Pernikahan yang berlandaskan rasa bersalah juga karena ingin bertanggung jawab membuat Icha terjebak dalam situasi rumah tangga yang sangat menyedihkan. Kehadirannya tak dianggap ada oleh suami yang dia cintai. Namun, dia masih bisa tetap bertahan.
"Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, kak Adit. Tapi kenapa kamu malah membuat aku semakin lama semakin tersiksa? Apakah aku harus tetap bertahan, atau malah pergi jauh meninggalkan kehidupan yang menyedihkan ini?" Marisa Aurelia.
"Beri aku waktu untuk belajar mencintai kamu, Icha. Jika aku sudah siap nanti, maka rumah tangga kita pasti akan baik-baik saja." Aditya Hutomo.
Namun, bukannya malah membaik. Rumah tangga yang sudah dasarnya rusak itu malah semakin rusak dengan munculnya orang ketiga. Akankah Icha masih tetap bertahan dengan Aditya yang semakin dingin padanya? Atau ... Icha malah memilih pergi meninggalkan kehidupan pahit yang selama ini menyiksa hati juga pikirannya.
Ikuti kisahnya di sini. Di Sebatas menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 34
"Gak usah bik. Aku gak papa kok. Bentar lagi, listrik pasti nyala. Yakin deh."
Namun, bi Indah yang punya sifat keibuan itu sungguh memahami apa yang Risa rasakan. Icha sedang takut, karena itu, bi Indah sangat ingin memberikan Icha cahaya agar takutnya berkurang.
"Ya sudah kalo gitu, non. Non Risa tunggu di sini saja. Biar bibi yang ke rumah sebelah. Bibi janji pergi gak akan lama."
"Bik ... jangan .... Gak usah pergi lagi deh. Aku gak papa kok. Kalo gak ada bibi, aku makin merasa gak nyaman nantinya. Walau gelap, kalo berdua akan lebih baik kok, bik."
"Non Risa. Kita gak tahu lho, ini sampai jam berapa baru listriknya bisa hidup. Lagian, kita berada di luar seperti ini. Bibi gak mau non Risa masuk angin. Bibi gak lama yah. Perginya cuma bentar aja."
"Atau ... non Risa ikut bibi saja. Kita pergi sama-sama ke tetangga sebelah. Nanti, biar bibi yang ngomong. Non tunggu di halaman rumahnya saja. Bagaimana?"
"Gak ah, bik. Bibi pergi sendiri aja. Tapi janji, jangan lama-lama perginya yah."
"Siap, non. Bibi pergi gak akan lama. Tenang saja."
Akhirnya, bi Indah pergi sendirian ke tetangga sebelah. Tetangga yang tidak lain adalah Aditya. Yah, kebetulan, Aditya adalah laki-laki yang selalu siaga. Rumah yang dia miliki memang punya penerangan ganda. Jika listrik padam, maka tenaga surya akan otomatis hidup.
Maka dari itu, rumah Aditya tidak pernah mati lampu. Icha tahu akan hal itu. Karena selama dia tinggal di rumah tersebut, dia tidak pernah merasakan yang namanya mati lampu.
Sementara Icha terus memikirkan masa lalu, bi Indah pun sudah tiba di rumah Aditya. Dia langsung mengetuk pintu rumah tersebut dengan kuat. Itu dia lakukan dengan harapan, pemilik rumah langsung bisa mendengarkan ketukan tersebut.
Kebetulan yang baik. Keberuntungan sedang memihak pada bi Indah saat ini. Karena saat bi Indah mengetuk pintu, Aditya sedang berada di ruang tamu. Untuk itu, dia langsung bisa membuka pintu ketika mendengar ada orang di depan rumahnya.
"Ya." Aditya berucap sambil memunculkan wajahnya di depan pintu rumah tersebut.
"E ... saya bi Indah, mas. Saya tetangga baru yang baru saja pindah tadi siang ke komplek ini. Mati lampu sekarang, apakah rumah mas ada lilin?"
"Lilin?"
"Iya, Mas. Lilin untuk penerangan sesaat saja. Soalnya kasihan sama majikan saya yang sepertinya takut dengan kegelapan."
Belum juga sempat Aditya menjawab apa yang bi Indah katakan, perhatiannya langsung saja teralihkan. Terdengar teriakan yang cukup keras dari arah sebelah rumah.
"Non Risa." Bi Indah yang panik, langsung berlari kembali ke rumah.
Sementara Aditya, dia juga ikut berlari menyusul bi Indah. Entah apa alasannya, dia juga tidak tahu. Yang jelas, rasa cemas tiba-tiba saja menyelimuti hati sehingga tanpa berpikir dua kali, dia langsung ikut menyusul bibi tersebut.
