Irene, sosok gadis biasa yang begitu mencintai teman satu sekolahnya yang bernama White. Bagi Irene, White adalah cinta pertamanya. Rumah kedua baginya, namun nyatanya rumah kedua yang dianggapnya dapat membuat hidupnya lebih baik, nyatanya sama seperti rumah pertamanya.
Irene selalu rindu akan rumahnya yang dulu pernah ia rasakan dengan begitu nyaman dan tentram. Namun akankah ia bisa kembali merasakan dan melepaskan rasa rindunya pada rumah yang diimpikannya selama ini? Ataukah, ia tidak akan selamanya dapat melepas kerinduannya pada rumah impiannya itu.
“Aku rindu rumah yang tentram dan damai. Tapi, apakah aku masih bisa merasakan rumah seperti itu? Rumah yang hanya ada di dalam mimpiku,” -Irene Sachiara-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Citra
Citra berdecak kesal, lalu tak lama ia tersenyum sinis pada Nancy. Citra melipat kedua tangannya di depan dada.
“Gue juga berhak ikut campur karena loe sudah melukai sahabat gue, Irene. Apapun dan siapapun yang sudah melukai sahabat gue, maka gue jamin kehidupan orang itu nggak akan pernah tenang selama gue masih hidup!”
“Kalian jangan hanya bisa menyudutkan Nancy saja. Ini juga salah gue,” sahut Dirga yang kini sudah memakai celana boxernya.
Semuanya pun menoleh mendengar ungkapan Dirga. Dirga menatap satu persatu temannya yang sudah ia khianati.
“Sebelumnya gue minta maaf sama loe, White. Karena gue dan Nancy sudah khianati loe dengan cara seperti ini. Gue tahu mungkin kata maaf nggak akan bisa merubah semuanya. Tapi, yang perlu loe harus tahu. Kalau gue dan Nancy saling mencintai dan juga saling membutuhkan,” ungkap Dirga.
White tidak menyangka kalau Dirga akan berkata seperti itu. White tertawa seraya mengejek Dirga dari tatapannya itu. Begitupun juga dengan Citra, bahkan gadis itu rasanya ingin sekali memaki dan memukul wajah Dirga. Namun Citra masih tahu batasannya, urusannya hanya dengan Nancy. Karena ini menyangkut soal Irene.
White berjalan menghampiri Dirga, dan saat itu juga Pasha sudah bersiap untuk mencegah kebrutalan White. Walau ia tahu nantinya akan sulit mencegah White saat emosi pria itu sudah membara.
White menatap tajam Dirga. Lalu ia tersenyum menyeringai.
“Loe mau dia kan? Gue kasih dia ke loe mulai saat ini juga, karena gue juga sudah jijik sama dia. Loe tahu selera gue kan? Gue suka dengan wanita yang masih orisinil, dan bukan wanita bekas seperti dia.” White menunjuk ke arah Nancy.
Tentu saja itu membuat hati Nancy merasakan sakit atas ucapan dan penolakan White untuknya. Dirga mengepalkan kedua tangannya.
“Nggak usah loe menghina Nancy! Biar bagaimanapun juga dia wanita yang gue cintai,” sahut Dirga yang sedang menahan rasa kesalnya.
White tertawa seraya bertepuk tangan pelan. “Wah, loe dengar itu Nancy?” White menoleh sekilas ke arah Nancy dan kembali berbalik menatap Dirga.
Nancy yang juga mendengarnya pun menatap nanar ke arah Dirga. “Dirga,” gumam Nancy.
“Gue nggak tahu dan nggak mau tahu sejak kapan loe berdua menjalin hubungan di belakang gue. Tapi, yang perlu loe berdua tahu,” White menunjuk Dirga dan Nancy bergantian.
“Gue nggak akan pernah maafin atas apa yang udah loe berdua lakuin ke gue. Memang gue cukup sakit hati atas semua perlakuan kalian berdua. Loe, udah nusuk gue dari belakang. Padahal loe udah gue anggap sahabat sekaligus saudara gue. Tapi, malah ini yang gue terima dari loe. Teman macam apa loe, hah!” bentak White seraya mendorong tubuh Dirga.
Membuat Pasha langsung pasang badan menghadang White untuk bertindak berlebih.
“Ingat ini baik-baik, sampai kapanpun gue nggak akan pernah maafin loe berdua, ingat itu!” ucap White lagi seakan itu adalah sebuah peringatan yang sangat mutlak.
White sedikit mendorong kasar tubuh Pasha, lalu ia pergi meninggalkan kamar apartemen Nancy dengan perasaan kesal, dan marahnya.
Melihat White sudah bergegas pergi, membuat Venus dan yang lainnya ikut pergi begitu saja meninggalkan Nancy dan Dirga yang masih berada di kamar tersebut. Namun tidak dengan Citra, ia masih menatap sinis pada Nancy yang masih menangis meratapi nasibnya.
