karya ini terdapat alur maju mundur ya, baca beberapa bab baru baru bisa mengerti jalan ceritanya.😁
Garina Jelita, gadis malang yang telah disia siakan selama 10 tahun, ia berada dititik terendahnya saat suami yang ia percaya mampu melindunginya justru mengusirnya dari kehidupannya.
percayalah penyesalan akan selalu ada bagi mereka yang berbuat kesalahan, namun waktu belum tentu memberi kesempatan bagi mereka untuk menebusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deodoran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Garina begitu takjub dengan hunian pribadi Byan, ia fikir Apartemen yang ia tinggali adalah yang paling mewah di Jakarta, ternyata Penthouse Byan jauh lebih mewah dan luas. Bahkan di balkonnya saja terdapat satu set sofa persis seperti ruang untuk menerima tamu, marmer coklat muda mengkilat dengan tanaman hidup berharga ratusan juta disetiap sudut ruangan.
Hunian Byan juga dilengkapi furniture mewah lainnya.
Garina menatap Byan yang menyiapkan minuman kaleng non alkohol dari balik meja barnya.
Pria 15 tahun yang ia kenal dulu, kini sudah menjelma menjadi salah satu pemuda sukses di Indonesia. Terang saja karena ia adalah Tuan muda kedua Keluarga Ganendra. Jadi wajar Byan bisa memiliki semua ini.
ini semakin membuat Garina merasa jika memang Byan bukanlah orang sembarang. Kesalahan terbesarnya dulu adalah terbuai dengan Sagara. Garina lupa mereka memang tidak akan pernah pantas untuk bersanding. Namun saat itu ia masih 17 tahun fikirannya tak pernah sampai kesana.
Kini Garina bersyukur karena Byan tak melupakan dirinya dan juga El.
"Minum Garina" Byan menyodorkan sekaleng cola plus sedotan dihadapan Garina, namun Garina lebih tertarik dengan jejeran botol minuman beralkohol dibar Byan.
"Beberapa diantaranya adalah hadiah dari para kolegaku, aku jarang mengkonsumsinya, bahkan lupa kapan terakhir kali meminumnya. ini adalah spot favorit Erick ketika berkunjung ke Apartemenku" Jelas Byan, Erick memang peminum yang handal sedangkan dirinya lebih menyukai minuman bersoda.
"Kau benar benar Byan yang sudah dewasa dan sukses" ujar Garina sambil meyeruput minumannya pelan, "Setelah menikah dan memiliki anak nanti aku yakin hidupmu akan semakin sempurna, aku akan mendoakan yang terbaik untukmu" Lanjut Garina dengan senyuman yang sangat tulus. Dan Byan bisa melihat itu. Garina benar benar berharap hidupnya sesempurna itu tanpa ada perasaan takut kehilangan diwajahnya, memang Garina tak pernah punya perasaan apapun selain rasa sayang sebagai, seorang sahabat.
Byan menghirup udara lalu mengembuskannya dengan pelan, ia seakan tak bisa menerima Garina tidak melihatnya sebagai pria padahal apa kurangnya ia sekarang? Harta , tahta dan ketampanan semua ia miliki.
"Garina, Arif dimatamu seperti apa?" Tanya Byan.
"Mas Arif" Gumam Garina, tatapannya seketika berubah teduh, "Dia pria yang sangat banyak memendam luka, sama seperti diriku Byan. Mas Arif adalah ayah, kakak, dan perawat bagiku, dia segala galanya bagi kami. Disaat ia bergelut dengan segala kesakitannya ia malah mencoba membalut luka ku yang masih sangat perih. Aku tidak memiliki apapun saat ia memungutku dan El, aku tidak memiliki apa apa untuk membalasnya namun ia masih merawat kami dengan sepenuh hati tanpa pamrih. Kasih sayangnya pada El begitu tulus dan ikhlas meski rumah tangga kami hanya sebatas tercatat diatas kertas. Untuk itu aku bersumpah Sampai kapanpun El hanya akan mengenal Mas Arif sebagai Ayahnya. Karena hanya itu yang bisa kulakukan untuknya" Nada bicara Garina terdengar begitu tegas diakhir kalimat.
Byan paham apa yang dirasakan Garina untuk Arif, bukan hanya Arif, namun Dimata Garinapun tak ada cinta yang tersirat disana, selain rasa hormat yang begitu tinggi.
Byan menelan ludah, Garina terdengar seperti menegaskan jika ia akan berakhir sebagia istri Arif hingga akhir.
Betulkah yang dikatan Arif jika Garina sebenarnya sudah membangun benteng yang begitu kokoh dihatinya?
Dua orang yang memendam luka itu ternyata begitu menakutkan.
Masihkan ia memiliki kesempatan?
