Di sebuah kerajaan yang penuh dengan intrik dan kekuatan mistis pada masa Dinasti Tang, hiduplah seorang pangeran bernama Li Wei. Sejak kecil, Li Wei selalu dianggap lemah dan tidak berbakat dalam seni bela diri, sehingga ia sering dijuluki "Pangeran Cupu" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik penampilannya yang lemah, Li Wei memiliki hati yang baik dan kecerdasan yang luar biasa.
Li Wei tumbuh di istana dengan penuh cemoohan dari saudara-saudaranya dan para pejabat istana. Ayahnya, Kaisar Li, merasa malu dengan kelemahan Li Wei dan lebih mengutamakan putra-putranya yang lain. Namun, Li Wei tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk membuktikan dirinya.
Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di hutan, Li Wei bertemu dengan seorang guru bela diri misterius bernama Master Feng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
Mata seluruh pejabat tertuju ke arah Kaisar.
Tak seorang pun berani menjadi orang pertama yang membuka suara.
Mereka memahami betul...
Sekali saja salah berbicara, bukan hanya jabatan yang terancam, tetapi juga seluruh keluarga mereka.
Keheningan itu berlangsung cukup lama.
Hingga akhirnya...
Seorang lelaki tua berambut putih melangkah keluar dari barisan para menteri.
Jubah ungu dengan sulaman burung bangau emas berkibar pelan.
Dialah Menteri Agung Han.
Pejabat tertua yang telah mengabdi sejak masa pemerintahan mendiang Kaisar sebelumnya.
Ia membungkukkan badan.
"Yang Mulia."
Kaisar mengangguk.
"Bicaralah."
Menteri Agung Han menarik napas panjang.
"Menurut hamba..."
"...perkara ini sebenarnya tidaklah rumit."
Seluruh aula menjadi semakin sunyi.
"Peraturan leluhur kekaisaran telah menyatakan bahwa seorang wanita yang hendak memasuki kediaman seorang pangeran sebagai selir harus memenuhi tiga syarat."
Ia mengangkat satu jari.
"Pertama."
"Harus mendapat persetujuan dari sang pangeran."
Jari kedua terangkat.
"Kedua."
"Harus memperoleh izin dari istri utama apabila sang pangeran telah menikah."
Lalu jari ketiga.
"Dan yang terakhir..."
"Harus mendapatkan pencatatan resmi dari Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran."
Tatapan Menteri Han perlahan beralih kepada Selir Yuhe.
"Dari laporan yang baru saja kita dengar..."
"Lu Zhuang tidak memenuhi satu pun syarat tersebut."
Bisik-bisik kecil mulai terdengar di antara para pejabat.
"Benar..."
"Itu memang aturan leluhur."
"Keluarga Yu terlalu gegabah."
Wajah Selir Yuhe berubah semakin buruk.
Namun Menteri Han belum selesai.
"Sebaliknya..."
"Istri utama memiliki hak penuh menjaga kehormatan rumah tangganya."
"Selama tindakan Putri Mei Ling tidak melanggar hukum kekaisaran..."
"...maka tindakannya tidak dapat dianggap sebagai kesalahan."
Ucapan itu langsung membuat beberapa menteri lain ikut melangkah maju.
"Hamba sependapat dengan Menteri Han."
"Peraturan memang demikian."
"Putri Mei Ling tidak melanggar tata krama."
Suara dukungan mulai berdatangan dari berbagai sisi aula.
Selir Yuhe menggigit bibirnya.
Situasi yang semula ia yakini akan menguntungkannya...
Kini justru berbalik sepenuhnya.
Namun saat itu juga...
Seorang pria paruh baya berjubah merah melangkah keluar.
Dialah Menteri Yu Chang.
Kepala keluarga Yu.
Sekaligus kakak kandung Selir Yuhe.
"Hamba memiliki pendapat berbeda."
Suasana kembali hening.
Yu Chang menatap Kaisar.
"Yang Mulia."
"Walaupun Putri Mei Ling tidak melanggar hukum..."
"...ucapannya tetap telah melukai kehormatan keluarga Yu."
