Ini hanya cerita fiksi belaka.
Demi mendapatkan harta kekayaan, Bisma rela melakukan jalan pintas. Dia berkata kepada istrinya akan pergi untuk merantau ke kota, dia akan mengadu nasib di kota.
Namun, ternyata Bisma pergi menuju gunung larangan. Hal itu dia lakukan untuk mencari kekayaan, agar hidupnya tak lagi dalam kemiskinan dan jadi hinaaan.
Akankah dia bahagia dengan kekayaan yang dia capai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam ini Surti terlihat begitu bahagia sekali, karena dirinya dan juga kedua putranya diajak untuk makan di sebuah tempat yang menurutnya sangat nyaman dengan makanannya yang dirasa begitu cocok dengan lidahnya.
Bukan di sebuah restoran yang mewah, tetapi di sebuah warung lesehan yang ada di pinggir jalan. Wanita itu dan kedua putranya nampak makan dengan begitu lahap, Bisma sampai tersenyum kecut dibuatnya.
Bisma mencari uang yang banyak sampai mengorbankan nyawa, tetapi istri dan kedua putranya tetap mencintai kesederhanaan.
"Bagas kenyang, Pak. Makanannya enak," ujar Bagas seraya mengelap bibirnya yang berminyak.
"Bagus udah kenyang, tapi masih pengen pergi ke kedai es krim."
"Tapi ini sudah malam, kalau kalian mau es krim, kalian boleh minta izin terlebih dahulu sama Emak," ujar Bisma.
Bagas dan juga Bagus langsung menghampiri Surti, lalu keduanya nampak menarik-narik tangan Surti dengan lembut.
"Bagas sama Bagus boleh makan es krim, ngga?" tanya Bagas.
Awalnya Surti tidak ingin mengizinkan, karena hari sudah malam. Takutnya kedua putranya akan pilek, tetapi melihat wajah keduanya yang nampak memelas, Surti tidak tega.
"Boleh, tapi hanya boleh sedikit saja," jawab Surti.
"Yes!" sorak keduanya dengan gembira.
Pada akhirnya setelah mereka selesai makan, Bisma langsung mengajak istri dan kedua putranya untuk pergi ke swalayan.
Bisma membebaskan mereka bertiga untuk mengambil makanan apa pun yang diinginkan, sedangkan untuk es krim hanya boleh mengambil satu saja.
Bisma juga membebaskan Surti untuk belanja apa pun, tentunya dia mengambil semua yang dia inginkan. Bukan untuk keperluan dirinya semata, tetapi Surti membeli banyak bahan makanan untuk dimasak.
Setelah itu mereka pulang karena sudah begitu kenyang dan juga sangat kecapean, Bisma tersenyum puas melihat kebahagiaan di wajah istri dan juga kedua putranya.
"Tidurlah dengan nyenyak, jangan lupa sebelum tidur kalian harus cuci tangan, cuci kaki, terus gosok gigi."
"Iya, Pak. Terima kasih untuk malam ini, Bagas senang."
"Bagus juga bahagia," ujar Bagus.
Kedua putra tampan Bisma itu memeluk Bisma dengan penuh kasih sayang, setelah itu mereka berlari menuju kamar mandi melakukan hal yang ditugaskan oleh ayahnya.
"Ayo kita ke kamar, Mas. Adek cape," ujar Surti memeluk lengan Bisma.
"Ya, Sayang." Bisma mengusap puncak kepala istrinya dan mengajak Surti untuk masuk ke dalam kamar utama.
Surti yang begitu kelelahan nampak mencuci mukanya, mengganti bajunya dengan pakaian tidur dan segera merebahkan tubuhnya.
Bisma memperhatikan wajah istrinya, setelah dipastikan istrinya itu tertidur dengan begitu pulas, barulah Bisma meninggalkan kamar utama dengan melangkahkan kakinya secara perlahan menuju kamarnya dengan Kanjeng Ratu.
"Hoek! Bau sekali," ujar Bisma setelah dia membuka pintu kamar tersebut.
Bau amis dirasa sangat menyengat, tempat tidur yang dulu sering dia pakai untuk bercinta dengan Kanjeng Ratu itu nampak berlendir dan menghasilkan aroma bau yang menyengat.
"Ya Tuhan! Bau sekali, aku harus merapikannya seperti apa?" tanya Bisma dengan bingung.
Rasanya untuk mendekat ke arah tempat tidur saja dia tidak sanggup, karena kini kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa diaduk-aduk.
"Kamu tuh terlalu sibuk dengan mainan baru kamu, sampai-sampai kamu lupa untuk menaburkan kembang 7 rupa pada calon bayi kita. Kamu juga lupa membakar kemenyan," ujar Kanjeng Ratu yang tiba-tiba saja datang.
Bisma sampai terlonjak kaget, karena kedatangan Kanjeng Ratu sangat tiba-tiba. Bahkan, Kanjeng Ratu tanpa ragu langsung bergelayut manja di lengannya. Bisma sangat kaget.
"Maaf, jadi... apa aku harus menabur bunga kembang 7 rupa itu setiap hari? Aku harus bakar kemenyannya setiap hari?" tanya Bisma.
"Ya! Kamu harus menaburkan bunga kembang 7 rupa setiap pagi, setiap malamnya kamu juga harus membakar kemenyan agar calon buah hati kita nanti memberikan harta yang banyak untuk kamu."
"Memberikan harta?" tanya Bisma dengan kaget.
"Ya, mereka bisa memberikan harta yang banyak kepada kamu setelah mereka lahir dan diberikan tumbal."
"Ah, iya. Tumbal," ujar Bisma yang langsung merasa gugup di saat Kanjeng Ratu membahas masalah tumbal.
Dia memang sudah menemukan Shela untuk dia jadikan sebagai wanita yang akan mengandung benihnya, tetapi dia juga merasa was-was jika wanita itu takutnya tidak bisa segera hamil. Karena jika Shela susah hamil, hal itu bisa berbahaya untuk keselamatan kedua putranya.
"Hem! Sekarang pergilah dan beli kemenyan yang banyak, beli juga bunga 7 rupa agar ruangan ini tidak bau. Cepat sana!" ujar Kanjeng Ratu.
"I--iya," jawab Bisma dengan takut dan juga gugup.
Berhadapan dengan wanita yang sudah memberikan dia kekayaan itu selalu saja membuat dia merasa takut, takut karena dirinya harus melakukan hal yang di luar nalar.
Jika Bisma tidak bisa melakukan hal-hal yang diminta oleh Kanjeng Ratu, tentu saja konsekuensinya dia harus kehilangan nyawa orang-orang yang dia kasihi.