau akan dibawa ke tempat pelatihan. Persiapkan dirimu dengan baik."
Aurora mengangguk, dia bisa bernapas lega bisa melewati tes tadi. Sementara itu, Nicco terlihat lemas tak berdaya, Tidak ada orang yang menghiraukannya. Aurora melirik ke samping, dia merasa iba. Namun, rasa itu hilang ketika mengingat kekejaman pria itu pada orang lain.
"Apa yang harus kulakukan? Melihatnya seperti itu membuatku kasihan. Tetapi, bayangan sikap kejinya terhadap orang lain membuatku muak. Ya, biarkan dia merasakannya. Dia harus menanggung sakit itu," gumam Aurora dalam hati.
Beberapa menit berlalu, petugas medis datamg. Mereka membawa Nicco pergi dari sana. Lalu, ada seorang gadis muda melapor pada Maxime. Dia terkejut saat menoleh pada Aurora. Hingga suara Maxime memecah keheningan.
"Ada apa? Apa yang akan kau laporkan?" tanya Maxime.
"Tuan, saya mendapatkan perintah dari Tuan muda. Pasukan yang ada di barak pelatihan tiga mengalami kekalahan saat menyerang markas besar Vollante. Sebagian besar anggota kita disandera untuk mengulik rahasia. Ahli progamer juga ikut dalam penyanderaan," ucap gadis itu pada bosnya.
Maxime menjawab, "Lalu, bagaimana keputusan Felix? Apa dia mempunyai rencana lain? Aku yakin tugasmu ke sini adalah untuk mencari persetujaan. Apa yang kukatakan ini benar?"
Gadis itu mengangguk, kemudian dia melanjutkan lagi ucapannya. "Anda benar, Tuan. Tuan muda Felix berkata, jika ia ingin menggunakan pasukan yang ada di barak satu untuk menyerang markas vollante lagi."
"Pasukan di barak satu itu sangat penting. Bagaimana dia bisa mempunyai ide tersebut? Apa dia sendiri tidak bisa menangani mereka?" tanya Maxime dengan ekspresi seriusnya.
Gadis itu menunduk, dia tidak tahu harus menjawab bagaimana? "Maaf, Tuan. Saya hanya melaporkan apa yang diperintahkan oleh Tuan muda Felix."
Maxime memejamkan matanya. Dia memikirkan sesuatu yang penting. "Bawa gadis yang sedang duduk di lantai itu bersamamu. Berikan dia tugas untuk melacak keberadaan Vollante. Jelaskan padanya apa yang terjadi, berikan dia penjelasan yang detail. Aku yakin dia akan melakukan tugasnya dengan sempurna," ucap Maxime dengan lirikan tajam.
Gadis itu melirik ke arah Aurora yang terlihat berantakan. Ada sesuatu yang sedang dipikrkannya. "Apa saya harus membawanya sekarang, Tuan? Tuan muda hanya memberikan waktu setengah jam untuk mengambil keputusan."
Maxime menyetujui jika Aurora segera pergi ke tempat pelatihan. "Gadis muda, jika kau ingin memulai karirmu ikutlah bersamanya. Kau harus ingat keputusanmu sendiri, bahwa setelah memutuskan kau tidak bisa untuk membatalkan. Kau akan trus menjadi anggotaku selama sisa hidupmu. Apa kau mengerti?"
Aurora menjawab dengan tegas dan yakin, "Saya mengerti, Tuan. Saya akan bekerja dengan profesional jika saya mendapatkan tempat yang layak dan juga lingkungan yang sehat."
Maxime tertawa keras, dia merasa lucu dengan perkataan yang didengarnya. "Apa kau trauma ikut dengan pria bodoh tadi? Aku yakin pasti dia sangat kurang ajar padamu. Di sini kau tidak perlu khawatir, jika kontribusimu banyak tentu saja kau akan diperlakukan secara layak. Begitu sebaliknya, jika kemampuanmu tidak ada, nasibmu akan berakhir seperti pria bodoh tadi."
Aurora berdiri dari tempatnya. Dia harus menunjukkan jika memang fisiknya sangat kuat. "Saya akan buktikan kemampuan hebat saya pada Anda, Tuan. Saya yakin Anda akan terkesan."
"Baiklah gadis muda, kau boleh pergi bersamanya. Aku akan menunggu kabar yang kau ucapkan tadi. " Maxime berkata dengan sorot mata tajam. "Kau segera pergi dari sini. Laporkan pada Felix untuk mengawasinya."
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu, " kata gadis itu berpamitan. "Mari ikut saya, Nona."
