JUARA 1 Event Sweet Marriage
Rania, gadis tomboi yang memiliki saudari kembar terpaksa menikahi kakak iparnya sendiri karena wasiat terakhir dari kakak kembarnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Evan Anthony. Kakak ipar super jutek dan menyebalkan adalah pria yang akan menjadi suami Rania. Lantas, mampukah Rania bertahan dalam kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dicintainya?
"Aku menikahimu hanya karena wasiat istriku, tidak lebih! Jadi, jangan berharap aku akan menyentuhmu dan menganggapmu sebagai seorang istri!" (Evan Anthony)
"Aku tidak pernah bermimpi untuk disentuh oleh pria sepertimu. Jadi, tidak perlu khawatir! Aku tidak akan mengganggumu!" (Rania Tyas Permata)
Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apa jadinya jika tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terserah!
Farel terdiam sejenak. Ia masih berusaha untuk mengontrol ucapannya agar tidak keceplosan lagi. Evan merasa jika sang kakak diam. Ia pun bertanya dan membuat Farel terkejut. "Halo, Mas! Kamu masih hidup, kan?" ucapan Evan yang sontak membuat semuanya melongo. Junior, Rania dan juga mama Rose.
"Om Farel meninggal, Pa?" tanya sang bocah sambil menghampiri Evan yang masih memegang gagang telepon.
"Oh engga! Siapa yang bilang om Farel meninggal?" sahut Evan.
"Lah tadi Papa bilangnya gitu!" ucap Junior bingung.
"Oh engga Papa cuma bercyanda. Om Farel masih ada kok, masih hidup dan masih bernafas!" jelas Evan kepada putranya. Farel pun mendengar suara sang adiknya yang sedang berbicara dengan keponakannya. Farel tertawa kecil dan tiba-tiba saja sang istri memanggilnya. Lisa, adalah istri Farel. Wanita yang berwajah cantik dan sangat anggun itu adalah putri seorang pengusaha kaya. Farel sangat mencintai istrinya namun sayangnya mereka belum dikaruniai anak setelah 5 tahun menikah.
Lisa memanggil-manggil sang suami karena ia tidak bisa menutup resleting bajunya.
"Mas! Tolong bantuin aku dong! Susah nih nutupnya!" teriak Lisa dari kamarnya. Farel mendengar suara sang istri dan segera pamit kepada sang adik.
"Halo, Van! Sorry mas tutup dulu. Nanti kita sambung lagi oke, assalamualaikum!" seru Farel yang langsung menutup teleponnya dan ia pun segera menghampiri sang istri yang sedang minta tolong.
"Waalaikum salam!" jawab Evan dan ia pun menutup teleponnya. Setelah itu sang mama mendekati Evan dan bertanya. "Eh masmu kenapa?" tanya mama Rose yang juga penasaran. Bukan hanya mama Rose dan Junior yang penasaran. Bahkan Rania pun juga ikut penasaran. Kenapa tiba-tiba suaminya bicara seperti itu.
"Iya, Sayang! Mas Farel kenapa?" tanya sang istri yang seketika membuat Evan sedikit kesal.
"Nggak apa-apa kok, Ma. Kenapa sih semuanya pada panik? Kamu juga, ngapain kamu tanya-tanya tentang mas Farel?" tanya Evan sambil menatap wajah sang istri dengan serius.
"Ya nggak gitu, Sayang. Soalnya kaget aja tadi kan kamu bilang mas Farel masih hidup apa enggak. Kita kan jadi takut. Bukan cuma aku aja loh yang khawatir, mama dan Junior juga khawatir," jawab Rania sambil menunjuk ke arah Junior dan mama Rose.
"Betul Van, istrimu benar. Kamu tuh jangan nakut-nakutin kita dong!" sambung mama Rose.
Evan yang rupanya sedang dibumbui rasa cemburu. Ia pun berkata. "Hah sudah! Mas Farel nggak apa-apa. Orang kita cuma bercanda kok. Serius amat!"
"Jangan salah faham dulu dong, Sayang! Wajarlah kita takut karena ...." belum sampai Rania menyelesaikan kata-katanya Evan sudah memotong pembicaraannya terlebih dahulu.
"Takut! Kamu takut mas Farel mati beneran gitu? Tapi apa kamu nggak takut kalau hati suamimu yang mati!" ucapan dingin Evan seketika membuat Rania terkejut. Setelah mengatakan hal itu, Evan segera pergi ke kamarnya.
"Dia kenapa sih! Dibilangin gitu aja marah! Astaghfirullah, apa jangan-jangan dia sudah tahu jika mas Farel dulu ... oh ya Allah! Kenapa aku baru sadar!" pikir Rania yang akhirnya baru menyadari kenapa suaminya marah.
