Winter melakukan kesalahan fatal! Ia menabrak orang dan kabur begitu saja. Ia merasa dirinya adalah orang paling egois dan jahat di dunia ini. Tapi ia terlalu takut untuk mengaku.
Suatu hari, ia bertemu Daffin Prakasa, sosok cowok populer dikampus yang juga merupakan kakak kandung dari gadis yang ditabraknya.Tanpa diduga ia malah jatuh cinta pada pria itu.
Seiring berjalannya waktu, keduanya makin dekat. Namun ancaman demi ancaman mulai menghampiri hidup Winter. Yang membuat Winter harus memilih, mengakui kesalahannya atau menjauh dari kehidupan Daffin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Jangan lupa like, komen, sama minta votenya ya, biar author makin semangat berkarya🙏😉
selamat membaca🤗
__________________________________
Ketika Winter membuka matanya, ia menyadari kalau dirinya berada bukan dikamarnya. Gadis itu masih cukup mengantuk untuk berpikir, namun kesadarannya langsung bangkit saat suara Daffin terdengar dari luar pintu.
"Winter, kau sudah bangun?"
Winter terduduk. Matanya mengerjap-ngerjap dan memandangi sekeliling kamar. Ingatannya kembali ke peristiwa semalam dan bagaimana ia berakhir dengan tidur dikamar Daffin. Kamar Daffin? Ya ampun, benar. Sekarang dirinya berada di kamar pria itu. Tidur dikasurnya, mengenakan selimut pria itu, bahkan kaos kebesaran yang ada di tubuhnya sekarang adalah milik Daffin.
Winter masih tidak percaya. Astaga, ini seperti mimpi. Kalau begitu, bisakah dirinya tidak bangun-bangun dan tetap seperti ini saja? Mimpi ini terlalu indah. Apalagi mengingat bagaimana cara Daffin memperlakukannya semalam. Pria itu menjaganya, memperlakukannya dengan sangat lembut. Winter senyum-senyum sendiri membayangkan semua itu.
Semalam ia memang trauma karena serangan Bian, tapi Daffin adalah obatnya. Winter bahagia karena Daffin adalah laki-laki yang menolongnya dari bahaya. Karena ada pria itu ia tidak perlu takut lagi.
"Winter?" suara Daffin terdengar lagi. Kali ini dibarengi dengan bunyi ketukan pintu yang khas. Lamunan Winter buyar. Gadis itu cepat-cepat bangkit dari kasur dan berjalan ke arah pintu. Kasihan Daffin sudah menunggu lama.
Dan ketika pintu terbuka, pandangan mereka langsung bertemu. Sosok tampan nan jangkung itu menatap penampilannya. Winter tersenyum kikuk. Merasa canggung karena ditatap begitu oleh pemilik mata hazel itu.
Sementara Daffin berusaha menutupi rasa gugupnya. Melihat Winter mengenakan kaosnya, ia tiba-tiba saja merasa deg-degan. Kaos itu tampak kebesaran di tubuh mungil Winter. Tapi paha mulus gadis itu jelas terpampang dan Daffin harus menahan diri untuk tidak menelan ludahnya didepan gadis itu. Sungguh, dimatanya saat ini Winter sangat seksi.
Daffin merasa tubuhnya panas dingin. Brengsek, ia tidak bisa memungkiri kalau hormon laki-lakinya sedang bekerja sekarang, dan ia terus menahannya mati-matian. Daffin menyadari dirinya juga adalah pria normal yang bisa merasakan gejolak seperti sekarang ini. Apalagi ia sudah mengakui sendiri bahwa dirinya memiliki perasaan terhadap gadis itu.
"Pa ... Pagi," sapa Winter karena tidak tahu mau bilang apa. Menurutnya sapaannya itu masuk akal. Gadis itu mengernyitkan dahi saat merasakan ada yang berbeda diwajah Daffin.
"Daffin, kamu berkeringat. Apa kamu kamu sakit?" tanyanya dengan nada khawatir sambil menempelkan telapak tangan di dahi Daffin.
Daffin kelabakan. Sentuhan Winter malah membuatnya makin menjadi-jadi. Tidak, tidak. Tenang Daffin, tenangkan dirimu.
Lalu pria itu mengambil tangan Winter yang masih menempel di keningnya, menurunkannya dan tersenyum tipis.
"Aku tidak sakit. Tadi aku berjemur di balkon sebentar. Bagaimana keadaanmu?" katanya beralasan. Kemudian bertanya.
"Sudah membaik, berkatmu. Terimakasih sudah menampungku di sini." sahut Winter.
"Tidak apa-apa. Memang tanggung jawabku menjagamu. Karena aku yang membawamu ke pesta. Mulai sekarang aku akan bertanggung jawab padamu." Daffin langsung merutuki kalimat terakhirnya. Ya ampun Daffin, apa yang katakan?
