Elena, seorang wanita cantik berkulit putih dengan lesung dipipi kanan dan kirinya. Ia adalah seorang ibu dengan sepasang anak kembar, Cantika dan Brian.
Pernikahan Elena dan suaminya bukanlah pernikahan berlandaskan cinta. Mereka menikah karena desakan dari Ana, ibu dari suaminya.
Elena menahan diri selama tiga tahun dengan pernikahannya, Elena memikirkan kedua anaknya jika ia bercerai dengan suaminya.
Suatu hari, Elena murka dengan perilaku Rendra, suaminya. Ia pun mengajukan cerai kepada Rendra. Rendra yang tak mencintai Elena pun akhirnya menyetujui untuk bercerai.
Apakah perceraian Elena akan berjalan lancar? Bagaimana Elena menjalani kehidupannya sebagai single mom? Ayo, simak kisahnya! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjahat Taubat
Dua hari kemudian, Elena meminta Joe untuk tidak menemui dirinya sampai ia benar-benar lepas dari tindakan jahatnya. Awalnya tentu saja Joe keberatan, tapi akhirnya dia pasrah karena sang pujaan hati bersikeras dengan syarat yang ia ajukan.
Satu bulan kemudian, Joe memberi kabar kepada Elena jika ia sudah keluar dari pekerjaan jahatnya itu. Elena pun tak langsung mempercayainya. Mana mungkin bisa lepas secepat ini? pikir Elena.
📞 Joe : "Assalamu'alaikum, Sayang."
📞 Elena : "Wa'alaikum salam. Nggak usah sayang-sayangan jika belum halal!
📞 Joe : "Lah, kapan dong halalnya?"
📞 Elena : "Bukannya seharusnya aku yang tanya?"
📞 Joe : "Ka-kamu ... sudah tidak sabar untuk menikah denganku?"
📞 Elena : "Eh, mana ada. Jangan mengada-ada deh kamu. Aku tutup dulu teleponnya, aku dipanggil Cantika."
Panggilan telepon pun berakhir. "Yah ... malah dimatiin. Padahal, aku belum cerita masalah tadi, saat aku menghadap bos besar."
Flashback On
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Jackie, bos besar-nya Joe.
Ya, Joe bukanlah bos yang sebenarnya, ia hanyalah bawahan dari bos besar. "Aku tidak masalah jika kau keluar dan ingin menjalani kehidupan yang lebih baik dan sesuai ajaran agamamu. Kau tahu 'kan? Aku ini sangat menyayangimu, aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri."
Jackie terdiam sejenak, menghembuskan napasnya dalam. "Joe, jika aku tahu di mana orang tua kandungmu, apakah kamu ingin menemui mereka?"
"B-bos, bos tahu di mana orang tua kandungku?" Jantung Joe berdetak dengan kencang, ia sangat terkejut karena bos-nya tahu di mana keberadaan kedua orang tuanya.
Sejak kecil Joe sudah dibesarkan oleh Jackie, yang ia ingat hanyalah kenangan masa kecilnya bersama bos besarnya itu. "Joe, ibumu adalah seorang wanita yang aku cintai, kami dulu berteman baik."
"Aku bertamu ke rumahnya untuk melamar ibumu, tapi kedua orang tuanya menolak mentah-mentah. Dan yang lebih tragis lagi, ternyata ibumu tak menyukaiku, ia menyukai orang lain yang tak lain adalah ayahmu."
Joe menyimak semua yang Jackie ceritakan. "Lalu, kenapa aku bisa dirawat oleh Bos?" tanya Joe penasaran.
"Dulu, setelah kau lahir, beberapa hari setelah itu, kau dinyatakan mempunyai penyakit dalam yang kronis. Karena hal itu lah, ayahmu meminta ibumu untuk menitipkanmu di panti saja."
"Ayahmu tadinya anak orang kaya, tapi musibah menimpa usaha miliknya dan kedua orang tuanya, mereka bangkrut di saat kau berumur delapan bulan di kandungan."
"Saat lahiran pun, kedua orang tuamu tak dapat membayar biaya persalinan di klinik. Aku yang kebetulan sedang berada di klinik itu juga, saat itu aku sedang mengantar sepupuku berobat. Seketika ibumu bersimpuh meminta tolong kepadaku, ia ingin meminjam uang kepadaku untuk membayar biaya persalinan, agar kau bisa dibawa pulang."
"Aku pun membantunya, dan beberapa hari setelah itu, ia datang ke rumah kecilku, ia memohon kepadaku untuk merawatmu, dan membesarkanmu."
"Suatu ketika, aku membantu seorang yang mengalami kecelakaan. Orang itu mengatakan akan memberiku pekerjaan, sebagai balasan karena aku telah membantunya."
"Tapi, ternyata perkerjaan yang orang itu berikan adalah tugas membunuh orang. Aku tentu saja langsung menolak, tapi aku akhirnya luluh karena imbalan yang besar."
