- Cinta Yang Menyembuhkan Trauma-
Damarlangit hanya salah satu dari orang yang memiliki trauma dalam hidupnya. Bahkan trauma itu dirasakan sejak usia Damar 10 tahun hingga saat ini, dan sampai dia berhasil menjadi super model, trauma itu masih Damar rasakan.
Hingga pada suatu hari, seorang wanita penghibur datang untuk menyembuhkan lukanya, namanya, Arundaya. Dipertemukan dengan tidak sengaja, membuat mereka mengenal satu sama lain, hingga kedekatan mereka jauh dari hubungan hanya seorang teman. Hingga hubungan gelap mereka jalin karena Ibu Damar tidak menginginkan Damar dekat dengan wanita seperti Arundaya yang dia pikir akan merusak karir Damar.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Dapatkah mereka menjalin hubungan saat Ibu Damar melarangnya, dan apakah trauma Damar akan sembuh saat bertemu dengan Arundaya yang ingin membantu Damar untuk sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noeryanthi Kusnadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
"Akh--" rintih seorang pria tampan yang coba membuka baju yang di kenakan karena terkena tumpahan bubur.
"Kenapa?" tanya Rio yang memang sedang membantu modelnya. Arundaya sedang tidak bersamanya, karena harus bekerja, itu juga atas paksaan Damar yang tidak ingin menahannya untuk tidak bekerja.
"Punggungku terasa sakit saat aku mengangkat tangan terlalu tinggi," jawabnya dengan ekspresi yang tampak jelas jika dirinya sedang kesakitan.
"Mumpung di rumah sakit, kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut, ini pasti karena efek pukulan dari ibumu," jawab Rio.
Sekejam itu seorang Ibu memperlakukan anaknya yang tidak mau melakukam apa yang menjadi kemauannya. Semua harus dikabulkan, meski apa yang dia miliki sekarang adalah hasil jerih payah anaknya, namun dia selalu merasa kurang.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Anda terluka seperti ini?" tanya Dokter pada Damar yang sedang mendengarkan hasil rontgen punggungnya.
"Apa hasilnya buruk, Dok?" Melihat Damar tidak bisa menjawab pertanyaan sang Dokter, Rio menyela obrolan mereka.
"Tidak, hanya ada retak rambut di punggung belakang, tepatnya di bawah area samping dekat ketiak, makanya sakit saat mengangkat tangan, tapi jika dibiarkan hal itu akan memperparah kondisinya. Kita lakukan lakukan pengobatan saja, kalau bisa juga fisioterapi," jelas Dokter.
"Oh, baiklah, Dok."
"Bisakah saya pulang lebih cepat, saya merasa lebih baik, saya ingin rawat jalan saja." Damar memotong obrolan Rio dengan Dokternya.
"Papa Anda meminta untuk istirahat total, beliau tidak membiarkan Anda keluar tanpa seizinnya," jawab sang Dokter.
Mendengar itu, Damar menghela nafas kasar. Kalau sudah seperti ini, pasti akan sulit untuknya. Apalagi Brata sudah membuat perintah. Mau tidak mau Damar harus menjalani pengobatan sampai kondisinya lebih baik, meskipun dia merasa sudah jauh lebih baik, tapi Brata memintanya untuk istirahat total.
***
Di sebuah Cafe, Arundaya sejak tadi menatap jam, berharap jam kerjanya segera selesai, karena ingin ke rumah sakit menemani Damar yang sedang sakit. Ketika jam menunjukan pukul 5 sore, dia segera bersiap untuk pulang. Menggunakan bus, Arundaya ke rumah sakit di mana Damar berada.
"Apa kabar cantik," sapa seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Dia sangat kenal pada pria dengan tubuh kekar yang ada di sampingnya.
Tanpa menjawab, Arundaya coba untuk berpindah tempat duduk, namun pria itu tidak membiarkannya pergi. Dia menarik lengan Arundaya agar duduk kembali.
"Apa yang kau mau!" tegas Arundaya yang tampak tidur suka bertemu dengan pria itu.
"Aku ingin bertemu denganmu, aku butuh teman untuk menemaniku," jawab pria itu.
"Tidak, aku tidak lagi bekerja seperti itu. Biarkan aku turun," ujar Arundaya yang sangat ingin pergi dari pria itu.
"Apa kau lupa jika kau berhutang padaku? Aku hanya ingin kau menemaniku saja, tidak lebih dari itu," jelasnya.
"Bagaimana kau tau aku?" Arundaya coba untuk kembali duduk saat pria itu bicara tentang hutang dia katakan.
"Aku mengikutimu beberapa waktu ini, dan hari ini aku ingin kau membayar hutangmu dengan menemaniku."
"Tidak. Aku akan membayar hutangku itu, tapi beri aku waktu," jawab Arundaya, dia tidak ingin mengecewakan Damar dengan ikut bersama pria di sampingnya.
