Alexandria adalah seorang gadis berumur 30 tahun yang memiliki luka masa lalu. Rencana pesta pernikahannya gagal di hari H saat seorang wanita berbadan dua hasil perbuatan calon suaminya Mahesa datang.
Lima tahun berlalu sejak saat itu Alexa berusaha mengubur lukanya dengan menjadi pribadi yang dingin terhadap orang yang belum dekat terutama lawan jenis. Seorang workaholic dan mengisi hidup untuk mewujudkan isi bucket listnya.
Kehidupan baru Alexa terusik ketika dia harus menjadi mentor Devon putra bungsu pemilik Brahmana Corporation tempat dia dan Theo suami Arika sahabatnya bekerja. Devon pemuda berusia 22 tahun terkenal karena susah diatur, suka berfoya-foya dan tidak serius menyelesaikan kuliahnya.
Selain itu satu per satu masa lalu mulai menghampiri gadis itu kembali.
Apakah Alexa akan berjodoh dengan masa lalunya?
Ataukah dia menemukan kebahagian lain?
Apakah waktu bisa menyembuhkan luka hatinya?
Berisi lagu-lagu romantis yang sesuai dengan tema chapter.
IG:ayyona_18
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayyona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 - Taruhan
Bermalam minggu di negara Singa, bagi anak muda seperti Devon, Alexa dan Anthony tentunya tidak akan dilewatkan dengan duduk di dekat patung Merlion atau jalan-jalan di Orchard seperti orang kebanyakan. Mereka lebih memilih untuk hangout di sebuah café untuk menikmati malam panjang itu sambil berbincang-bincang. Daerah Clarke Quay memang terkenal dengan hiburan malam yang lebih cocok untuk wisatawan berkantong tebal, tentunya tuan muda lebih memilih di daerah ini yang lebih nyaman untuknya.
Mereka terlihat menikmati minuman dan finger food yang tersedia di meja bundar kecil itu sambil menikmati alunan musik yang tidak terlalu memekakkan telinga.
“Nambah lagi beer-nya Anth," tawar Devon ketika melihat Anthony sudah beberapa kali meneguk minuman alkohol dingin itu.
“Diet coke aja deh, ntar kalo banyak-banyak malah ada yang ikutan ngabisin," kode mata Anthony ke arah kakaknya.
Anthony terlihat sudah mulai akrab dengan Devon. Mereka berdua terlihat antusias membicarakan kemungkinan membuat bisnis design interior berbasis digital. Sementara Alexa sesekali memberikan pandangan dan analisis sesuai kapasitasnya. Waktu gadis itu lebih banyak dihabiskan dengan berbalas pesan di platform messenger yang banyak terlewatkan selama dia Singapura. Devon pun melambaikan tangan memanggil pelayan café untuk memesan tambahan minuman dan kudapan.
“Mata ke HP melulu, terang aja ga dapat calon suami. Lihat tuh banyak babang-babang tamvan made in luar negri di sini!"
Tiba-tiba Anthony meraih ponsel yang ada di tangan kakaknya.
“Apaan sih Nobita, sini!” sungut Alexa sambil kembali berusaha merebut telepon genggamnya.
Hmmm mulai lagi nih Tom Jerry, gumam Devon dalam hatinya sambil tersenyum tipis.
“Lagian juga kalian tuh ya, malam minggu ngomongin bisnis. Sana cari gebetan juga. Malah malam minggu sama tante-tante," ledek Alexa tidak mau kalah setelah berhasil merebut kembali gawainya.
“Kita sih gampang dapet cewek di sini, ya kan Mas Devon, tapi kalo Mbak kayaknya aku ragu deh," ejek Anthony yang memang selalu menjahili Alexa jika bertemu kalo berjauhan pasti merindukan saat – saat itu.
“Kan…ngeremehin lagi. Mau taruhan apa? Ijin naik ke Gunung Prau, ya?!"
Wajah berbinar Alexa menatap nanar adiknya yang langsung mendengus atas kegigihan kakaknya itu agar membiarkannya mewujudkan isi bucket listnya sendirian terutama yang ekstrem.
Belum sempat Anthony merespon ajakan taruhan dari Alexa, gadis itu terlihat telah menghampiri seorang pria bule yang terlihat sedang menikmati minumannya sendiri di pojok café itu. Devon hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Alexa yang berhasil di panas – panasi oleh adiknya. Sementara Anthony membiarkan saja karena tahu pasti kakaknya itu tidak akan bertindak aneh-aneh.
