NovelToon NovelToon
Sesetia Langit Menemani Senja

Sesetia Langit Menemani Senja

Status: tamat
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:180k
Nilai: 4.5
Nama Author: Arrafa Aris

Senja tak pernah menduga, jika di rahimnya bakal hadir dua sosok malaikat kecil akibat pelecehan yang dilakukan Bumi terhadapnya.
Pasca menikah dengan Bumi, Senja seringkali mendapat perlakuan kasar.

Bahkan Bumi tega beberapa kali mencelakai Senja hanya untuk melenyapkan bayi yang dikandungnya.

Di saat Senja tak mendapat kasih sayang dari suaminya, kehadiran Langit sudah cukup menjadi pelipur lara baginya. Namun, kehadiran Langit justru membuat Bumi menjadi cemburu sekaligus takut jika Senja akan jatuh ke pelukan Langit.

“Aku nggak mau kamu menjadi hujan. Tapi langit seperti namamu, Mas. Bak sebuah pepatah, 'Sesetia Langit Menemani Senja'. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.” Senja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrafa Aris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. SLMS

Senja mulai bosan berada di kemeriahan pesta itu. Belum lagi kepalanya yang terasa panas akibat wig yang masih terpasang di kepala.

Ia menghampiri Bumi kemudian berbisik, “Mas, aku ke toilet dulu ya. Soalnya aku kebelet pipis.”

“Baiklah, jika kamu ingin pulang hubungi aku saja,” balas Bumi.

Senja mengangguk pelan kemudian meninggalkan tempat itu. Tujuannya bukanlah toilet melainkan ingin mencari angin segar sekaligus ingin melepas wig-nya.

Sesaat setelah berada di rooftop, ia langsung melepas wig-nya. “Haaah ... begini lebih nyaman,” gumamnya lalu terkekeh. “Sssstttt ... ah, kepalaku.”

Senja meraba bekas sayatan di kepala yang tiba-tiba terasa nyeri. Duduk sejenak di salah satu bangku seraya mendongak memandangi langit berhias bintang.

Merenung akan pesan nasehat Mang Dul beberapa jam yang lalu. Mempertimbangkan akan keputusan yang akan ia ambil nantinya.

*******

Sementara di ballroom, pesta itu semakin meriah karena dihibur oleh artis tanah air.

Saat tengah asik mengobrol dengan sesama kolega bisnis, Jingga menghampiri Bumi kemudian menyapa dengan senyum manis.

“Bumi, sendiri saja?” bisiknya.

“Nggak, bareng istriku,” balas Bumi sengaja menekan kata ISTRI. “Tapi dia lagi ke toilet. Apa kamu sendiri saja?”

“Ya. Bumi, apa hubungan kita benar-benar berakhir seperti ini? Aku ingin kita kembali seperti dulu. Apalagi yang kamu harapkan dari Senja, Sebaiknya ceraikan saja dia karena kamu nggak mencintainya.”

Bumi mengepalkan kedua tangan, menatap tajam pada Jingga karena jengkel mendengar ucapannya.

“Aku nggak akan menceraikannya, Jingga. Dulu aku memang nggak mencintainya tapi sekarang beda ceritanya!” tegas Bumi.

“Bumi.” Jingga memegang tangan mantan kekasihnya itu.

Bumi tak menghiraukan melainkan pasrah. Ingin marah namun tetap menahan emosi sekaligus menjaga perasaan Jingga di depan teman-temannya.

********

”Aku sudah menebak jika kamu pasti di sini,” gumam Langit sesaat setelah berada di rooftop.

Menghampiri Senja kemudian memakaikan jasnya menutupi punggung terbuka sang sahabat.

“Di sini dingin, mana gaunnya seperti kekurangan bahan lagi. Nanti kamu masuk angin. Lain kali jangan mengenakan gaun seperti ini lagi.”

“Mas Langit.” Senja berbalik badan sembari terkekeh mendengar omelan pria itu. “Aku bosan berada di pesta itu. Lagian aku nggak tahan mengenakan wig, kepalaku panas.”

Langit mengarahkan ekor mata ke bangku di mana wig Senja berada. Geleng-geleng kepala lalu ikut terkekeh merasa lucu.