"Non! Non Risa ada apa?" tanya bi Indah sambil memegang tubuh Icha yang bergetar.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
Ternyata, bukan hanya Aditya yang datang karena teriakan itu. Beberapa tetangga yang mendengar teriakan tersebut juga ikut datang ke sana untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Risa yang sekarang sedang berada di pelukan bi Indah, terlihat sangat ketakutan. Seperti baru saja mengalami sesuatu yang begitu mengejutkan buat hatinya.
"Non Risa ... ada apa, non? Non tenang yah. Tidak perlu takut, sekarang sudah ada bibi di sini. Juga sudah ada para tetangga yang datang untuk membantu jika ada masalah dengan non."
"Iya, neng. Katakan ada apa? Kita akan bantu neng nya jika ada masalah," ucap salah satu bapak-bapak.
"Aku ... seperti ada sesuatu yang melintas di kakiku. Itu terasa panjang, aku takut itu ular. Maaf semua, aku bikin ribut di hari pertamaku tinggal di komplek ini."
"Ular? Ayo kita lihat!"
Mereka yang mendengar kata itu langsung antusias untuk menemukan apa yang Risa maksudkan. Namun, tidak ada ular yang mereka temukan di sana. Melainkan, seekor kucing hitam dengan ekor yang panjang.
"Nah ... mungkin nona ini salah sangka. Tidak ada ular di sekitar rumah ini. Yang ada hanya seekor kucing hitam."
"Ah, mungkin karena gelap, jadi gak bisa membedakan mana ular mana kucing. Maklum, perasaan takut itu bisa saja membuat kita berpikir salah."
"Maafkan aku semuanya. Aku jadi merepotkan kalian semua." Risa berucap dengan nada benar-benar menyesal dan bersalah.
"Gak papa, nona. Kami tidak merasa direpotkan oleh nona. Karena sebagai tetangga, sudah seharusnya kita saling peduli satu sama lain. Lagian, saat gelap begini juga akan banyak hal buruk terjadi."
"Jika tidak keberatan, karena takut akan kegelapan, nona Risa bisa ke rumahku dulu. Karena menurut kabar, listrik baru akan hidup dua jam ke depan," ucap Aditya menawarkan jasa setelah lama terdiam hanya mendengarkan apa yang para tetangganya katakan.
Belum sempat Risa mengangkat bibir untuk menolak tawaran itu, salah satu tetangga malah sudah angkat bicara duluan.
"Nah, ide bagus itu. Kebetulan, hanya rumah dokter Aditya yang punya penerangan seperti penerangan listrik yang sesungguhnya. Jadi, jika menumpang selama beberapa jam ke depan, itu gak akan masalah."
"Iya. Lagian, dokter Aditya juga tinggal sendiri. Gak akan ada yang keberatan jika seorang perempuan datang ke rumahnya," jawab yang lain pula sambil tersenyum.
Tidak bisa Risa lihat dengan jelas seperti apa ekspresi wajah Aditya saat para tetangga itu mengatakan hal itu untuk Aditya. Tapi yang jelas, Aditya hanya diam tanpa berniat menjawab satu patah katapun.
Sementara Risa, atau Icha yang mengetahui sebuah kenyataan bahwa Aditya masih belum menikah dengan Serry, langsung menatap wajah laki-laki itu dengan tatapan lekat. Karena sebelumnya, dia telah berpikir kalau saat ini, Aditya dan Serry sudah bersama.
"Ayo nona! Kita ke rumah ku sekarang. Kamu bisa masuk ke dalam, karena terlalu lama kena angin malam di luar rumah tidak baik."
Aditya berucap dengan lancar tanpa ada halangan sedikitpun. Padahal, kenyataan yang sebenarnya adalah, hati Aditya tidak ingin mengatakan hal itu pada perempuan yang latar belakangnya sangat terkenal di kalangan rumah sakit sekarang.
"Mm ... terima kasih, dokter Ditya. Tapi maaf, sepertinya ... tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkan dokter dengan tiba-tiba mengungsi ke rumah anda."
Aditya terdiam sesaat. Seketika, suasana hening karena para tetangga yang tadi sudah pamit duluan. Yang tinggal sekarang hanyalah mereka bertiga.
"Kau tahu namaku?" tanya Aditya setelah beberapa saat terdiam.
Pertanyaan itu langsung membuat Icha gugup. Bagaimana tidak? Dia yang tidak bisa menyembunyikan perasaan, bisa-bisanya langsung berucap dengan memanggil nama laki-laki itu tanpa pikir panjang terlebih dahulu.