"Sekarang status kita sudah berbeda. Aku bukan lagi Kakak Ipar mu, dan kamu bukan lagi Adik Ipar ku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon green_light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Pagi ini, Aku membuat Nasi goreng kecap telur dadar untuk sarapan di bantu dengan Damai. Karena mereka pergi nya agak siangan, jadi nya Aku gak terburu-buru sekali dalam memasak.
Selagi Aku menggoreng nasi, Damai membuat teh untuk teman makan, katanya Teh itu teman yang pas saat makan nasi goreng.
Masih dalam mode menggoreng, Aku memikirkan hal yang di ucapkan Vini tadi malam, bukan nya apa, tapi kurasa sangat mengganggu fikiranku.
Flashback on
"**Kak, Vini mau ngomong dong berdua" Saat ini Aku sedang mencuci piring bekas makan malam bersama Vini, Sedikit terkejut memang ketika dia mengajak ku bicara empat mata. Ada apa ya, fikirku. Apa ada hubungan nya dengan Fahri?
"Boleh, nanti kita ke taman samping ya," jawabku sambil terus membilas piring yang sudah di sabunin nya.
Setelah selesai mencuci piring Aku mengajak Vini ke taman samping agar lebih leluasa saat berbicara dengan Vini tanpa ada yang mengganggu.
"Mau ngomong apa Vin?" tanya ku tudepoin.
"Emh....Sebenernya Aku masih gak percaya kakak istrinya Fahri," Dia menjeda kalimat nya, dan Aku tak ingin menyela kata-katanya, jadi Aku hanya diam, menunggu kalimat apa lagi yang akan dia sampaikan.
"Dari awal Aku dateng kerumah ini, Aku pikir kakak emang masih kakak ipar nya dia, jadi dengan semangat nya Aku pun jadi kayak orang bodoh, minta bantuan untuk deketin Fahri sama Isteri nya. Aku malu kak." Tambah nya.
Vini melanjutkan, "Aku pikir kakak orang yang baik, seolah mau nolong Aku untuk deket sama Fahri, tapi apa? kakak sengaja mempermalukan Aku terang-terangan sok-sokan mau bantu Aku dapetin hati Fahri.."
Deg.... Aku terdiam saat itu, kenapa jadi begini? jadi Vini nyalahin Aku?
"Kak, seharusnya kalau kakak niat nolongin Aku gak akan setengah-setengah dong ya?"
Katanya sambil menatapku.
"Maksud kamu?" tanyaku penasaran sejak dari tadi diam.
"Maksud Aku, kakak kan tau kalo Aku suka sama Fahri, dan itu jauh sebelum kakak menikah dengan dia. Aku mau mempertahankan cinta Aku sama Fahri kak.."
Senut....kata-kata Vini mampu merobek hatiku.
"Aku mohon sama kakak, lepasin Fahri kak. Apa kakak tau, kalo Fahri masih sayang banget sama Aku?"
Aku tahan air mataku supaya gak tumpah, Sakit... itu yang Aku rasakan, ketika Aku mau memulai sesuatu yang baru bersama Fahri, memulai kisah cinta kami, tapi tiba-tiba Aku di hadapkan dengan situasi seperti ini.
"Aku gak bisa lepasin Fahri, Fahri itu suamiku." jawabku tegas.
"Untuk apa kalian menikah tapi gak saling cinta? Bahkan hati kakak masih untuk suami kakak kan? Begitu juga dengan Fahri kak, Hatinya masih milik Aku. Apa kakak tau? beberapa hari belakangan ini Fahri bilang sama Aku kalo dia belum bisa lupain Aku. Karena dia menjaga Amanah Abang nya dan dia menghormati kakak, makanya dia terpaksa nikahin kakak." Kata Vini panjang lebar
Benarkah itu? Benarkah Fahri terpaksa? Bukannya kami udah janji bakalan memulai dari awal? bukan nya Fahri juga mulai berusaha mencintaiku?
"Fahri gak mungkin begitu Vini, Aku tau dia sayang sama kamu, tapi Aku rasa Fahri juga mulai berusaha untuk mencintaiku, dan dia juga berusaha untuk melupakan kamu. Aku yakin dia hanya nganggap kamu sebagai temannya sekarang."
"Kakak gak percaya dengan apa yang Aku bilang?" tanya nya sinis.
"Aku percaya sama kamu, tapi Aku juga berusaha untuk percaya sama Fahri, suami Aku. Kalau gak ada lagi yang mau di bahas, Aku masuk dulu." Kataku sambil berdiri dari tempat duduk ku.
