WARNING!!
Mengandung adegan baku hantam, harap bijak dalam membaca!!
Ava Claire, gadis muda yang memiliki sifat tenang dan juga cuek. Ava tergabung dalam organisasi yang menawarkan jasa pengawalan. Ava menjadi salah satu anggota bodyguard paling terkenal di dalam lingkup organisasinya, ia bahkan banyak di idolakan oleh para pria yang seprofesi dengannya.
Hingga suatu hari, Ava yang baru saja selesai bertugas menjadi target pembunuhan oleh orang tak di kenal. pertarungan di antara mereka tak bisa terelakan hingga akhirnya Ava terjatuh ke dalam jurang dan meninggal seketika.
Ava mengira ia akan pergi ke alam kematian, tapi ternyata ia justru masuk ke dalam tubuh seorang gadis yang sedang mendekam di penjara.
Seperti apa kisah perjalanan Ava selanjutnya? yuk baca aja gaes...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 34
Carlos serta Edgar mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, tujuan mereka kali ini berada cukup jauh dari kantor Sky Blue. Di tengah panasnya sinar matahari, serta kemacetan yang merajalela tak membuat mereka mengurungkan niat untuk menunda tujuan kali ini.
Satu jam kemudian, Carlos tiba di lokasi. Sebuah bangunan tua namun terawat, serta banyak anak-anak kecil sedang bermain di halaman.
"Kamu yakin ini panti asuhan tempat Ava tinggal dulu, Gar,?"
Carlos mengamati bangunan yang sepertinya baru saja di renovasi, masih banyak barang-barang berserakan di halaman gedung tersebut seperti batu bata dan juga pasir.
"Benar, Tuan. Alamatnya sesuai dengan yang ada di laporan." Sahut Edgar.
"Baiklah, mari kita masuk."
Mereka berdua memasuki gedung itu, Edgar mengetuk pintu tiga kali hingga seseorang membuka pintu tersebut.
"Selamat siang, Bu. Apakah benar di sini panti asuhan cahaya?" Tanya Edgar sopan.
"Benar, kalau boleh tau anda berdua siapa?" Sahut wanita paruh baya itu.
"Kami dari Sky Blue, kami ingin mencari informasi tentang seorang anak yang dulu tinggal di sini, apakah anda memperbolehkannya?" jawab Edgar.
Wanita paruh baya itu nampak terkejut, ia tak menyangka bisa bertemu dengan salah satu orang yang mensponsori panti itu.
"Ya tentu saja, perkenalkan nama saya Santi. Saya kepala panti di sini," ujar Santi sembari menyodorkan tangan kanannya ke arah Edgar.
"Saya Edgar, dan ini Tuan saya namanya Carlos." sahut Edgar, ia menyalami Santi begitu juga dengan Carlos.
Santi mengangguk sopan, setelahnya ia mengajak Carlos dan Edgar masuk ke dalam panti. Sepanjang perjalanan menuju kantor kepala panti, Carlos memperhatikan anak-anak yang tumbuh dengan baik di panti tersebut.
Tidak ada anak kecil yang kurus, atau pun lusuh. Mereka terlihat gembira dan tubuh mereka bersih, keceriaan di wajah anak-anak itu sangat jelas tanpa ada yang di buat-buat.
'Aku baru tau, kalau ada panti asuhan sebagus ini. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak lama?' batin Carlos.
Ia menoel lengan Edgar, sesaat pria itu menoleh, "Ada apa, Tuan?"
"Mengapa laporan tentang panti ini, tidak pernah masuk ke dalam ruanganku, Gar?"
"Semua berkas yang menyangkut panti ini, di kelola oleh nona Ava, Tuan." Sahut Edgar membuat Carlos terkejut.
"Bagaimana bisa? Ava hanyalah anggota Sky Blue, dia tidak memiliki kualifikasi terhadap perusahaan,"
Langkah Edgar seketika terhenti tepat di depan pintu kepala panti, ia membiarkan Santi masuk lebih dulu barulah Edgar menjawab pertanyaan Carlos.
