Cantik namun sifatnya sangat liar!
Elleandra Caroline, seorang gadis yang dijuluki sebagai Rebellious Aphrodite! Gadis yang mempunyai segudang catatan kenakalan itu tiba-tiba mengalami sebuah kecelakaan saat melakukan balap liar.
Lalu, saat tersadar, dia telah berada dalam dunia novel yang berjudul All I Want is You. Novel yang menceritakan kisah antara dua karakter villain; Aiden Drake O'Reagan dan Cassiera Romano.
Namun, alih-alih menjadi tokoh utama yang kuat, Elleandra justru terbangun di dalam tubuh figuran bernama Elleanor Sezadly, putri bungsu keluarga Sezadly yang lemah, bodoh dan sering ditindas oleh tokoh utama wanita. Ditambah lagi, Elleanor juga dibenci oleh Louisa, adiknya sendiri, karena telah lancang mencintai seorang Aiden!
Elleandra yang tidak terima terlahir kembali sebagai tokoh yang lemah, dia dengan penuh tekad ingin mengubah takdir hidup Elleanor dan menjadi bintang utama dalam novel tersebut!
🌹pjg/bab ±1500 kt
🌹FOLLOW AUTHOR AGAR TDK KETINGGALAN UP
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adora belle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[RA] 09 : Menebar Pertikaian [2]
Elleandra membawa nampan berisi makanan miliknya menuju ke sebuah meja yang berada di dekat jendela kafetaria ORIS. Di sana sudah ada Lara yang tengah memakan chicken cordon bleu-nya sambil memainkan ponsel.
Lara meletakan ponselnya begitu melihat Elleandra duduk dan meletakkan nampan makanan milik gadis itu yang berisi semangkuk caesar salad dan segelas minuman berwarna magenta. Bisa Lara tebak dengan mudah jika itu adalah jus buah.
"Elle, boleh aku tanya sesuatu padamu?" Lara berkata setelah menelan makanannya.
"Itu kau sudah bertanya." Elleandra menjawab dengan nada cuek kemudian menyuap sesendok salad ke dalam mulutnya. Gadis itu mengunyah dalam diam.
Lara mencibir pelan. Kenapa gadis cantik di depannya ini sangat menyebalkan sekali sifatnya? Untung Lara sudah mulai kebal. Kalau tidak, mungkin Lara sudah menderita darah tinggi sekarang.
"Kau ini sebenarnya berasal dari keluarga mana? Kenapa kau berani sekali mencari masalah dengan Cassiera dan juga Louisa?" Lara bertanya dengan nada pelan sembari sedikit mencondongkan badan ke arah Elleandra.
"Tidak seru kalau aku beritahu sekarang," kata Elleandra yang masih sibuk dengan makanannya. "Dan jangan berbisik-bisik, Lara. Bicara lah dengan sedikit jelas, jangan membuat kupingku berkerja dua kali lebih keras!"
"Jangan sok misterius, Elle! Beritahu aku sekarang, kumohon." Lara sampai mengeluarkan sorot mata anjingnya.
"Kalau aku memberitahumu sekarang, takutnya nanti kau malah tidak percaya, kemungkinan terburuknya kau bisa pingsan seperti ikan asin yang kehabisan oksigen, Lara. Jadi, nanti saja kuberitahu, oke? Jangan banyak protes!" Elleandra tetap enggan untuk menjelaskan.
Lara menipiskan bibir sambil menatap Elleandra dengan pandangan gemas.
"Lalu, apa kau sebenci itu dengan Louisa, Elle? Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Louisa waktu itu?" Lara meletakkan alat makannya dan fokus menatap Elleandra.
Elleandra menghela nafas berat, dia beralih menatap Lara dengan malas.
"Hubunganku dengan dia itu rumit, Lara. Aku jadi bingung ingin jujur apa tidak. Kalau aku jujur, aku yakin bukan hanya pingsan, namun kau akan langsung jantungan lalu mati kemudian hidup lagi untuk memastikan kebenaran dari apa yang kau dengar," kata Elleandra setengah berkelakar.