Tatapan tajamnya beralih kepada Mei Ling.
"Sebagai menantu keluarga kekaisaran..."
"Seharusnya ia lebih menjaga tutur katanya."
Li Wei hendak maju.
Namun...
Mei Ling menyentuh pelan lengan suaminya.
Isyarat sederhana itu membuat Li Wei menghentikan langkahnya.
Mei Ling maju seorang langkah.
Ia memberi hormat kepada Kaisar.
"Yang Mulia."
"Izinkan hamba menjawab."
Kaisar mengangguk.
"Bicaralah."
Mei Ling memandang Yu Chang tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Menteri Yu mengatakan bahwa aku melukai kehormatan keluarga Yu."
"Tetapi..."
"Bukankah yang lebih dahulu membawa nama keluarga Yu ke dalam perkara ini adalah Lu Zhuang sendiri?"
Yu Chang terdiam.
Mei Ling melanjutkan dengan suara tenang.
"Seorang gadis belum menikah datang ke rumah pria yang telah beristri."
"Membawa barang-barang pribadi."
"Bahkan telah memilih kamar untuk ditempati."
"Apabila rakyat mendengar kabar itu..."
"Menurut Menteri Yu..."
"Siapakah yang sesungguhnya mencoreng nama keluarga Yu?"
Ruangan mendadak sunyi.
Pertanyaan itu...
Terlalu tajam.
Yu Chang membuka mulutnya.
Namun tidak satu pun kata keluar.
Mei Ling kembali memberi hormat.
"Hamba tidak pernah menyebut keluarga Yu rendah."
"Hamba hanya menolak seseorang yang ingin memasuki rumah tangga hamba tanpa hak."
"Itu saja."
Ucapan terakhirnya terdengar begitu tenang.
Namun justru ketenangan itulah yang membuat semua orang semakin sulit membantahnya.
Kaisar menyandarkan tubuhnya di singgasana.
Tatapannya bergantian mengarah kepada Mei Ling, Li Wei, lalu keluarga Yu.
Perlahan...
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Bagus."
Satu kata itu membuat seluruh aula terkejut.
Selir Yuhe membelalak.
Yu Chang pun ikut menegang.
Kaisar berdiri.
Suara beliau bergema memenuhi Aula Naga.
"Putri Mei Ling."
"Jawabanmu menunjukkan kecerdasan, ketenangan, dan pemahaman terhadap aturan istana."
"Sebagai nyonya Kediaman Pangeran Li Wei..."
"Kau telah menjalankan kewajibanmu."
Beliau kemudian mengalihkan pandangan kepada keluarga Yu.
"Sedangkan keluarga Yu..."
"...terlalu mencampuri urusan rumah tangga putraku."
Tatapan Kaisar berubah dingin.
"Mulai hari ini..."
"Tak seorang pun boleh lagi membawa Lu Zhuang ke Kediaman Pangeran Li Wei tanpa izin."
"Apabila larangan ini dilanggar..."
"...maka akan dianggap sebagai penghinaan terhadap titah Kaisar."
"Siapa pun pelakunya akan dihukum sesuai hukum kekaisaran."
"Titah ini berlaku mulai sekarang!"
"Patik menerima titah Kaisar!"
Suara para pejabat bergema serempak memenuhi Aula Naga.
Wajah Selir Yuhe memucat.
Sementara Yu Chang hanya mampu menundukkan kepala.
Dengan satu titah...
Kaisar bukan hanya menolak permintaan mereka.
Beliau juga menutup seluruh jalan bagi keluarga Yu untuk kembali memaksa Lu Zhuang memasuki Kediaman Pangeran Li Wei.
Namun...
Di saat semua orang mengira sidang telah berakhir...
Kaisar justru kembali angkat bicara.
"Li Wei."
"Putra hadir."
"Kau tetap tinggal."
"Begitu pula Mei Ling."
"Sedangkan yang lain..."
"Kalian semua boleh meninggalkan aula."
Perintah itu membuat para menteri saling berpandangan penuh tanda tanya.
Mengapa Kaisar masih ingin berbicara secara pribadi dengan pasangan itu?
