Sequel DUREN MANIS...
Si kembar Rava dan Reva sudah beranjak dewasa. Mereka mulai mengenal cinta.
Reva yang lebih supel dan nakal jatuh cinta pada Flora, gadis cantik dan judes yang bekerja di rumahnya. Tapi Flora sudah terlanjur kesal pada sikap cuek Reva yang tidak sengaja mengotori seragam Flora.
Bagaimana Reva berjuang menaklukkan hati gadis pujaannya?
Sedangkan Rava yang serius dan tenang mulai tertarik pada Diva, gadis manis yang pintar memasak. Diusia yang masih muda, Diva sudah memiliki sebuah restaurant yang selalu ramai pembeli. Diva yang selalu tersenyum mengalihkan dunia Rava yang sepi karena takut kehilangan cinta pertamanya.
Sanggupkah Rava menyatakan perasaannya pada Diva? Apalagi dengan adanya Akbar yang lebih dulu hadir menaut hati Diva.
Akankah nasib mereka sama dengan Alex dan Rio atau justru kutukan itu sudah berakhir saat Rio mendapatkan kebahagiaannya bersama Gadis?
Kisah ini adalah sequel Duren Manis yang menceritakan cinta si kembar Ravando dan Revaldo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Nyosor bibir
Flora dan Mia saling pandang tersenyum satu sama
lain melihat saudara kembar itu berpelukan seperti teletabies. Tapi senyuman
mereka langsung pudar saat Reva mulai memiting Rava untuk memaksanya cerita.
Flora dan Mia menarik Reva yang hampir memukul Rava.
“Aku bukan perebut pacar orang. Itu cuma salah
paham. Diva sudah putus sama Akbar. Aku nggak tau kalau Akbar nekat ngirim
preman buat mukulin aku.”kata Rava cepat untuk membela dirinya.
Mia menengahi mereka berdua, ia menghadap ke Rava
dan memintanya berpikir dengan tenang. Apa benar Rava benar-benar menyukai
Diva? Pria itu mengangguk mantap.
“Cuma Diva wanita yang bisa membuat hatiku berdebar
kencang, mah.”ucap Rava sok puitis.
“Sok-sokan bilang cuma Diva yang bisa, tapi lo
nyosor bibir cewek lain. Dasar murahan lo.”balas Reva menyambit tubuh Rava
dengan karet.
“Sapa ceweknya?”tanya Flora kepo.
Reva sibuk cerita tentang Devina sampai Flora
ber-oh Ria. Rava menatap mamanya minta dukungan, “Diva nggak salah, mah. Dari
awal dia nggak cinta sama Akbar. Pria itu cuma manfaatin Diva buat bikin usaha
restaurantnya maju.”kata Rava masih kekeh membela Diva.
“Bisa masak dong. Suruh dia dateng besok. Mama mau
masak buat ultahnya Kaori.”pinta Mia.
Rava bengong mendengar perintah mamanya, ia jadi
pusing antara senang atau bingung cara mengajak Diva. Mia sudah beranjak keluar
dari kamar Reva. Rava mengikuti mamanya keluar untuk minta nego untuk tidak
mengundang Diva besok.
Reva dan Flora yang ditinggal sendirian, saling
menatap satu sama lain. Reva memeluk pinggang ramping Flora. Ia mengambil ponselnya
lalu mengambil foto selfie mereka berdua. Flora melihat hasilnya belum bagus
lalu mengulang posenya. Ia menambahkan sedikit filter, menjulurkan lidahnya dan
membuat ekspresi wajah lucu.
Dari sekian banyaknya foto mereka berdua, Flora
hanya menyukai saat ia tersenyum manis dan Reva mengecup pipinya. Terlalu asyik
memilih foto di ponsel Reva, Flora tidak sadar kalau pria itu sudah mendekat
lagi ingin menciumnya.
“Flo...”panggil Reva.
Flora menoleh dan cup... Reva mencium bibir Flora. ia
mengecap bibir Flora, menyapu semua bagian bibir gadis itu. Flora merangkul
leher Reva, memejamkan matanya menikmati ciuman hangat Reva.
“Flo, aku mencintaimu.”bisik Reva disela-sela
ciuman mereka. Flora mendorong tubuhnya dari pelukan Reva.
“Va, aku mau kuliah. Gimana menurutmu?”tanya Flora.
Reva mengangguk, ia mengelus pipi Flora dan
menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. “Nanti aku bantu ngomong sama papa
ya. Kamu bisa kuliah deket sini. Nanti magangnya di perusahaan papa.”kata Reva.
Flora terdiam, ia merasa tidak tahu diri kalau
sampai Alex juga yang membayar kuliahnya. Flora menanyakan apa ada universitas
yang memberikan beasiswa. Reva terdiam sebentar, di kampusnya memang memberikan
beasiswa untuk mahasiswa berprestasi.
“Kok diem? Ada nggak? Aku nggak enak kalau minta
dibayarin tuan Alex juga.”kata Flora sendu.
“Kalo mau, kamu bisa coba di kampusku. Nanti aku
bantu test masuknya. Tapi tempatnya agak jauh dari sini.”kata Reva mengingat
jarak kampusnya dengan rumah Alex bisa sampai lima belas menit perjalanan. “Trus
kapan kamu ujian akhir?”
