Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 - MB-07
Drone itu meledak sebelum Bima sempat menembak.
Ledakannya kecil, lebih seperti petasan kuat daripada bom. Cukup untuk membuat kaca jendela bergetar dan semua orang mundur. Dari tubuh drone yang hancur, selembar kertas tipis jatuh ke halaman.
Ayla sudah bergerak ke pintu.
Arga menarik lengannya. “Tunggu tim.”
“Itu kertas.”
“Itu bisa mengandung racun kontak.”
Ayla berhenti, lalu menatapnya. “Kamu makin berguna.”
“Saya terharu.”
“Jangan. Itu bukan pujian besar.”
Arga memberi isyarat pada Bima untuk mengambil kertas dengan alat pelindung. Beberapa menit kemudian, kertas itu dibawa masuk dalam plastik bukti transparan.
Tulisan di sana hanya satu kalimat.
Subjek yang selamat harus kembali ke meja.
Ratna hampir pingsan.
Marwan memegang bahunya. Reno berdiri kaku. Alina menangis tanpa suara. Maya membaca tulisan itu lalu wajahnya, untuk pertama kalinya, benar-benar dingin.
“Surya ingin perang,” kata Maya.
Ayla menjawab, “Dia ingin perhatian.”
“Dia mendapatkannya.”
Arga menatap dokter palsu yang masih diborgol. “Bawa dia. Interogasi penuh.”
Pria itu tersenyum. “Kalian tidak akan sempat.”
Bima menariknya berdiri. “Kita lihat.”
Saat dokter palsu itu dibawa keluar, dia menoleh ke Ayla. “Dr. Surya bilang, Guru lamamu lebih tahu daripada yang dia akui.”
Ayla tidak bergerak.
Maya menutup mata sebentar.
Arga menangkap reaksi itu.
Setelah pintu tertutup, ruang tengah berubah menjadi sunyi yang berat.
Ratna akhirnya bertanya, “Ayla, apa maksudnya subjek?”
Ayla menatap kertas dalam plastik bukti.
Dia bisa berbohong.
Mudah.
Dia sudah berbohong pada orang lebih pintar dalam situasi lebih buruk.
Namun wajah Ratna malam itu bukan wajah ibu yang sedang mempertahankan Alina. Bukan wajah perempuan kaya yang takut nama baik rusak. Itu wajah seorang ibu yang baru sadar anak kandungnya mungkin pernah mengalami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang sanggup dia bayangkan.
Ayla membenci fakta bahwa wajah itu membuat dadanya tidak nyaman.
“Empat belas tahun lalu,” kata Ayla pelan, “ada proyek ilegal yang memakai anak-anak hilang untuk uji coba medis.”
Ratna menutup mulut.
Marwan memucat.
Reno berbisik, “Anak-anak hilang...”
Ayla melanjutkan, “Aku belum tahu apakah aku salah satunya.”
Alina bersuara sangat pelan. “Tapi dia memanggilmu MB-07.”
Ayla menatapnya. “Terima kasih sudah mengulang bagian yang menyenangkan.”
Alina menunduk.
Ratna menangis. “Waktu kamu hilang... kamu...”
“Aku tidak ingat semuanya.”
Itu jawaban paling jujur yang bisa dia berikan.
Ada tahun-tahun dalam ingatan Ayla yang seperti foto basah. Bentuknya ada, warnanya luntur. Dia ingat lapar. Ingat bau darah. Ingat seseorang tertawa saat anak lain menangis. Ingat tangan Guru menariknya dari ring kecil di tempat kumuh. Tetapi sebelum itu, beberapa bagian hilang.
Mungkin karena terlalu kecil.
Mungkin karena otaknya memilih menutup.
Mungkin karena sesuatu pernah dilakukan padanya.
Arga berkata, “Kamu perlu pemeriksaan medis.”
Ayla menoleh. “Kamu cepat sekali sampai ke bagian menyebalkan.”
“Ini penting.”
Maya berkata, “Dia sudah diperiksa ratusan kali di Besi Kelabu.”
Arga menatapnya. “Dengan parameter apa?”
Maya diam.
Arga menangkap celah itu. “Kalian memeriksa kemampuan bertahan hidupnya. Bukan mencari apakah dia korban eksperimen lama.”
Ayla tidak suka mendengar kata korban.
“Aku berdiri di sini.”
Arga menatapnya. “Korban tidak harus mati untuk disebut korban.”
Kalimat itu membuat ruang tengah semakin sunyi.
Ayla tersenyum dingin. “Pak Arga, jangan gunakan nada konseling padaku.”
“Saya menggunakan nada penyelidikan.”
“Lebih buruk.”
Maya berdiri di antara mereka sebelum suasana pecah. “Cukup. Ayla butuh jawaban dari Guru. Arga butuh data. Keluarga ini butuh berhenti menjadi sasaran empuk.”
Marwan berkata, “Apa yang harus kami lakukan?”
Maya menoleh padanya. “Untuk pertama kalinya? Dengarkan anak kandung Anda.”
Marwan tidak membantah.
Ratna menangis lebih keras.
Ayla menghela napas. “Mulai malam ini, tidak ada yang menerima tamu tanpa verifikasi dari Arga. Tidak ada yang membalas nomor asing. Tidak ada yang menghapus pesan. Tidak ada yang menghubungi Raka, Surya, atau orang yayasan.”
Dia menatap Alina.
“Terutama kamu.”
Alina mengangguk cepat. “Aku mengerti.”
“Tidak. Kamu belum mengerti. Kalau kamu mencoba jadi pintar sendiri, Surya akan memakaimu sampai habis. Dan aku tidak akan membuang waktu menyelamatkanmu dua kali.”