Bahkan Permaisuri tampak sedikit terkejut.
Sementara Selir Yuhe yang melangkah keluar aula menggenggam lengan bajunya erat.
Entah mengapa...
Firasat buruk di hatinya justru semakin kuat.
Di dalam Aula Naga yang kini mulai lengang, hanya tersisa Kaisar, Permaisuri, Li Wei, Mei Ling, serta beberapa kasim kepercayaan.
Kaisar turun perlahan dari singgasananya.
Tatapannya tidak lagi setajam saat memimpin sidang.
Justru ada sesuatu yang lebih dalam...
Seolah-olah beliau telah lama menunggu kesempatan untuk berbicara dengan keduanya.
"Ada satu urusan penting..."
"...yang hanya bisa kubicarakan kepada kalian berdua."
Li Wei dan Mei Ling saling bertukar pandang.
Mereka sama-sama merasakan bahwa...
Apa yang akan disampaikan Kaisar kali ini jauh lebih besar daripada sekadar persoalan keluarga Yu.
Mendengar ucapan Kaisar, Li Wei dan Mei Ling kembali memberi hormat.
"Kami siap mendengarkan, Ayahanda."
Kaisar tidak langsung menjawab.
Beliau justru melirik ke arah para kasim yang masih berjaga di dalam aula.
"Kalian semua."
"Keluar."
"Ya, Yang Mulia."
Para kasim segera membungkukkan badan lalu berjalan mundur meninggalkan Aula Naga.
Tak lama kemudian...
Pintu aula ditutup rapat dari luar.
Suasana berubah begitu sunyi.
Hanya terdengar suara bara dupa yang berderak pelan di dalam tungku perunggu.
Permaisuri memandang Kaisar dengan tatapan penuh pengertian.
Beliau mengetahui pembicaraan ini memang tidak boleh didengar siapa pun.
Kaisar melangkah perlahan mendekati Li Wei dan Mei Ling.
"Lima hari lagi..."
"...akan diadakan Perjamuan Musim Gugur Kekaisaran."
Li Wei mengangguk.
"Putra telah menerima laporannya."
Kaisar melanjutkan.
"Tahun ini berbeda."
"Selain para pejabat tinggi, seluruh pangeran, dan keluarga bangsawan..."
"...akan hadir pula utusan dari Kerajaan Liang, Kerajaan Yan, serta Negara Xiongnu."
Mei Ling mengangkat wajahnya.
Perjamuan Musim Gugur bukan sekadar pesta.
Itu adalah ajang untuk menunjukkan kewibawaan Kekaisaran di hadapan dunia.
Kesalahan sekecil apa pun...
Bisa berubah menjadi bahan ejekan kerajaan lain.
Kaisar berhenti tepat di depan mereka.
"Aku ingin kalian berdua mewakili keluarga kekaisaran menyambut para tamu asing."
Li Wei sedikit terkejut.
"Ayahanda..."
"Apakah putra tidak salah dengar?"
Kaisar tersenyum tipis.
"Tidak."
"Selama ini, tugas itu selalu kuberikan kepada Putra Mahkota."
"Tetapi kali ini..."
"...aku memilihmu."
Li Wei segera berlutut.
"Putra merasa belum pantas menerima kepercayaan sebesar itu."
Kaisar menggeleng pelan.
"Justru karena kau tidak pernah mengejar kehormatan, aku mempercayakannya kepadamu."
Ucapan itu membuat Li Wei terdiam.
Permaisuri tersenyum lembut.
"Li Wei."
"Ayahandamu telah memperhatikanmu sejak lama."
"Beliau mengetahui bagaimana kau memimpin kediamanmu, memperlakukan rakyatmu, dan menjaga istrimu."
Mei Ling menoleh ke arah Li Wei.
Ia dapat melihat secercah haru yang jarang sekali muncul di wajah suaminya.
Namun Kaisar belum selesai.
Beliau memandang Mei Ling.
"Putri."
Mei Ling segera memberi hormat.
"Hamba mendengarkan, Yang Mulia."
