Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Kalau bukan karena gangguan dari Kevin, mungkin liburan ini akan lebih lama. Yoga terpaksa menyudahi liburan yang seharusnya menyenangkan, daripada terus digangguin sama lelaki yang menginginkan Kinanti. Yoga tak ingin ambil resiko bila tetap terus melanjutkan liburannya. Bisa-bisa si Kevin semakin menunjukkan eksistensi nya.
Ada rasa bersalah ketika melihat wajah Amar dan Sasa berwajah murung. Tapi demi kebaikannya, Yoga berjanji akan mengganti liburannya di lain waktu dan tempat.
"Jangan cemberut gitu dong. Jelek tahu," ucap Yoga kepada Sasa.
"Adek kan masih pengen liburan," rengek Sasa dengan wajah yang ditekuk kesal. Padahal Sasa ingin pergi ke kebun binatang.
"Kan nanti masih bisa dilanjutkan. Mm ... sebagai gantinya, bagaimana kalau akhir pekan nanti liburannya ke pantai," tawar Yoga sekaligus membujuknya.
Sontak saja Sasa berubah sumringah dan menatap keseriusan sang papa.
"Beneran? Papa gak bohong kan?" tanyanya sungguh-sungguh.
"Bener dong. Masa papa bohong," ujar Yoga meyakinkan Sasa.
"Awas kalau papa bohong.Adek mogok bicara sama papa." Ancamnya.
"Janji ... papa gak bakalan bohong." Seraya mengulurkan jari kelingkingnya kepada Sasa dan Sasa pun menautkan kelingkingnya ke kelingking Yoga.
"Nanti adek berenang di laut ya, pa." Kata Sasa antusias.
"Oke, tuan putri."
Lega ... Akhirnya Yoga berhasil membujuk Sasa dan menggantikan liburannya ke pantai, daripada terus melanjutkan disini.
Pagi itu juga, mereka kembali pulang ke rumah. Semua barang bawaannya sudah masuk ke mobil. Segera, Yoga melajukan mobilnya membelah jalanan.
Sepanjang perjalanan pulang, baik Kinanti maupun Yoga tidak saling berbicara, hanya celotehan Amar dan Sasa yang mengiringi perjalanan pulang.
Sebenarnya Yoga ingin membuka percakapan, tapi melihat Kinanti terus terdiam membuat Yoga mengurungkan niatnya. Mungkin suasana hati istrinya sedang tidak baik.
***
Setelah liburan ke puncak, Kevin semakin menunjukkan perhatiannya kepada Kinanti. Bahkan hampir setiap hari Kevin menelpon Kinanti atau pun mengirim pesan dan hal itu membuat hati Yoga semakin dilanda api cemburu.
Entah harus bagaimana caranya menjauhkan Kinanti dari lelaki yang menurutnya tidak punya adab, sebab sudah tahu kalau Kinanti punya suami tapi Kevin terus saja mendekati Kinanti dan tidak peduli dengan dirinya yang notabene nya adalah suaminya.
...Yoga mendesah panjang saat kedapatan melihat pesan singkat dari Kevin di hape Kinanti. Saat itu juga Yoga ingin sekali menghajar Kevin....
"Aku gak akan membiarkan Kevin terus mendekati Kinanti," ucapnya penuh murka. Bagaimana Yoga tidak emosi, isi pesan itu membuat dadanya bergemuruh menahan rasa marah. Kevin mengatakan kalau dia ingin mengajak Kinanti dinner romantis.
"Cih ... Gak akan ku biarkan," sungut Yoga.
Apa yang Kinanti rasakan dulu, kini berbalik menyerangnya dan merasakan rasa sakit yang seperti Kinanti rasakan. Yoga tidak akan membiarkan sedikitpun celah buat Kevin mendekati Kinanti.
Tidak ingin sampai Kinanti tahu kalau Kevin mengirim pesan ke WhatsApp-nya. Yoga langsung menghapus WhatsApp dari Kevin, sekaligus memblokir nomor Kevin.
***
"Papa, besok jadi kan liburan ke pantai?" Sasa menagih janji sang papa.
"Jadi dong."
"Yeeey ...! Jadi liburan ke pantainya!" Seru Sasa. Berjingkrak-jingkrak senang, kemudian Sasa berlari ke kamar Amar memberitahukan kalau besok jadi ke pantai.
Yoga hanya geleng-geleng kepala melihat kegirangan Sasa, tapi ia senang melihat kebahagiaan putrinya. Detik itu juga Sasa dan Amar menyiapkan barang bawaannya.
Kebahagiaan dua bocah itu harus terkikis, ketika Kinanti memberitahukan kalau tidak jadi pergi ke pantai.
"Besok kita tidak jadi ke pantai," kata Kinanti.
"Kenapa?" tanya Amar dengan nada kecewa.
"Karena kita harus kembali ke rumah nenek dan kakek."
Sontak saja, suasana hati kedua bocah itu langsung di selimuti awan mendung.
Melihat kekecewaan dari kedua anaknya membuat Kinanti merasa bersalah, tapi sudah satu bulan waktu kesepakatannya dengan Yoga dan Kinanti mau tidak mau harus rumah ini. Walau sebenarnya ia kini merasa bimbang dengan keputusannya untuk berpisah dengan Yoga.
Sasa segera berlari menghampiri Yoga yang tengah mengerjakan beberapa pekerjaannya yang tertunda.
"Papa !" Rengek Sasa sambil terisak.
"Kenapa, dek?" Yoga menghentikan pekerjaannya dan membawa tubuh kecil itu ke pangkuannya.
"Kata mama besok kita gak jadi ke pantai," ucap Sasa sesegukan. "Mama bilang kalau besok pergi ke rumah kakek."
Yoga mendesah panjang mendengar perkataan Sasa. "Nanti papa ngomong sama mama." Katanya agar Sasa tidak bersedih lagi.
"Papa bilang ya sama mama ... Pergi ke rumah kakeknya nanti saja," ucap Sasa membujuk sang papa.
Yoga mengangguk. "Iya, nanti papa bujuk mama. Sekarang jangan nangis lagi." Kata Yoga sambil menghapus air mata Sasa.
Setelah Amar dan Sasa tidur, Yoga menemui Kinanti yang ternyata tengah mengemas pakaiannya ke koper. Yoga duduk di sisi koper milik Kinanti dan menatap sang istri yang tengah sibuk melipat pakaiannya.
Sejenak Yoga hanya diam sambil terus memperhatikan Kinanti. Setelah itu Yoga menahan tangan Kinanti yang akan menyimpan baju di koper.
"Tolong jangan kecewakan keinginan anak kita. Biarkan Amar dan Sasa menikmati liburannya di pantai." kata Yoga membujuk Kinanti.
"Aku gak bisa. Ini sudah satu bulan waktu yang sudah kita sepakati dan aku harus pulang ke rumah orang tua ku," jawabnya tanpa memikirkan perasaan Sasa dan Amar.
Yoga mendesah panjang. Ternyata usahanya selama sebulan ini tidak membuahkan hasil. Kinanti terlihat tetap dengan keputusannya.