Raut wajah Winter sampai berubah bingung begitu. Mungkin ia akan langsung menganggap Daffin aneh. Tidak, tidak. Daffin harus segera merubah kalimatnya.
"Maksudku aku akan menjagamu, jangan sampai ada yang melukaimu lagi. Jaman sekarang orang jahat makin banyak." ralat Daffin kemudian. Barulah Winter mengerti. Dan perkataan Daffin tentu saja membuat gadis itu merasa senang. Karena pria itu menunjukkan sisi perhatiannya.
"Ayo turun sarapan. Mamaku membuatkan Sop ayam khusus untukmu. Habis sarapan kamu bisa mandi, setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Orangtuamu pasti khawatir kalau kau terlalu lama berada diluar." ucap Daffin lagi panjang lebar. Dia makin sadar dirinya jadi suka berbicara kalau sedang bersama Winter.
"Baiklah. Tapi ..."
"Tapi?"
"Penampilanku ...," pandangan Winter turun ke bawah melihat penampilannya yang hanya memakai kaos Daffin. Dia tidak enak kalau dilihat mama cowok itu. Bagaimana kalau mama Daffin menganggapnya wanita gampangan yang sengaja mau mendekati putranya. Tapi dia harus ganti dengan apa? Masa pakai gaun semalam lagi pagi-pagi begini.
"Jangan dipikirkan. Ayo ..." tanpa menunggu persiapan Winter, Daffin langsung menarik gadis itu. Lagian di rumah itu hanya ada mereka bertiga. Dia, mamanya dan Winter sendiri. Pembantu mereka yang tersisa biasanya datangnya siang. Sedang adiknya Mika masih di rumah sakit. Winter juga tahu.
Dimeja makan Mila sibuk mengatur-atur sarapan yang dia buat. Ada beberapa menu.
"Daffin, Winter, duduklah. Winter sayang, bagaimana keadaan kamu, sudah lebih baik?" Winter menatap Daffin. Ia cukup terkejut mendengar mama Daffin yang memanggilnya dengan akrab. Dan sejujurnya dirinya belum terlalu terbiasa, meski dalam hatinya ia merasa senang.
"Aku sudah cerita tentang kejadian semalam ke mama. Tentang hubungan kita berdua juga." ucap Daffin sambil menggeser kursi di meja makan agar Winter bisa duduk.
"Hubungan kita?" Winter bertanya setelah duduk. Daffin menggeser kursi lagi disebelah Winter untuk dirinya sendiri.
"Mm, kita berdua teman baik kan sekarang?" ujar cowok itu menatap wajah Winter.
Winter terdiam sebentar lalu mengangguk. Ternyata itu maksud Daffin. Dia pikir hubungan seperti apa yang ceritakan cowok itu ke mamanya. Pandangan Winter berpindah ke wanita tua didepan mereka lagi.
"Maaf sudah merepotkan tante." katanya. Mila tersenyum.
"Nggak kok. Sama sekali nggak. Tante malah senang Daffin bawa kamu ke sini. Nggak pernah loh ada perempuan lain yang dia bawa ke rumah ini. Berarti kamu satu-satunya teman perempuan Daffin yang paling spesial. Iya kan putra mama sayang?" Wanita paruh baya itu mengedipkan sebelah mata melirik Daffin. Dan pria itu hanya tersenyum. Ia tahu pasti mamanya sedang menggoda mereka berdua.
Winter sendiri langsung merona karena malu. Ternyata mama Daffin orangnya asyik juga. Tapi tetap saja dia malu.
"Ayo cepat makan, biar tubuh kamu fit. Tante bikinin kamu sop ayam."
"Makasih tante,"
"Iya sama-sama sayang." ketiganya pun sarapan bersama sambil berbincang-bincang. Mila tidak bertanya terkait masalah yang menimpa Winter semalam. Daffin sudah memberitahu sang mama kalau jangan mengungkit hal itu didepan Winter. Ia takut gadis itu akan berubah ketakutan lagi seperti semalam. Jadi Mila diam saja. Biarlah masalah itu mereka yang selesaikan sendiri.
Habis sarapan, Daffin menemani Winter ngobrol sebentar di balkon kamarnya kemudian Winter bersiap-siap untuk pulang.
"Mandilah. Pakaian untukmu sudah aku letakkan diatas kasur." kata Daffin bersiap-siap keluar dari kamar itu. Pakaian yang dia letakkan di tempat tidur adalah pakaian baru yang dia beli semalam khusus untuk Winter. Sebenarnya ia mau memberikan pakaian Mika, tapi tidak jadi. Menurutnya lebih baik beli sendiri untuk Winter. Sekalian ada kenang-kenangan dari dirinya untuk gadis itu.
"Mm." gumam Winter kemudian bersiap-siap ke kamar mandi.