"Garina, boleh aku meminta sesuatu?" sorot Netra Byan yang Sendu memindai wajah cantik Garina.
"Hemm"
"Bisakah kau memasak untukku? Aku merindukan masakan rumah" entah itu permintaan bodoh dari mana, namun Byan ingin memakan masakan Garina untuk menghibur hatinya.
.
.
.
"cairannyanya sudah dilepas Tuan?" heran Jhon melihat punggung tangan Sagara yang diplester.
"Hemm, aku menyuruh perawat melepasnya, itu menghalangi pergerakanku" Sagara tak menoleh kearah Jhon. Tatapan datarnya mengarah ke luar jendela kaca yang ukurannya begitu besar.
Tak ada asa yang tergambar di kedua manik coklat pria berusia 35 tahun itu. Sagara berada pada tingkatan mati segan hidup tak mau.
"Kau sudah mengurus semua kepulanganku?" tanya Sagara.
"Sudah Tuan" timpal Jhon, sebelum ke Rumah Sakit bodyguard yang menjaga Saga memang menyampaikan jika orang nomor 1 di Ganendra grup itu ingin segera keluar dari rumah sakit. Selain itu Sagara juga meminta Jhon untuk membawa sekotak coklat dan sebuah mobil remote control. Satu permintaan yang menurut Jhon Aneh namun ia hanya bisa menurutinya tanpa bertanya.
"Oh iya Tuan, ini permintaan Anda" Jhon menyerahkan coklat dan mainan yang sudah dibungkus dengan kertas kado berwarna merah, tentu itu juga atas permintaan Sagara.
"Seorang perawat menolongku, aku ingin menjenguk anaknya yang juga dirawat disini"
"Namanya El Fatih, cari informasi diruangan mana ia dirawat!"titah Sagara. Dan tak perlu waktu lama Jhon sudah mengantongi informasi itu. Kini mereka berdua menuju kelantai yang terletak satu tingkat dibawah.
Sebuah ruangan VIP yang setara dengan kamar yang juga digunakan Sagara.
"Selamat sore" Sapa Jhon setelah mengetuk dan melihat seorang Pria yang nampak sebaya dengannya membuka pintu.
"Sore" pria yang tak lain adalah Arif itu menjawab sapaan Jhon. Dan langsung melempar senyum ramah kearah Sagara. ia ingat pria itu adalah pasien yang bermasalah dengan cairannya di rooftop pagi tadi.
"Pak, saya ingin menjenguk anak anda sebagai ungkapan terima kasih" ujar Sagara.
"Oh Silahkan" Arif mempersilahkan.
"Om Saga!" Seru El dengan tatapan berbinar.
Sagara mengambil kotak hadiah dari tangan Jhon dan menyerahkannya kepada El.
Sedangkan Atensi Jhon malah teralihkan kepada Arif. Ia merasa sangat mengenal wajah pria dihadapannya, dan setelah lama berfikir Jhon akhirnya mengingat sesuatu. pria itu adalah salah dari 4 potret perawat pria yang 10 tahun lalu dimutasi dari Rumah sakit Jiwa tempat Garina dirawat.
Ini kebetulan yang sangat baik! Pikir Jhon, meski belum tentu pria ini namun Jhon Yakin sedikit banyaknya Arif bisa memberikan informasi yang berguna.
"Terima kasih hadiahnya om" senang El.
"Sama sama Nak, semoga El cepat sembuh dan bisa kembali sehat" doa sagara terdengar begitu tulus.
"Amin, Terima kasih pak saga" kali ini Arif yang menimpali, ia ingat tadi putranya memanggil pria itu dengan sebutan Om. Saga
"Oh, iya sampai lupa Sagara Ganendra" Sagara mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Arif namun pria itu justru terlihat mematung memindai pria bertubuh kekar dihadapannya.
Kenapa ia bisa tidak mengenali Sagara? yang wajahnya biasa ia lihat di majalah bisnis.
Sejak Garina menceritakan prihal nama itu arif pun turut membenci pemilik nama itu.
Sagara dirawat dirumah sakit ini! Byan mengatakan hal itu tadi dan lucunya Sagara justru masuk dikamar tempat putranya dirawat.
Arif lekas melihat El dan gegas memeluk putranya erat serta menyingkirkan hadiah dari Sagara.
"Maaf Tuan Sagara putraku hendak beristirahat" kata kata Arif terdengar seperti perintah mengusir keberadaan Sagara dan Jhon.
Sagara yang merasa kecewa karena diacuhkan akhirnya pamit dengan perasaan bingung.
'Ada apa dengan tingkah perawat itu?'.
Terimakasih thor tuk karya hebatnya
Padahal novel ini udah ku baca berulang kali 😭