"Kak.." panggilnya. Aku menoleh ke belakang ketika Aku sudah berada 7 langkah daari nya. Vini berjalan mendekati ku, lalu dia bilang "Kalau kakak gak percaya sama Aku, Aku akan buktikan kalo Fahri bener-bener masih sayang sama Aku."
Aku tak menjawab ucapannya, dan Vini langsung masuk ke dalam rumah. Aku ingin menangis, tapi sebisa mungkin Aku tahan. Aku gak mau mengundang kecurigaan semua orang.
Flashback off
Tepukan di bahu mengagetkan Aku, membuat ku sedikit terlonjak karenanya. "Aku dari tadi manggilin kamu, eh tau nya kamu malah melamun." kata Damai
"Ada apa?" tanya ku gugup
"Kamu cariin Fahri dan temen-temen nya gih, ajakin sarapan."
"Aku masih goreng nasi, tapi kamu bisa ambil alih kan Asisten Chef??" ku sunggingkan senyum terbaikku.
"Siap Bos.." jawab Damai.
Aku berjalan menuju kamarku. Sesampainya di kamar, Aku tidak melihat Fahri, Ku cari ke dalam kamar mandi pun tak ada, ketika aku berjalan melewati ruang keluarga pun Aku tak menemukan teman-temannya. Mereka masih sibuk di ruang depan membereskan perlengkapannya. Ah,, mungkin Fahri sedang bersama mereka, jadi Aku berniat kembali ke dapur, melewati kamar yang dulu di tinggali Fahri.
Terdengar samar, tapi sedikit Aku mendengar sayup-sayup seorang lelaki dan perempuan berbicara di kamar dan mereka menyebut nama....ku? Pintu kamar terbuka sedikit, lalu Aku mengintip siapa yang ada di kamar itu.
Astaghfirullah,, Fahri.. dan Vini?? sedang apa mereka? Aku melihat Vini yang sepertinya sedang menangis sesenggukan duduk di ujung tempat tidur, sedangkan Fahri berjongkok di hadapannya, tampak sepertinya Fahri berusaha menenangkan Vini.
Aku gak berniat nguping sih, tapi Aku juga gak mau langsung mengejutkan mereka, karena Aku mau denger percakapan mereka.
"Iya, Aku minta maaf sama kamu Vin. Aku emang masih cinta sama Kamu, tapi Aku juga gak bisa nolak permintaan Abang Aku, apalagi Ibuku. Jujur Aku belum bisa ngelupain Kamu. Aku masih sayang banget sama kamu Vin. Maafin Aku.."
Deg, Senuttt...Nyuuuutt... hatiku tercubit dengan kata-kata Fahri. Ternyata dia masih menyimpan rasa untuk Vini.
"Jujur deh sama Aku, kamu mulai cinta kan sama kak Mia?" Pertanyaan Vini sukses mengundang rasa penasaran ku untuk mendengar jawaban Fahri, kira-kira dia akan jawab apa ya?
"Enggak, Aku belum bisa cinta sama Kak Mia, di Hati aku masih ada nama Kamu. Tapi kamu tau kan, kita gak bisa bersama? Kita berbeda Vin, Aku berusaha untuk memenangkan kamu pun itu masih gak mungkin, Kita berbeda keyakinan.." Jawab Fahri lemah,
Seolah-olah Fahri pun menyayangkan kenapa mereka berada di posisi yang menyulitkan seperti ini? Andai saja,, jika Vini sama dengan kami, Aku yakin Fahri akan menolak mentah-mentah amanah dari Bang Afri. Aku mencoba menahan isak tangis ku dengan membekap mulut ku. Tak ku sangka rasanya sesakit ini. Jadi selama ini Fahri berbohong sama Aku? Aku bersandar di dinding sebelah pintu kamar....
"Kalau Aku mengikuti mu, apa kamu mau berusaha untuk mempertahankan hubungan kita?" pertanyaan menohok dari Vini membuat Fahri terdiam. Lama Fahri tak menjawab nya, sampai Aku mendengar jawaban yang membuat duniaku hancur untuk memiliki masa depan bahagia dengan Fahri.
"Akan Aku pikirkan.." Kata Fahri lalu ku lihat Vini memeluk Fahri dengan Erat. Dan apa yang ku lihat? Fahri membalas pelukan itu, membuat dadaku sakit, Aku hampir sesak nafas di buat nya.
Oh Tuhan... cobaan macam apa ini? Dadaku sakit sekali....
✏️✏️ jangan pelit luangkan waktu tuk baca novel green ya kakak., seperti biasa, like, komen dan tips nya green tunggu,😁 kalo bersedia tolong di Vote juga karya nya. Semangat kumpulin poin kak...😘
terimakasih banyak Thor dah bikin terhibur 🙏🙏
semangat Thor dgn karya selanjutnya 💪💪