NovelToon NovelToon
Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Chicklit
Popularitas:211.7k
Nilai: 4.7
Nama Author: nasaldinarta

Abbysca Lionel adalah wanita bangsawan yang memilih menjadi seorang kesatria bagi keluarga kerajaan. Hidup di lingkungan yang penuh dengan kedisiplinan membuatnya tumbuh menjadi sosok wanita tangguh berpendirian kuat. Namun sayang, hidupnya harus berakhir di usia yang begitu muda hanya karena pengkhianatan orang yang dia anggap sebagai sahabatnya.

Abbysca pikir, dia akan langsung ke neraka karena mengingat dosanya yang begitu banyak, namun ternyata jiwanya malah berpindah pada tubuh seorang gadis lemah yang tidak memiliki otak. Dan sialnya, gadis itu memiliki nama yang sama dengannya. Abbysca. Abbysca Anggara.

Peringatan; Alur lambat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nasaldinarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arjuna Dan Segala Bentuk Pengawasannya

Suara pukulan, pekikan agak melengking yang bersahutan dengan deru nafas yang tersengal-sengal memenuhi ruangan olahraga di kediaman Anggara. Padahal, di sana hanya ada Abby seorang, namun suara berisiknya sampai mampu menembus dinding.

Sudah dua jam lebih Abby menghabiskan waktu di sana sejak dia bangun, memukuli samsak tinju dengan tempo teratur dan ekspresi wajah yang terlampau serius. Saking seriusnya, tatapan Abby seolah mampu melubangi bantalan empuk setengah keras yang menggantung di depannya itu.

Hati dan pikirannya sedang kacau bukan main saat ini. Dan orang yang seharusnya bertanggungjawab atas apa yang menimpanya itu tak mungkin Abby ajak bertarung. Maka demi kesehatan mentalnya, Abby melakukan pertarungan dengan dirinya sendiri sampai wajah dan tubuhnya dipenuhi dengan peluh. Sejak tadi, Abby sudah menganggap samsak itu sebagai Gara. Maka tidak heran, dirinya begitu semangat untuk memukul dan menendang benda tersebut seolah-olah itu adalah Gara.

Buk!

"Lelaki kurang ajar! hah..hah.."

Buk, buk, buk!

"Seenaknya saja dia berkata seperti itu. Di mana otaknya? hah..hah.."

Buk, buk!

"Apa dia pikir aku tidak serius dengan tindakanku yang sudah sejauh ini?"

Setelah itu, hanya ada suara pukulan membabi-buta yang terdengar di sana. Abby menyalurkan amarah, emosi, kesal dan sebalnya ke dalam pukulan. Dia merasa dipermainkan oleh Gara saat ini. Bagaimana mungkin Gara dengan mudahnya mengatakan hal manis setelah apa yang dilakukan lelaki itu hanya menghina dan menjauhinya terang-terangan selama ini?

Dan ada hal yang lebih membuat Abby marah, yaitu dirinya sendiri. Di mana pendirian kuat yang selalu dijunjungnya itu? kenapa dia dengan mudahnya luluh hanya karena melihat Gara mau berjuang untuk memperbaiki hubungan mereka yang sudah nyaris berakhir ini?

Buk, buk, buk! buk, buk, buk!

Brak!

Abby terdiam kaku saat melihat samsak tinjunya sobek dan membuat isinya keluar perlahan dari sana. Masih dengan nafas yang tersengal dan keringat yang membanjiri kening dan lehernya, perempuan itu menghela nafas kasar.

Tubuhnya lemas, kedua tangannya juga sakit karena tidak berhenti meninju sajak tadi. Akhirnya, Abby mundur perlahan dan membaringkan tubuhnya di atas lantai yang terasa dingin untuknya. Abby menatap langit-langit ruangan yang ditempatinya dengan tatapan kosong sembari menetralkan nafasnya yang terlampau cepat.

Sedangkan di tengah pintu yang terbuka, Juna melihat semuanya dalam diam. Lelaki itu sudah berdiri di sana sejak lima belas menit yang lalu. Namun karena tak ingin mengganggu 'kesenangan' Abby, dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya bersandar pada daun pintu dan memperhatikan Abby yang begitu kacau.

Pukulan demi pukulan yang dilayangkan adiknya itu begitu keras, entah mendapat kekuatan dari mana hingga Abby memiliki tenaga sebesar itu. Juna sedikit meringis saat melihat samsak tinju yang biasa dia gunakan kini sudah rusak karena sobek. Alih-alih khawatir karena hal itu, Juna malah penasaran dengan keadaan bahu Abby yang belum sepenuhnya sembuh. Tidakkah jahitan itu akan kembali terbuka karena saking kerasnya Abby mengeluarkan tenaga?

Melihat kemarahan Abby yang begitu meluap-luap, Juna jadi mengingat apa yang dia ketahui tadi malam. Seperti yang sudah dia tebak, Gara memang ingin memperbaiki semuanya dari awal. Meski Juna tidak cukup yakin kalau lelaki itu akan melakukannya dengan benar dan sungguh-sungguh, tapi dia tahu bagaimana watak Gara yang tidak pernah mengingkari ucapannya sendiri. Jadi, bisa dikategorikan kalau keputusan Gara sudah bulat.

Abby pasti merasa tidak senang. Di saat dirinya sudah menyerah dan perlahan mundur, Gara yang awalnya abai dan bersikap acuh, kini datang membawa keputusan yang mencengangkan. Siapapun orang yang berada di posisi Abby pasti tidak akan percaya begitu saja. Jadi, Juna cukup memaklumi itu. Namun dia sedikit lega karena kini adiknya tidak bertindak gegabah.

Ekspresi wajah Juna berubah menjadi rumit saat ulasan percakapan Gara dan Melly tadi malam berputar di pikirannya.

Tiga belas jam yang lalu..

Juna yang kala itu berniat pulang karena acara sudah selesai, terpaksa berhenti di tempatnya saat mendapati dua pemilik acara tengah berseteru di luar aula yang terlihat agak sepi karena sebagian besar tamu telah meninggalkan tempat pesta.

Kenapa mereka harus berbicara di tempat yang akan dilewatinya? Juna mendengus dalam hati.

"Apa Mama tahu apa yang Mama ucapkan?" Gara berusaha bersikap tenang saat berbicara pada Melly meski hati dan pikirannya kini hampir meledak menahan emosi.

"Memang apa yang salah dengan ucapan Mama? bukankah kamu dan Abby akan menikah juga nantinya?" wanita yang mengenakan riasan cukup tebal itu menatap putranya tidak mengerti.

Gara yang mendengarnya tidak bisa tidak mendengus, "apa Mama pikir hubunganku dengannya berjalan mulus selama ini? Mama sendiri yang paling tahu."

Wajah Melly perlahan mengeras, "itu karena kamu yang terlalu pemilih. Apa yang kurang dari Abbysca? dia sempurna dan memiliki segalanya. Tapi kamu bersikap seolah tidak menyukainya dan terus membuat dia salah paham. Sampai kapan kamu akan mengedepankan hati ketimbang logika, Gara?"

Ada sedikit rasa nyeri yang berdenyut di dada Gara saat Melly mendeskripsikan dirinya seperti itu. Ibunya memang tidak akan pernah paham dengan keadaan Gara selama ini. Tapi Gara pun enggan untuk ditatap lebih rendah dari ini jika Melly sampai mengetahui lebih jauh.

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Ma." Ujar Gara dengan agak linglung.

"Tidak bermaksud tapi kamu sudah melakukannya seperti itu. Bagiamana jika Abby pergi dan malah berpaling pada lelaki lain? kamu akan menyesal Gara." Melly terdengar seperti sedang berbicara pada orang asing ketimbang anaknya sendiri. Gara menyadari itu.

"Aku atau Mama yang akan menyesal?"

Melly tertegun, "apa?"

Gara kembali menegaskan rahangnya, "Mama pikir aku tidak sadar dengan apa yang Mama rencanakan sejauh ini? Mama tidak ingin kehilangan aset mahal seperti Abby bukan?" dia melihat sendiri bagaimana kerasnya perjuangan Melly agar mempersatukannya dengan Abby. Dan itu semata-mata demi kelangsungan hidup wanita itu sendiri.

"Mama melakukan semua itu demi kamu!" Melly hampir berteriak saat mengatakannya.

"Bohong! itu demi Mama sendiri!" Gara menghela nafas lelah sembari memalingkan wajah ke arah lain, "tolong berhenti, Ma. Aku akan berusaha untuknya dengan caraku sendiri."

Melihat Melly yang diam seperti tidak tahu untuk membalas, lelaki itu kembali melanjutkan, "apa yang akan aku lakukan ke depannya adalah apa yang aku inginkan. Bukan karena paksaan Mama ataupun keadaan. Aku pernah menyesal satu kali, jadi aku tidak akan mengulanginya lagi."

