Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa kelam 2
Balkon teras lantai dua itu seolah kehilangan suaranya. Angin malam yang berembus pelan terasa menusuk tulang, membawa serta sisa-sisa isak tangis Zoeya yang kini mulai mereda menjadi helaan napas berat yang tersengal.
Halra masih terdiam, meresapi setiap kepingan luka yang baru saja ditumpahkan oleh gadis itu. Suasana malam terasa begitu sunyi, memberi ruang bagi Zoeya untuk melanjutkan kisah kelam yang selama ini ia pendam seorang diri.
Dengan suara bergetar dan tatapan kosong menerawang ke depan, Zoeya kembali berbisik kepada Halra.
"Kak Halra harus tahu... semua penderitaan ini baru kusadari sepenuhnya setelah aku beranjak dewasa dan mulai merangkai kepingan teka-teki masa lalu," bisik Zoeya, suaranya pecah di udara malam.
"Jauh sebelum aku lahir, saat Ibu mulai mengandungku dan menolak permintaannya untuk aborsi, Ayah—Joharo—sudah merencanakan semuanya dengan keji.
Sano yang saat itu masih berusia 13 tahun tiba-tiba dikirim paksa oleh Ayah untuk bersekolah ke luar negeri, jauh dari Rombrigh. Sano diasingkan agar tidak melihat neraka yang sengaja Ayah ciptakan di rumah utama."
Halra menahan napasnya, menyimak setiap detail cerita yang diucapkan Zoeya dengan nada penuh kepedihan.
"Selama belasan tahun aku tumbuh di bawah bayang-bayang ketakutan, Sano hidup di negeri orang, merantau dan merampungkan pendidikannya dari sekolah menengah hingga tuntas menamatkan bangku kuliah," lanjut Zoeya, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata.
"Artinya, ibu kami sudah meninggal sejak hari di mana aku dilahirkan—kurang lebih 17 tahun lamanya jasad Ibu bersemayam di dalam tanah, sementara Sano sama sekali tidak tahu apa-apa di pengasingannya!"
Zoeya mengepalkan jemarinya di atas lutut, mencengkeram kain gaunnya erat-erat.
"Hingga akhirnya, setelah ia menyelesaikan seluruh kuliahnya di luar negeri dan memutuskan kembali pulang ke Rombrigh, saat itulah Sano mendapati kenyataan yang menghancurkan jiwa."
Suasana di balkon mendadak terasa semakin mencekam.
"Dengan mata merah berkilat penuh amarah membara, Sano mendobrak ruang kerja Ayah," ucap Zoeya dengan gigi gemeretuk.
"Sano melabrak pria keparat itu habis-habisan, berteriak murka dan menuntut penjelasan kenapa kematian Ibu disembunyikan darinya selama bertahun-tahun!"
Zoeya menatap Halra lekat-lekat. "Tapi jangan sebut dia Joharo jika bajingan itu tidak bisa memutar balik fakta dengan lidah beracunnya.
Dengan tenang, tanpa setetes pun rasa bersalah, Ayah menatap Sano yang baru saja pulang menamatkan kuliahnya, lalu merangkai kebohongan busuk yang begitu licik.
Ayah berdalih, ‘Kau mau menyalahkanku, Sano? Akulah korban sesungguhnya di rumah ini. Selama mengandung bayi perempuan pembawa sial itu, ibumu tidak bisa menelan makanan apa pun. Setiap kali makan, dia terus muntah hingga mengalami malnutrisi parah. Sampai akhirnya saat melahirkan, karena sama sekali sudah tidak ada gizi dan tenaga yang tersisa di tubuhnya, dia harus meregang nyawa. Dia sendiri yang membunuh dirinya karena mempertahankan anak itu.’"
Halra menutup mulutnya dengan kedua tangan, merasa ngeri mendengar betapa pintarnya cara Joharo memutarbalikkan fakta, menjadikan siksaan kejam yang dilakukannya seolah-olah terlihat sebagai takdir tragis akibat ulah sang istri sendiri di hadapan Sano yang baru saja kembali dari perantauan panjangnya selama tujuh belas tahun.
"Sano yang selama belasan tahun diasingkan dan baru saja menginjakkan kaki kembali... sukses dikelabui dan dihasut mentah-mentah oleh kebohongan Ayah!" isak Zoeya tertahan.
"Kakakku sendiri menelan mentah-mentah racun itu hingga rasa cintanya berubah menjadi kebencian yang pekat. Sano mulai percaya, sungguh-sungguh percaya, bahwa kehadiran akulah... penyebab kematian ibu kandung kami sendiri."
Zoeya menyeka air matanya kasar. "Sejak hari terkutuk itu, Sano menenggelamkan diri sepenuhnya pada bisnis kotor Ayah.
Kakak yang cerdas, brilian, dan penuh tekad itu membabi buta menggunakan seluruh kemampuannya untuk membawa kerajaan bisnis Joharo menuju puncak kejayaan tertinggi. Dia berpikir, dengan menjadi penguasa bisnis yang kejam, dia sedang menjalani takdir yang benar, tanpa tahu bahwa dia sedang diperalat oleh monster yang telah membunuh ibu kami."
Halra tertegun hebat. Kepingan-kepingan tentang mengapa Sano baru mendalami bisnis keluarga setelah kepulangannya dari luar negeri—setelah kepasrahan belasan tahun terpisah—kini terjawab sudah dalam balutan tragedi yang begitu keji.
"Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian..." bisik Zoeya, suaranya semakin melemah penuh kengerian. "Sano tidak sengaja menemukan brankas tersembunyi dan rekaman CCTV tua di ruang bawah tanah. Rekaman itu... rekaman mengerikan yang memperlihatkan bagaimana Ayah memukul perut Ibu yang sedang hamil besar, menendangnya hingga tersungkur bersimbah darah, dan membiarkan Ibu kelaparan tanpa setetes air pun."
Air mata Zoeya tumpah semakin deras, tak mampu lagi dibendung. "Mengetahui kenyataan itu, Sano hampir gila. Penyesalan yang teramat busuk membakarnya dari dalam. Dengan sisa kewarasannya, Sano bergerak cepat mencari satu-satunya saksi kunci yang tahu kebenaran mutlak: Nenek Jura."
Zoeya menunduk, bahunya bergetar hebat dalam isak tangis yang memilukan.
"Tapi apa yang didapatkan informan Sano... jauh lebih menghancurkan jiwa kami," isak Zoeya pilu. "Tepat di malam Nenek Jura berhasil menyelundupkanku keluar dari rumah ini bertahun-tahun lalu dan membawaku ke Isenberg, Ayah mengetahui pelarian itu. Nenek Jura ditangkap, disiksa secara brutal, dan dibunuh dengan keji oleh Ayah sendiri... hanya karena wanita tua itu menolak membuka mulut, menolak menyebutkan di mana dia menyembunyikan bayi perempuan yang dibawanya kabur."
Malam di teras lantai dua itu membeku dalam keheningan yang mutlak. Tidak ada suara selain deru angin malam dan isak tangis Zoeya yang pecah dalam dekapan sunyi, menyisakan luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan.