*******! Banyak ****** ****** bertebaran jadi ***** ***** memilih bacaan.
Perasaan cintanya untuk seseorang yang begitu besar membuat luka yang mendalam bagi seorang Kanaya.
Kanaya Tsabita menerima pertunangan dari Arslan Khairul Azam karena percaya akan kesungguhan cinta Arslan yang diberikan padanya. Tapi siapa tahu diantara perjalanan cinta mereka hadirlah Rindu Anjani sang sekretaris yang berhasil mengalihkan perhatian Arslan hingga akhirnya melukai perasaan Kanaya.
Diantara gempuran luka dan mempertahankan sebuah harga diri, sosok Baratha hadir untuk menjadi tameng dan luapan rasa kecewa Kanaya pada sebuah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Kanaya
Kanaya menarik nafas lega saat melihat dapur dan kamar mandi sudah bersih. Dia mulai terbiasa dengan pekerjaan rumah hingga kulit tangannya mulai menebal dan sedikit kasar.
Melihat motor yang masih terparkir di luar rumah. Kanaya pun gegas mencari keberadaan Bara karena itu artinya suaminya tidak berangkat kerja.
Terlihat pria yang punya tinggi badan 183 cm itu tengah bersandar di sofa depan. Kanaya melihat Bara tidak seperti biasa.
Di dekatinya Bara yang masih memejamkan mata. Wajahnya juga terlihat sedikit pucat. Kanaya melihatnya saja merasa cemas.
"Mas..." panggil Kanaya dengan lirih saat duduk disebelah Bara, wanita itu takut mengganggu jika suaminya sudah tertidur.
Bara membuka mata, dia menatap Kanaya dengan penuh selidik.
"Mas Bara sakit?" tanya Kanaya kemudian mengulurkan tangannya ke dahi Bara untuk memeriksa susu tubuhnya.
"Nggak." jawab Bara.
"Tapi suhu tubuh Mas lumayan tinggi dan wajah Bara terlihat pucat." Kanaya sangat cemas dengan kondisi suaminya.
"Mas hanya lelah. Kamu mencemaskan, Mas, he?" tanya Bara dengan tatapan menggoda. Dia tahu keadaan tubuhnya yang kurang fit karena lelah dan luka yang belum diketahui Kanaya.
"Kita ke dokter, yuk!" ajak Kanaya tanpa peduli pertanyaan Bara, sedangkan pria itu malah asyik menatapnya.
"Kita masih punya uang jika hanya untuk ke dokter." lanjut Kanaya membuat Bara tersenyum tipis. Istrinya ternyata dengan cepat menyesuaikan diri dengan keadaan.
Entah alasan apa yang membuat seorang gadis yang tak pernah kekurangan apapun kini memilih hidup serba pas-pasan. Bara sendiri juga tidak menyangka akan menikahi gadis cantik bermata indah itu.
"Pyaaarrr...." obrolan mereka berhenti saat mendengar suara benda pecah di banting dari rumah yang bersebelahan dengan rumah mereka.
"Biasa itu. Sepertinya mereka kembali bertengkar!" sambung Bara kemudian membawa tubuh mungil yang menegang itu dalam pelukannya
"Tetangga kita aneh-aneh ya, Mas. Sebelah kiri rumah kita rumah tangganya bermasalah, depan rumah kita juga genitnya masyaallah, mana janda juga. Yang sebelah kanan ngerinya minta ampun."
"Sebelah kanan rumah kita kan rumah kosong?" sela Bara. Kemudian memperat pelukannya.
kenapa dia merasa nyaman saat memeluk wanita bertubuh mungil itu. Sebenarnya dia ingin mengulang malam panas seperti kemarin, tapi ditahannya karena dia tidak ingin Kanaya tau tentang luka di dadanya.
"Justru karena kosong jadi ngeri." Bara pun tersenyum mendengarnya. Pria itu menatap istrinya sebelum melabuhkan kecupan di puncak kepala sang istri.
"Tapi sebentar lagi mau ditempati sama penghuni baru."
"Dari mana kamu tahu?" tanya Bara yang merasa heran karena Kanaya justru lebih faham lingkungannya beda dengan dirinya yang sangat cuek dan tidak pernah di rumah.
"Kata, Bu Rt." sambut Kanaya.
Mereka terdiam, kadang keduanya tak menyangka jika mereka terikat dalam sebuah hubungan sakral.
Lengan kokoh bara yang masih merengkuh dan memeluk tubuhnya membuat jantung Kanaya berdebar lebih cepat. Dia masih merasa gugup saat berada di dekat Bara.
Kanaya mengambil remot tv, dinyalakan televisi dengan memindah-mindah channel tv.
Tapi justru malah membuat kentara salah tingkah Kanaya di depan Bara.
Kanaya berusaha mengalihkan rasa canggung pada suara berita televisi saat tangan bara Bara menyingkirkan anak rambutnya ke belakang hingga pipi Kanaya yang tengah merona nampak jelas dalam pandangan Bara.
