Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan
Seorang wanita cantik dengan rambut ikal di bawah telinga sedang menghisap rokoknya dalam-dalam dan mengehembuskan asapnya kasar. Wanita itu sedang berdiri di balkon apartemen mewah dengan piyama sexy berbahan silky selutut.
Pandangannya jauh ke depan mengingat kembali perjalanan kisah cintanya yang awalnya berjalan normal dan baik-baik saja, akhirnya harus kandas karena ulahnya sendiri.
"Baby, Kamu masih di sini belum mandi? Apa mau di mandiin?" Seorang lelaki bule memeluk erat wanita cantik itu dari belakang, meletakkan dagunya di bahu wanita itu. Bibirnya menciumi leher putih kekasihnya yang sudah banyak stempel akibat ulahnya.
"Honey, jangan mulai lagi, aku lelah, bukannya udah beronde-ronde," ucap wanita tersebut yang merasakan kembali gairahnya saat tangan kekasihnya mulai beraksi mengelus lembut kulit perutnya.
"Ayo sekalian mandi, nanti kita bicara lagi tentang mantanmu, harusnya kamu sudah bisa membuatnya bertekuk lutut kepadamu, Baby, kita harus bisa membuatnya jatuh, aku tidak bisa berdiam diri saja, Baby, sudah banyak kerugian yang aku dapatkan karena proyek itu jatuh ke tangannya," ucap lelaki bule yang terus saja menciumi leher kekasihnya itu.
"Euh, Honey tanganmu nakal sekali," si wanita membuang puntung rokok yang masih ada di tangannya dan tubuhnya berbalik menghadap ke kekasihnya. Ia memeluk leher kekasihnya itu.
Keduanya larut dalam kemesraan, tanpa menghiraukan lagi sedang berada di mana. Bibir keduanya sudah saling memagut dan mencecap. Si pria bule mendorong wanitanya masuk kembali ke kamar dan mereka melanjutkan pertarungan mereka di atas ranjang yang masih berantakan karena ulah mereka berdua.
Drrtt.. drttt.. terdengar getaran ponsel di atas meja nakas di samping ranjang mereka. Tapi keduanya acuhkan.
Ponsel terus berbunyi membuat keduanya berhenti dengan aksi mereka.
Si pria bule melihat ke atas meja, ponselnya terus berdering. Tangan panjangnya meraih ponsel di atas nakas. Mengangkat telponnya.
"Ya hallo, apa? Kenapa bisa? Shiiit.., bukannya kemarin sudah mau deal, kamu urus dulu Dicky, Aku akan temui kamu nanti. Ya tunggu di situ nanti kita bicara," si bule mematikan ponselnya dan membantingnya ke kasur.
"Kenapa, Honey?" tanya si wanita sambil memeluk tubuh kekasihnya.
"Aku harus pergi temui Dicky, Baby, proyek kemarin sudah mau deal bisa-bisanya di batalkan, ini semua pasti ulah si brengs*k mantanmu itu,"
"Damar lagi? Apa kamu yakin?" si wanita mengerutkan keningnya.
"Ya, siapa lagi kalau bukan dia, di kota ini siapa yang tak kenal dia, selalu saja membuat Aku kalah, shiiiit,"
"Sudah, sudah jangan marah gitu, aku akan membuatnya kalah denganmu, Honey, Aku akan membuatnya kembali kepadaku, mencari kelemahan dia,"
"Thank, my dear Clara, give me kisses, Baby,"
Pagi itu kegiatan panas keduanya masih berlanjut. Clara Cintya Baskoro mantannya Damar sedang memadu kasih dengan mantan pimpinannya yang sekarang menjadi kekasihnya.
Bryan Phillip, 33 tahun seorang pria bule asal Amerika yang sudah lama menetap di Indonesia menjalin asmara dengan mantan sekretarisnya Clara sudah sejak setahun yang lalu.
Bryan pria bule dengan tubuh tinggi dan tampan seorang ceo di bidang yang sama dengan Damar, kontruksi.
Sudah sering Bryan bertemu dengan Damar di setiap ada pertemuan bisnis. Mereka berdua merupakan saingan bisnis sejati. Damar selalu bisa mendapatkan proyek-proyek besar multiyears.