Kedua laki-laki muda itu menikmati diet coke yang telah datang diantar pelayan café sambil sesekali memastikan keadaan Alexa yang masih berada di meja pria bule itu. Mereka terlihat akrab dengan cepat bahkan tak jarang mereka tertawa bersama dan saling mengadu minuman kaleng di udara.
Hampir setengah jam lamanya Alexa bersama pria asing tersebut kemudian gadis itu kembali ke meja di mana Devon dan Anthony berada. Dengan senyum penuh kemenangan gadis itu duduk manis di depan kedua pemuda itu.
“See!” Raut wajah mengejek terlihat dia tujukan ke Anthony.
Adiknya itu pun hanya mengulum senyumnya. Ingin rasanya dia mengatakan kalau memang gampang mencari laki-laki kenapa sampai sekarang masih sendiri seakan tidak bisa melupakan Mahesa. Namun niat itu diurungkannya, dia tidak ingin membuat Alexa sedih jika membahas nama laki-laki penjahat kelamin itu.
Karena perasaan kurang nyaman akibat datang bulan, Alexa pun pergi meninggalkan Devon dan Anthony menuju toilet untuk mengganti pembalutnya. Tak sengaja Devon melihat pria bule yang tadi didekati oleh Alexa meninggalkan mejanya menuju arah yang sama dengan tujuan Alexa.
Ah mungkin dia juga ingin ke toilet pikir Devon dalam hati.
Namun jiwa bad boynya berkata lain. Kemungkinan pria tadi menyusul Alexa bisa saja terjadi. Hal itu sering dia lakukan dulu di mana dia dan teman-temannya akan mengikuti cewek incaran mereka dan kemudian akan pura-pura tak sengaja bertemu lagi lalu mulai merayu sampai bisa membawa gadis itu pergi dari cafe atau klub malam untuk mencari tempat yang lebih private. Walau pun dia tahu Alexa tidak akan segampang itu, namun Devon tak ingin lengah karena apa pun sekarang bisa terjadi.
Devon pun memberi tahu Anthony bahwa ia akan pergi ke toilet tanpa memberi tahu rasa khawatirnya kepada adik Alexa itu. Benar saja perkiraan Devon, di lorong toilet yang sepi itu terlihat Alexa sedang berusaha menghindar dari incaran pria bule tadi. Ingin rasanya Devon langsung memukul pria itu, namun mengingat dia berada di negara orang apa lagi Singapura, dia tak ingin membuat keributan.
“Hey man, let the girl go!” sentak Devon menarik lengan pria yang sama berpostur sama dengannya itu.
Alexa yang melihat pria itu lengah langsung mendekat ke arah Devon namun tangannya ditarik oleh pria yang terlihat sangat menginginkannya itu.
“It’s not your business go away!” usir si bule menatap jengkel ke arah Devon.
“I won’t until you put off your fucking hand from my wife or I will call the police!” hardik Devon.
“No way, she said she is single!” sahut si bule tidak mau kalah.
Yang dia tahu Alexa masih single sesuai percakapan mereka di meja tadi. Mendengar si bule ngeyel dan terlebih Devon tak ingin memancing keributan, dengan cepat Devon menarik paksa Alexa.
Laki-laki yang terlihat sedang susah payah menahan emosinya itu meraih pinggang Alexa kemudian dengan cepat dia meraup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Tanpa ijin Devon memberi ciuman di bibir Alexa yang terlihat tidak siap dan menyangka laki-laki itu akan bertindak seperti itu.
“Ach Shit!!!" Teriak si bule melihat adegan di depan matanya.
Dia pun pergi meninggalkan sepasang manusia yang masih menyatukan kedua bibir mereka. Devon perlahan melepaskan pautan bibirnya dari Alexa setelah melihat si bule pergi menjauhi lorong itu. Alexa masih terpaku di posisinya berusaha mencerna apa yang terjadi.
Devon menikmati raut muka Alexa yang tak biasa seperti Anna di film Frozen yang membeku setelah terkena kekuatan es Elsa kakaknya. Dalam berapa helaan napas kemudian Alexa tersadar dan memalingkan wajahnya dari tatapan Devon.