"Kudengar kau pandai melukis."
"Hamba hanya memiliki sedikit kemampuan."
"Kudengar pula tulisan kaligrafimu sangat baik."
Mei Ling sedikit terkejut.
Ia tidak pernah memperlihatkan hasil karyanya kepada banyak orang.
Bagaimana Kaisar bisa mengetahuinya?
Seolah membaca pikirannya, Kaisar tersenyum.
"Jangan meremehkanku."
"Aku adalah Kaisar."
"Tidak banyak hal di istana ini yang luput dari penglihatanku."
Mei Ling tersenyum kecil.
"Hamba mengerti."
Kaisar mengangguk puas.
"Pada malam perjamuan nanti..."
"...aku ingin kau menyiapkan sebuah lukisan."
"Lukisan?"
"Benar."
"Bukan sembarang lukisan."
Beliau berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman istana.
"Beberapa tahun terakhir..."
"Kerajaan Liang selalu membawa pelukis terbaik mereka."
"Mereka berkali-kali menyindir bahwa negeri kita hanya unggul dalam kekuatan militer."
"Kali ini..."
"Aku ingin mereka pulang dengan kepala tertunduk."
Sorot mata Kaisar berubah tajam.
"Aku ingin seluruh dunia tahu..."
"...bahwa Kekaisaran kita bukan hanya memiliki prajurit hebat."
"Tetapi juga wanita-wanita luar biasa."
Mei Ling menarik napas perlahan.
"Hamba akan berusaha sebaik mungkin."
"Bukan berusaha."
Kaisar menoleh sambil tersenyum penuh keyakinan.
"Aku yakin kau bisa."
Ucapan itu membuat Mei Ling sedikit gugup.
Belum pernah sebelumnya seorang Kaisar menaruh harapan sebesar ini kepadanya.
Namun...
Di balik keheningan itu...
Permaisuri tiba-tiba menghela napas pelan.
"Yang Mulia."
"Ada satu hal lagi yang perlu mereka ketahui."
Kaisar mengangguk.
"Benar."
Beliau kembali menatap Li Wei.
"Dalam perjamuan nanti..."
"...Putra Mahkota juga akan hadir."
Li Wei mengernyit.
"Apa ada sesuatu yang perlu diwaspadai?"
Kaisar terdiam beberapa saat.
Tatapannya berubah serius.
"Kudengar..."
"...faksi Putra Mahkota mulai menjalin hubungan diam-diam dengan keluarga Yu."
Kalimat itu membuat wajah Li Wei dan Mei Ling berubah.
Permaisuri melanjutkan dengan nada tenang.
"Jika kabar itu benar..."
"...maka kejadian hari ini bukanlah kebetulan."
"Bisa jadi..."
"...seseorang memang sengaja ingin mempermalukan Mei Ling."
"Dan bila Mei Ling kehilangan martabatnya..."
"...maka wibawa Li Wei sebagai pangeran pun akan ikut runtuh."
Li Wei mengepalkan tangan.
Kini semuanya mulai masuk akal.
Mengapa Selir Yuhe begitu memaksa.
Mengapa Lu Zhuang datang tanpa rasa takut.
Dan mengapa persoalan kecil itu begitu cepat menyebar ke seluruh istana.
Kemungkinan besar...
Ada seseorang yang berdiri di balik layar.
Seseorang yang sedang menguji, atau bahkan menjebak mereka.
Kaisar menatap putranya dengan dalam.
"Li Wei."
"Mulai hari ini."
"Jangan hanya melindungi istrimu."
"Lindungi juga dirimu."
"Karena musuh yang sebenarnya..."
"...mungkin sudah mulai bergerak."
Di luar Aula Naga, angin senja berembus membawa guguran daun maple ke halaman istana.
Tak seorang pun menyadari...
Di balik salah satu pilar batu yang menjulang tinggi, sesosok bayangan berpakaian hitam berdiri tanpa suara.
Orang itu perlahan menyunggingkan senyum tipis.
"Lima hari lagi..."
"...Perjamuan Musim Gugur akan menjadi awal dari permainan yang sesungguhnya."