“Minggu depan.”saut Flora santai. Mata Reva
membulat sempurna, ia tidak percaya Flora bisa sesantai itu menghadapi ujian
akhirya. “Aku kan punya kamu, beb.”kata Flora mesra.
“Apa?!”teriak Reva mengagetkan Flora yang mengira
Reva marah padanya.
“I-itu, maksudku....”kata Flora terpotong.
Tapi Reva hanya tertarik dengan panggilan sayang
Flora barusan. Ia ingin mendengarnya lagi dan mewajibkan Flora memanggilnya
seperti itu dimanapun atau Reva tidak mau membantu Flora dengan ujian akhirnya.
Rava yang masih galau, gagal membujuk Mia untuk
membatalkan niatnya mengundang Diva. Ia sampai meminta nomor Diva pada Widya,
padahal ia sudah menyimpannya. Akibatnya Widya jadi kepo dan terus mendesak
Reva mengatakan yang sebenarnya.
Rava menelpon Widya untuk menjawab chat gadis itu. “Berhenti
ngirim chat, Widya. Kamu nich kepo banget sich. Aku mau ngundang Diva ke rumah.”kata
Rava dengan berani bicara pada Widya.
“Kak! Kakak diundang ke rumahnya kak Rava nich!!”teriak
Widya dari sebrang telpon sana.
Rava langsung panik, ia sampai menjatuhkan
ponselnya ke atas tempat tidur saking gugupnya. Terdengar suara Widya
memanggil-manggil Rava dari ponsel itu. Rava cepat-cepat mengambil ponsel itu
lagi.
“H-halo. Iya, kenapa?”tanya Rava masih mengira ia
sedang bicara dengan Widya.
“Halo, Rava.”sapa Diva dengan suara lembutnya.
Nyes! Hati Rava yang jumpalitan langsung tenang
mendengar suara wanita yang ia sukai itu. “D-Diva, apa kabar?”tanya Rava
basa-basi.
Terdengar tawa geli malu-malu dari seberang sana, “Kita
baru ketemu tadi, Va. Menurutmu gimana kabarku?”
”Oh, Tuhan. Aku ingin sekali melihat wajahnya saat
Diva tertawa seperti tadi. Tolong ijinkan aku melihatnya.”
“Rava? Halo?”panggil Diva lagi.
Rava kelimpungan, ia hampir menjatuhkan ponselnya
lagi. Akhirnya Rava bicara sambil berjongkok disamping tempat tidurnya. Ia
menarik nafas panjang terlebih dahulu, “Diva, mamaku mengundangmu untuk datang
besok ke rumahku. Sebenarnya ponakanku ulang tahun dan mamaku ingin memasak
untuk pestanya.”kata Rava sedikit ragu-ragu.
“Aku akan membantu mamamu masak, Rava. Bisa kau
kirim alamat rumahmu? Aku akan datang.”kata Diva melegakan hati Rava.
“Aku akan menjemputmu. Jam sembilan ya. Acaranya
saat makan siang.”kata Rava cepat.
“Merepotkanmu sampai menjemputku. Aku bisa
berangkat sendiri, Rava.”saut Diva merasa tidak enak. Ia ingin berterima kasih
dengan baik pada Rava yang sudah membantunya lepas dari Akbar. Tapi Rava tidak
menerima penolakan, ia tetap ingin menjemput Diva.
Keesokan harinya saat semua keluarga sedang
berkumpul di ruang keluarga kecuali para istri, Rava datang bersama Diva.
Melihat putranya datang bersama gadis cantik, Alex langsung berdehem minta
diperkenalkan. Rava tersenyum malu memperkenalkan Diva pada Alex.
“Oh, jadi Diva ini yang punya restaurant dengan
makanan tradisional itu ya. Rendang dari restaurantmu enak loh.”puji Alex.
Diva mengucapkan terima kasih atas pujian Alex. Mia
bergabung dengan mereka saat mendengar suara Diva di ruang keluarga. Diva
menyalami Mia dengan sopan.
“Tante sudah mulai masak ya. Saya bantu ya, tante.”kata
Diva yang merasa canggung dengan tatapan semua orang di ruang keluarga itu.
Mia mengajak Diva ke dapur untuk mulai memasak.
Sejak tadi mereka yang di dapur baru selesai menyiapkan bahan masakan. Rava
yang sudah salah tingkah bersama Diva, langsung melengos duduk bersandar di
salah satu bantal besar disana.
“Kenapa lo? Kesambet?”tanya Reva mengejek wajah Rava yang memerah. Rava menimpuk Reva dengan bantal yang ada di dekatnya.
“Diem dech, jangan mulai lagi. Khusus hari ini
jangan pancing emosi gue. Gue nggak mau Diva ngliat sisi negatif gue.”ancam Rava.
Mendengar hal itu tidak membuat Reva takut, ia semakin ingin mengerjai Rava agar Diva bisa melihat seperti apa sosok asli
Rava.
*****
Makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejakmu
rate bintang 5, like, komen, dan yang paling penting vote, vote, vote. Ty.