Saat turun dari Bus, pria itu mengikuti Arundaya dan menariknya ke mobil, di mana temannya sengaja mengikuti mereka berdua yang naik bus. Dengan terpaksa, Arundaya ikut bersama mereka, walau dia tidak mau.
Arundaya memiliki hutang pada Alex, pria yang pernah menolongnya dulu, dia menebus Arundaya yang tersandung masalah. Saat sudah terbebas dari masalahnya, pria itu tidak mendapati Arundaya di rumahnya, sampai akhirnya dia tau kalau Arundaya bekerja sebagai pelayan Cafe.
"Aku hanya ingin kau menemaniku saja, tidak lebih. Setelahnya kau bisa pergi semaumu tanpa berhutang padaku," tutur Alex pada Arundaya yang dia gandeng masuk ke sebuah club malam.
"Aku mohon, biarkan aku pergi. Aku akan membayar hutangmu, tapi aku tidak ingin lagi bekerja semacam itu," elak Arundaya. Dia berusaha untuk melepaskan gandangen tangan Alex, tapi gagal karena beberapa teman membuat Arundaya tidak bisa berkutik.
Sudah ada beberapa perempuan di sebuah ruangan yang Alex pesan. Mereka sepertinya akan menemani Alex dan teman-temannya malam ini.
Arundaya seakan tidak bisa berkutik, ingin dia melangkahkan kakinya keluar tempat itu, tapi dia tidak bisa. Pikirannya terus terbayang perkataan Damar yang menginginkan dirinya menjadi lebih baik, namun dia malah berada tempat di mana dia berasal.
"Ayolah, hanya minum saja. Aku berjanji tidak akan meminta lebih. Aku sedang senang sekarang, jadi aku ingin kau juga merasakan apa yang aku rasakan. Kita berpesta untuk malam ini, sebelum aku pergi dari sini dan tidak akan menganggumu, aku bersumpah," tutur Alex. Entah apa sebenarnya yang dia mau, dia memaksa Arundaya minum bersama, dia juga tidak membiarkan Arundaya pergi.
"Ayolah ...." Alex menyodorkan sebotol minuman keras pada Arundaya, agar dia menuangkan untuknya dan yang lain.
Mungkin memang lebih cepat, lebih baik. Arundaya mengambil botol itu dan melayani beberapa orang yang sedang berpesta dengannya. Ada yang sedang bercinta, ada juga yang asyik dengan teman-temannya yang lain.
"Sudah cukup, aku tidak minum banyak," elak Arundaya saat Alex menyuruhnya untuk minum.
"Minum saja." Alex menyuapkan segelas minuman keras ke mulut Arundaya yang langsung menelannya. Dia terus saja di cekoki oleh Alex yang katanya tidak ingin bersikap lebih, nyatanya Arundaya dibuat mabuk agar Alex bisa bercinta dengannya.
"Tidak ... aku sudah tidak mau." Arundaya mendorong gelas dari tangan Alex, dia menjatuhkan begitu saja karena dia sudah cukup mabuk karena Alex terus saja mencekokinya.
"Ayolah sayang, hanya malam ini saja," jawab Alex.
"Tidak. Kekasihku pasti sedang menunggu. Sebaiknya aku pulang sekarang," ucap Arundaya. Dia berusaha untuk bangun, namun limbung karena efek minuman yang dia teguk.
"Kau itu tidak kuat, tenanglah di sini saja. Bercintalah denganku." Alex menarik lengan Arundaya dan membuatnya jatuh dalam dekapannya. Dia juga sedang mabuk, makanya dia tidak ingat dengan yang diucapkan sebelumnya.
"Menjauh dariku sekarang, aku ingin kau pergi dariku." Dengab tenaga yang tersisa, Arundaya mendorong tubuh Alex pelan agar menjauh darinya.
Saat berusaha untuk bangun lagi, ponsel Arundaya berdering. Dia segera merogoh dalam tas yang di bawanya. Kemudian melihat siapa yang menghubunginya.
"Berikan itu padaku," sahut Alex, dia merebut ponsel Arundaya dan menjawabnya.
"Berhenti menelpon, kekasihmu sedang bercinta denganku, jangan menganggu waktu kita," teriak Alex pada seseorang yang menghubungi Arundaya.
"Lancang sekali kau. Tidak ... itu tidak benar, aku ...." Ucapan Arundaya terhenti saat ponselnya jatuh begitu saja, bersamaan dengan Arundaya yang mabuk berat. Entah apa yang ada di botol minuman itu, karena Arundaya sebenarnya kuat saat minum, kali ini berbeda dia mabuk berat walau hanya beberapa teguk minuman keras.
"Aku ... berada di club malam, tolong jemput aku." Setelahnya kesadarab Arundaya hilang, dia tidak ingat lagi apa yang terjadi, dia juga tidak peduli Alex akan membuatnya seperti apa.