Senja kemudian memeluk Langit. Menghirup dalam-dalam aroma parfum pria itu di ceruk leher.

Ulahnya itu tanpa sadar justru membuat hasrat Langit seketika terpancing. Meski Senja tak bermaksud apa-apa.

“Senja,” bisik Langit seraya mengecup kening wanita itu.

“Wangi banget parfumnya, Mas.” Senja mengangkat kepala lalu menatapnya.

Langit tersenyum seraya mendekatkan wajah. Tak bisa lagi menahan, ia perlahan menautkan bibirnya dengan Senja.

Bak gayung bersambut, Senja malah membalas ciuman itu secara sadar. Sebelum akhirnya ia melepas pagutannya.

Kembali membenamkan wajah di dada Langit sambil memejamkan mata di sertai detak jantung yang terpompa dua kali lebih cepat dari biasanya.

“Senja, aku nggak bisa mengendalikan diriku,” bisik Langit. Membenamkan bibirnya yang lama dan dalam di puncak kepala. “Aku bisa saja khilaf jika kita berada di dalam kamar.”

Mendengar ucapan itu, Senja tak bisa menahan tawa. Ia melonggarkan sedikit dekapannya.

“Ngebet banget ya? Makanya cepetan nikah.”

“Ck.” Langit berdecak sekaligus gemas. Sedetik kemudian, ia ikut tertawa.

Keduanya malah tak menyadari jika sejak tadi Bumi terus memandangi mereka.

Lagi, untuk yang kesekian kalinya, Bumi memergoki keduanya seperti itu. Namun, kali ini malah membuatnya shock karena keduanya saling berbalas ciuman.

Tangannya terkepal, darahnya seolah mendidih, amarahnya seketika menyelimuti diri. Sepasang mata memerah menahan air mata. Tak menyangka jika Senja dan Langit bisa seintim itu.

“Apa sikap dinginmu itu ada hubungannya dengan Mas Langit?” ucapnya lirih tanpa mengalihkan pandangan. “Nggak boleh, aku harus bisa memenangkan hati istriku sendiri. Aku nggak boleh menyerah.”

Bumi menyeka air mata, merasakan sakit di hati. Mengusap dada yang terasa begitu sesak. Memilih meninggalkan tempat itu dengan perasaan hampa.

“Senja, sebaiknya kamu hubungi Bumi. Ajak dia pulang, lagian ini sudah larut. Cuaca di sini semakin dingin.” Langit mengambil wig Senja lalu memasangkan di kepala kemudian merapikan.

“Makasih ya, Mas,” ucap Senja. “Aku langsung ke area parkir saja. Nanti di sana baru aku hubungi Mas Bumi.”

“Baiklah, tetap kenakan jas ini,” pinta Langit lalu memeluknya sejenak.

Senja hanya mengangguk lalu perlahan meninggalkan tempat itu dengan senyum tipis. Merasa konyol dengan apa yang ia lakukan barusan.

*******

Setibanya di area parkir, alisnya seketika bertaut karena mendapati Bumi sedang berdiri di samping mobil sambil menyesap rokok.

“Mas,” tegurnya. “Aku baru saja akan menghubungimu. Sudah lama?”

Bumi menggeleng pelan, tersenyum meski terpaksa sekaligus merasa kesal karena jas milik Langit masih membalut tubuh sang istri.

“Yuk, kita pulang,” ajak Bumi lalu membuang puntung rokok.

“Hmm.”

Begitu keduanya duduk di kursi mobil, Bumi melirik Senja yang tampak memalingkan wajah ke samping.

“Ke mana saja kamu tadi? Katanya mau ke toilet. Tapi nyatanya nggak balik-balik ke ballroom. Lalu, bukankah itu jas milik Mas Langit?” selidik Bumi merasa cemburu.

“Apa aku wajib menjawab? Kamu kan tahu, aku paling nggak betah berada di pesta seperti itu. Jika aku nggak kembali berarti kamu sudah tahu aku ada di mana? Lantas, jika ini jas Mas Langit memangnya kenapa? Salahmu yang memintaku mengenakan gaun kekurangan bahan ini!” sarkas Senja.