Aurora membungkukkan badannya pada Maxime tanda berpamitan. Setelah itu dia keluar dari ruangan tersebut untuk menjalani tantangan berikutnya. Perjalanan menuju tempat pelatihan ditempuh dalam waktu 2 jam. Di dalam mobil, kedua gadis itu saling berdiam diri. Gadis muda yang membawa Aurora mempunyai inisiatif untuk berbicara dulu.
"Nama Anda siapa, Nona?" Tanyanya.
Aurora menjawab, "Namaku Aurora. Kau sendiri siapa?"
"Perkenalkan namaku adalah Venesa, " jawab gadis tersebut. Lirikannya penuh dengan pertanyaan dalam hati. "Apa dia adalah Nona Avenna? Wajah itu mengingatkanku padanya. Sejak pembantaian keluarga James, Nona Avenna dikabarkan meninggal dan jasadnya tidak ditemukan. Lalu, siapa gadis ini? Jika benar Nona Avenna, mengapa dia tidak ingat kepadaku?"
Aurora sadar jika diperhatikan oleh Venesa, dia menoleh dan menanyakan sesuatu. "Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku? Saya merasa jika sejak tadi kau terus memperhatikanmu."
Venesa sedikit terkejut, gadis itu tersenyum canggung. "Tidak ada apa-apa, Nona. Saya hanya teringat tentang teman masa lalu. Wajah Anda sangatlah mirip dengannya. Namun, itu tidak mungkin karena dia sudah meninggal."
Aurora merasa ada keanehan, dia teringat tentang pembantaian keluarganya. "Apa kau sudah lama mengikuti Tuan Maxime?" tanyanya.
Venesa menjawab, "Saya ikut dengan Tuan Maxime sudah hampir 2 tahun, Nona. Saya dulu tidak bekerja di sini, semuanya terjadi begitu saja. Tetapi sudahlah, semua itu hanya masa lalu."
"Jadi begitu, semoga kita bisa berteman dengan baik." Aurora mengulurkan tangan pada Venesa.
Venesa menerima uluran tangan tersebut, dia menjabat dengan senyuman tulus. "Entah mengapa saya senang melihat Anda, Nona. Rasanya seperti bertemu dengan orang yang spesial."
Aurora membalas senyumaan itu, dia semakin yakin dengan firasatnya. "Aku yakin jika Venesa tahu sesuatu. Levin, di mana dia? Mengapa aku belum bertemu dengannya? Apa aku tanyakan saja pada Venesa? Dia pasti tahu sesuatu."
"Venesa, apa saya boleh bertanya sesuatu?"
Venesa menjawab, "Nona berbicara biasa saja, tidak perlu formal. Nona mau bertanya apa?"
"Baiklah jika begitu, aku akan berbicara secara biasa. Jadi begini, pada saat aku berada di Kamboja Tuan Maxime datang berkujung bersama dengan asistennya. Jika tidak salah, namanya Levin. Apa kau mengenalnya?"
"Levin, saya mengenalnya. Dia ada di tempat pelatihan sekarang. Nanti Nona juga akan bertemu. Levin adalah petugas medis yang jenius di organisasi ini, " jawab Venesa.
"Oke, terima kasuh jawabannya. Mau mengucapakan terim kasih karena sudah memeriksaku pada saat di Kamboja."
"Sebentar lagi kita sampai, Nona."
Benar saja, tak berselang lama mereka sampai juga di markas pelatihan. Mobil berhenti di halaman yang sangat luas itu. Venesa dan Aurora berjalan masuk ke dalam mansion mewah tersebut. Di sudut ruangan hampir semua ada bodyguard. Hingga keduanya sampai di sebuah ruangan. Venesa berdiri melapor pada seseorang yang sedang berdiri menghadap jendela.
"Tuan muda Felix, saya membawa hasil laporan yang ada tugaskan, " ucap Venesa sopan.
Pria yang bernama Felix itu berbalik. Dia lansung fokus pada Aurora yang berdiri di samping Venesa. "Siapa yang kau bawa? Beraninya membawa gadis kotor itu ke sini."
"Maaf, Tuan muda. Ini atas perintah, Tuan Maxime. Dia akan membantu kita untuk mencari jejak Vollante. Tuan Maxime berkata jika Nona ini adalah seorang hacker yang handal. Tuan bisa langsung mengujinya untuk mendapatkan lagi Damian." Venesa menjelaskan secara rinci.
Felix menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Baiklah aku ingin tahu, bagaimana rekomendasi tua bangka itu. Kau siapa namamu?"
"Nama saya Aurora, Tuan." Aurora menjawab.
"Bersihkan dulu tubuhmu, lalu tunjukkan padaku kemampuanmu. Jika kau tidak berguna, besiaplah untuk mati."