"Geli, Mas." lirih Kanaya saat hidung mancung itu menyentuh ceruknya. Kanaya tak menyangka jika pria cuek dan pendiam begitu agresif.
"Itu Mas Bara, kan?" pekik Kanaya. Hingga Bara menghentikan gerakannya dan menoleh pada siaran televisi diulang-ulang Kanaya.
"Bukan, Nay!" elak Bara yang ikut memperhatikan siaran berita operasi penggerebekan kapal yang memuat narkoba dalam jumlah besar.
"Iya, itu jaket yang di pakai, Mas. Dan celana itu, aku sangat hafal." Kanaya benar-benar shock saat melihat sosok yang tertangkap kamera saat berlari.
Seketika Kanaya menjauhkan diri dari Bara yang menatapnya dengan sorot mata tajamnya.
"Aku yakin itu Mas. Tinggi badannya, dan siapa Mas sebenarnya?" cecar Kanaya dengan wajah pucatnya.
Bara menghela nafas, melihat Kanaya yang mencurigainya.
"Itu bukan aku, Nay! Bukankah jaket dan celana seperti itu banyak. Bahkan, aku pergi tak mengenakan topi dan rambut pria itu tidak gondrong." jelas Bara mencoba meyakinkan Kanaya jika itu bukan dirinya.
Kanaya terdiam kemudian mengambil remot televisi dan mengulang-ulang adegan itu. Meski terlihat samar akan sosok itu, tapi entah kenapa Kanaya yakin jika itu suaminya.
"Lihatlah pria itu dia punya tinggi badan dan bentuk tubuh seperti, Mas Bara. Ayo kita perhatikan lagi, rambut pria itu memang tidak jelas tapi pria itu beranting." balas Kanaya dengan menangis. Rasa hatinya begitu kecewa.
"Aku tidak menuntut lebih dari suamiku. Aku hanya ingin dia bukan kriminal, apalagi mafia pengedar narkoba." Kalimat Kanaya diiringi tangis. Hatinya begitu kecewa, jika itu memang suaminya, karena itu operasi besar dengan jumlah narkoba yang tidak sedikit jumlahnya.
"Tenang, Nay. Sumpah demi Allah demi Tuhanku, aku bukan mafia narkoba." Bara membawa istrinya dalam pelukannya.
Meskipun Kanaya mencoba memberi penolakan. Tapi, Tenaga Bara memang jauh lebih kuat untuk menguasai.
"Aku sudah tidak bermuluk-muluk tentang hidupku, Mas.Tapi, aku juga tidak ingin terlalu buruk menjalani hidupku." Kanaya terus saja menangis hingga tergugu dalam pelukan Bara. Dalam batinnya, dia memang tidak mengharapkan lagi sosok yang perfectionis seperti dulu. Tapi setidaknya janganlah seorang penjahat. Dai hanya ingin menjalani hidup ini dengan sederhana dan tulus.
"Aku mengerti kamu bisa memegang perkataanku!" bujuk Bara kemudian melepas pelukannya dan menatap begitu dalam mata basah istrinya.
Sebenarnya dia tidak tega setiap kali melihat air mata itu menetes dari mata cantik wanitanya. Dia tahu jika Kanaya sudah sangat banyak mengalami kesulitan.
Kanaya menatap Bara yang tengah mengusap air matanya. Ingin sekali dia bertanya 'Siapa kamu sebenarnya, Mas?' karena perasaannya begitu mengganjal akan sosok Baratha.
Tapi, dia tidak punya banyak alibi kuat untuk mengajukan pertanyaan yang mungkin akan memicu perdebatan lagi.
"Tolong kali ini percaya padaku! Jika aku seorang mafia aku pasti sudah punya banyak anak buah!" jelas Bara agar istrinya tidak cemas atau takut dengannya.
Kanaya masih terdiam. Tapi otaknya menalar akan kebenaran ucapan suaminya. Jika, suaminya seorang mafia, tidak mungkin dia hidup sesederhana ini dan pasti akan punya banyak buah atau bertekuk lutut pada sang ketua.
Ah kenapa ini sangat rumit otak dan feeling-nya sedang berperang untuk memecahkan teka-teki ini.
"Aku memang terlihat seperti penjahat, tapi selama ini apa aku pernah menyakiti orang lain?" tanya Bara.
"Maaf, Mas. Bukan aku menuduh Mas Bara."
"Aku mengerti, sayang. Mungkin karena penampilanku, kan?" sela Bara membuat Kanaya serba salah.
"Maukah menemaniku istirahat di kamar?" tanya Bara menunggu jawaban istrinya. Pria itu memang telihat kaku dan keras. Tapi dia buka tipe orang pemaksa.
Kanaya menggangguk hingga Bara tersenyum dan beranjak dari duduknya.
"Nanti malam kita akan berkunjung ke tempat Papa!" kalimat Bara yang baru saja itu seperti hadiah untuk Kanaya.
"Benarkah, Mas?"tanya Kanya untuk meyakinkan. Dan dijawab oleh Bara dengan anggukan.