Bumi menghela nafas kasar. Perlahan mulai melajukan kendaraannya membelah jalan kota.

Tak ada lagi pembicaraan di antara keduanya sehingga mereka tiba di rumah.

*******

Ketika keduanya sudah berada di dalam rumah, Senja merasa geram karena Bumi terus mengikutinya hingga ke kamar.

Bahkan dengan entengnya, sang suami langsung menghempaskan tubuh ke atas ranjang Senja.

“Mau ngapain sih, kamu di sini?!” ucap Senja ketus merasa kesal sembari melepas jas di tubuhnya.

“Aku ingin tidur di sini,” balas Bumi dengan santai sembari memandangi Senja yang sedang melepas gaunnya.

Senja memutar bola matanya malas. Tatapan sang suami tak ia hiraukan. Alih-alih merasa malu atau terusik, ia hanya bersikap santai.

Begitu selesai mengganti pakaian, Senja meninggalkan Bumi. Memilih menuju kamar di lantai dua.

Bumi ikut menyusul, mengejar Senja serta menahan pintu yang akan ditutup.

“Mas! Kamu apa-apa sih?!” sentak Senja dengan perasaan geram menahan pintu.

Sekuat tenaga ia menahan pintu namun kalah tenaga dari Bumi.

“Apa salahnya kita tidur bareng. Aku suamimu, Senja. Aku berhak ke atas dirimu!” Bumi memeluk Senja meski istrinya itu terus berontak.

Membawa wanitanya menuju ranjang tanpa melepas pelukan. Menghempas tubuh keduanya lalu dengan cepat Bumi mengungkung Senja.

“Mas! Apa kamu sudah nggak waras? Apa kamu ingin mengulangi perbuatan bejatmu, hah!!” pekik Senja.

“Nggak, bukan mengulangi tapi kali ini aku sangat menginginkanmu dalam keadaan sadar. Aku ingin kita segera memiliki anak lagi!” tegas Bumi.

Bayangan ketika Senja dan Langit berciuman tadi terus mengusik pikirannya. Ia bertekad ingin membuat Senja hamil agar istrinya itu tak bisa lepas darinya.

“Aku nggak sudi memiliki anak darimu lagi setelah aku kehilangan Kala dan Aru. Jika aku hamil maka aku sendiri yang akan menggugurkannya,” ucap Senja dingin meski ia tidaklah benar-benar akan berbuat sekeji itu.

“Senja!” sentak Bumi terkejut mendengar ucapan sang istri.

Keduanya terlibat adu mulut sehingga Senja kembali mengancam akan berteriak. Tentu saja supaya Bik Riri dan Mang Dul terbangun lalu menolongnya.

Namun usahanya itu hanya sia-sia belaka karena Bumi langsung membungkamnya dengan ciuman.

Senja terus meronta, geram sekaligus benci akan sosok suaminya. Tenaganya mulai melemah karena kalah tenaga.

“Senja,” bisik Bumi, mengelus pipi lalu mengecup lama keningnya. “Tatap mataku dalam-dalam walau hanya sejenak.”

Senja bergeming enggan menatap sepasang mata sendu suaminya. Menyeka air mata lalu membelakangi Bumi.

Keduanya sama-sama bungkam. Bumi menatap nanar punggung Senja. Meski hanya mengancam ingin meminta haknya, namun perasaan bersalah tetap menyelimuti dirinya.

Perlahan ia beranjak dari ranjang. Memilih ke kamarnya untuk mengganti pakaian.

Beberapa menit berlalu ....

Ia kembali lagi ke kamar sebelah untuk melihat Senja. Istrinya itu sudah tertidur masih dengan posisi yang sama. Perlahan merangkak naik ke atas ranjang lalu memperbaiki posisi tidur istrinya.

“Maafkan aku, Senja,” ucapnya nyaris tak terdengar. Menyeka sisa-sisa air mata di pipi sang istri lalu membenamkan bibirnya yang lama dan dalam di kening.

Ia kemudian berbaring lalu membawa Senja masuk ke dalam pelukannya. Perlahan memejamkan mata sebelum akhirnya ia masuk ke alam bawa sadarnya.