Junior yang melihat sang papa yang sedang memarahi mamanya, bocah itu tampak mendekati Rania dan menghiburnya. "Mama jangan sedih ya! Papa Junior emang gitu! Suka marah-marah nggak jelas! Emang gaje tuh si Papa!" ucap Junior sambil merangkul sang mama.
"Mama nggak sedih kok! Mama udah biasa digituin sama papa. Entar juga papamu sendiri yang nyariin mama dan minta maaf!" jawab Rania sambil membatin. "Hmm mau nyuekin aku ya! Nggak masalah, kita lihat siapa nanti yang bisa tahan dicuekin. Rania dilawan!"
Sementara itu di dalam kamar. Evan yang baru tahu jika sang kakak pernah menyukai istrinya. Ia pun terlihat cemburu. Meskipun itu sudah lama berlalu karena yang ia tahu jika Farel pernah berkirim surat kepada Rania.
"Ternyata diam-diam mas Farel naksir Rania. Kenapa aku bisa sakit hati ya! Itu kan cuma masa lalu mereka. Toh Rania juga tidak membalasnya. Lagipula Rania nggak mungkin suka dengan mas Farel." gumam Evan sambil duduk di tempat tidurnya.
Tak berselang lama, Rania masuk ke dalam kamar. Melihat sang istri datang, Farel pura-pura tidur dan tidak menghiraukan kedatangan sang istri. Rania cuma tersenyum dan ia pun balik bersikap cuek kepada suaminya.
Evan menunggu saat-saat sang istri merayu dirinya yang merasa sedang merajuk. Namun, apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan ekspektasi. Rania justru ikut tidur dan seolah-olah istrinya tidak menghiraukan dirinya.
"Kok dia nggak ngerayu aku sih!" batin Evan yang tidur dengan membelakangi sang istri. Rania pun masih santai, ia pun juga menunggu suaminya untuk mendekati dirinya. Karena ia tahu betul jika suaminya tidak bisa untuk dijauhi terlalu lama.
Awalnya mereka saling diam. Dua-duanya tidak bisa memejamkan matanya gara-gara masalah sepele itu. Untuk sejenak, Rania berusaha untuk mengalah dengan berbasa-basi bertanya kepada sang suami.
"Emm Sayang! Besok kamu mau dimasakin apa?" tanya Rania yang hanya melihat punggung suaminya saja. Seakan dirinya sedang berbicara dengan punggung laki-laki itu.
Namun, tak ada jawaban dari Evan. Ia tidak menjawabnya meskipun ia mendengar pertanyaan istrinya. "Ya Allah! Kenapa aku bisa secemburu ini. Apa karena aku terlalu mencintai istriku! Tapi beneran sakit banget kalau ada laki-laki lain yang menaruh hati kepada istriku, meskipun itu saudaraku sendiri, egois sekali aku!"
Sekali lagi Rania bertanya kepada Evan dan berharap pria itu segera menjawabnya. "Sayang, aku tuh tanya sama kamu! Besok kamu mau aku masakin apa?" tanya Rania sedikit kencang di telinga sang suami.
"Terserah!" jawaban Evan pun akhirnya terdengar di telinga Rania. Ia pun menghela nafas panjang dan akhirnya ia mengambil langkah terakhir.
"Hmm oke, terserah ya katamu! Besok aku masak air aja. Besok aku mau puasa!" sahut Rania sembari membuka pakaiannya tanpa terkecuali. Evan masih tidak menjawabnya. Gengsinya sungguh terlalu besar, dia ingin Rania benar-benar merayunya.
Bukan Rania jika ia tidak bisa meluluhkan hati sang suami. Setelah ia melepaskan pakaiannya termasuk pakaian dalamnya. Ia pun membuang semua pakaiannya di bawah tempat tidur sang suami. Evan melihat dengan jelas apa yang dilemparkan oleh sang istri.
Seketika benda yang tergeletak itu membuat Evan melototkan matanya. "Shiiit! Dia melepaskan semuanya, bra dan itunya juga. Astaghfirullah ini godaan terbesar dan terberat. Gimana aku bisa marah kalau seperti ini!"
Setelah Rania sengaja membuang pakaiannya agar dilihat oleh sang suami. Ia pun menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan tidur dengan membelakangi sang suami. Rania tampak berhitung mundur dari sepuluh. Karena ia sangat yakin jika suaminya sebentar lagi akan mendekati dirinya.
Evan yang tiba-tiba meriang, ia pun perlahan membalikkan badannya ke arah sang istri. Benar saja, Evan melihat sang istri yang sedang tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Karena penasaran, Evan membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh Rania.
"MasyaAllah, ini tidak boleh disia-siakan!" gumam Evan sambil perlahan mendekati tubuh sang istri.
"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, emmmppppppaaattt ...!" belum selesai Rania menghitung sampai ke angka satu. Dirinya sudah merasakan sang suami yang sudah mengecup punggungnya dengan mesra.
BERSAMBUNG