MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI
Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Setengah jam mereka berdua menyusuri jalanan aspal hitam yang begitu panas hingga suara adzan dzuhur sudah terdengar di beberapa masjid dan mushola di sepanjang jalan yang terlewati.
Panggilan adzan itu seolah membuat hati Kirana dan Syakir bergetar mendengarnya.
"Mas Syakir, lebih baik kita berhenti sejenak dan melaksanakan sholat dzuhur berjamaah di masjid sekitar sini," ucap Kirana dengan suara pelan didekat telinga Syakir.
Syakir tidak menjawab secara lisan, namun hanya ada anggukan pelan yang menandakan persetujuan.
Motor matic itu sudah memasuki halaman masjid dan sudah terparkir cantik disana.
Kirana dan Syakir sudah turun dari motor dan berjalan menuju tempat wudhu lalu melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.
Dua puluh menit sudah mereka berdua menyelesaikan sholat berjamaah di masjid. Kirana sudah duduk di kursi panjang dekat parkiran menunggu Syakir, suaminya yang belum selesai melaksanakan sholat dzuhur. Seperti biasa Syakir banyak melakukan dzikir dan doa setelah melaksanakan sholat wajib ataupun sunnah.
"Sudah lama duduk disini, sayang?" tanya Syakir dengan suara pelan lalu ikut duduk disebelah Kirana.
Kirana menoleh ke arah Syakir yang mengajaknya bicara. Sempat terkejut dengan suara khas Syakir, karena Kirana sedang menatap ke arah depan masjid. Ada seorang Ibu yang menggendong anak balitanya sambil menjajakan berbagai jenis di gerobak kaca miliknya. Kue itu cukup banyak dan terlihat sangat enak.
"Eh, Mas Syakir, belum ada sepuluh menit. Lihat Ibu itu Mas?" ucap Kirana pelan sambil menunjuk ke arah Ibu yang ada di depan masjid dengan perasaan kagum.
Syakir menatap ke arah depan, sesuai dengan arahan Kirana dan menatap ke arah Ibu yang menggendong anak balita itu sambil menjual kue-kuenya.
"Beli beberapa kue Ibu itu Kirana, kia makan disini sekalian beristirahat, lalu beli dan bungkus buat Nenek," ucap Syakir menitah kepada Kirana dan memberikan selembar uang merah kepada istrinya itu.
Kirana menerima uang itu lalu dengan segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju arah depan mesjid untuk memilih kue-kue yang enak itu.
"Assalamu'alaikum Ibu, ini harganya berapa?" tanya Kirana dengan suara pelan sambil menunjuk ke arah beberapa kue yang ingin dibelinya.
Ibu itu menatap Kirana sambil mengucap Alhamdulillah dari gerak bibirnya lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya. Sejak tadi memang tidak ada yang membeli kue-kue itu. Orang yang berlalu lalang hanya melewatinya tanpa meliriknya sedikitpun.
Kirana menatap bahagia, senyumnya melebar menatap Ibu tersebut, terlebih anak balitanya terlihat sangat lucu dan menggemaskan berceloteh sendiri dengan mainan boneka kecil yang dipegang dan digigitnya sesekali dengan gemas.
"Waalaikumsalam, iya Kakak, mau yang mana, untuk kue basah semuanya sama harganya seribuan," ucap Ibu itu dengan suara pelan sambil menunjuk ke arah kue-kue itu.
Kirana tersenyum, rasanya ingin sekali memborong semua dagangan kue-kue Ibu itu dan dibagikan kepada anak-anak yang kurang mampu di pinggir jalan atau di setiap lampu merah.
Kirana merogoh kantong baju gamisnya mengeluarkan satu lembar uang merah untuk menambahkan pembelian kue-kue itu. Uang itu disatukan menjadi satu hingga berjumlah dua ratus ribu rupiah.
"Ibu, uang Kiran hanya ada dua ratus ribu, bisa tolong bungkuskan seharga uang ini," ucap Kirana pelan menitah Ibu itu.
Ibu itu menatap Kirana dengan senyum lebar dan penuh semangat. Kue-kuenya habis diborong oleh Kirana. Padahal sejak pagi dirinya duduk di depan masjid itu bahkan tidak ada yang melirik dagangan itu.