"Saat itu aku hanya mempunyai rumah kecil, dan aku ini seorang karyawan swasta yang belum tetap dahulu. Dapat uang yang banyak saat aku sedang kesulitan, membuat aku lupa akan dosa."
"Joe, kamu tidak perlu khawatir, aku membiayai hidupmu dari hasil yang halal. Waktu itu semua tabungan yang aku simpan rapat-rapat dan uang hasil jual rumah, aku gunakan untuk membeli sebuah saham di sebuah perusahaan, sahamnya kecil memang, tapi masih bisa untuk menghidupimu dengan uang halal."
Pipi Joe sudah dipenuhi dengan air mata yang terus mengalir. "Ayah, apa aku boleh memelukmu?" tanya Joe kepada Jackie. Ia sengaja menyebutnya dengan sebutan ayah, ia tahu, bosnya pasti juga ingin disayangi layaknya keluarga bahagia lainnya.
Ayah? Dia memanggilku ayah? batin Jackie sambil tersenyum, ia pun meneteskan air mata yang sudah tak mampu untuk dibendung itu.
Joe dan Jackie pun berpelukan, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. "Terima kasih ayah, karena sudah menjaga dan merawatku dari kecil sampai sekarang. Maafkan aku yang belum bisa membalas kebaikan ayah," ucap Joe.
"Dipanggil ayah saja aku sudah bahagia, Joe. Sebentar, aku akan mengambil alamat rumah baru ibumu, ibumu sudah menikah lagi. Hmm ... ayah kandungmu sudah meninggal," ucap Jackie sedikit berat.
Ayah kandungku sudah meninggal? Ada rasa sakit di hati Joe. Bagaimana tidak? Ia bahkan belum bertemu secara langsung bagaimana ayah kandungnya itu.
"Ini alamat rumah baru ibumu." Joe keluar dari kamarnya dengan membawa secarik kertas.
"Maafkan aku yang baru memberitahumu. Aku sebenarnya sudah ingin memberitahumu sejak awal, tapi ibumu selalu melarangku. Ia ingin aku mengatakan semuanya ketika kau akan menikah."
Joe menghela napas panjang. Hidupku runyam juga ya ternyata, bahkan orang tua kandungku tak mau aku tahu keluarga kandungnya? Berarti aku memang lebih tepat bersama Bos, batin Joe sambil melihat ke arah Jackie.
Joe memeluk Jackie kembali. "Terima kasih Bos, terima kasih ayah. Aku sayang Bos Jackie ... ayah Jackie."
"Aku juga sangat menyayangimu Joe. Sudah! Memalukan sekali kita ini. Kita ini pria bertubuh kekar, tapi kenapa cengeng sekali?" ucap Jackie sambil mengusap air matanya.
"Menangis itu perlu, siapa pun orangnya. Tak perduli dengan bentuk tubuh, fisik, atau tampilan luarnya," ucap Joe juga mengusap air mata di kedua pipinya.
"Sudah, aku kita cuci muka kita! Harga diri kita akan sedikit menurun jika kita terlihat cengeng di depan anak buah kita, ha-ha-ha." Jackie merangkul bahu Joe, mereka berjalan bersama untuk mencuci muka lengket mereka, karena air mata mereka masing-masing.
Flashback Off
Saat ini, Joe sedang berdiri di belakang sebuah pohon besar. Ia sedang mengamati sebuah rumah besar, jarak pohon tempat ia sembunyi pun tak jauh dari rumah besar yang sedang ia amati. "Aku sudah berdiri di sini selama setengah jam, tapi kenapa belum ada pergerakan sama sekali ya di rumah itu?" gumam Joe.
Tak berselang lama, Joe melihat sebuah mobil masuk ke halaman rumah besar itu. Lalu keluar lah seorang wanita paruh baya dengan tampilan yang modis, perhiasan yang dipakai wanita itu pun menyilaukan matanya karena pantulan cahaya matahari.
"Apa itu ibuku?" Joe membandingkan wajah wanita paruh baya di rumah besar itu, dengan sebuah foto di tangannya.
"Sepertinya sih mirip, apa dia benar-benar ibuku? Pakaian yang ia kenakan, membuatnya seperti ibu-ibu sosialita yang sombong."
Joe kembali mengamati rumah besar itu, karena satu jam kemudian tak ada pergerakan, akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Ia melajukan motornya ke arah sebuah tempat yang biasa ia datangi untuk menenangkan diri. Aku akan ke rumah itu lagi secepatnya, tapi tidak saat ini, batin Joe di sela mengemudinya.
☠️⃝🖌️M⃤
Perjuangan Ucup mampir
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
sabar ya elena 😬 semoga Joe segera sadar
coba diselipin kejadian apa di bbrapa moment biar lebih kelihatan nyata ceritanya
kok bisa rukyah nya gagal?
☠️⃝🖌️M⃤