“Urusan loe sama gue belum selesai, Nancy.” ucap Citra.
Nancy mendongakkan kepalanya dan menatap bingung pada Citra. Dirga tersadar kalau Citra masih ada di dalam kamar itu. Pria itu pun berdiri mendekat ke arah Citra.
“Citra,” panggil Dirga pada Citra.
“Diam, Ga!” Citra mengangkat satu tangannya di hadapan Dirga.
Citra menatap Dirga dengan perasaan begitu kecewa. “Gue mohon sama loe untuk diam dulu, Ga. Gue udah cukup kecewa banget sama loe. Jadi gue mohon loe diam, karena ini urusan gue sama dia,” Citra berkata sambil menunjuk Nancy.
Citra pun menatap ke arah Nancy, yang juga sedang menatap Citra. Sementara Dirga tahu, kalau Citra sudah sangat kecewa sama dirinya. Bagaimana tidak, Dirga tahu kalau Citra diam-diam mencintainya. Namun karena rasa cinta Dirga pada Nancy, membuat Dirga menutup hatinya untuk Citra.
Citra mengeluarkan ponselnya, dan memutar sebuah video tentang pembulian yang dilakukan oleh Nancy pada Irene.
“Loe lihat ini! Ini adalah video dimana loe sedang melakukan pembulian pada Irene,” ujar Citra seraya menunjukkan sebuah video.
Nancy dibuat terkejut saat melihat video itu, ia ingat saat pembulian itu dilakukan di belakang sekolah. Saat itu Nancy dan teman-temannya memang sengaja menunggu Irene keluar sekolah dan membawanya ke belakang gedung sekolah. Disanalah ia melakukan kekerasan pada Irene. Dirga juga tak kalah terkejutnya, ia pun menatap Nancy dengan tatapan penuh tanya.
“Nancy, kenapa kamu melakukan itu?” tanya Dirga.
Nancy bergeming, ia kembali menundukkan kepalanya sambil meremas sprei yang menutupi tubuhnya.
“Dia nggak akan bisa menjawab pertanyaan loe, Ga. Karena dia juga masih bingung, siapa yang merekam video ini. Padahal dia sudah yakin kalau tidak ada seorangpun disana,” Citra terkekeh mengejek Nancy.
Ya, saat tadi Nathan mengirim video itu. Nathan memberitahukan semuanya, kalau dia merekamnya dengan sangat hati-hati dan tidak ada yang menyadari keberadaan Nathan.
“Loe mau tahu siapa yang merekam video ini?” tanya Citra.
“Nathan,” sambung Citra.
Nancy dan Dirga kembali terkejut mendengarnya. Terlebih Nancy, ia benar-benar tidak menyangka kalau Nathan akan merekam aksinya itu. Citra tertawa miris, dengan susah payah gadis itu menahan rasa sakit hatinya pada Dirga dan juga Nancy.
“Terus apa yang loe inginkan, Cit?” tanya Dirga yang nampaknya masih ingin membela dan melindungi Nancy.
Citra tersenyum miris dan menatap kecewa pada Dirga. “Setidaknya dia minta maaf sama Irene, atas apa yang sudah dilakukannya selama ini terhadap sahabat gue itu. Tapi, jika dia nggak mau. Nggak masalah sih, gue akan jamin video ini akan viral di media sosial,” jawab Citra seraya mengancam.
Mendengar itu Nancy langsung menggelengkan kepalanya. Dirga kembali mendekat dan memegang tangan Citra. “Cit, gue mohon jangan sebar video itu. Gue akan jamin, Nancy datang kerumah Irene dan minta maaf padanya.” Dirga berujar memohon pada Citra.
Citra tersenyum sinis, dan dengan kasar menghempaskan tangannya yang dipegang Dirga.
“Gue mau besok loe datang ke rumah Irene. Nanti gue kasih tahu alamat rumahnya,” ucap Citra.
Dirga dapat bernafas lega, ia pun tersenyum pada Citra. “Terima kasih, Cit. Loe bisa pegang janji gue ini. Besok gue sama Nancy akan datang ke rumah Irene,” jawab Dirga.
Citra masih mengamati dalam-dalam mata Dirga, ia kembali sangat kecewa karena ternyata wanita yang dicintai Dirga adalah Nancy. Citra tersenyum miris dan menganggukkan kepala pelan.
“Loe cinta banget sama dia, ya?” Citra bertanya dan menunjuk ke arah Nancy.
Nancy menatap bingung pada Citra dan Dirga. Saat itu juga Nancy dapat melihat tatapan kecewa teramat dalam dari Citra. Tambah lagi mata Citra sudah mulai berkaca-kaca.
“Cit…”
Citra kembali mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Dirga diam.
“Gue tahu jawabannya, Ga.” lirih Citra.
“Maafin gue yang sudah berani jatuh cinta sama loe, Ga. Selamat karena akhirnya loe mendapatkan wanita yang sangat loe cintai. Gue harap setelah ini hubungan kalian baik-baik saja dan loe hidup bahagia dengan wanita yang loe cintai,” ungkap Citra dengan air mata yang sudah luruh membasahi pipinya.
Nancy tercengang mendengar ungkapan yang baru saja keluar dari bibir Citra. Sementara Dirga merasakan hatinya begitu nyeri mendengarnya. Tambah lagi, ia melihat Citra yang menangis di depannya. Ini pertama kali Dirga dan Nancy melihat sosok Citra yang mereka kenal tegar dan garang, kini terlihat rapuh.
Citra mengusap air matanya dengan kasar. “Gue pamit, dan sekali lagi selamat atas hubungan kalian berdua!” dengan cepat Citra berlalu meninggalkan Dirga dan Nancy.
Dirga mengerjapkan matanya, tubuh pria itu pun luruh kebawah dan ia pun duduk bersandar pada dinding. Menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar. Nancy pun menghampiri Dirga dan memeluk tubuh pria itu.
“Maafkan aku, Ga!” lirih Nancy.
Dirga tersadar dan menatap Nancy, lalu ia pun membalas pelukan wanita itu.
“Maafkan aku juga,” jawab Dirga.
Keduanya pun menangis bersama, meratapi kesalahan atas perbuatan mereka.
“Jangan tinggalkan aku, Ga!” mohon Nancy yang masih sesegukan di dalam pelukan Dirga.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, aku sudah mengatakan itu padamu berkali-kali kan?” Nancy mengangguk mendengar jawaban Dirga.
Citra masih terisak sambil memukul dadanya yang terasa sesak. Citra sudah tidak sanggup lagi menahan tangisnya, gadis itu menangis di depan lift. Sampai pintu lift terbuka dan menampilkan Pasha yang kembali menjemputnya.
Pria itu kembali ke lantai 10 saat menyadari kalau Citra tidak ikut keluar dari apartemen Nancy. Pasha terkejut saat melihat Citra yang sedang duduk bersimpuh sambil menangis.
“Citra, loe kenapa?” denan sangat khawatir Pasha langsung merengkuh tubuh Citra.
“Cit, kenapa lo nangis? Apa yang Dirga dan Nancy lakuin sama loe?” Pasha kembali bertanya sambil memperhatikan tubuh Citra.
Pasha takut terjadi sesuatu pada Citra, ia takut Nancy atau Dirga melakukan kekerasan pada Citra. Karena tidak terima atas apa yang dilakukan oleh mereka tadi.
Pasha menangkup wajah Citra, saat melihat wajah Citra yang sudah berantakan, Pasha memberanikan diri mengusap air mata gadis itu dan merapikan sedikit rambut Citra.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Pasha yang kesekian kalinya
Bukannya menjawab pertanyaan Pasha, Citra malah semakin terisak dan membuat Pasha sedikit panik. Dengan cepat Pasha membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
“Ssstt, sudah ya! Jangan menangis lagi ada gue disini,” bisik Pasha seraya mengusap punggung Citra dengan lembut.
Cukup lama Citra menangis dalam dekapan Pasha. Hingga akhirnya gadis itu merasa cukup tenang, namun masih terdengar sesegukan pelan dari bibir Citra.
“Kenapa jadi begini, Sha? Kenapa rasanya sakit banget?” perlahan Citra mulai bersuara.
Walau pelan dan lirih, Pasha masih dapat mendengar apa yang dikatakan Citra. Pasha masih diam dan ingin mendengarkan semua keluhan dari Citra. Ia juga ingin tahu apa yang menyebabkan Citra yang dikenalnya sebagai wanita tangguh dan kuat kini berubah rapuh.
“Cinta bertepuk sebelah tangan itu rasanya sakit banget ya, Sha. Akhirnya gue ngerasain apa yang Irene rasakan dulu,”
Pasha masih mencerna apa yang diucapkan Citra. Ia masih berusaha berpikir siapa yang membuat Citra menjadi seperti ini.
“Apa salah jika gue suka dan cinta sama Dirga, Sha? Dia tahu kalau gue mencintainya sudah dua tahun terakhir ini. Tapi dia malah mencintai wanita lain. Sakit banget rasanya, Sha!”
Pasha tercengang mendengar ungkapan yang dituturkan oleh Citra. Ia tidak tahu kalau Citra mencintai Dirga, dan itu sudah lumayan lama. Padahal selama ini Pasha tidak pernah melihat gerak gerik mencurigakan dari Citra. Sebuah fakta yang baru Pasha tahu tentang sosok Citra. Gadis itu mampu menutupi perasaannya, dan lukanya seorang diri.
Pasha mengeratkan kembali pelukannya. Entah kenapa rasanya begitu sakit melihat Citra menangis seperti itu.