Melihat dua orang wanita yang sangat dia cintai didepannya meninggal, serta Kakak laki-laki yang selalu bersama dengannya sejak kecil. Kemudian, di susul oleh kedua Papanya. Dengan ketiga adik kecilnya yang diikat dengan kejam di pondasi baja, membuat darah Arsen mendidih, sejak itu hatinya di penuhi dengan dendam.
Bertahun-tahun Arsen mencari pria yang tega membunuh keluarganya. Akan tetapi, sangat sulit, walaupun berkali-kali dia hampir menangkapnya. Hingga akhirnya, dia bertemu dengan seorang gadis yang mirip dengan wanita yang dia cintai berada di samping pembunuh itu.
Bisakah Arsen membalaskan dendamnya, atau terjebak dengan dendamnya sendiri, terjebak pesona gadis itu?
Yuk, baca kelanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulanglah Untuk Pernikahan Jameela
"Bagaimana di Indonesia?" Arsen menghubungi Nion setelah lebih dua Minggu berlalu sejak dia salah target.
"Sedikit lagi Bang, semoga berhasil. Wanita ini cukup berbahaya, dia di lindungi beberapa orang berpengaruh," jelas Nion.
"Jangan terlalu fokus, sebenarnya wanita itu tidak perlu di adili, kita hanya perlu memutus akar sumber dana Sony dan Johan saja, agar mempersempit pergerakannya." Arsen berbicara dengan ekspresi datar.
"Saya sudah memutus dan menemukan mata-mata di perusahaan, saya telah melenyapkannya diam-diam, serta mengirim virus ke pesaing bisnis yang berkedok kerjasama."
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik di sana, Waipo Meylin akan merepet jika kau tergores lagi." Arsen mengakhiri perbincangannya melalui internet dengan Nion.
Arsen mengusap wajah, lalu menoleh pada Jack dan Albert. "Kamu gimna Albert?" tanyanya.
"Usaha Uda Ardhen berjalan baik dan lancar Bang, Uda dan istrinya mengganti identitas serta identitas Zean, mereka dibantu temannya yang bernama Abraham dari keluarga yang cukup berpengaruh," urai Albert.
Arsen merespon dengan mengangguk-angguk kepala pelan.
"Mm, apa aku harus menjelaskan hal lain yang—" Albert menggantungkan kalimat, takut jika itu dianggap tidak penting dan membuang-buang waktu.
"Coba katakan," pinta Arsen.
"Zean diam-diam membeli rumah di Belanda, dia juga berencana dan minta izin akan melebarkan usaha roti Uda Ardhen di sana dengan membawa adiknya, dia belum tahu jika adiknya diculik, dia masih mengira gadis itu di Jerman."
"Lanjutkan," titah Arsen.
"Mm ... Uda ingin Abang pulang untuk menyaksikan pernikahan Jamela." Albert melanjutkan ucapannya dengan hal lain.
Wajah Arsen tampak berubah. Dia tidak menjawab, diam beberapa saat. Kemudian menoleh pada Jackson. Yang artinya tak ingin mendengar lanjutan dari perkataan Albert.
"Bagaimana dengan mu Jack?" tanya Arsen.
"Nion mengirim data Hond Kawa dari data lain Sony, dia mendapatkan uang dari sana dan juga dari keluarga Fey Elina, lalu usaha obat terlarang di Indonesia."
"Obat? Bukankah nama Sony cukup bersih di Indonesia?"
"Yang memainkan itu oknum pejabat, artis dan aparat, jadi tidak terhendus. Nion ingin menjebak artis dan pejabat itu serta mencari bukti kuat agar menghancurkan jabatan aparat itu."
"Bagus," puji Arsen.
"Setelah semua dana Sony terputus, kita sudah bisa ke Thailand, karena dana Johan sudah bisa kita berhentikan, kami menemukan alamat orangtua palsu dari data yang dia pakai, Bang."
"Benarkah?" Senyuman kecil tersinggung di bibir Arsen. "Yang harus kita hancurkan terlebih dahulu memang harus Sony, karena dia sumber kekuatan untuk Johan. Tanpa dia, Johan tidak akan bisa terbang bebas.
"Ya, Bang."
***
"Mila!" Pemuda berseragam putih abu-abu memegang tangan Jamela erat. "Kamu beneran mau nikah sama dia?"
Jameela menepis tangan pria itu dari tangannya. "Ya."
"Aku tidak setuju Mila. Aku akan melamarmu!" Pemuda itu bersikeras.
"Jangan gila deh!" dengus Jameela.
"Aku emang gila. Aku gila karena kamu!"
"Gila sendiri aja, nggak usah ngajak-ngajak. Kita itu gak ada hubungan apa-apa, aneh!" Jamila melangkah pergi.
"Enggak!" Dia berseru sambil melangkah besar mengejar Jamela dan memeluknya dari belakang. "Aku jatuh hati padamu Mila, sejak awal kita bertemu, aku tidak rela!"
"Lepas!" Terdengar suara bas dari arah samping, lalu menarik baju belakang pemuda itu. Bugh! Kemudian sebuah pukulan telat di wajahnya mendarat.
"Jay!" seru Jamila terkejut. "Ka-kamu kok ada di sekolah, bisa masuk?"
Mereka masih berada di lingkungan sekolah, Jamela datang ke sekolah mengambil tanda kelulusan di SMA. Pria itu tak menjawab, dia hanya menatap pemuda berseragam putih abu-abu itu dengan tajam.
"Kita pulang," ucapnya setelah merubah mimik wajahnya lebih lembut, merangkul pinggang Jamela.
Pemuda itu mengusap pipinya yang lebam. "Mila, aku mencintaimu!" teriaknya.
Langkah Jay terhenti. "Jay, tak usah di dengar, ayo pulang. Dia bukan siapa -siapa bagiku, bukankah kita akan menikah, jadi fokus untuk masa depan kita saja," kata Jamela menggenggam lengan Jay.
"Baiklah." Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan untuk pulang, menghiraukan pemuda yang masih berteriak itu.
Semoga dia bisa segera bebas dari Johan..
Btw Jay jealous tuh, calon istrinya diganggu cwo lain..
Arsen tidak akan berhenti sampai dendamnya terbalaskan..