"Jadi, demi keberlangsungan hidupmu, untuk saat ini jangan tanyakan apapun tentang gadis itu, oke, Lara? Tolong menurut padaku kali ini."
Elleandra berkata diakhiri dengan senyum di wajah datarnya. Akhirnya, mau tak mau, Lara membungkam mulutnya dan tidak lagi berbicara.
Sabar, ya, Lara.
Kemudian, saat Elleandra akan mengambil minumannya, seseorang menggeser gelasnya menjauh dari jangkauan Elleandra dan menimbulkan suara halus dari gesekan gelas dengan bagian atas meja yang terbuat dari marmer.
Elleandra dan Lara menoleh dan mendapati Louisa serta satu gadis asing yang tidak dikenali oleh Elleandra. Tentu saja gadis asing yang menggeser gelas Elleandra adalah Annalise, teman sekelas sekaligus sahabat Louisa.
"Apa kami boleh bergabung? Meja yang lain sudah penuh." Annelise berkata dengan senyum manis yang terlihat palsu.
Elleandra menatap datar Annelise dan juga Louisa. Sedangkan Lara hanya diam saja, tidak mau repot-repot menjawab karena dia sangat tahu gadis seperti apa Annelise itu.
Di ORIS, Annelise sama populernya dengan Cassiera dan juga Louisa. Gadis itu terkenal sebagai perisak murid lemah yang tidak setara dengannya.
Annelise adalah sahabat setia Louisa, jika Louisa diganggu, maka Annelise yang akan maju membela putri kedua keluarga Sezadly itu dan merisaknya habis-habisan sampai orang itu tidak berani mendekat ke arah Louisa lagi.
Tentu saja orang seperti Louisa harus tetap bersih. Untuk apa dia repot-repot mengotori tangannya secara terang-terangan di depan publik jika ada orang bodoh seperti Annelise yang mau melakukan hal kotor itu tanpa di suruh?
Tugas Louisa hanya menjaga citra diri agar tetap terlihat seperti gadis baik yang memiliki hati lembut dan suci tanpa dosa. Itu adalah image yang harus Louisa jaga sampai mati.
Biar saja Annelise yang menjadi tameng Louisa untuk membalas semua orang yang tidak suka padanya. Toh, gadis itu seharusnya bersyukur karena bisa menjadi teman dekat seorang Sezadly seperti Louisa.
Iya, kan?
Jika Louisa terkenal dengan image gadis cantik seperti malaikat yang baik hati, maka, Annelise terkenal dengan sifat buruknya, sama seperti Cassiera. Gadis itu juga suka bertingkah murahan dengan cari perhatian dengan hampir semua murid laki-laki di ORIS.
Maka dari itu, Lara sangat tidak menyukai Annelise. Gadis centil itu suka sekali menggoda Edward, lelaki yang sekarang sudah menjadi mantannya itu.
Elleandra menyadari tatapan tidak suka yang dilayangkan Lara untuk Annelise. Elleandra hanya menebak jika Lara pasti mempunyai konflik internal dengan Annelise, makanya tatapan Lara seperti singa yang ingin membunuh mangsanya.
"Aku bertanya padamu! Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau tuli?"
Louisa di belakang tubuh Annelise hanya menunduk. Lalu, Louisa menarik pelan lengan seragam Annelise seperti memberi kode agar mereka berdua pergi saja karena mendapat respon tidak mengenakkan dari Elleandra dan juga Lara.
"Anne, ayo cari tempat lain. Sepertinya, Elle masih marah padaku." Louisa berkata dengan nada sedih.
Annelise yang mendengar itu lantas menatap Elleandra dengan sinis.
"Tidak! Jika ada yang harus pergi, tentu itu bukan kita, Lou, tapi Elle dan si gadis abu-abu ini," kata Annelise dengan angkuh. Tentu saja gadis abu-abu yang dia maksud adalah Lara, mengingat warna rambutnya yang berwarna kelabu.
Tapi, Lara tetap saja tidak terima dengan sebutan Annelise untuknya!
"Maaf, tapi kau ini lancang sekali. Apa kau tidak lihat jika aku dan Elle yang duduk lebih dulu?" Lara menatap tajam Annelise.
"Lalu? Kalau aku mau duduk di sini, memang kau bisa apa? Kau berani melawanku?" Annelise berkata dengan nada menantang.
Elleandra diam-diam mengamati Louisa yang hanya menunduk. Gadis itu tersenyum miring melihat Louisa yang bertingkah layaknya gadis yang tidak berdaya.
'Louisa, ternyata kau mendapat tameng yang tidak terlalu buruk, hm?' Elleandra membatin dengan senyum geli. Ah, bagaimana ini, dia selalu gemas dengan jenis manusia hina bau neraka seperti Annelise.
"Kenapa kau diam saja, cepat pergi dari sini sekarang juga!" Suara Annelise melengking naik beberapa oktaf, membuat hampir semua murid yang ada di kafetaria yang luas ini menengok ke arah mereka.
"Berisik!"
Apa kalian bisa menebak siapa yang sudah berkata dengan nada lebih menggelegar dari Annelise itu?
Ya. Tentu saja Elleandra! Siapa lagi yang berani berteriak layaknya orang kesurupan di tengah kafetaria yang ramai ini? Lihat, orang-orang sampai menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke arah Elleandra dengan berbagai pandangan.
Louisa bahkan sedikit tersentak ke belakang seperti orang ketakutan. Oh, dan tentu saja Annelise menyadari pergerakan kecil dari Louisa.
"Oh, kau berani melawanku? Katakan sekali lagi, lalu aku akan menyumpal mulut lancangmu itu!" Annelise menatap galak ke arah Elleandra.
"Annelise Loudsman?" Elleandra membaca papan nama yang berada di seragam Annelise.
"Loudsman? Namamu benar-benar mencerminkan dirimu, ya? Tidak ingin merevisinya menjadi Loudsgirl atau ... Loudspeaker?"
Elleandra menahan tawanya.
"Aku bercanda, jangan salah paham. Aku tidak bermaksud mengejek, tapi hanya memberi saran supaya namamu bisa menyesuaikan dengan suaramu yang cempreng itu," kata Elleandra sambil tersenyum santai.
Hampir seisi kafetaria tertawa karena mereka juga bisa mendengar suara Elleandra yang lantang itu.
Annelise segera menoleh ke arah murid yang menertawakan dirinya dan menatap tajam murid-murid tersebut.
"Diam kalian! Beraninya menertawakanku!" Annelise seperti tengah mengeluarkan tanduknya.
Elleandra terkekeh nyaring.
"Anne, sudah kubilang kita duduk di tempat lain saja." Louisa menatap Annelise dengan sendu. Lalu, mengalihkan pandangan pada Elleandra. "Elle, maafkan aku telah menganggumu dan juga Lara. Aku tahu kau masih marah padaku tapi, aku harap kau segera memaafkanku. Aku ingin kita segera berbaikan dan berteman seperti dulu lagi, Elle."
Louisa berkata seolah-olah Elleandra begitu tidak tahu diri dengan tidak mau menerima permintaan maaf Louisa sebanyak apapun gadis itu meminta.
Annelise langsung memandang Elleandra dengan geram. Dia tidak tega melihat raut wajah Louisa yang sangat menyedihkan.
"Elle, bukankah kau sangat bermuka tebal dan tidak tahu malu? Kau yang sudah menyakiti Louisa tapi kenapa justru Louisa yang meminta maaf? Jelas-jelas yang salah adalah kau, dasar gadis tidak tahu diri. Gadis sepertimu memang begitu membuatku muak!" Annelise berteriak marah.
BRAK!
Lara menggebrak meja dengan keras. Dia tidak lagi bisa diam melihat tingkah Annelise yang sangat lancang kepada Elleandra. Dia tidak terima sahabat barunya di hina seperti ini.
Jika, Annelise bisa melindungi Louisa, maka, Lara akan berusaha sebisa mungkin membela Elleandra walau dia yakin Elleandra lebih tahu cara membalas Annelise lebih dari dirinya.