"Ya, anda benar. Tapi semua sudah di setujui oleh mendiang ayah anda, beliau sendiri yang meminta nona Ava mengurus semua hal yang menyangkut panti ini."
"A-apa? Kenapa kau tidak memberitahu ini padaku?" cecar Carlos meminta penjelasan.
"Maaf, Tuan. Tapi saya juga baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, ketika saya menggeledah tempat tinggal nona Ava."
Mendengar itu Carlos jelas heran, setahu ia mendiang ayahnya bukanlah orang yang mudah mempercayakan hal penting pada sembarang orang. Terlebih Ava hanyalah gadis biasa yang menjadi anggota terbaik milik Sky Blue, semua kejanggalan itu membuat Carlos semakin yakin jika Ava memiliki hubungan khusus dengan keluarga Donovan yang tidak ia ketahui.
'Jangan-jangan selama ini, Ayah menyembunyikan sesuatu dariku?' batin Carlos.
Sesaat kemudian, Carlos dan Edgar sudah duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan kepala panti. Mereka di suguhi teh, dan juga kue kering berbagai jenis di atas meja.
"Maaf kalau camilannya kurang berkenan, kami tidak tau jika anda akan berkunjung, Tuan Carlos." Ucap Santi merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, kami juga minta maaf karena datang tanpa kabar ke sini." Sahut Carlos ramah.
Mereka berbincang ringan demi menetralisir rasa canggung, hingga tibalah Carlos mengutarakan niatnya datang ke sana.
"Bu, saya ke sini ingin bertanya tentang anak yang bernama Ava Claire. Apa benar anak itu dulunya tinggal di sini?" ucap Carlos.
Tanpa di duga kepala panti mengangguk, ia berdiri lalu berjalan ke arah lemari dan mengambil buku besar dari rak tersebut. Santi membawa buku itu ke tempat duduknya, dan meletakan di atas meja.
"Ya, dulu ada anak bernama Ava Claire di sini. Namun setelah ia di jemput oleh ayahnya, ia sempat tak ada kabar dan setahun kemudian Ava kembali ke sini menjadi sponsor bagi panti asuhan ini." Jelas Santi, ia menunjukan foto Ava kecil di buku.
Carlos terperangah melihat wajah Ava kecil yang begitu mirip dengan kakaknya, kemiripan mereka berdua hampir 99%.
"Sebentar, siapa nama ayah yang membawa anak itu?" Tanya Carlos.
"Pak Arlan, Tuan."
Degh.
Carlos menjatuhkan buku besar yang ia pegang, ia tidak pernah menyangka bahwa kecurigaannya selama ini benar jika Ava Claire adalah putri dari kakaknya.
"Dimana tempat tinggal Pak Arlan, Bu?" Kali ini Edgar yang bertanya.
Namun Santi menggeleng lesu, ia sendiri tidak tau tempat tinggal Arlan dan juga Ava.
"Saya tidak tau, Tuan. Sebab setelah pergi, tidak ada kabar sedikit pun dari mereka. Namun beberapa bulan yang lalu saat Ava berkunjung ke sini, Ava pernah berkata bahwa dia sudah sebatang kara, kemungkinan ayahnya sudah meninggal." Ucap Santi panjang lebar.
Kenyataan yang baru terkuak, membuat Carlos syok sekaligus menyesal. Ia menyesal telah membiarkan Ava berjuang sendiri, dan ia merasa tak berguna sebagai adik kakaknya yang justru tidak mengenali keponakannya sendiri.
Setelah perbincangan itu selesai, Carlos mengajak Edgar pergi. Ketika ia tiba di dalam mobil, Carlos meminta sang asisten menuju ke rumah seseorang yang sejak dulu selalu bermusuhan dengan keluarga Donovan.
'Aku harus mencaritahu sampai semuanya jelas!' batin Carlos bertekad.
hrs lbh teliti baca'a
klo di koinkan, brp gedung🤣
pembalasan lbh sadis dr perbuatan, siapkan dirimu mark
wah ini jodoh😁