Berharap akan ada secercah harapan merajut pernikahan bahagia bersama Senja. Meski impiannya itu hanya setipis tisu.

...----------------...

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪🙏🏻
Shifa Burhan
novel pemuja pebinor
G.I
Cerita bagus tapi goblok...goblok kek yang nulis...masih bertahan dgn orang seperti itu...omong kosong...bikin novel tentang kebohongan saja...menyesal bacanya
MallesMellow: Boss novel lo mana?
total 1 replies
arsenmakapuas
mantappp criatanya
Istifada
Luar biasa
Afternoon Honey
bagus ide ceritanya
Murti Ningsih
ceritanya bagus dan penuh bawang /Puke/
Susi Susilawati
Luar biasa
Shella Antika
jadi illfeel sama si senja gk bisa jaga marwahnya sebagai istri mw sibumi salah tapi kan masih sah suaminya ini pergi kermh pria lain meskipun itu sahabat atw sepupu suami tapi hrs jaga batasan antara perempuan sdh menikah sama pria lajang...klo gt gk ada bedanya kelakuan si senja sama si bumi dan si jingga..
Jeni Safitri
Buat apa menyesal dan ditangisi senja iklaskan aja, jangan salahkan bumi k4n di awal dia mmg ngk suka kehadiran kamu dan calon anakmu berkali" mencelakan kalian tapi kamu bertahan menjelang lahir entah buat apa dan apa untungnya pergi nunggu lahir, yg harus disalahkan itu kamu
Jeni Safitri
Rasainlah sama kamu senja sdh jelas" berkali" bumi mencelakakan kandunganmu bahkan bibik dan mang dul sdh mengajak pergi jauh kamu bertahan sampai lahiran, skrg nikmatilah kesedihan itu buat apa menyesal anakmu meninggal
Jeni Safitri
Malas kali dengar keluhan senja tidak baik" saja dan sll merasa dlm bahaya saat di dekati bumi tapi ngk mau jg pergi jauh bawa kandungannya biar selamat lahiran
Jeni Safitri
Ah banyak cerita kamu senja, mmg apa bedanya pergi skrg dgn pergi saat kamu sdh lahiran, bagusan skrg kamu pergi jauh kalau sdh lahiran 2 bayi yg akan urus di perjalanan, niat pergi atau engak sih atau bicara hanya cari simpati
Jeni Safitri
Ck. Senja sdh jelas suami spikopat masih aja bertahan kalau mau pergi ya pergi aja ngk perlu bilang" biarkan penyesalan yg dia rasakan, kalau dia tau kamu mau pergi di ambilnya anak mu nanti bagaimana
G.I: Bukan salah Senja..
salah yang nulis cerita ini...karena yang nulis cerita ini lagi sakit jadi Senja disakiti terus
total 1 replies
Jeni Safitri
Jatuh dari tangga biasanya org mormal aja bisa geger otak lah ini kandungan baik" aja apa bisa gitu ya, takutnya anaknya cacat lagi k4n mendapat benturan berkali"
Jeni Safitri
Senja kamu mmg bukan wanita murahan tapi kamu wanita yg ngk punya harga diri sudah jelas mengalami siksaan masih aja bertahan dgn pria spikopat itu, kalau kamu wanita yg punya harga diri yg tinggi kamu ngk akan mengemis sama pria itu dan ngk sudi di siksa fisik dan mental mu
AJ_86: Wkwkwk 🤣🤣✌️
total 1 replies
Jeni Safitri
Ada ya laki kejam gini
Silvia Tatipikalawan
kak lanjut kabar gembira dari langit & senja mempunyai anak kak
Silvia Tatipikalawan
sedih
aish
pemeran wanitanya di sini jadi jalang gk bngt walau bumi slh tpi yg wanita lebih parah jijik bngt berlindung di balik kata sahabat peluk cium smpe lakuin hubungan intim mlh berharap hamil anaknya si langit lgi berhenti baca krna kecewa wlw gk bisa di tebak alurnya tpi gk gini jg awal' suka bngt mkin ujung mkin aneh alurnya acakadul🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!