“Lain kali jangan main-main sama pria asing!" ujar Devon yang kemudian mengajak gadis itu kembali ke café.
Setiba di meja Anthony, Devon memberitahu jika mereka akan segera meninggalkan café itu lalu beranjak menuju cashier untuk membayar tagihan mereka. Anthony melihat gelagat yang tidak biasa dari kakaknya sejak keluar dari toilet kemudian mencoba mencari tahu.
“Mbak kenapa, sejak dari toilet jadi diem gitu. Sakit bulanannya kambuh?” selidik Anthony ketika mereka sudah berada di taksi yang membawa mereka kembali ke hotel.
“Enggak, hmm itu tadi di toilet di samperin si bule," jawab Alexa mencoba jujur pada adiknya.
“Hah! Terus dia macem-macem?” Anthony cemas mendengar pengakuan kakaknya.
“Ga..untung Devon liat, jadi ga sampai macem-macem," balas Alexa lagi tanpa menceritakan kejadian yang membuat dia merasakan ciuman pertamanya.
Walau pun itu tidak seperti ciuman penuh gairah tapi tetap saja bibirnya telah tersentuh bibir laki-laki untuk waktu yang cukup lama bukan sebuah kecupan yang bahkan Mahesa pun tidak pernah mendapatkannya.
“Huft untung aja ya! Makanya jangan sendiri terus. Harus ada yang jagain. Mau seorang gadis bisa bela diri sekali pun tetap saja akan kalah melawan kekuatan dan naluri laki-laki," ceramah Anthony pada Alexa yang hanya mengerutkan bibirnya seperti anak kecil sedang dimarahi ayahnya.
Devon yang duduk di bangku depan di sebelah sopir taksi hanya diam tak ingin ikut menimpali percakapan kakak beradik di belakangnya.
Mereka pun berpisah ketika lift yang mereka naiki berhenti di lantai 12 di mana kamar Anthony berada, sedangkan Devon dan Alexa melanjutkan perjalanan lift itu menuju lantai 14 tempat kamar mereka. Perjalanan dua lantai itu sepertinya akan terasa lama bagi Alexa yang membisu tak bergerak di posisinya.
Devon berusaha mencuri pandang melalui kaca di kiri kanan dinding lift itu mencari tahu raut wajah gadis itu. Ketika pintu lift terbuka, Devon menahannya dengan tangan dan mempersilahkan Alexa untuk keluar terlebih dahulu. Kemudian pemuda itu pun menyusul Alexa yang terlihat terburu-buru menapaki lorong bernuansa putih gading itu.
Ketika mereka telah menutup kembali pintu utama kamar business suite, Devon menahan langkah Alexa yang segera ingin masuk ke kamarnya.
“Lexa, my apologize untuk tadi, ya..," ujar Devon mengingat kejadian di lorong toilet café beberapa saat yang lalu.
“It’s Ok Dev, kalo ga ada kamu tadi mungkin aku sudah bikin keributan di negara orang," balas Alexa yang terlihat masih berusaha menyembunyikan rasa malunya.
“Ya udah, istirahat. Besok saja packingnya, kan penerbangan kita siang," ujar Devon yang disambut anggukan Alexa.
Mereka pun berpisah melangkah ke kamar masing-masing.
Di bawah shower yang menyirami tubuhnya, Alexa masih terbayang kejadian tak terduga antara dia dengan laki-laki di kamar sebelahnya. Sedikit kolot mungkin, di usianya yang sudah 30 tahun ini, sikapnya masih seperti gadis belia yang baru merasakan ciuman pertama. Malu rasanya menyadari kenyataan respon raganya yang membeku mendapat perlakuan tiba-tiba.
Kentara ga sih kalau itu adalah momen pertama baginya gumam Alexa. Tapi mau bagaimana lagi, itulah kenyataannya.
Lain hal dengan Devon yang juga sedang menikmati pancuran air hangat dari shower kamar mandi yang dilengkapi bathtub itu, dia terlihat tersenyum membayangkan hal sama yang sedang memenuhi pikiran Alexa.
Berciuman dengan lawan jenis bukan hal yang baru baginya, walau pun itu hanya kecupan berdurasi lama tanpa paksaan dan gairah membuncah namun terasa manis di bibir laki-laki itu.