NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019: Dokter Asing

Leyla datang tiga hari kemudian.

Mobil yang membawanya masuk lewat gerbang samping pada pukul sembilan pagi. Tidak ada iring-iringan berlebihan, tidak ada koper mewah yang tampak seperti pindahan sosialita, hanya dua koper hitam, satu kotak logam, dan seorang perempuan tinggi berambut pendek yang turun dari mobil dengan wajah setenang laporan laboratorium.

Keira melihatnya dari balik jendela Sayap Giok.

Scarf tipis masih melilit lehernya.

Bekas gigitan sudah tidak berdarah, tetapi memarnya belum mau pergi. Setiap kali ia melihat cermin, dua tanda itu seperti mengingatkannya bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh untuk pura-pura tidak peduli pada Darren.

"Itu Leyla?" bisik Ningsih di sampingnya.

"Sepertinya."

"Cantik ya, Mbak."

Keira menoleh.

Ningsih langsung menyesal. "Maksud saya... cantiknya seperti dokter. Bukan cantik yang..."

"Ning, cantik ya cantik."

Ningsih menutup mulut.

Keira kembali menatap halaman.

Leyla bukan cantik yang lembut. Bukan juga cantik pesta seperti Vivienne. Ia memakai kemeja putih, celana gelap, sepatu datar, dan jaket panjang tipis yang membuat langkahnya tampak rapi. Wajahnya tegas, hidungnya tinggi, matanya gelap dan tajam. Ketika Pak Ji menyambutnya, ia membungkuk sedikit, lalu langsung berbicara sambil membuka tablet.

Perempuan itu tidak terlihat seperti orang yang datang mencari tempat di rumah orang kaya.

Ia terlihat seperti orang yang datang untuk menyelesaikan masalah.

Dan entah kenapa, itu membuat dada Keira tidak nyaman.

Pertemuan pertama dilakukan di ruang tamu compound.

Darren duduk di sofa utama, wajah masih pucat tetapi pakaian dan sikapnya sudah kembali terkendali. Pak Ji berdiri di belakangnya. Ratna berada tidak jauh dari Keira, tenang seperti bayangan yang punya jadwal sendiri.

Leyla masuk, meletakkan kotak logam di samping kursi, lalu menatap Darren tanpa rasa takut.

"Pak Darren Hendrawan."

"Leyla Aydin."

Keduanya berjabat tangan singkat.

Terlalu singkat untuk disebut hangat.

Terlalu tepat untuk disebut dingin biasa.

Keira duduk di samping, tiba-tiba merasa seperti anak sekolah yang salah masuk ruang ujian dokter.

"Vincent sudah mengirim sebagian rekam medis Anda," kata Leyla dalam bahasa Indonesia yang bersih dengan aksen asing tipis. "Saya perlu pemeriksaan langsung. Darah, rambut, kuku, pola serangan, obat yang selama ini diberikan Dokter Xiao, dan catatan setiap tanggal lima belas selama minimal enam bulan terakhir."

Darren mengangguk. "Pak Ji akan siapkan."

"Saya juga perlu bertemu Dokter Xiao."

"Bisa diatur."

"Selama pemeriksaan, ruangan harus steril dan tidak ada orang selain saya, Dokter Xiao bila diperlukan, serta satu asisten medis yang saya pilih."

Keira mengangkat mata.

Darren tidak langsung menjawab. Untuk sepersekian detik, pandangannya bergerak ke arah Keira.

Leyla menangkap gerakan itu.

"Termasuk orang yang Anda percayai," katanya tenang. "Pemeriksaan toksikologi membutuhkan lingkungan yang tenang. Kehadiran emosional bisa mengganggu pasien dan hasil observasi."

Pasien.

Keira tahu kata itu benar.

Tetapi ia tetap tidak suka mendengarnya.

Darren akhirnya berkata, "Lakukan sesuai prosedur."

Selesai.

Begitu mudah.

Begitu masuk akal.

Begitu menyebalkan.

Pemeriksaan dimulai siang itu di area medis sementara yang disiapkan di Penthouse Utama.

Keira tidak diizinkan masuk.

Ratna menemaninya kembali ke Sayap Giok. Ningsih menyiapkan bubur hangat, obat, dan buah potong. Semua orang memperlakukan Keira seperti pasien yang harus tenang. Namun pikirannya justru berjalan bolak-balik seperti ojek online yang tersesat di gang sempit.

Leyla bisa masuk.

Ia tidak.

Leyla bisa membaca laporan Darren.

Ia hanya bisa membaca ekspresi Pak Ji dari jauh.

