Wasiat perjodohan membuat dua insan di persatuan dalam sebuah ikatan , meski tidak ada cinta antara kedua nya , karena pria itu sudah memiliki kekasih yang cantik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Langit Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Empat Mata di taman
Sore menjelang senja.
Matahari hampir tenggelam, sinarnya menyinari dedaunan taman dengan cahaya keemasan. Suasana sepi, hanya terdengar suara daun bergesek dan burung-burung kecil.
Reno menggandeng tangan Mala, membawanya ke bangku taman kayu di bawah pohon besar.
Mala belum bicara apa-apa. Hanya duduk diam sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Reno menatap wajah istrinya lama, lalu mulai bicara pelan.
“Mala… kamu tahu kan, aku memang bukan laki-laki sempurna. Bahkan jauh dari kata baik.”
Ia menunduk. Suaranya nyaris bergetar.
“Dan ya... soal Dila. Memang benar, dulu dia sempat hamil. Itu waktu kita masih kuliah S1. Aku masih labil, takut, dan sama sekali belum siap buat jadi suami… apalagi jadi ayah.”
Mala menunduk. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tidak menyela.
“Waktu itu aku pikir… lari adalah satu-satunya cara. Aku menyuruh Dila pergi. Dan Dila… dia memilih menikah dengan Chandra, laki-laki yang saat itu mencintai dia, dan siap tanggung jawab atas semuanya.”
Reno menarik napas berat.
“Mungkin buatku, semua itu sudah selesai. Tapi buat Dila… rasa sakit itu belum pernah sembuh.”
Mala akhirnya bicara. Suaranya pelan.
“Jadi kamu tahu dia hamil… dan kamu biarin dia pergi?”
Reno mengangguk. “Iya… dan itu adalah penyesalan paling besar dalam hidupku sebelum aku bertemu kamu.”
Ia menatap Mala, matanya merah.
“Kamu tahu, Mal… sejak kamu datang, aku belajar jadi manusia. Jadi suami. Jadi ayah. Kamu, dan Arsya, adalah alasan aku nggak mau lari lagi.”
Mala masih terdiam. Tapi air matanya mulai jatuh, pelan-pelan.
Reno meraih tangannya.
“Aku gak bisa janji buat jadi sempurna. Tapi aku janji… aku gak akan pernah ninggalin kamu lagi. Aku gak akan lari, walau masa laluku datang seperti badai. Karena sekarang… aku tahu rumahku ada di sini. Di kamu.”
**
Beberapa detik hening.
Angin sore berhembus lembut, menyentuh pipi mereka yang basah oleh air mata.
Lalu akhirnya…
Mala menatap Reno.
“Aku gak butuh suami yang sempurna, Ren… aku cuma butuh laki-laki yang mau belajar, dan gak lari lagi dari tanggung jawabnya.”
Reno menariknya ke pelukan. Mereka saling merapat. Di antara dedaunan dan langit jingga, luka perlahan mulai mengering.
**
Hari itu, mereka tak langsung menyelesaikan semuanya.
Tapi hari itu, Reno bicara jujur, dan Mala memilih untuk mendengarkan.
Dan di dunia yang ribut oleh komentar dan gosip...
Di taman sederhana itu, mereka menemukan ruang aman untuk mencintai dalam diam.
🌸🌸🌸
Malam itu di ruang keluarga rumah besar keluarga Bastian.
Televisi menyala tanpa suara, hanya memperlihatkan cuplikan berita gosip online yang menayangkan ulang potongan video dari akun @cermin_luka.
Marteen Bastian duduk tegak di kUrsinya yang khas berlapis kulit hitam. Ia tak bicara sepatah kata pun, hanya menatap layar dengan mata tajam dan rahang mengeras.
Di sampingnya, Farah Bastian, ibu Reno, terlihat gelisah. Tapi kali ini bukan karena takut melainkan karena marah yang tertahan.
“Ini alasan mama dari dulu gak pernah suka sama Dila,” ucap Farah pelan tapi penuh tekanan.
“Wanita licik, manipulatif. Manis di luar, tapi hatinya busuk.”
Marteen tidak menjawab. Ia menekan satu tombol di telepon meja.
“Panggil Davin dan semua tim IT sekarang. Dan kirim satu orang ke Jakarta. Segera.”
Farah menatap suaminya. “Kamu mau apa, Marteen?”
“Aku akan pastikan video itu hilang dari internet. Termasuk akun-akun gosip yang ikut menyebarkan.”
Farah menghela napas panjang. “Kamu pikir Reno baik-baik saja? Dia mungkin gak bilang, tapi batinnya hancur. Dan Mala… perempuan itu terlalu diam untuk perempuan yang sedang terluka.”
Marteen berdiri, menatap istrinya.
“Itulah kenapa aku gak bisa duduk diam. Reno sudah bangun rumahnya sendiri. Dan aku akan jaga rumah itu dari siapa pun yang mencoba membakarnya.”
**
Beberapa jam kemudian.
Anak buah Marteen, Davin, mengabari lewat sambungan telepon.
“Pak, sebagian besar video sudah ditakedown. Kami sedang kejar sisa mirror akun. Admin @cermin_luka terdeteksi pakai jaringan publik dari Jakarta Selatan.”
Marteen mengangguk.
“Bagus. Teruskan. Dan kirim pesan ke semua admin gosip: satu kali lagi nama Mala disebut, urusan mereka bukan cuma dengan netizen. Tapi dengan keluarga Bastian.”
Keesokan harinya.
Farah datang ke rumah Reno dan Mala, membawa kaldu ayam buatan sendiri.
Saat duduk di ruang tamu, ia menatap Mala yang sedang menggendong Arsya.
“Sayang…”
“Iya, Ma?”
“Kamu kuat. Mama tahu kamu mungkin belum bisa memaafkan Dila. Tapi kamu harus tahu… kamu gak sendirian.”
Mala menunduk, matanya berkaca-kaca.
“Mama juga perempuan, Mala. Mama tahu rasanya disakiti perempuan lain karena suaminya.
Tapi perempuan tangguh itu bukan yang gak pernah jatuh… tapi yang tahu kapan harus berdiri lagi.”
Mala tersenyum. Lirih, tapi hangat.
Reno yang duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya sambil berbisik,
“Kita punya orang tua yang akan selalu jaga kita. Sekarang aku tahu… ini bukan cuma ujian rumah tangga. Ini ujian untuk jadi keluarga sesungguhnya.”
Hari itu, bukan hanya video yang hilang dari dunia maya—
tapi juga rasa takut dalam hati Mala yang perlahan mulai berganti dengan rasa aman.
Karena kali ini,
ia tahu dirinya dicintai bukan hanya oleh suami dan anaknya…
tapi juga oleh keluarga besar yang siap melindungi.
semangat thor.. mampir juga dong ke ceritaku..