"Anne, orang yang paling tidak tahu diri di sini adalah kau, bukan Elleanor! Seharusnya kau lebih sadar diri dasar ****** tidak tahu malu!" Lara membentak Annelise dengan keras.
'Oh, pertengkaran sepertinya akan semakin seru.' Elleandra bersorak dalam hati.
"Lara, kenapa kau berbicara kasar pada Annelise? Dia hanya meminta agar kami bisa duduk di sini dan makan siang bersama kalian. Tidak perlu sampai mengumpatinya seperti itu." Louisa berbicara dengan suara halus selayaknya orang yang sedang menasihati seseorang.
Annelise tentu merasa senang ketika Louisa membelanya. Dia menatap penuh kemenangan ke arah Lara dan Elleandra.
"Memang kenapa kalau Lara mengumpati temanmu? Berarti kau tidak dengar apa saja yang sudah Annabelle ini katakan padaku dan Lara?" Elleandra menatap Louisa dengan alis memicing.
Annabelle? Lara menahan tawanya agar tidak menyembur.
"A-Annabelle?" Annelise menggeram marah. Dia meletakan nampan makanan yang dia bawa ke meja dengan keras. "Berani sekali mulutmu mengatakan hal itu padaku? Dasar gadis rendahan!"
"Annelise, tenanglah." Louisa mencoba menenangkan Annelise. Dia beralih menatap Elleandra dengan tatapan lembut. "Elle, kau pasti tahu jika Annelise tidak bermaksud mengatakan hal itu padamu dan juga Lara. Tolong pahami sifatnya. Annelise tidak jahat, dia adalah gadis yang baik jika kau bisa memahaminya."
"Annelise begini, Annelise begitu." Elleandra berdecih di tempatnya. "Apa kau pikir aku peduli padanya? Kenapa pula aku harus memahaminya seolah-olah keberadaan temanmu penting dalam hidupku?"
"Betul apa yang dikatakan Elle. Kalian duluan yang mencari gara-gara. Berkaca dulu sana!" Lara ikut membalas perkataan Louisa dengan berani.
Louisa diam-diam menipiskan bibirnya karena menahan amarah yang bergejolak dalam dirinya. Namun, seperti biasa, gadis itu berhasil menahan amarahnya dengan sangat baik.
"Annelise, sebaiknya kita pindah ke meja lain. Kau pasti sudah kelaparan. Jika terlambat makan kau bisa sakit, Anne. Ayo duduk di meja lain saja." Louisa mengeluarkan tatapan memohon sembari membujuk Annelise agar mau pindah ke meja lain.
Annelise berdesis tidak terima. Tapi, gadis itu tidak bisa apa-apa jika Louisa sudah menatapnya dengan tatapan seperti itu. Baiklah, demi Louisa, dia harus mengalah. Tidak apa-apa. Namun, bisa dipastikan bahwa dia membalas perbuatan Elle lain waktu.
Lihat saja nanti.
Annelise mengambil kembali nampan berisi makanan miliknya dan menatap tajam Elleandra.
"Lihat! Bukankah Louisa begitu sabar menghadapi gadis licik sepertimu? Kupastikan kau akan menyesal karena menyia-nyiakan gadis berhati tulus seperti Louisa, Elle," kata Annelise penuh penuh penekanan.
"Gadis tulus mata kau buta," lirih Elleandra dengan nada sinis. Sepertinya Annelise harus di rukiyah terlebih dulu agar melihat sifat busuk Louisa yang sebenarnya.
Lalu, tanpa diminta, terbesit ide jahil di kepala Elleandra.
Begitu Annelise hendak melangkahkan kakinya, Elleandra dengan sengaja menjulurkan kaki kirinya ke arah luar dan berusaha sebisa mungkin agar terkena kaki Annelise.
Sudah bisa menebak apa yang selanjutnya terjadi?
PRANGG!!!
"AKHHH!"