Reno berkata pelan, “Ayla.”
Ayla menatapnya.
Reno menggeleng. “Dia mengerti.”
Alina menatap Reno dengan mata basah.
Kali ini Reno tidak memeluknya, tetapi dia berdiri lebih dekat. Mungkin kebiasaan lama. Mungkin rasa kasihan. Mungkin keluarga memang tidak bisa dipotong bersih dalam satu malam.
Ayla tidak peduli.
Atau dia ingin tidak peduli.
Arga menerima telepon dari Lestari. Wajahnya berubah.
“Apa?” tanya Ayla.
Arga menyalakan speaker.
Suara Lestari terdengar cepat. “Pak, file 531-MB punya lapisan kedua yang baru terbuka setelah drone mengirim kode MB-07. Kodenya memicu sinkronisasi otomatis. Ada lokasi baru.”
“Di mana?”
“Gedung lama Institut Biomedis Nusantara. Secara resmi sudah tutup. Tapi malam ini ada aktivitas listrik.”
Maya langsung berkata, “Itu tempat lama Surya.”
Ayla mengambil jaket.
Arga menatapnya. “Tidak.”
“Belum bilang apa-apa.”
“Wajahmu sudah.”
“Pak Arga, kalau tempat itu aktif malam ini, Surya menunggu.”
“Itulah alasan kamu tidak boleh datang tanpa rencana.”
Maya berkata, “Dia harus datang.”
Arga menatap Maya.
Maya tidak bercanda. “Kalau file itu terbuka karena kode MB-07, sistem lama mungkin butuh respons biologis atau visual dari Ayla. Surya sengaja mengundangnya.”
“Justru karena sengaja, kita tidak masuk sesuai keinginannya,” kata Arga.
Ayla menatap Arga.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia setuju.
“Kita tidak masuk dari pintu yang dia buka.”
Bima, yang baru kembali, bertanya, “Lalu?”
Ayla tersenyum.
“Kita buat pintu sendiri.”
Arga menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas.
“Saya akan menyesal menyetujui ini.”
“Kemungkinan besar.”
“Tapi?”
“Tapi kamu tetap akan menyetujui.”
Maya tersenyum puas.
Reno, Ratna, Marwan, dan Alina menatap mereka seperti menyaksikan bahasa yang tidak mereka pahami.
Malam itu, untuk pertama kalinya, keluarga Prameswari melihat Ayla bukan sebagai anak liar, bukan sebagai pengganggu, bukan sebagai saingan Alina.
Mereka melihatnya sebagai seseorang yang terbiasa berjalan menuju bahaya.
Dan yang lebih menakutkan, bahaya itu tampak mengenalnya pulang.
Sebelum berangkat, Ayla naik ke kamar tamu untuk mengambil tas kecil. Reno mengikutinya sampai koridor, lalu berhenti di depan pintu.
“Aku boleh tanya sesuatu?”
“Kalau pendek.”
Reno menelan napas. “Waktu kamu kecil... kamu ingat wajah orang yang menculikmu?”
Ayla memasukkan pisau lipat, kabel tipis, dan sarung tangan ke tas. “Tidak jelas.”
“Kamu pernah cerita pada siapa pun?”
“Tidak ada yang bertanya dengan benar.”
Reno terlihat seperti ingin meminta maaf lagi, tetapi sudah mulai belajar bahwa maaf tidak selalu berguna. Dia hanya berdiri di sana, menunggu.
Ayla akhirnya berkata, “Aku ingat bau rokok murah. Suara mesin kapal. Ada perempuan yang menangis di dekatku, bukan ibuku. Setelah itu kosong.”
Reno mengepalkan tangan.
“Aku dulu sering berpikir kamu mungkin hidup nyaman di luar negeri,” katanya lirih. “Papa bilang kamu keras karena dibesarkan orang asing. Mama bilang kamu tidak bisa menyesuaikan diri. Alina bilang kamu membencinya karena cemburu.”
“Dan kamu percaya.”
“Iya.”
Jawaban itu jujur.
Ayla menutup tas.
Reno berkata, “Aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya.”
“Mulai dengan tidak memperburuk.”
Reno mengangguk.
Saat Ayla turun, Ratna berdiri di dekat tangga. Dia memegang jaket tipis.
“Udara malam dingin,” katanya, lalu tampak sadar kalimat itu terlalu biasa untuk situasi mereka. “Mama tahu kamu tidak butuh. Tapi...”
Ayla melihat jaket itu. Dia tidak mengambilnya. Namun dia juga tidak mengejek.
“Simpan. Aku bergerak lebih mudah tanpa itu.”
Ratna memeluk jaket itu ke dadanya.
“Pulanglah,” katanya.
Ayla berjalan melewatinya.
“Aku sedang mencoba.”
Di mobil menuju institut lama, Ratna mengirim pesan.
Jaketnya Mama simpan. Kalau nanti kamu mau, bilang.
Ayla membaca pesan itu, lalu hampir menghapusnya.
Hampir.
Pada akhirnya dia membiarkannya tetap ada.
Arga, yang duduk di sampingnya, tidak melihat layar. Tetapi entah bagaimana dia tahu pesan itu bukan dari Surya.
“Kabar rumah?” tanyanya.
“Bukan urusan penyelidikan.”
“Baik.”
Dia tidak bertanya lagi.
Ayla menatap ponsel yang gelap. Hal kecil seperti jaket seharusnya tidak mengganggu. Dia pernah tidur di lantai beton, di kapal, di hutan basah, di ruang tunggu bandara dengan pistol di bawah jaket.
Jaket dari Ratna tidak ada artinya.
Tetapi justru karena tidak ada artinya, ia terasa sulit dibuang.