Leyla tahu nama-nama zat, pola serangan, kemungkinan penawar.

Keira hanya tahu bagaimana rasanya darah Darren menetes di lantai.

Perbandingan itu jelek.

Tidak adil.

Tetapi rasa cemburu jarang meminta izin pada keadilan.

Sore menjelang, Keira keluar dari Sayap Giok dengan alasan mencari udara. Ratna mengikutinya tanpa bertanya. Mereka melewati lorong samping menuju sayap tamu, tempat Leyla ditempatkan selama tinggal di compound.

Pintu kamar Leyla sedikit terbuka.

Tidak ada orang di dalam.

Di meja, ada buku catatan hitam, tas medis kecil, dan beberapa map transparan.

Keira berhenti.

Ia tahu ia tidak boleh.

Tentu saja ia tahu.

Ia bukan anak kecil yang tidak mengerti batas. Ia pernah hidup cukup keras untuk tahu bahwa menyentuh barang orang tanpa izin adalah kebiasaan buruk yang sering lahir dari lapar, iri, atau takut kehilangan.

Sayangnya, hari itu ia sedang punya ketiganya.

"Mbak Keira."

Suara Ratna terdengar dari belakang.

Tidak keras.

Tidak menghakimi.

Justru karena begitu tenang, Keira merasa lebih malu.

Tangannya yang baru saja hampir menyentuh gagang pintu berhenti.

Ratna berdiri dua langkah di belakangnya. "Pak Darren tidak akan ingin Mbak melakukan ini."

Keira menoleh pelan.

"Aku belum melakukan apa-apa."

"Belum."

Satu kata itu lebih tajam daripada ceramah.

Keira menatap pintu kamar Leyla, lalu menatap tangannya sendiri. Tangan yang beberapa hari lalu memegang wajah Darren. Tangan yang semalam masih merasa bangga karena memilih tidak pergi. Tangan yang sekarang hampir membuka pintu kamar orang asing hanya karena cemburu.

Hebat sekali.

Benar-benar perkembangan karakter yang memalukan.

Keira menarik tangannya.

"Terima kasih."

Ratna menunduk sedikit. "Saya hanya mengingatkan."

"Tidak. Kamu menghentikanku sebelum aku berubah jadi orang jelek."

Ratna tidak tersenyum, tetapi matanya melunak sedikit. "Orang jelek biasanya tidak sadar ketika hampir menjadi jelek, Mbak."

Keira tertawa kecil, pahit. "Jangan terlalu cepat memaafkan aku. Nanti aku besar kepala."

Ia kembali ke Sayap Giok dan mengurung diri di kamar mandi.

Di depan cermin, scarf di lehernya tampak rapi. Wajahnya pucat. Matanya terlalu terang oleh rasa malu.

"Keira bodoh," bisiknya pada bayangan sendiri.

Bayangan itu menatap balik tanpa membantah.

"Kamu sudah beruntung dia bahkan mau melihatmu. Jangan jadi orang jelek."

Kalimat itu tidak menyembuhkan cemburu.

Tetapi setidaknya membuatnya duduk diam.

Menjelang malam, Pak Ji datang memanggilnya ke ruang tamu.

Pemeriksaan pertama selesai.

Darren duduk di sofa, terlihat lebih lelah daripada pagi, tetapi matanya jernih. Manset kemejanya sedikit terbuka, ada bekas kapas di lipatan siku. Leyla berdiri di dekat meja dengan tablet di tangan. Rambut pendeknya tetap rapi, seolah berjam-jam memeriksa tubuh orang yang hampir mati tiap bulan tidak cukup untuk membuatnya berantakan.

Keira duduk agak jauh.

Ia memaksa dirinya untuk tidak bersikap seperti anak kecil.

Leyla mengangkat mata dari tablet.

"Saya belum punya kesimpulan final," katanya. "Tetapi pola gejalanya tidak cocok dengan penyakit neurologis biasa. Ada zat yang menetap di darah dan sistem saraf, bereaksi secara periodik."

Pak Ji memucat.

Darren tidak bergerak.

Keira meremas ujung scarf.

Leyla menatap Darren, lalu Keira, lalu kembali pada tablet.

"Saya perlu analisis lanjutan malam ini. Tapi ada satu hal yang bisa saya katakan sekarang."

Ruangan menjadi sunyi.

Leyla meletakkan tablet di meja.

Suaranya tetap tenang, tetapi kalimatnya membuat udara berhenti.

"Saya tahu apa yang ada di dalam tubuhnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!