Suara besi berjatuhan dan juga pekikan menggema memenuhi kafetaria ini. Semua orang yang berada di kafetaria ikut menyaksikan adegan memalukan yang terjadi di depan mereka.
Annelise dan Louisa terjatuh dengan menggenaskan di lantai!
Tunggu sebentar! Kenapa Louisa bisa ikut terjatuh?
Ya tentu saja karena ditubruk oleh tubuh Annelise yang tidak bisa menyeimbangkan badan karena jegalan kaki laknat Elleandra.
Louisa yang berada di depan Annelise pun terkena imbasnya.
Seragam kedua gadis itu sudah kotor karena makanan dan minuman yang tumpah mengotori lantai marmer yang dingin ini.
Louisa masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Gadis itu hanya bisa mematung dalam posisinya yang tersungkur di lantai. Dia menatap Annelise dengan cepat, lalu matanya bertubrukan dengan wajah Elleandra yang terlihat terkejut.
Tidak! Louisa tahu bahwa ekspresi itu palsu!
'Gadis sialan! Apa yang dia lakukan padaku!' Louisa menggeram marah dalam hati.
Louisa segera memasang raut terluka sembari menatap Elleandra. Netra gadis itu sudah berkaca-kaca. Lalu, Louisa memeriksa keadaan Annelise melalui matanya. Keadaan Annelise tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Begitu kotor dan berantakan!
Annelise mengumpat dengan keras dan menatap Elleandra dengan marah. Annelise berdiri dari posisinya. Tadinya, Annelise ingin menjambak rambut Elleandra, namun begitu mendengar teriakan panik seseorang, Annelise mengurungkan niatnya dan beralih menoleh ke sumber suara.
"LOUISA!"
Kavin yang baru saja memasuki kafetaria dengan anggota HELL lain dan juga Cassiera. Namun, begitu memasuki kafetaria, dia justru disuguhi pemandangan yang membuat darahnya mendidih!
Kavin melihat adiknya, Louisa, tersungkur di lantai dengan kondisi yang memprihatinkan. Lalu, dengan panik, Kavin menghampiri Louisa dengan cepat dan segera membantu adiknya berdiri.
Kavin memeriksa keadaan sang adik dari atas ke bawah.
"Kau tidak apa-apa?" Kedua telapak tangan Kavin mengusap lembut pipi Louisa. Kavin bisa melihat dengan jelas ekspresi kesakitan Louisa.
Louisa segera mengangguk pelan. Namun, setitik air mata meluncur begitu saja dari kelopak mata Louisa. Hal itu memunculkan rasa kasihan dalam diri Kavin dan beberapa orang yang melihatnya.
Sialan, siapa yang sudah berani menyakiti Louisa hingga seperti ini?!
Kavin mengeratkan rahangnya.
"Ada yang bisa menjelaskan kenapa adikku terluka seperti ini?" Kavin berkata dengan aura menggelap. Membuat Annelise dan beberapa orang menahan ketakutan dalam diri mereka.
"Kak Kavin, aku bisa menjelaskan apa yang terjadi!" Annelise segera menyuarakan pernyataannya.
Kavin segera menatap Annelise dengan tajam, menyuruh gadis itu menceritakan apa yang sudah terjadi pada Louisa. Kavin jelas tidak memedulikan keadaan Annelise yang tidak jauh berbeda dengan Louisa.
Jelas Louisa lebih penting dari segalanya.
"Tadi aku dan Louisa ingin bergabung dengan meja Elleanor dan Lara karena semua meja sudah penuh. Namun, mereka sangat tidak punya hati dan justru mengusir kami pergi. Ketika kami sudah mengalah dan ingin pergi, Elleanor justru menjegal kakiku dan menyebakan aku dan Louisa terjatuh!"
Annelise menjelaskan dengan nada menggebu-gebu seperti telah menemukan peraduan yang tepat untuk membalas rasa dendamnya pada Elleandra.
'Mati kau, Elle. Kak Kavin akan segera menghabisimu!' Annelise membatin dengan senyum penuh kemenangan.