Gara mundur beberapa langkah untuk memberikan jarak pada Melly yang masih diam seperti patung. "Aku akan membawa Abbysca untuk Mama, tapi aku melakukan semuanya bukan demi Mama. Itu demi diriku, demi Abby dan demi kelangsungan hubungan kami." Lelaki itu berbalik dan meninggalkan Melly dengan langkah kaki yang agak cepat. Tidak sanggup berdiri lebih lama bersama wanita yang selalu mengekangnya selama ini.

Juna menyembunyikan dirinya di balik pilar yang besar saat Gara melewatinya tanpa menoleh. Bibir itu menyeringai tipis saat mengetahui kabar mengejutkan dari dua sosok yang selama ini terlihat rukun di depan Juna.

Nyatanya, semua orang memiliki permasalahannya masing-masing. Juna sendiri tidak menyangka dapat mendengar semua itu secara langsung dengan cara yang tak disengaja.

Kini, pikiran Juna kembali berpusat pada Abby yang sudah merubah posisinya menjadi duduk berselonjor. Apapun keputusan yang akan Abby ambil nanti, Juna hanya berharap bahwa itu bisa membawa kebaikan untuk keduanya. Baik Abby maupun Gara.

"Apa sarapan sudah siap?" Juna melirik Hari yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya, ikut memperhatikan apa yang sedang Juna perhatikan.

"Sudah, Tuan. Semuanya sudah siap."

Juna mengangguk dan kembali menatap ke arah Abby, "masuklah dan beritahu Abby!"

Alih-alih menghampiri adiknya, Juna lebih memilih pergi dari sana dan membiarkan Hari mengambil alih tugas.

"Baik Tuan, saya mengerti."

. . .

TBC

Selamat siang. Wah, apa kabar teman-teman? saya cukup rindu karena kemarin tidak bisa up. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Terimakasih untuk semua pembaca yang selalu menunggu dengan setia, memberikan semangat dan dukungannya untuk Abbysca dan Sagara. Love you! ^_^

Salam,

Nasal Dinarta.

1
Dyah Agustin
lamaa amat kk
Ratna Diah
👍
Nuratipah C'borreg
Luar biasa
Deki Kurniawan
mkash kaak udah updatee...nunggu episode selanjylutnyaa
Deki Kurniawan
dasar benalu lu andita...caper.
Deki Kurniawan
love youuu kak authorr....seneng author balik lagi....aku nunggu episodenyaa lama bener author.......tapi gpp yg penting aku setia nunggu episode selanjutnya author...gemes aama yg namanya andita...
Myn
aku lebih suka Abby sama cwo lain, dri pd sama Gara. dia kan g ngehargai perjuangan Abby selama ini, cwo brngsk
Deki Kurniawan
lanjutin author ....penasaran sama kelanjutannya
Devi Lusi
nah nah apalagi ini
Devi Lusi
karena jiwanya yg tertukar
Devi Lusi
bukan egois ya tpi klo saya pun suami perhatian gitu sama wanita lain tanpa tahu sebab sebenarnya pasti lah mikir nya sama kayak gitu iya gak sih
Devi Lusi
semangat tor
Devi Lusi
novel mu yg lain seru kayag gini gak sih tor penasaran aku
Devi Lusi
itu si lilyanan gMana
Devi Lusi
nah bisa meluk aby kan
Devi Lusi
ohhh udah tau alurnya iti si gara gak bisa bersentuhan sama org.. mama nya salah paham kayaknya
Devi Lusi
apapun penyakitnya klo di sakiti di abaikan slama 5 thun..5 tahun lho berjuang sendiri udahlah by masih banyak laki2 lain..ya klo sakit itu si gara seharusnya berobat bukan malah nyakitin tunangan sendiri.. nanti alasanya sakit ini la itu lah ya iya klo gak berobat
Devi Lusi
ini elang jangan2 orkay nyamar aja jdi cupu
Devi Lusi
ajak tinggal bersama aja by kasih tmpat tggal dan pekerjaan walaupun hanya tukang kebun yg penting makan layak dan tempat tinggal aman
Devi Lusi
walaupun adik kakak krang bagus tidur satu ranjang begitu karena udah pda dewasa
Sely Rosanan: gw yang umur 20 kadang masih tdr bareng adek laki yg cuma beda umur 2 tahun b aja malah mah kadang tidur bareng papa gw sambil dipeluk diusap kepala nya setiap lagi sakit soalnya gw klo dh sakit manja nnya ke papa biasalah anak papa hhhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!