Sebagai sama-sama pengusaha muda tentu saja Bryan dan Damar merasa saling bersaing, Bryan heran dengan Damar yang selalu saja bisa mendapatkan proyek-proyek strategis.
***
Sementara di rumah mewah berlantai tiga dengan model Skandinavia, Damar sedang berada di kamarnya di lantai 2.
Kedua tangannya di letakkan di bawah kepala pandangannya ke langit-langit kamar. Kejadian yang baru di alaminya beberapa hari lalu masih terbayang di pelupuk matanya, membuat dirinya tersenyum tipis.
Sejak putus dari Clara yang sudah menghianatinya Damar enggan untuk dekat dengan seorang wanita. Dirinya sampai hari ini tidak tertarik dengan seorang wanitapun. Sampai saat pagi itu dirinya yang sedang di kerjar-kejar oleh mantannya melihat seorang gadis cantik sedang menatap ke arahnya.
Damar yang saat itu tidak ingin di ganggu oleh mantannya seketika memiliki ide cemerlang, ia berjalan dengan cepat menghampiri wanita yang tidak dikenalnya itu, dan entah ide darimana tiba-tiba saja dirinya mencium pipi gadis cantik di di depannya ini.
Siapakah sosok wanita yang sudah di cium olehnya itu? Ternyata dirinya bertemu kembali dengan gadis yang sudah mencuri perhatiannya itu.
Mereka bertemu kembali di kantor si gadis dan kebetulan si gadis yang belum pernah menyebut namanya itu kenal dengan adik sepupunya, Amara.
Damar masih saja melamun sambil senyum tipis, saat dering ponselnya berbunyi nyaring.
Damar mengambil ponsel di atas nakas di samping ranjangnya. Vano asistennya yang menelpon.
"Bos, proyek Mall yang kemarin sudah kita rapat kan dengan Mr. Gery sudah di setujui, mereka mengundang Bos untuk bertemu besok di kantor mereka,"
"Hmm, atur aja," jawab Damar singkat.
"Apa ada lagi?" tanya Damar.
"Itu Bos, Nona Amara ingin mencoba mobil Bos yang baru, dia tak berani mau bicara langsung ke bos,"
"Tidak, mobil itu belum pernah aku pakai, bilang saja belum bisa,"
"Oke Bos, baiklah, satu lagi Bos, Nona Clara minta bertemu dengan Bos malam ini,"
Tut.. tut.. tut.. terdengar nada putus dari panggilan ponsel.
Di seberang sana Vano merasa dongkol selalu saja jika tentang mantannya si bos selalu illfeel. Pasti tidak pernah di responnya.
Damar tersenyum kembali, proyek multiyears yang di inginkannya akhirnya bisa jatuh ke tangannya. Damar sudah menyiapkan disain untuk pembangunan Mall nya.
Persaingan ketat dengan kompetitor lainnya yang juga mengincar proyek tersebut termasuk dengan Bryan kekasih mantan pacarnya.
Damar mengambil ponselnya kembali, dirinya sedang merasa senang dan ingin bertemu dengan sahabatnya yang lama tidak bertemu.
Damar memencet keypad ponselnya mencari kontak Ganendra.
"Hai Bro, apa kabar? Apa Lu sibuk? Ke Club Kita?"
"Okey, Gue nanti datang bareng Dewa,"
"Oke, sip, no bawa Girlfriend, okey,"
"Okey Bro, aman,"
Damar dan Ganendra sudah bersahabat lama, sejak sama-sama ambil S2 di luar negeri. Damar tau Ganendra punya kembaran cewek tetapi dirinya tidak pernah bertemu.
Dewa juga merupakan sahabatnya, mereka bertiga sahabatan. Damar tau Dewa menyukai kembaran Ganendra. Dirinya tidak ikut campur untuk urusan asmara masing-masing.
Ganendra dan Amara sudah berpacaran setahun yang lalu, Amara merupakan sepupu Damar, pertemuan yang tidak disengaja saat Damar membawa sepupunya di acara pertemuan para pebisnis muda.
Ganendra menyukai Amara karena gadis itu terlihat sangat sopan dan pendiam. Saat pertama bertemu dirinya yang mendekati Amara.
Damar tidak melarang keduanya menjalin hubungan asmara karena Damar tau track record Ganendra sahabatnya itu belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita.
semangat onell /Determined//Determined/
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