NovelToon NovelToon
Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Ibu Sambung Yang Tak Dianggap

Status: tamat
Genre:Duda / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:960k
Nilai: 4.7
Nama Author: Mikim17

follow+vote

Adisti terpaksa menerima tawaran mantan majikan nya untuk menikah dengan putra mereka, tidak kuasa menolak keluarga yang pernah membantu nya Adisti pun menerima tawaran tersebut.

Dia kira karena mereka sudah saling mengenal semua akan baik-baik saja namun siapa sangka sebagian dari mereka malah membenci nya.

Bahkan Acia putri semata wayang Yudha yang dulu pernah ia rawat saat berusia dua bulan pun ikut membenci nya.

Tidak ada alasan khusus untuk membenci seorang Adisti.


Karena dia hanyalah seorang pembantu....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikim17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bujuk Rayu

"Aku mohon Mas" pinta Adisti untuk yang ke sekian kalinya.

"Tidak"

Mulai dari tiga hari yang lalu Adisti meminta Yudha agar mengijinkan Dara tinggal lagi bersama mereka, tapi jawaban Suaminya itu selalu saja sama, Tidak!

Adisti bingung Dengan cara apalagi supaya Suaminya itu mengijinkan Dara tinggal bersama mereka.

"Demi Acia, Mas" Adisti memohon sekali lagi pada Yudha yang tengah santai di ruang keluarga, hari ini hari libur makanya suaminya itu bisa bersantai di rumah.

Yudha tidak menghiraukan Adisti dan masih sibuk dengan koran yang ia baca.

"Mas, Acia selalu kesepian saat makan malam di rumah, belakangan ini kamu sering lembur dan akibatnya Acia harus makan malam sendirian" Jelas nya tidak peduli Yudha mau dengar atau tidak.

Adisti kemudian duduk bersimpuh di bawah kaki Yudha yang posisinya di atas sofa, karena hari libur sebagian pelayan juga ikut meliburkan diri mereka.

"Jika Ada ibunya Acia tidak akan kesepian lagi, lalu..-

Srak!

"Lalu kamu akan bermasalah lagi dengan wanita itu dan melarikan diri ke rumah paman dan bibi mu! begitu, hm?" Yudha meletakkan koran yang ia baca begitu saja keatas meja, selera membacanya sudah hilang.

Gerakan tiba-tiba Yudha mengagetkan Adisti, tidak menyangka jika suaminya akan bereaksi seperti ini.

"Tidak Mas! aku tidak melarikan diri" Sangkal nya.

Kepulangan nya ke rumah paman dan bibinya kan karena ingin memulihkan diri bukan melarikan diri.

Adisti merengut sebal susah sekali bicara'dengan suaminya ini.

"Setidaknya jika kamu tidak ingin Dara datang lagi ke sini, kamu harus pulang tepat waktu" Usulnya.

"Acia pasti sangat membutuhkan salah satu dari kalian"

Acia yang baru saja turun dari kamarnya langsung berhenti di tempat saat namanya di sebut.

Dia beralih sembunyi pada tembok yang menghalang antara ruang tengah dan ruang keluarga.

Samar-samar dia bisa mendengar suara Adisti yang meminta ayahnya pulang lebih cepat.

"Dia putri mu kan? luangkan waktumu untuk nya"

Yudha mendesah lelah mungkin enak saja Adisti berkata seperti itu, karena dia tidak berada di posisi nya saat ini.

"Kamu tau kan saya sibuk sekali belakangan ini?"

Adisti mengangguk

"Bisa istirahat di hari libur saja sudah Untung" sambungnya lagi

Acia tidak menyangka jika Adisti mau repot-repot membujuk ayahnya untuk meluangkan waktu, bahkan wanita itu meminta Dara untuk tinggal lagi bersama mereka.

Padahal dia tau jika hubungan Ayah dan ibu Sambung nya itu merenggang karena ulah ibu kandungnya.

Tidak ingin kembali mendengar perdebatan orang dewasa di sana, Acia memilih pergi kembali ke kamarnya.

.

.

"Mbak? kenapa belakangan ini kamu seperti banyak pikiran sih?" Tari tidak bicara asal, beberapa hari ini dia sudah memperhatikan wajah murung wanita itu.

"Oiya? aku tidak merasa seperti itu" elak Adisti tertawa garing, apakah sangat terlihat?

Tari mengangguk

"Kamu juga jarang makan bersama kami di dapur, dan malah memilih menemani nona Cia makan"

Memang Adisti akan makan saat Acia menyelesaikan makanannya, melihat gadis itu makan seorang diri membuat Adisti tidak tega.

"Jangan bilang karena Angga?"

Adisti melotot tajam tidak habis pikir dengan Ucapan Tari yang blak-blakan.

"Jangan bicara sembarangan!" sahut Adisti kemudian pergi kebelakang untuk menjemur pakaian nya.

Plak!

"Aw! kenapa?!" Tari meringis saat dengan tiba-tiba Angga memukul bahunya keras.

Angga menaikkan bahunya acuh, dia mendengar semua pembicaraan Adisti dan Tari dari belakang salahkan mulut Tari yang tidak bisa diam itu.

Bahkan dari tempat Mereka sekarang sampai gerbang depan suara Tari akan terdengar saking nyaring nya suara wanita itu.

Angga menatap arah kepergian Adisti walaupun sudah menikah dengan pria kaya Wanita pujaannya itu tidak pernah bahagia.

Apakah masih ada kesempatan untuk nya?

puk

"Hentikan pikiran kotor mu itu" Tari menepuk pundak Angga pelan, menyadarkan pikiran pria itu dari hal-hal kotor.

"Siapa yang berfikiran kotor?" sahut Angga merasa tak terima dengan tuduhan Tari.

"Mbak Adisti sudah kesulitan karena kedatangan mu, jadi jangan coba-coba lagi" peringat Tari pada teman seprofesi nya itu.

Tidak peduli bagaimana cinta Angga pada Adisti, jika pria itu bersikap berlebihan maka dia tidak akan membiarkannya.

.

Ting

Suara dentingan sendok dan piring milik Acia terdengar begitu lembut dan penuh ke hati-hatian, walaupun masih muda Yudha Sudah memberikan pengetahuan tentang Table Manner untuk putri nya.

Di belakang ada Adisti yang menunggu gadis itu menghabiskan makanannya.

"Pergilah"

Adisti mengangkat kepalanya mengarah pada putri angkatnya.

"Ya nona?"

"Kamu tidak perlu menemani ku seperti ini, pergi makan makanan mu sana" Acia mengusir Adisti, tidak peduli jika wanita itu akan tersinggung dengan perkataan nya barusan.

"Saya belum lapar nona"

Trang!

Acia menaruh sendok nya dengan keras sehingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring.

Moodnya sangat buruk sekarang di tambah dengan keberadaan Adisti yang sama sekali tidak ia inginkan, wanita itu sepertinya tidak mau mendengar ucapan nya.

"Pergi atau aku yang pergi?" Acia menatap sinis ibu tirinya.

Adisti terkejut, dia mengira keberadaan nya beberapa hari ini cukup untuk menemani rada sepi gadis itu, tapi ternyata dia salah besar.

"Tidak nona, biar saya saja yang pergi"

Adisti langsung memundurkan langkahnya masuk kedalam dapur, meninggalkan Acia sendiri dengan keheningannya.

"Mbak? Tumben sekali?" Tari berceletuk begitu melihat keberadaan Adisti baru saja memasuki dapur.

"Kemari Nak" Bi Ida melambaikan tangannya menyuruh Adisti duduk di antara dirinya dan Angga.

Dengan patuh Dia berjalan lesu mendekati bibi Ida.

"Nona sudah selesai makan malam?"

Adisti menggeleng kemudian menatap Bi Ida lesu.

Wanita paruh baya itu mengerti dengan apa yang terjadi pada Nyonya nya.

"Tidak apa, sedikit demi sedikit dia akan terbiasa nanti" Bi Ida menasehati Adisti.

Istri Yudha itu mengangguk paham lalu menerima sepiring nasi yang baru saja di berikan oleh Tari.

Angga melirik sekilas pada Adisti yang sedang menyantap makanan di sebelahnya, wajah yang biasanya selalu terlihat ceria itu kini sangat tidak bersemangat.

Jika saja dia bertemu lebih awal dnegan Adisti, apakah keadaan nya akan berbeda?

.

Lagi-lagi Yudha harus menahan amarahnya melihat Adisti tertidur di atas sofa kamar mereka.

Berkali-kali dia sudah bilang jika Adisti harus tidur di ranjang bersamanya mulai sekarang, tapi sepertinya Wanita itu tidak mengerti apa yang sudah ia katakan.

"Sepertinya aku harus membuang Sofa itu" Gumam Yudha menatap tubuh terbaring sang istri.

Sepertinya tidur di sofa lebih nyaman daripada tidur di dalam pelukannya.

"Adisti, bangun"

Yudha menggoyangkan tubuh istrinya agar terbangun sebentar, walaupun bisa saja dia menggendong Adisti tapi biarkan saja tidur istrinya itu terganggu.

"Enghh"

"Saya menyuruh kamu bangun, bukan mendesah"

Terkutuk untuk Yudha dan mulut tidak terpelajar nya.

"Mas?"

Adisti membuka matanya dan di depan nya sudah ada Yudha yang masih menggunakan seragam kantor lengkap.

"Bangun"

"Memangnya kenapa!" Adisti kesal saat tidurnya di ganggu.

"Ayo Mandi"

Adisti menghela nafas kasar mendengar ucapan suaminya.

Dasar Gila!

TBC....

1
Wahyu Kasep
harap di maklumi saudara "
ini kisah ber latar belakang taun
80 an
cetom😘😘
dekapan bukan delapan
cetom😘😘
tadi makan malam torrr, kok jadi sarapan
ayu cantik
bagus
Ika Marbun
ZONK selalu seperti ini di semua cerita
Iis Megawati
istri yang di anggap hanya pas di atas ranjang doang,Naas /Sob//Sob//Sob/
meris dawati Sihombing
lbh baik begini thor, tdk usah panjang2, ujung2nya jd nglantur critanya.
meris dawati Sihombing
mosok sdh jd istri, saat makan Adisty ndak duduk bersama, secara gk ada lg yg di tutupi n masa Yudha gk melarang Adiaty manggil ke Cia Nona....membagongkan critane..
meris dawati Sihombing
Sepeda ontel berubah jd sepeda gunung, setelah dari parkiran
meris dawati Sihombing
Gak suka dgn karakter Adisty, Penulis membuat tokoh utama bodoh, jd istri penurut boleh, tp jgn jg oon..
Wahyu Kasep: harap di maklumi saja 😊 Kaka
soalnya ini kisah ber latar belakang taun 80 an

waktu di mana gadis desa masih polos
total 1 replies
meris dawati Sihombing
Alur cerita agak aneh
falea sezi
laki tolol
meris dawati Sihombing: Yg tolol bukan si laki, tp si istri dan yg membuatnya bego othor
total 1 replies
falea sezi
anak g tau Adab masukin sekolah asrama aja
Alexa Xavira
Kecewa
Alwi Ramadhan
Biasa
Alwi Ramadhan
Kecewa
Ade Syafira Suhardin
Thor kisah ini udah nggak update lagi ya 🥹
Isna mansur
keren...keren... ceritanya seru.../Good//Good//Good/
Ernita Anwar
Luar biasa
Micke Rouli Tua Sitompul
bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!