Di tempatnya, Elleandra hanya berdecak pelan. Dia tidak memedulikan tatapan mematikan yang Kavin tujukan padanya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Louisa?" Suara berat milik Kavin yang sarat akan amarah memenuhi indera pendengaran Elleandra dan semua murid yang berada di kafetaria.
Elleandra bisa melihat dengan jelas raut marah yang begitu menyeramkan tergambar di wajah Kavin.
Suasana tiba-tiba terasa hening dan mencekam karena dipenuhi aura gelap milik Kavin.
Sayangnya, hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Elleandra sama sekali. Gadis itu justru berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Kavin dengan tangan yang bersilang di dada.
Elleandra beradu tatap dengan Kavin. Senyum miring terbit di bibir kemerahan Elleandra.
"Kavin, bagaimana ini? Sepertinya kakiku melakukan tugas-tugasnya dengan baik," kata Elleandra tanpa raut bersalah.
Kemudian Elleandra semakin mendekatkan badannya ke arah Kavin, memuat Louisa, Annelise, Lara dan semua murid tercengang dalam diam melihat keberanian Elleandra.
Kavin tidak bergerak dari tempatnya. Membiarkan Elleandra membisikkan sesuatu di telinganya.
"Seperti menghancurkan mobil kesayanganmu dan membuat adik tercintamu tersungkur dengan memalukan di depan banyak orang."
Ellenadra menyeringai dingin setelah mengatakan hal itu. Kemudian, dia menjauhkan badannya untuk melihat wajah Kavin yang semakin menggelap penuh amarah yang siap meluap kapan saja.
"Aku tidak akan meminta maaf. Salahkan saja si Annabelle— ah, tidak, maksudku, Annelise yang membuatku kesal karena sudah menganggu waktu makan siangku yang berharga." Elleandra berkata dengan nada datar.
Lalu, seakan teringat sesuatu Elleandra segera menatap Annelise dengan cepat.
"Ah, aku lupa mengatan sesuatu yang penting padamu!"
Elleandra dengan sengaja melantangkan suaranya agar seisi kafetaria mendengar.
"Apa kau tahu? Kau, Louisa dan juga Cassiera, aku baru sadar jika kalian sangat mirip."
Annelise menggeram. "Apa maksudmu?"
"Cassiera, Louisa dan kau Annelise. Apa kalian tahu jika kalian masuk ke dalam satu spesies yang sama?"
Elleandra langsung menutup hidungnya dengan jari telunjuk.
"Spesies makhluk hina bau neraka yang eksistensinya harus dimusnahkan dari dalam hidupku."
Nada datar itu begitu menusuk ke dalam hati Annelise dan juga Louisa. Ah, sepertinya seorang gadis yang berada di ujung juga tengah mengepalkan tangannya dalam diam ketika namanya yang berharga tiba-tiba disebut dengan sembarangan.
"Apa kalian mau aku rukiyah dulu agar kembali ke jalan yang benar? Aku akan dengan senang hati melakukannya. Tidak apa-apa. Aku siap meluangakan waktu kapan pun kalian butuh pertolonganku."
Kemudian Elleandra melukis senyum palsu.
Setelah mengatakan semua itu, Elleandra berbalik melangkah pergi dari kafetaria diikuti oleh Lara di belakang.
Gadis cantik itu pergi meninggalkan seisi kafetaria dengan keheningan mencekam yang melanda.
Louisa menatap dingin kepergian Elleandra. Tangannya mengepal kuat hingga jari-jarinya memutih. Dia mengumpat keras dalam hati karena semua hal menjadi di luar kendalinya.
Kenapa Kavin dan Annelise hanya diam saja! Seharusnya mereka menampar dan mempermalukan Elleandra seperti apa yang gadis itu lakukan padanya!
'SIALAN! DASAR MANUSIA TIDAK BERGUNA. MATI SAJA KALIAN!' Louisa mengeratkan rahangnya.
pdahal lbh bagus tokoh dingin kek dia gini ga banyak omong lgsg dgn tindakan.
kalo pun mau memaki2 atau apala ya sekali2 ini hampir tiap ketemu ngandelin bacot.