Dengan gerak cepat Ibu itu membungkus dua ratus kue basah ke dalam plastik. Raut wajahnya tampak bahagia sekali, kue-kue itu langsung habis seketika.
"Rumah Ibu dimana? Apakah kue-kue ini, Ibu yang membuatnya sendiri?" tanya Kirana dengan suara pelan bertanya karena rasa penasarannya.
Ibu itu terlihat masih muda, mungkin kisaran usianya sekitar tiga puluh tahunan. Pakaiannya rapih dengan dres panjang berwarna kuning pucat dengan hijab panjang. Raut wajahnya terlihat cantik tanpa make up dan rona bahagianya terpancar.
"Ibu tidak memiliki rumah, dan tinggal dibelakang masjid ini, ada sebuah gudang tua yang tidak terpakai, untuk melanjutkan hidup maka Ibu membuat kue-kue ini kemudian dijual disini," ucap Ibu itu bercerita dengan pelan, kedua matanya sembab dan terlihat basah.
Kirana menatap kedua mata Ibu itu, nampak sekali kegelisahannya saat Kirana bertanya tentang hal pribadinya.
"Suami Ibu? Kerja dimana? Lalu anak Ibu ada berapa?" tanya Kirana pelan sambil menatap ke arah Ibu itu.
"Suami Ibu ada di gudang tersebut, sebentar lagi datang untuk membantu Ibu menemani disini, beliau sedang sakit, anak Ibu hanya satu," ucap Ibu itu dengan pelan menjelaskan.
"Oh," ucap Kirana pelan saat menyimak dan mendengarkan Ibu itu bercerita.
Bungkusan itu sudah rapi dan diberikan kepada Kirana.
"Terima kasih, sudah membeli semua kue-kue saya, semoga Allah SWT memberkahi keluarga Kakak," ucap Ibu itu pelan dan tulus.
Kirana menerima bungkusan itu dan mengucapkan terima kasih juga karean sudah baik dalam melayani.
"Terima kasih juga untuk Ibu, semoga sehat selalu, dan suaminya cepat sembuh," ucap Kirana pelan dan kembali ke kursi panjang di dekat parkiran.
Kirana berjalan dengan suasana hati yang terlihat sedih dan kasihan. Dari kejauhan Syakir sudah menatap Kirana dengan senyum yang lebar dan manis. Senyumnya itu membuat kebahagiaan tersendiri di hati Kirana.
"Maaf ya Mas, lama," ucap Kirana pelan saat sampai di kursi itu dan duduk di sebelah Syakir, suaminya.
Suaminya hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa sayang, Mas lihat kamu berbincang dengan Ibu nampak serius sekali ada apa?" tanya Syakir dengan suara pelan sambil mengambil satu kue basah dari kantong plastik itu lalu memakan satu risol dengan cabai rawit mentah dengan sangat nikmat.
Kirana hanya tersenyum melihat Syakir, suaminya itu. Begitu perhatian sekali suaminya itu hingga detail memperhatikan Kirana sejak tadi.
"Ibu itu bercerita tentang suaminya yang sesnag sakit dan menanggung beban hidupnya hanya dengan berjualan kue, dan Ibubiti tidak memiliki rumah, kasihan sekali Mas," ucap Kirana dengan cepat.
Syakir hanya tertawa pelan dan mengambil satu kue dari plastik itu dan menyuapkan kepada Kirana yang sedang berbicara panjang lebar tentang kehidupan Ibu penjual kue itu.
Kue basah itu didekatkan di bibir Kirana agar memakan kue suapan Syakir.
"Makanlah dahulu, nanti cerita lagi," ucap Syakir pelan kepada Kirana.
Kirana tersenyum lalu memakan kue itu dengan pelan.
"Makasih Mas," ucap Kirana pelan dan mereka tertawa bersamaan karena malu.
Terkadang hal-hal kecil karena suatu bentuk perhatian dan kasih sayang itu perlu dilakukan, walaupun hanya menyuapi pasangan kita, atau menyiapkan makanan kesukaan pasangan kita, atau duduk di dekat pasangan kita lalu mencium pipinya secara tiba-tiba. Nikmatnya dapat pahalanya pun dapat.
miris pola pikir mu thor
belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain
belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban
renungkan lah
kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana
mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana